Itulah dampak dari krisis moral barat yg akhirnya menular dan 
terjangkit pada pejabat-pejabat kita saat ini. Mungkin suatu saat 
tidak menutup kemungkinan bukan hanya KORUPSI saja yg merajalela di 
Negri Pertiwi ini, bisa jadi seperti apa yg sekarang dialami oleh 
negara spanyol dan italia. Semoga saja tidak!

--- In [email protected], "Ambon" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Mungkin saja krisis Moral di Barat, tetapi kalau Departemen Agama 
dan 
> petinggi negara mengkorupsi duit jemah haji itu bermoral baik?
> 
> ----- Original Message ----- 
> From: "¦æ£àä¦" <[EMAIL PROTECTED]>
> To: <[email protected]>
> Sent: Friday, July 01, 2005 1:56 PM
> Subject: [ppiindia] Gereja dan Krisis Moral di Barat
> 
> 
> > http://www.ppi-india.org/BUKA/halaman.php?ArtID=558
> >
> > Gereja dan Krisis Moral di Barat
> > 01 Juli 2005 - 13:32
> >
> > Baru-baru ini parlemen Spanyol mengesahkan undang-undang yang
> > melegalkan perkawinan sejenis. Pengesahan undang-undang ini sontak
> > menuai badai protes dari gereja dan berbagai kalangan. Pada
> > kesempatan kali ini, kami mengajak Anda untuk menyimak sebuah 
ulasan
> > mengenai krisis moral dan peran gereja di Barat.
> >
> > Gereja sebagai lembaga resmi agama Kristen tidak dapat 
menyembunyikan
> > kekecewaannya terhadap langkah sejumlah negara Eropa yang 
mengesahkan
> > praktik amoral. Dalam dua pekan terakhir, terjadi dua peristiwa 
besar
> > di dua negara yang dikenal sebagai pusat Katolik, yaitu Italia dan
> > Spanyol, yang melibatkan gereja dan para tokoh agama. Di Spanyol,
> > Dewan Keuskupan menyeru warga untuk ikut memprotes draf pemerintah
> > yang melegalkan perkawinan sejenis. Sedangkan di Italia, Vatikan
> > mengajak masyarakat luas untuk memboikot referendum yang akan
> > dilangsungkan pemerintah berkaitan dengan liberalisasi undang-
undang
> > No. 40 yang membatasi secara ketat proses rekayasa pembenihan 
anak.
> >
> > Dalam dua kasus ini, gereja mempertontonkan kemampuannya 
mengerahkan
> > massa untuk memprotes kebijakan pemerintah Italia dan Spanyol yang
> > dipandang bertentangan dengan nilai-nilai moral. Di Spanyol, 
ratusan
> > ribu massa turun ke jalan-jalan memenuhi panggilan gereja. 
Sedangkan
> > di Italia, berkat seruan boikot itu, referendum hanya diikuti 
oleh 26
> > persen warga yang memiliki hak pilih. Tentunya dengan partisipasi
> > yang kecil seperti ini, referendum terancam gagal. Fakta yang 
terjadi
> > di Spanyol dan ltalia menunjukkan bahwa gereja masih memiliki
> > pengaruh yang besar di tengah masyarakat Eropa.
> >
> > Seperti diketahui, pasca gerakan renaissance, peran gereja Katolik
> > secara praktis telah tersingkirkan dan negara-negara di Eropa 
jatuh
> > ke tangan orang-orang liberal yang menolak keterlibatan agama dan
> > agamawan dalam kegiatan politik, ekonomi bahkan sosial dan
> > kebudayaan. Kini setelah beberapa abad berlalu dari era itu, 
gereja
> > kembali menunjukkan sikapnya yang berseberangan dengan kebijakan 
para
> > politikus dan pemerintah di sejumlah negara Eropa. Dalam dua kasus
> > yang disebutkan tadi, pemerintah Spanyol dan Italia bagai 
kebakaran
> > jenggot menyaksikan penentangan gereja tersebut. Mantan presiden
> > Italia, Oscar Luigi Scalfaro dalam reaksinya mengatakan, "Gereja
> > hanya bertugas memberi nasehat kepada umat dan tidak berhak untuk
> > mencampuri urusan perundang-undangan di Italia. "
> >
> > Secara umum, faktor yang mendorong gereja untuk mengambil sikap 
keras
> > dan tegas dalam dua kasus tersebut adalah kekhawatiran para 
agamawan
> > Katolik akan kian melemahnya peran mereka di tengah masyarakat. 
Pasca
> > renaissance, gereja berubah menjadi sebuah lembaga sosial yang 
hanya
> > berwenang mengurusi masalah moral dan agama dalam bentuknya 
sebagai
> > kegiatan individu semata. Peran para pendeta dan pastor juga 
berubah
> > menjadi hanya para pemimpin doa bersama, pembaca akad perkawinan, 
dan
> > pemimpin acara penguburan. Peran yang sudah kecil ini semakin
> > dikerdilkan oleh pemerintah di sejumlah negara, semisal Spanyol 
dan
> > Italia, yang mengesahkan undang-undang yang bertentangan dengan 
moral
> > dan etika.
> >
> > Di era pasca renaissance, dengan berkuasanya sistem liberalisme
> > ekonomi dan politik di Barat, muncul pula arus liberalisme budaya.
> > Negara-negara Barat telah berubah jauh dengan keberhasilannya 
meraih
> > kemajuan pesat di berbagai bidang. Kesejahteraan di negara-negara 
ini
> > juga jauh melebihi negara-negara lain. Keperkasaan inilah yang 
lantas
> > mengubah negara-negara Barat menjadi kekuatan imperialis yang 
selama
> > beberapa abad melakukan penjajahan di berbagai kawasan dunia dan
> > merampok kekayaan bangsa-bangsa lain. Kesejahteraan bangsa Eropa
> > Barat yang diperoleh dengan memanfaatkan kelemahan dan
> > keterbelakangan bangsa-bangsa lain di dunia, telah mengubah 
tatanan
> > sosial di Barat yang berbuntut pada perubahan nilai-nilai moral 
dan
> > etika.
> >
> > Budaya Barat saat ini telah menyatu dengan budaya yang tidak
> > terkontrol. Manusia di Barat tidak berhadapan dengan batasan-
batasan
> > untuk mengecap kenikmatan di luar etika. Sayangnya, rezim-rezim di
> > Barat bukan hanya tidak membatasi praktik asusila warganya, tetapi
> > malah ikut memberikan label resmi pada praktik-praktik semacam 
ini.
> > Praktik homoseksual yang pada beberapa dekade lalu dipandang 
sebagai
> > praktik menjijikkan dan pelakunya pasti akan dikucilkan oleh
> > masyarakat, kini didukung oleh pemerintah dan mendapat pengesahan.
> >
> > Di Barat, setiap tahunnya pada hari-hari tertentu, kaum gay dan 
lesbi
> > dengan turun ke jalan-jalan, menuntut pengakuan hak-hak mereka 
secara
> > resmi dari pemerintah. Dekadensi moral yang di Barat sudah 
sedemikian
> > parahnya, sehingga sejumlah tokoh politik dan pemerintahan tidak 
lagi
> > merasa risih untuk mengaku bahwa dirinya adalah seorang 
homoseksual.
> > Layak dicatat bahwa kondisi ini bahkan telah merambah negara-
negara
> > dengan jumlah pemeluk agama Katolik di atas 90 persen. Jelas, 
kondisi
> > ini dipandang gereja sebagai tanda-tanda buruk yang harus segera
> > ditangani, sehingga memaksa gereja untuk mengambil sikap tegas 
meski
> > sikap itu dinilai bertentangan dengan wewenang lembaga keagamaan 
di
> > Barat.
> >
> > Amat disayangkan, gereja Katolik terkesan lamban dapat bersikap
> > menghadapi krisis moral di Barat. Meski berhasil menggalang 
ratusan
> > ribu umat untuk turun ke jalan menentang undang-undang perkawinan
> > kaum homoseksual, namun nampaknya, gereja tidak akan mampu
> > menghentikan laju keruntuhan sendi-sendi moral di Barat. Sebab, 
opini
> > umum di Barat sudah tidak lagi memandang hal ini sebagai 
penyimpangan
> > etika, tetapi hanya sebuah masalah yuridis yang harus dicarikan
> > penyelesaiannya. Pertanyaan yang ada di tengah masyarakat Barat
> > adalah, "Hak apa yang dimiliki oleh orang-orang yang memiliki
> > kecenderungan seksual menyimpang? Artinya, apakah secara hukum,
> > pasangan homoseksual memiliki hak layaknya pasangan suami istri?"
> >
> > Meskipun pemerintah Barat tidak kunjung menyadari betapa besar 
dampak
> > dari dekadensi moral, namun kenyataan menunjukkan bahwa masyarakat
> > Barat sudah cukup menderita akibat sikap hidup yang bebas tanpa 
batas
> > ini. Kejahatan, obat bius, prostitusi, penyakit AIDS, penyakit
> > kejiwaan, anak-anak yang lahir tanpa bapak, adalah di antara 
dampak-
> > dampak mengerikan dari kebobrokan moral. Oleh karena itu, sudah
> > saatnya masyarakat Barat membuka diri dan kembali pada nilai-nilai
> > moral. Sebaliknya, gereja pun harus secara tegas dan 
berkesinambungan
> > menjalankan perannya sebagai penunjuk arah bagi masyarakat Barat,
> > agar mereka bisa menemukan kehidupan yang selamat.
> > (irib/ppi/pul/01/07/05)
> >
> >
> >
> >
> >
> > 
**********************************************************************
*****
> > Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju 
Indonesia 
> > yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
> > 
**********************************************************************
*****
> > 
______________________________________________________________________
____
> > Mohon Perhatian:
> >
> > 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg 
otokritik)
> > 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan 
dikomentari.
> > 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
> > 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
> > 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
> > 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
> >
> > Yahoo! Groups Links
> >
> >
> >
> >
> >
> >




***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke