--- In [email protected], A Nizami <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Kepada bung Danar, Fauziah, dan ibu Is Moritis,
> Memang koruptor adalah musuh bangsa. Meski demikian,
> kita juga tidak bisa menutup mata dengan musuh bangsa
> lainnya, yaitu penjajah ekonomi yang menguras kekayaan
> alam bangsa Indonesia.
> 
> Kita tidak boleh melupakan berapa ribu trilyun
> kekayaan alam kita berupa minyak, gas, emas, tembaga,
> dsb dikuras oleh Multi National Company.
> 
> Sebagai contoh, cadangan minyak Cepu sebesar 2 milyar
> barrel atau sekitar Rp 1000 trilyun. Toh bukannya
> ditangani oleh bangsa sendiri seperti Pertamina,
> Medco, Star, dsb, diserahkan kepada MNC asing.
> 

Mas Nizam,
Apakah MNC tsb memaksa pemerintah RI dg ancaman senjata? Sudah
sifatnya perusahaan2 besar ingin mendapat untung sebanyak2nya. Mereka
kan diawasi oleh pemilik saham yg tersebar dimana2 yg tentunya
menuntut deviden positif. Dilain pihak, sudah tugasnya pula pemerintah
melindungi rakyatnya dan memilih option yg memaksimalkan nation wealth.

Gak ada gunanya anda memarahi MNC. Kalau mereka penyantun ya bukan MNC
namanya, Oxfam atau Care kali. Makanya pointnya saya (dan juga Pak
Danar saya kira) adalah kita mesti bisa melihat kesalahan kita
sendiri. Kalau mau protes, saya lebih suka bilang ke pemerintah buat
mengawasi dg strict operasional Freeport di Indonesia karena saya
kuatir dg dampak lingkungannya dan pada saat peninjauan kontrak
bersikap lebih pintar. 
Soal Pertamina, kalau mau protes, pertama2 saya protes "demand" thd
pemerintah kita yg menyebabkan mereka terpaksa memelihara BUMN dg cara
yg tidak sehat demi memenuhi demand ini (menjadi cash cow). Siapa yg
menuntut "demand"? Saya kira anda bisa menduga lah.. akibatnya
pemerintah juga terbiasa "demand" kemana2... lingkaran korupsi ini yg
mesti diputus, jadi sistem pengawasan bisa berjalan.
Saya menunggu BPK mengaudit Pertamina. atau sudah?

Pemerintah juga adalah cerminan rakyat lho... 

Satu lagi, saya melihat seringkali ada informasi asimetris dalam
memandang suatu masalah. Seperti soal Cepu. Adakah yg tau persis apa
masalah yang dihadapi Pertamina kalau harus mengerjakan sendiri? Atau
apa konsekuensi strategis dan konsekuensi hukum dari mengeksplorasi
sendiri atau membagi-hasilkannya?
Kalau KKG, saya kira beliau terlalu politis untuk disebut ekonom atau
akademisi. Omongannya bisa berubah2 dalam sekejap. Bahkan diawal dan
diakhir tulisannya pun sering tidak konsisten. 

> 
> Jadi kita bukan cuma harus memerangi koruptor, tapi
> juga harus melawan penjajahan ekonomi (neo
> imperialisme kata Bung Karno) oleh asing. Kita harus
> bangkit dan mandiri mengelola kekayaan alam kita
> (mimpi kali ye?:). Lima juta balita katanya terancam
> busung lapar. Apa kita diam saja melihat para penjajah
> ekonomi menguras kekayaan alam kita?
> 
> Ini bukan masalah agama, tapi masalah bangsa.

Setuju. Terus bagaimana cara anda melawan neo-imperialisme itu? 

fau





***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke