Hmm, ada kesan sindrom kurang percaya diri....
--- ANDREAS MIHARDJA <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Sebelum menjerit tidak adil etc silahkan berpikir
> dgn logic - bagaimana mereka sebagai negara tanpa
> kapital dan technology minyak sanggup mengelola
> bahan alam ini tanpa bantuan technik dan kapital
> dari luar.
Ya, kita bisa pinjam atau sewa tenaga luar. Tapi HARUS
DI BAWAH KONTROL DAN KENDALI KITA, bukan sebaliknya...
Kalau kalian yg berteriak memberikan
> solution yg logic yg lebih baik dari yg sekarang
> dipakai silahkan berteriak kalau belum tahu silahkan
> belajar dahulu dn jangan memakai emosi yg salah.
> Pengetahuan technik minyak tidak mudah - lihatlah
> sendiri Indonesia tidak bisa bikin benzin atau
> minyak tanah sendiri harus import 100% dari negara
> arab.
Bagi rekan-rekan yang menggeluti masalah minyak,
pernyataan ini jelas tidak akurat. Kita mengekspor
minyak dengan kualitas yang baik (kadar sulfur
rendah), dan pada saat yang sama juga mengimpor minyak
(dengan kualitas lebih buruk), sehingga ada selisih
harga buat revenue.
Indonesia kan negara minyak - kenapa kaga bisa
> bikin sendiri
Maksudnya bikin itu gimana? MInyak mentah di masukkan
ke kilang, lalu diolah menjadi berbagai jenis BBM,
dari BBM tingkast tinggi (Avtur untuk pesawat) sampai
tingkat rendah (minyak tanah, lilin, dsb). Di
Indonesia sudah lama ada kilang minyak, walau
kapasitasnya tidak sebesar yang diharapkan.
- Jawabannya karena ketidak stabilan
> keadaan social diIndonesia Longterm investment tidak
> datang dn ahli2 setempat pengetahuannya tidak ada.
Jawaban yang terlalu generik dan simplistis.
> Seharusnya kalau indonesia bekerja sama dgn Shell
> dan tidak membikin Pertamina yg korrup [oleh
> perasaan nasional] keadaan tidak seperti sekarang.
Artinya, lebih bagus dijajah Belanda ketimbang
merdeka. Kalau persoalannya di korupsi, ya koruptornya
diberantas. Bukan malah menghamba...
> Shell adalah perusahaan belanda dan negara ini
> adalah satu2nya negara yg menyumbang pengetahuan dan
> kapital kepada bekas jajahannya sampai beratusan
> juta dollar setahun.
Satu-satunya???? Apa saya tidak salah dengar???? Ada
Texaco, ada Unocal, ada macam-macam yang dengan senang
hati akan mau bantu Indonesia asal ada profit!!
{Belanda sendiri negara gas
> alam] Yg sulitnya utk pemerintah Indonesia Negara
> Belanda anti korrupsi dn segala pengeluaran
> diperiksa sampai mendalam dn rupanya tidak lukratip
> utk Suharto cs..
> Andreas
> .
>
> A Nizami <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Semoga kasus Bolivia jadi pelajaran bagi kita.
> Negara
> tersebut punya gas alam terbesar ke 2, tapi
> rakyatnya
> tetap miskin. Ini karena yang menikmati kekayaan
> alam
> tersebut adalah Multi National Company asing.
>
> Rakyat mereka ibarat ayam yang kelaparan di lumbung
> beras.
>
> Jangan sampai negara kita seperti itu. Kita
> mengekspor
> gas alam. Tapi pabrik pupuk Iskandar Muda nyaris
> mati
> kekurangan gas. Kita mengekspor minyak (walau juga
> impor). Tapi rakyat kita sampai berkelahi berebut
> BBM.
>
> Mudah-mudahan kita bisa mengelola kekayaan alam
> sendiri. Hidup mandiri. Sehingga seluruh kekayaan
> alam
> bisa dinikmati oleh seluruh rakyat Indonesia. Bukan
> oleh MNC asing.
>
> --- KPP PRD <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Pergolakan Bolivia, Pelajaran akibat Privatisasi
>
> Bulan Oktober 2003, Presiden Gonzalo Sanchez de
> Lozada, tokoh liberal Bolivia pemenang Pemilu,
> diturunkan oleh demonstrasi rakyat dan digantikan
> oleh
> Carlos Mesa. Peristiwa itu dikenal sebagai Hantu
> Oktober. Dan dua puluh bulan kemudian, hantu itu
> datang lagi lewat rangkaian demonstrasi yang terjadi
> sejak Januari 2005, dan dilanjutkan dengan pemogokan
> umum setelah Presiden Carlos Mesa menandatangani UU
> perminyakan (Hydocarbon) 17 Mei 2005 . Pada 26 Mei
> 2005, pemogokan dihentikan untuk memperingati
> festival
> umat Katolik Corpus Christi, dan segera berlanjut
> keesokan harinya. Ratusan ribu rakyat Bolivia turun
> ke
> jalan-jalan menuju istana kepresidenan La Paz,
> bahkan
> memblokade perbatasan menuju Chile dan Peru. Hingga
> tanggal 6 Juni 2005, ahirnya Presiden Carlos Mesa
> mengundurkan diri.
>
> Dalam Agenda Oktober 2003 Carlos Mesa menjanjikan
> rakyat untuk menasionalisasi minyak dan gas;
> penjatuhan hukuman terhadap politisi yang
> bertanggungjawab atas kematian 67 orang dalam
> pergolakan Oktober 2003; dan sidang konstituante
> untuk
> merevisi konstitusi dengan melibatkan masyarakat
> adat
> setempat (Indian). Tak main-main, rakyat Bolivia
> menuntut balik janji itu, khususnya warga pekerja
> dan
> masyarakat Indian dari El Alto, ketika dalam 20
> bulan
> kekuasaan Mesa tak satupun janji tersebut dipenuhi.
>
> Negeri yang berpenduduk tak lebih dari 9 juta ini
> adalah negeri paling miskin di Amerika Selatan,
> padahal memiliki kekayaan gas alam terbesar kedua
> setelah Venezuela. Sebesar 18% pajak pendapatan
> penjualan (royalti) terhadap kontrak production
> sharing minyak ditetapkan Presiden Lozada. Berjudi
> dengan kekuatan modal asing, Carlos Mesa malah
> berani
> menaikkannya menjadi 32% dalam UU Hidrokarbon yang
> baru disahkannya 17 Mei lalu. Namun, kebijakan
> tersebut tampaknya sudah sulit mengambil hati
> rakyat.
> Seperti bola salju tuntutan bergulir menjadi
> nasionalisasi perusahaan-perusahaan minyak dan gas
> Bolivia.
>
> Sebanyak 76 kontrak minyak yang sudah ditandatangani
> dimasa kekuasaan Jorge Quiroga dan Lozada, hanya
> menguntungkan 12 perusahaan transnasional; termasuk
> Enron, Shell, Repsol YPF, Petrobas, dan British
> Petroleum. Mereka dimudahkan untuk membeli langsung
> minyak mentah di sumur-sumur minyak Santa Cruz
> dibawah
> nilai pasar, dan menjualnya kembali pada rakyat
> Bolivia 12 kali dari harga aslinya. Rakyat Bolivia
> tampaknya mengerti bahwa inilah salah satu penyebab
> naiknya harga bahan bakar minyak diesel, petrol dan
> kerosene, selain karena kesepakatan Presiden Carlos
> Mesa dengan IMF tentang privatisasi pada bulan
> Desember 2004. Inilah yang memicu rangkaian
> demonstrasi Januari 2005.
>
> Kerap kali pertanyaannya yang muncul kemudian adalah
> siapa dan apa kepentingan dibalik pergolakan rakyat
> di
> Bolivia. Menakjubkan, karena setelah penetapan 32%
> royalti minyak oleh parlemen dan Presiden Mesa, maka
> dua kepentingan pun bertemu; kelompok masyarakat
> miskin dan elit-elit pemegang lisensi minyak.
>
> Kepentingan pertama menginginkan royalty yang lebih
> banyaktermasuk hasil referendum minyak Juni 2004
> yang
> memutuskan 50% royalti minyak untuk negarahingga
> nasionalisasi perusahaan-perusahaan minyak.
> Kepentingan kedua menolak angka sebesar itu, karena
> takut akan menghambat investasi asing. Kepentingan
>
=== message truncated ===
__________________________________
Do you Yahoo!?
Yahoo! Mail - You care about security. So do we.
http://promotions.yahoo.com/new_mail
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/