MEDIA INDONESIA
Kamis, 23 Juni 2005
Beragama Yes! Korupsi Yes!
Abd Rohim Ghazali, Direktur Eksekutif Maarif Institute, Ketua PP Pemuda
Muhammadiyah
DALAM Islam, ada doktrin yang menegaskan, "jangan campur adukkan kebenaran
dengan kebatilan"; "bila kebenaran sudah datang, kebatilan akan hilang alias
tunggang-langgang".
Di manakah letaknya kebenaran, di manakah bercokolnya kebatilan? Dan, apakah
sekarang ini belum ada kebenaran sama sekali sehingga kebatilan korupsi semakin
menjadi-jadi?
Korupsi yang bersarang di lembaga-lembaga agama, terutama di tubuh Departemen
Agama, telah menjungkirbalikkan logika formal kita. Menurut logika, dalam
institusi tempat bersemainya doktrin kebenaran agama, seharusnya tak akan
muncul kebatilan, atau minimal kebatilan akan tereduksi. Tetapi, ketika di
ruang-ruang tempat kebenaran agama bergema itu justru bersemai kejahatan,
lantas logika apa lagi yang bisa kita pakai memahami negeri ini.
Tentu bukan logikanya yang salah, yang salah ialah cara kita memandang
kebenaran. Kebenaran lebih sering dilihat hanya secara legal-formal, bukan
secara substansial. Cara pandang seperti ini bahkan menemukan momentumnya
sejalan dengan berseminya euforia demokrasi. Inilah salah satu kelemahan
demokrasi, yakni terbukanya ruang bagi kemungkinan "pemaksaan kehendak"
mayoritas terhadap minoritas. Formalisme beragama di negeri ini dianut oleh
sebagian besar rakyat. Sementara substansialisasi nilai-nilai keberagamaan
hanya diinginkan sebagian kecil saja--terutama dari kalangan cerdik pandai yang
berwawasan luas. Survei yang beberapa waktu lalu dilakukan Pusat Pengkajian
Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, membuktikan bahwa
formalisasi agama menjadi tuntutan sebagian besar warga masyarakat, meskipun
formalisasi itu belum mengarah pada pembentukan negara Islam.
Cara memandang kebenaran agama yang cenderung formalistik, telah memberikan
wewenang kepada lembaga-lembaga formal keagamaan untuk mengelola
kegiatan-kegiatan spiritual yang diharapkan mampu memperluas ruang batin kita
dalam menerima kebenaran hakiki, yang kemudian diaktualisasikan dalam
amalan-amalan kebajikan yang menyejukkan.
Kegiatan spiritual seyogianya tak harus diberikan kewenangannya pada
lembaga-lembaga formal keagamaan, karena hakikat kebenaran pada dasarnya bukan
terletak pada balutan formal institusional. Dalam Islam, bukankah kita
diajarkan untuk tidak mengukur derajat ketakwaan seseorang dari tampilannya,
tapi dari amal kebajikannya. Kebenaran harus diambil, dari mana pun datangnya.
Artinya, kebenaran agama yang hakiki bukan terletak pada balutan formalnya,
melainkan pada kualitas substansinya.
Agama menjadi suaka
Maraknya korupsi di lembaga-lembaga keagamaan, terutama Depag, memang belum
tentu disebabkan karena cara pandang kita yang keliru mengenai kebenaran agama.
Tetapi, kalau kita cermati, cara pandang yang keliru itu, sangat potensial
melahirkan gejala disfungsi agama.
Karena kebenaran agama dianggap mutlak keberadaannya di lembaga-lembaga formal
keagamaan, tidak jarang lembaga ini dijadikan suaka bagi mereka yang pandai
melanggar dan memanipulasi kebenaran agama. Lembaga keagamaan dijadikan tameng
untuk melindungi dirinya dari sorotan masyarakat. Supaya lebih meyakinkan,
penampilan para pencari suaka kebenaran itu pun diatur, disesuaikan dengan
"semangat Islam" misalnya dengan memakai kopiah, sorban, memelihara jenggot,
dan tidak lupa menenteng tasbih. Di muka umum, jari-jemarinya cekatan menggeser
biji tasbih satu per satu dengan mulut dikomat-kamitkan. Tutur katanya
dihalus-haluskan. Lafal basmalah tak pernah lupa diucapkan pada saat memulai
pekerjaan. Kata "Insya Allah" senantiasa meluncur dari mulutnya pada saat
mengadakan perjanjian. Dan, ungkapan "demi Allah" dijadikan senjata pamungkas
untuk menampik tuduhan-tuduhan miring yang dialamatkan pada dirinya.
Sepanjang cara pandang sebagian besar masyarakat kita belum berubah dalam
melihat kebenaran agama, maka selama itu pula, para pencari suaka di wilayah
agama itu semakin bertambah jumlahnya. Dan, disadari atau tidak, pada saat
itulah gejala disfungsi agama semakin bersemai di tengah-tengah masyarakat
kita. Agama difungsikan bukan untuk memberi kedamaian dan rahmat bagi
kemanusiaan. Tapi lebih condong dijadikan sebagai alat legitimasi untuk
membenarkan dan untuk menutup-nutupi kesalahan. Karena itu tak salah jika
muncul ungkapan "Beragama yes, korupsi yes!" Dengan menonjolkan citra
keberagamaannya yang kuat secara kasatmata, dan bahkan diakui banyak kalangan,
seseorang merasa tidak salah pada saat berbuat kesalahan. Uang hasil korupsi
seolah-olah bisa di-laundry pada saat digunakan untuk ibadah haji. Bukankah ada
pula doktrin yang mengatakan, perbuatan dosa itu bisa dihapus dengan kebajikan?
Euforia pemberantasan korupsi
Untungnya, demokratisasi, selain berdampak pada kuatnya tuntutan formalisasi
agama, juga muncul tuntutan pemberantasan korupsi. Tuntutan yang terakhir ini
bahkan mengalami euforia sehingga kadang kala kita sulit membedakan antara
tuntutan dan kemarahan. Euforia ini bisa kita pahami karena akibat kejahatan
korupsilah, negeri ini menjadi terpuruk. Karena korupsi, negara yang menyimpan
kekayaan luar biasa (gemah ripah loh jinawi) ini sebagian penduduknya miskin,
lapar, dan penyakitan.
Karena korupsi, ada segelintir orang yang menikmati kekayaan negeri ini
sementara sebagian besar yang lain berjuang antara hidup dan mati di
tengah-tengah ancaman wabah penyakit dan kelaparan. Akibat busung lapar,
sebagaimana dilansir sejumlah media massa, ada puluhan, atau bahkan ratusan
anak-anak negeri ini meregang nyawa. Maka wajar belaka jika banyak orang yang
marah kepada para koruptor.
Pengungkapan korupsi Depag yang dilakukan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)
mudah-mudahan dapat membuka mata dan pikiran kita. Bahwa, di negeri ini tak ada
satu pun wilayah yang imun dari korupsi, termasuk wilayah yang secara formal
seharusnya mencerminkan kebenaran. Harapan kita, kasus korupsi Depag juga mampu
mengubah pandangan kita tentang kebenaran agama. Kebenaran agama seyogianya
tidak secara apriori diukur dari tampilan-tampilan formalitas. Dengan demikian,
ada harapan gejala disfungsi agama bisa dihilangkan, atau minimalisasi.
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/