Negara Bolivia - memang memiliki gas alam - tetapi untuk mengelola gas ini
diperlukan kapital - yg tidak dimiliki oleh negara tsb. Karena itu harus
tergantung multinational.
Keributan yg berada dinegara Bolivia bukan karena penghasilan gas alam ini
atau business dari gas alam ini. Persoalan ini hanya salah satu peristiwa yg
meluberkan kemarahan rakyat terhadap pemerintah. Yang betul2 membikin
kerusuhan social adalah discriminasi terhadap mereka yg keturunan pribumi
america dan campuran dari mereka dgn bangsa2 lain. Negara2 America selatan
didominansi oleh mereka yg berkulit putih. Ini kita lihat di Venzuela, Equador
dan di Bolivia , Peru etc. Mereka yg keturunan pribumi setempat tidak mempunyai
suara didalam pemerintahan dan tidak ada satu pribumi yg menguasai dunia
ekonomie. Mereka yg keturunan pribumi ini mungkin rata2 diseluruh america
selatan ini adalah 80 -85% dari penduduk - tetapi keuangan dan kepemerintahan
berada dalam tangan kulit putih keturunan spanish dari jaman contistadore yg
mungkin berjumlah hanya <1 % dari penduduk setempat. Dengan kemenangannya
president Hugo Chavez seorang dari group mixed blood, mata rakyat jelata agak
terbuka.
Pres Chavez menjalankan politik social reform dan karena itu tetap disenangi
majority penduduk. Waktu jaman Fujimori diPeru keadaan juga demikian tetapi
achirnya kaum "elite" keturunan kulit putih dapat mengambil alih kekuasaan
kembali.
Bolivia masih memakai system feodal dan reformasi social tidak dijalankan.
Penduduk pegunungan yg merupakan majority pribumi america selatan keturunan
kerajaan inca hidup dalam kemiskinan. Communicasi jalan kedaerah mereka tidak
ada dan kalau ada urbanisasi mereka sama seperti diIndoneisa merupakan tenaga
budak dari kaum kulit putih.
Karena itu sebelum mengambil kesimpulan kita harus belajar dari keributan
social di Bolivia kita harus mengerti susunan masyarakat mereka. Memang corupsi
mungkin juga merajalela sama dengan diIndonesia tetapi yg penting adalah bukan
korrupsi ini tetapi kemiskinan rakyat jelata yg hidup dislump dan yg sekarang
dgn kemenangannya Chavez dan dulu Fujimoro mendapat harapan. Mereka
mengharapkan semacam hero untuk Bolivia. Politik kaum kommunis diPeru memang
dimata kita sangat fanatik tetapi untuk mereka kaum pribumi ini merupakan
pelita kehidupan baru.
Pelajaran untuk Indonesia - korupsi di top kepemerintahan dan ketidak adilan
social terhadap rakyat keturunan pribumi. Soal kontrak2 dgn multinational =
kalau tidak punya kapital apakah kalian dapat mengelola penghasilan alam. Lagi
jangan salah paham - yg mendapat konsessie bukan hanya multinational Shell dan
BP tetapi juga yg berasal dari Latin America sendiri. Ini bukan soal yg
mencegah kemajuan negara ini hanya alst utk mencapainya
Sebelum menjerit tidak adil etc silahkan berpikir dgn logic - bagaimana mereka
sebagai negara tanpa kapital dan technology minyak sanggup mengelola bahan alam
ini tanpa bantuan technik dan kapital dari luar. Kalau kalian yg berteriak
memberikan solution yg logic yg lebih baik dari yg sekarang dipakai silahkan
berteriak kalau belum tahu silahkan belajar dahulu dn jangan memakai emosi yg
salah. Pengetahuan technik minyak tidak mudah - lihatlah sendiri Indonesia
tidak bisa bikin benzin atau minyak tanah sendiri harus import 100% dari negara
arab. Indonesia kan negara minyak - kenapa kaga bisa bikin sendiri - Jawabannya
karena ketidak stabilan keadaan social diIndonesia Longterm investment tidak
datang dn ahli2 setempat pengetahuannya tidak ada. Seharusnya kalau indonesia
bekerja sama dgn Shell dan tidak membikin Pertamina yg korrup [oleh perasaan
nasional] keadaan tidak seperti sekarang. Shell adalah perusahaan belanda dan
negara ini adalah satu2nya negara yg menyumbang pengetahuan dan
kapital kepada bekas jajahannya sampai beratusan juta dollar setahun. {Belanda
sendiri negara gas alam] Yg sulitnya utk pemerintah Indonesia Negara Belanda
anti korrupsi dn segala pengeluaran diperiksa sampai mendalam dn rupanya tidak
lukratip utk Suharto cs..
Andreas
.
A Nizami <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Semoga kasus Bolivia jadi pelajaran bagi kita. Negara
tersebut punya gas alam terbesar ke 2, tapi rakyatnya
tetap miskin. Ini karena yang menikmati kekayaan alam
tersebut adalah Multi National Company asing.
Rakyat mereka ibarat ayam yang kelaparan di lumbung
beras.
Jangan sampai negara kita seperti itu. Kita mengekspor
gas alam. Tapi pabrik pupuk Iskandar Muda nyaris mati
kekurangan gas. Kita mengekspor minyak (walau juga
impor). Tapi rakyat kita sampai berkelahi berebut BBM.
Mudah-mudahan kita bisa mengelola kekayaan alam
sendiri. Hidup mandiri. Sehingga seluruh kekayaan alam
bisa dinikmati oleh seluruh rakyat Indonesia. Bukan
oleh MNC asing.
--- KPP PRD <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Pergolakan Bolivia, Pelajaran akibat Privatisasi
Bulan Oktober 2003, Presiden Gonzalo Sanchez de
Lozada, tokoh liberal Bolivia pemenang Pemilu,
diturunkan oleh demonstrasi rakyat dan digantikan oleh
Carlos Mesa. Peristiwa itu dikenal sebagai Hantu
Oktober. Dan dua puluh bulan kemudian, hantu itu
datang lagi lewat rangkaian demonstrasi yang terjadi
sejak Januari 2005, dan dilanjutkan dengan pemogokan
umum setelah Presiden Carlos Mesa menandatangani UU
perminyakan (Hydocarbon) 17 Mei 2005 . Pada 26 Mei
2005, pemogokan dihentikan untuk memperingati festival
umat Katolik Corpus Christi, dan segera berlanjut
keesokan harinya. Ratusan ribu rakyat Bolivia turun ke
jalan-jalan menuju istana kepresidenan La Paz, bahkan
memblokade perbatasan menuju Chile dan Peru. Hingga
tanggal 6 Juni 2005, ahirnya Presiden Carlos Mesa
mengundurkan diri.
Dalam Agenda Oktober 2003 Carlos Mesa menjanjikan
rakyat untuk menasionalisasi minyak dan gas;
penjatuhan hukuman terhadap politisi yang
bertanggungjawab atas kematian 67 orang dalam
pergolakan Oktober 2003; dan sidang konstituante untuk
merevisi konstitusi dengan melibatkan masyarakat adat
setempat (Indian). Tak main-main, rakyat Bolivia
menuntut balik janji itu, khususnya warga pekerja dan
masyarakat Indian dari El Alto, ketika dalam 20 bulan
kekuasaan Mesa tak satupun janji tersebut dipenuhi.
Negeri yang berpenduduk tak lebih dari 9 juta ini
adalah negeri paling miskin di Amerika Selatan,
padahal memiliki kekayaan gas alam terbesar kedua
setelah Venezuela. Sebesar 18% pajak pendapatan
penjualan (royalti) terhadap kontrak production
sharing minyak ditetapkan Presiden Lozada. Berjudi
dengan kekuatan modal asing, Carlos Mesa malah berani
menaikkannya menjadi 32% dalam UU Hidrokarbon yang
baru disahkannya 17 Mei lalu. Namun, kebijakan
tersebut tampaknya sudah sulit mengambil hati rakyat.
Seperti bola salju tuntutan bergulir menjadi
nasionalisasi perusahaan-perusahaan minyak dan gas
Bolivia.
Sebanyak 76 kontrak minyak yang sudah ditandatangani
dimasa kekuasaan Jorge Quiroga dan Lozada, hanya
menguntungkan 12 perusahaan transnasional; termasuk
Enron, Shell, Repsol YPF, Petrobas, dan British
Petroleum. Mereka dimudahkan untuk membeli langsung
minyak mentah di sumur-sumur minyak Santa Cruz dibawah
nilai pasar, dan menjualnya kembali pada rakyat
Bolivia 12 kali dari harga aslinya. Rakyat Bolivia
tampaknya mengerti bahwa inilah salah satu penyebab
naiknya harga bahan bakar minyak diesel, petrol dan
kerosene, selain karena kesepakatan Presiden Carlos
Mesa dengan IMF tentang privatisasi pada bulan
Desember 2004. Inilah yang memicu rangkaian
demonstrasi Januari 2005.
Kerap kali pertanyaannya yang muncul kemudian adalah
siapa dan apa kepentingan dibalik pergolakan rakyat di
Bolivia. Menakjubkan, karena setelah penetapan 32%
royalti minyak oleh parlemen dan Presiden Mesa, maka
dua kepentingan pun bertemu; kelompok masyarakat
miskin dan elit-elit pemegang lisensi minyak.
Kepentingan pertama menginginkan royalty yang lebih
banyaktermasuk hasil referendum minyak Juni 2004 yang
memutuskan 50% royalti minyak untuk negarahingga
nasionalisasi perusahaan-perusahaan minyak.
Kepentingan kedua menolak angka sebesar itu, karena
takut akan menghambat investasi asing. Kepentingan
yang bertolak belakang ini malah menyatu dengan
tuntutan pengunduran diri Presiden Mesa. Karena
mobilisasi kelompok-kelompok marginal Bolivia jauh
lebih banyak, maka tuntutan yang dimenangkan dan
behasil memperoleh dukungan mayoritas adalah
pengunduran diri Mesa sekaligus nasionalisasi
perusahaan minyak.
Presiden Mesamantan jurnalis yang relatif independent
dan reformismemang tak punya banyak pilihan
dihadapkan pada kritisisme 8 juta mayarakat miskin
terkait dengan eksplorasi kekayaan alam. Presiden
Kamar Dagang Nasional, Viktor de los Heros, bahkan
mengakui, eksplorasi tak menghasilkan industrialisasi
Bolivia, bahkan juga tak mampu memajukan kelas
menengah nasional di negeri itu, apalagi menurunkan
angka kemiskinan.
Kemarahan rakyat Bolivia rupanya memang sudah
berlangsung lama sejak privatisasi air diberlakukan
tahun 2003, yang menyebabkan kenaikan tarif hingga
300%. Kesenjangan ekonomi antara masyarakat kulit
putih dengan 2/3 masyarakat petani miskin yang
mayoritas merupakan penduduk asli Indian Aytamara dan
Quechua menjadi semakin tajam. Elit kulit putih yang
duduk di pemerintahan dan memegang lisensi privatisasi
perusahaan minyak dalam Majelis Perdagangan Industri
(CAINCO) semakin tak dipercaya masyarakat miskin
karena membiarkan perusahaan-perusahaan minyak asing
mempermainkan harga minyak.
Dua kasus privatisasi air dan energi ini menyatukan
kepentingan penduduk asli Indian yang bertahun-tahun
didiskriminasi; para pekerja yang tergabung dalam
Bolivian Workers Central (COB) El Alto; para guru yang
hanya bergaji 60$ perbulan; Federasi Pekerja Minyak
Bolivia; Komite Masyarakat Pinggiran (FEJUVE) La Paz;
bahkan petani coca yang diperangi oleh Amerika
Serikat, dalam satu pergolakan menolak privatisasi dan
otonomi yang luas bagi kota-kota penghasil minyak.
Santa Cruz adalah salah satu kota minyak utama, dimana
penduduk asli justru yang paling menderita kemiskinan.
Ratusan ribu rakyat yang memaksa Carlos Mesa mundur
adalah akumulasi dari kemarahan akibat privatisasi.
Diluar kepentingan yang akan bertarung pasca mundurnya
Carlos Mesa, satu hal yang menjadi kesadaran baru
mayoritas masyarakat miskin adalah; privatiasasi
terbukti semakin menyengsarakan, dan rakyat
berkepentingan untuk menolaknya. Pengolahan sumber
daya alam dituntut lebih berorientasi sosial, bahkan
lebih jauh lagi; dinasionalisasi.
Perusahaan-perusahaan asing bermodal raksasa tak lagi
dibiarkan sewenang-wenang mengeksploitasi kekayaan
energi yang merugikan masyarakat miskin Bolivia.
Di Indonesia, Pertamina dan pemerintah kita hanya
mampu mengontrol 10% dari produksi minyak sehingga
harga BBM harus dinaikkan. Sehingga perusahaan seperti
Chevron-Texaco, pemilik perusahaan tambang minyak
terbesar di Indonesia, dengan leluasa menerima konsesi
melebihi 70 persen dari total produksi minyak
Indonesia.
Ketika saat ini Indonesia melakukan privatisasi
sektor-sektor strategis yang dulu dimonopoli BUMN,
lewat UU Migas, UU Kelistrikan, dan UU Privatisasi
Air, dapatkah Indonesia mengambil pelajaran dari kasus
pergolakan rakyat Bolivia menolak privatisasi? Bahkan
lebih luas lagi, pergolakan rakyat Amerika Latin
menolak privatiasi dan mendesak nasionalisasi
perusahaan energi, seperti yang sudah terjadi di
Venezuela; El Savador, Mexico; dan Argentina?. (*Zely
Ariane)
Bacalah artikel tentang Islam di:
http://www.nizami.org
____________________________________________________
Yahoo! Sports
Rekindle the Rivalries. Sign up for Fantasy Football
http://football.fantasysports.yahoo.com
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
---------------------------------
YAHOO! GROUPS LINKS
Visit your group "ppiindia" on the web.
To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
---------------------------------
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/