Jumlah BUMN akan Dirampingkan
Jumat, 1 Juli 2005
JAKARTA (Suara Karya): Pemerintah akan merampingkan jumlah badan
usaha milik negara (BUMN). Namun demikian, BUMN yang bersifat strategis serta
BUMN yang mengemban fungsi layanan publik (public service obligation) tetap
akan dipertahankan.
Untuk itu, pemerintah terus melakukan inventarisasi. Setelah
inventarisasi selesai dibuat, pemerintah akan melakukan pemetaan (mapping) dan
kemudian membuat matriks tentang BUMN yang dipertahankan dan dijual. "Insya
Allah, formulasi (matriks) tentang itu selesai dalam satu bulan ini," kata
Menneg BUMN Sugiharto usai rapat kabinet terbatas yang dipimpin Wapres Jusuf
Kalla di Jakarta, Kamis kemarin.
Rapat dihadiri sejumlah menteri, antara lain Menteri Energi dan
Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro, Menko Perekonomian Aburizal Bakrie,
Menhut MS Kaban, Menperin Andung Nitimihardja, Menhub Hatta Radjasa, juga
Menperdag Mari Pangestu.
Sugiharto menyebutkan, BUMN yang mengemban fungsi layanan publik
akan terus dipertahankan. Tentang itu, dia menyebut PT Kereta Api, PT Garuda
Indonesia, PT Merpati Nusantara Airlines, atau PT Perusahaan Pengangkutan
Djakarta (PPD) sebagai contoh. Selama ini, BUMN-BUMN tersebut terus merugi.
Namun karena jelas mengemban fungsi layanan publik, pemerintah akan tetap
mempertahankan keberadaan BUMN-BUMN itu.
Menurut Sugiharto, jumlah BUMN sekarang ini (158 unit) serta sektor
yang digeluti masing-masing memang sudah sesuai dengan kebutuhan. Namun
demikian, sejumlah BUMN tidak perlu dipertahankan lagi karena sudah ketinggalan
perkembangan. "Karena itu, kami berkonsultasi dengan menteri-menteri teknis
tentang perlu-tidaknya kita melakukan right sizing (penyeder-hanaan) BUMN
dengan mempertimbangkan jumlah dan sektor usaha. Jadi kami bukan sekadar
memikirkan down sizing (penciutan), tetapi juga right sizing," katanya.
Sugiharto menjelaskan, right sizing BUMN sangat diperlukan terutama
karena sebagian besar (80 persen) keuntungan BUMN selama ini berasal dari 10
BUMN besar, seperti Telkom atau Pertamina. Sementara sisanya praktis merupakan
kontribusi sekitar 100 BUMN lain.
Menurut Sugiharto, kebanyakan BUMN relatif kecil meraih keuntungan
karena sosoknya memang tidak menunjang. Dia mencontohkan, sebuah BUMN
percetakan hanya berwujud seperti sebuah rumah toko (ruko) dengan aset kurang
dari Rp 10 miliar. "Apakah negara masih perlu memikirkan (BUMN) ini? Saya kira
enggak," katanya.
Sejumlah BUMN lain juga tak perlu dipertahankan karena
terus-menerus merugi serta tidak mengemban fungsi layanan publik. Tapi
Sugiharto tidak merinci ataupun memberi contoh tentang BUMN tersebut.
Sugiharto menekankan, right sizing BUMN memungkinkan pemerintah
bisa lebih fokus dalam mengelola BUMN ini. "Tidak mengalami disorientasi,"
katanya. Dia menambahkan, right sizing BUMN bisa berupa merger atau membuat
perusahaan induk (holding). Proses ini akan didahului uji tuntas dan kelayakan
terhadap BUMN yang tidak strategis dan tidak diamanatkan konstitusi.
Right Sizing BUMN juga dimaksudkan untuk mengefisienkan biaya
operasional sejumlah BUMN yang memiliki jenis usaha sama. "Kalau kita punya 15
BUMN yang punya jenis usaha sama, berarti kita membutuhkan 15 direktur keuangan
atau 15 direktur personalia. Padahal itu tidak perlu. Di era ITC (information
technology communication) sekarang ini banyak hal yang bisa dilakukan untuk
efisiensi biaya," katanya. (Indra)
http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=113726
--------------------------------------------------------------------
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/