yap. Niat itu sumber, Taqwa itu hasil, sedang amal..ya..amal...
Sholat, puasa, dzikir...itu termasuk amal, bukan taqwa itu sendiri.

Ada kutipan dari Qardawi:

***
 PRIORITAS AMALAN HATI ATAS AMALAN ANGGOTA BADAN

DI ANTARA amalan yang sangat dianjurkan  menurut  pertimbangan
agama  ialah amalan batiniah yang dilakukan oleh hati manusia.
Ia lebih diutamakan daripada amalan  lahiriah  yang  dilakukan
oleh anggota badan, dengan beberapa alasan.

Pertama,  karena  sesungguhnya  amalan yang lahiriah itu tidak
akan diterima oleh Allah  SWT  selama  tidak  disertai  dengan
amalan  batin  yang  merupakan  dasar  bagi diterimanya amalan
lahiriah itu, yaitu niat;  sebagaimana  disabdakan  oleh  Nabi
saw:

   "Sesungguhnya amal perbuatan itu harus disertai dengan
   niat." 

Arti niat ini ialah niat yang terlepas  dari  cinta  diri  dan
dunia.  Niat  yang  murni  untuk  Allah  SWT.  Dia  tidak akan
menerima amalan seseorang kecuali amalan itu murni  untuk-Nya;
sebagaimana difirmankan-Nya:

   "Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah
   Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam
   (menjalankan) agama dengan lurus..." (al-Bayyinah: 5)

Rasulullah saw bersabda,
   
   "Sesungguhnya Allah tidak menerima amalan kecuali yang
   murni, yang dilakukan hanya untuk-Nya."

Dalam sebuah hadits qudsi diriwayatkan, Allah SWT berfirman,

   "Aku adalah sekutu yang paling tidak memerlukan
   persekutuan. Barangsiapa melakukan suatu amalan kemudian
   dia mempersekutukan diri-Ku dengan yang lain, maka Aku
   akan meninggalkannya dan meninggalkan sekutunya." Dalam
   riwayat yang lain disebutkan: "Maka dia akan menjadi
   milik sekutunya dan Aku berlepas diri darinya." 

Kedua,  karena  hati  merupakan  hakikat  manusia,   sekaligus
menjadi  poros kebaikan dan kerusakannya. Dalam Shahih Bukhari
dan Muslim disebutkan bahwasanya Nabi saw bersabda,

   "Ketahuilah sesungguhnya di dalam tubuh manusia ada
   segumpal darah, apabila dia baik maka baiklah seluruh
   tubuhnya, dan apabila dia rusak, maka rusaklah seluruh
   tubuhnya. Ketahuilah bahwa segumpal darah itu ialah
   hati."

Nabi saw. menjelaskan bahwasanya hati  merupakan  titik  pusat
pandangan  Allah,  dan  perbuatan  yang dilakukan oleh hatilah
yang  diakui  (dihargai/dinilai)  oleh-Nya.  Karenanya,  Allah
hanya  melihat hati seseorang, bila bersih niatnya, maka Allah
akan menerima amalnya: dan bila kotor hatinya  (niatnya  tidak
benar),  maka otomatis amalnya akan ditolak Allah, sebagaimana
disabdakan oleh baginda,

   "Sesungguhnya Allah SWT tidak melihat kepada tubuh dan
   bentuk kamu, tetapi Dia melihat kepada hati-hati kamu."
  
Yang dimaksudkan di sini ialah  diterima  dan  diperhatikannya
amalan tersebut.

Al-Qur'an menjelaskan bahwasanya keselamatan di akhirat kelak,
dan perolehan surga di sana, hanya dapat  dicapai  oleh  orang
yang   hatinya   bersih   dari  kemusyrikan,  kemunafikan  dan
penyakit-penyakit hati yang menghancurkan.  Yaitu  orang  yang
hanya  menggantungkan  diri kepada Allah SWT, sebagaimana yang
Dia firmankan melalui lidah nabi-Nya, Ibrahim al-Khalil a.s.

   "Dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka
   dibangkitkan. (Yaitu) di hari harta dan anak-anak tidak
   berguna. Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan
   hati yang bersih." (as-Syu'ara': 87-89)
   
   "Dan didekatlah surga itu kepada orang-orang yang
   bertaqwa pada tempat yang tiada jauh (dari mereka).
   Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) kepada setiap
   hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi memelihara
   (semua peraturan-peraturan-Nya). (Yaitu) orang yang takut
   kepada tuhan Yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan
   (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertobat."
   (Qaf: 31-33)

Keselamatan  dari  kehinaan  pada  hari  kiamat  kelak   hanya
diberikan  kepada  orang  yang  datang kepada Allah SWT dengan
hati yang bersih. Dan surga hanya diberikan kepada orang  yang
datang kepada Tuhannya dengan hati yang pasrah.

Taqwa  kepada  Allah  --yang merupakan wasiat bagi orang-orang
terdahulu dan yang terkemudian, merupakan dasar perbuatan yang
utama, kebajikan, kebaikan di dunia dan akhirat-- pada hakikat
dan intinya merupakan persoalan hati. Oleh karena itu Nabi saw
bersabda,  "Taqwa itu ada di sini," sambil menunjuk ke dadanya
sebanyak tiga kali. Beliau mengatakannya  sebanyak  tiga  kali
sambil  memberikan  isyarat  dengan  tangannya ke dadanya agar
dapat dipahami oleh akal dan jiwa manusia.

Sehubungan dengan hal ini,  al-Qur'an  memberi  isyarat  bahwa
ketaqwaan itu dilakukan oleh hati manusia:

   "Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa
   mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu
   timbul dari ketaqwaan hati." (al-Hajj: 32)

***

Jadi, betapa meruginya orang beramal sebaik apapun kalau dihatinya 
ada kemusyrikan, kemunafikan, dan penyakit hati lainnya.
Lagi-lagi, inilah pentingnya ilmu Tauhid, agar tak menjadi orang 
merugi.

wassalam,


--- In [email protected], "m_hikam" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Sepertinya ada pemisahan antara takwa dengan niat. Padahal 
hubungan 
> keduanya laiknya sumber dan hasil. Maka wajar jika ada ulama yang 
> berpendapat bahwa niat itu bisa dikatakan separu agama; karena 
> urgensitasnya itu. Niat sebagaimana dalam bahasa dan sumber 
> otentiknya harus disertai dengan amal (kerja)nya. Sehingga jika 
> belum dikerjakan belum bisa dikatakan niat tapi masih berupa 
> keinginan (bahasa Arabnya "Hamm"). Ada sebuah hadist yang 
berbunyi " 
> fa man hamma bi hasanatin...(HR. Bukhari Muslim)"(Barang siapa 
yang 
> berkeinginan untuk melakukan sesuatu kebaikan, namun realitanya ia 
> belum bisa mwlakukannya, maka baginya satu pahala, barang siapa 
yang 
> bisa mengerjakannya (disebut niat) maka ia mendapatkan pahala yang 
> berlipat...). Perlu menjadi catatan bahwa hadist ini tidak 
> menganjurkan bahwa seorang itu cukup hanya berkehendak tanpa 
> bekerja, namun konteknya adalah penghargaan Islam terhadap 
keinginan-
> keinginan untuk berbuat baik agar perbuatan itu semakin subur. 
> 
> Itu sementara. Mba Lina dkk, bisa dikoreksi jk ada kekeliruan.  
> 
> 





***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke