> Tolong anda baca pendapat saya diatas (yang berada tepat diatas pendapat
> anda ini). Saya mengatakan dengan jelas bahwa harus dilakukan perombakan
> sistem dan mekanisme untuk mengontrol kinerja dan manajemen PERTAMINA. Baca
> dong mas.... (jangan asal nanggapi doang....)
>
DG: Justru saya menanggapi ini setelah membaca semua tulisan anda lho
bung Jopie; nah ini tidak saja masalah teknis, tetapi justru bicara
mengenai kondisi sosial manusia yang sekarang lagi pada pegang
kekuasaan... Coba dilihat lagi jawaban saya, kalau kondisi masih
seperti sekarang, artinya pemegang kekuasaan (termasuk yang di
perusahaan negara) masih kayak gini, pikirannya hanya bagaimana cara
balik modal jabatan atau bagaimana mendapatkan keuntungan dari suatu
jabatan, maka sia-sialah segala fasilitas yang diberikan... Ingat lho
bung, Pertamina ini sudah memonopoli urusan minyak sejak mula
didirikan... Tapi apakah hasilnya? Saya ingat sekitar 4 tahun lalu
sewaktu saya ikut proses seismik di sekitar prabumulih, bagaimana
jalanan dari Prabumulih ke Pendopo (tempat pertamina menambang minyak
) masih nggak karuan jauh dengan jalanan di Timika ke Kuala Kencana
yang dikelola Freeport... Ini baru soal masalah jalan, belum lagi
pengolahan limbah atau sistem HSE-nya...
> Itu sebuah pernyataan dari saya buat pemerintah sebagai sebuah solusi ektrem
> dalam mengatasi berbagai persoalan kebangsaan. Why not? Lihat perkembangan
> terakhir di Venezuela dan Bolivia. Saat Presiden Hugo Chavez dengan dukungan
> rakyat Venezuela dengan tegas dan lugas mengecam praktek kebijakan Ekonomi
> dan Politik USA, dan menolak program Privatisasi yang diajukan IMF dan Bank
> Dunia. Salah satu kebijakan Hugo Chavez yang akan segera dijalankan adalah
> menasionalisasi semua aset-aset asing. Lihat juga bagaimana rakyat di
> Bolivia yang mendesak Pemerintah-nya untuk menasionalisasi Perusahaan
> pertambangan seperti Repsol, British Petroleum, Total Fina, Enron, Shell,
> Petrobras dan lainnya.
> Kesimpulannya : Program Nasionalisasi bukanlah sesuatu yang tidak mungkin di
> masa sekarang.
DG: Bung, orang Venezuela atau Bolivia mendukung pemerintahnya karena
sebagian besar mereka percaya penuh pada pemimpinnya sebagaimana Kuba
atau China; laha kalau kita? Boro-boro mas... Pemimpinnya aja masih
nggak karuan begitu... Mau maksain dan 'gambling'? ya silakan aja,
tetapi ingat lho nasib 200 juta penduduk Indonesia?
>
> Pendapat anda diatas ini yang paling menggelitik buat saya......... Apakah
> kekayaan ALAM Indonesia yang dieksploitasi tidak sebanding dengan Investasi
> jutaan dollar tersebut? Apakah mereka bisa berinvestasi dan melipatgandakan
> keuntungan tanpa didukung cadangan MIGAS yang terkadung didalam perut bumi
> Nusantara? Logika sederhananya begini (biar anda dapat mencernanya) :
> Perusahaan asing membawa "MODAL" dan Pemerintah Indonesia memberikan Sumber
> Daya Alamnya. Sampai disini Logikanya "IMPAS".
> Selanjutnya, siapa yang harus menanggung beban kerusakan daya dukung
> lingkungan (darat dan laut) pasca penutupan tambang? Berapa dana yang harus
> dikeluarkan untuk merehabilitasi kerusakan lahan disekitar areal eksploitasi
> pertambangan?
>
DG: Kalau bicara IMPAS, maka dari kacamata teori ya nggak berlaku dong
mas, mana ada orang berusaha cuma sampai BEP doang? Mereka tentu akan
mencari untuk supaya bertahan hidup, supaya bisa melanjutkan bisnis
dan mendapatkan explorasi di tempat lain, memangnya explorasi biayanya
murah? Mahal mas, bahkan jauh lebih mahal daripada exploitasi!
Kalau bicara kerusakan alam, silakan sekali-kali anda jalan-jalan ke
tambang yang dikelola orang asing dengan yang dikelola pengusaha
republik deh... (paling mudah lihatlah tambang-tambang batubara di
Kalsel sana...)
> Pengalaman selama ini dari berbagai operasi pertambangan (bukan hanya MIGAS)
> membuktikan bahwa keuntungan yang masuk ke KAS pemerintah Indonesia dari
> total produksi pertambangan sangat minim. Kasus Freeport di Papua, Inco di
> Soroako, Caltex di Riau, Newmont di Minahasa dll memberi gambaran potret
> buram dunia pertambangan di Indonesia. Ternyata pertambangan tidak membawa
> manfaat yang berarti buat rakyat Indonesia, apalagi buat masyarakat
> disekitar lokasi pertambangan. Tapi mungkin berbeda pandangan dengan
> "orang-orang Indonesia" yang tercatat sebagai karyawan Perusahaan
> pertambangan, yang mendapat berbagai fasilitas penunjang kehidupan duniawi.
> Anda mungkin salah satu-nya..... Ini Perspektif pertambangan secara umum
> untuk MENJAWAB LOGIKA INVESTASI YANG ANDA SAMPAIKAN.
>
DG: Coba anda lihat apa juga yang telah diberikan perusahaan negara
kepada rakyat di sekitarnya... Coba anda bandingkan kehidupan rakyat
di sekitar tambang yang dikelola perusahaan asing dengan yang dikelola
perusahaan domestik deh.... SIlakan hitung perputaran uang yang
digunakan mereka... Apakah kami yang pekerja ini yang membuat sengsara
rakyat sekitar tambang?
OK, saya ada cerita nyata sewaktu saya ikut proyek eksplorasi seismik
di salah satu wilayah di sumatera; ini dilakukan oleh suatu perusahaan
besar AS di Indonesia. Waktu itu kami membuka lowongan untuk pekerja
di proyek ini. Bos saya waktu itu mengatakan harus 70% orang lokal
sisanya baru orang Jakarta atau tempat lain. Posisi yang dibuka adalah
mulai dari operator hingga junior engineer. Tahu apa yang terjadi?
Orang lokal semuanya maunya menjadi 'clerk', 'security' dan 'driver',
begitu ditawari operator mereka ogah dan hanya sebagian kecil saja
yang mau... Padahal kalau mereka mau jadi operator maka secara jangka
panjang mereka untung, karena begitu proses eksplorasi drilling dan
eksploitasi merekalah yang akan dipakai karena pengalaman sudah ada.
Apa iiya proyek nggak jadi karena tak punya operator? Jadilah terpaksa
'impor' tenaga operator dari daerah lain! Apakah ini masih salah?
Kalau ini masih dianggap salah, lalu mana yang benar? Tahukah anda
sewaktu kami membuat proyek di sana, semua alat kecuali yang tidak
diproduksi di INdonesia semuanya memakai leveransir atau distributor
lokal! MUlai dari mobil hingga kue snack untuk coffee break! Masih
salah lagi?
> Yang tidak logis dan rasional itu siapa? Anda menyampaikan pendapat dalam
> persfektif tekhnokrasi. Tapi tidak menyentuh aspek Sosiologis dan Antrologis
> ketika berbicara Pertambangan. Apakah ketika perusahaan pertambangan akan
> menentukan titik eksplorasi sampai proses eksploitasi tidak menyentuh aspek
> sosiologis dan antropologis??? Saya kira orang-orang seperti anda hanya
> dibutuhkan saat proses eksploitasi dan produksi saja... tapi tidak saat
> merumuskan AMDAL-nya....he....he.......Just Kidding.
>
> Penolakan saya TIDAK berpijak pada sisi NASIONALISME SEMPIT, melainkan dari
> sisi yang ideologis yakni PENOLAKAN TERHADAP AGENDA-AGENDA
> NEOLIBERALISME.............
>
DG: Kalau bicara kerusakan sistem sosial atau hubungan kemasyarakatan,
kembali lagi silakan lihat langsung aja masyarakat sekitar tambang;
di mana-mana mas setiap tambang berdiri tentu akan 'cultural shock'
yang akan terjadi, entah itu dikelola asing atau domestik.... Nggak
percaya silakan anda cek kalau nggak salah tahun 2000 pernah ada
seorang pejabat perusahaan pelat merah mati di atas perut perempuan
yang bukan istrinya!... Atau anda cek deh berapa banyak pejabat
perusahaan pelat merah yang punya 'gendhakan' atau 'simpanan'....
Melawan neoliberalisme tidak dengan frontal begitu mas... LIhat apa
yang terjadi dengan sistem sosialis... atau komunis... Neoliberalisme
hanya dapat dilawat dengan fondasi ekonomi nasional yang kuat yang
berakar kepada kerakyatan atau dalam bahasa lain yang langsung
memberikan kontribusi langsung kepada rakyat, silakan anda baca
pemikiran Bung Hatta kalau soal ekonomi deh, kayaknya pas untuk tujuan
anda yang melawan neoliberalisme itu....
Tabik...
--
Dafit Goenito
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/