1) Perang, adalah sebuah kejadian. Bisa direncanakan. Bisa terjadi tiba tiba.
Bisa merupakan sebab (penyerangan Pearl Harbour) bisa merupakan akibat
(serangan balasan USA pada kekaisaran Jepang).
Si vis pacem parabellum, berhasil menjaga perdamaian di dunia antara negara
adidaya, setelah PD II, karena tiap pihak siap tempur. Contoh: Rusia mundur
dengan roketnya dari Kuba setelah Kennedy unjuk gigi kesiapan perangnya. Juga
pengepungan Berlin barat diakhiri, karena sekutu tunjukkan kesiagaan mereka
menyerang balik.
Agama berbeda karena sejarah pendiriannya serta lingkungan budayanya. Nabi
Muhammad mengalami peperangan dan memimpin peperangan, karena itu beliau atur
mengenai peperangan. Yesus tidak menguasai satu wilayahpun, kekuasaan pasukan
Romawi sangat adidaya kala itu, jadi Dia tak ciptakan konsep peperangan.
Sidharta adalah putera raja yang penuh harta dan kenikmatan duniawi, namun
menghadapi pertanyaan bathiniah, yang ingin dia jawab. Negaranya dikuasai
ayahnya, Sudhodana, yang berkuasa, tetapi bukan masalah Sidharta menentukan war
and peace. Pendiri agama Yahudi, adalah gembala, yang mati matian membawa
umatnya keluar dari tanah penjajahan Farao.
Dalam sejarah Yahudi cukup banyak peperangan. Juga Kitab Taurat, seperti juga
Kuran, memngkabarkan hal hal peperangan. Tuhan malah menyabdakan pada umat
Israel untuk merampas semua harta bangsa yang dikalahkannya. Beberapa raja raja
mereka adalah pemimpin pasukan.
2) Masalah moral, adalah bagian dari tiap agama. Juga cinta kasih. Cara
mengaturnya berbeda. Kristus hidup sangat pendek, sehingga hanya meninggalkan
guidelines. Dia juga jelas jelas mengatakan, bukan datang untuk dunia ini. Ini
yang membuat umat Yahudi kecewa kala itu. Mereka harapkan seorang pemimpin ala
raja Daud atau Sulaiman, yang membawa bangsa Yahudi kembali ke kejayaan masa
silam. Yesus lalu diejek dan dimahkotai duri dan papan dikayu salib: INRI.
Nabi Muhammad yang hidup lama, adalah penguasa negara (stateman), yang
menuangkan aturan aturan untuk hidup bernegara.
Sidharta, bukan negarawan walau kalau mau tinggal mewarisi kerajaan sang ayah.
Dari awalnya, beliau sudah sibuk dengan pertanyaan bathiniah. masalah dunia,
tak beliau atur dengan detail. Beliau lebih seorang bhagawan. Seorang Reshi.
Kerajaan sang ayah di India utara kala itu tak diancam lawan.
Konsep kasih bagi Sidharta mempunyai kontext lain, daripada sekedar manis manis
pada sesama. Berbuat yang baik, adalah kunci untuk keselamatan jiwa. dan jiwa
kita kita sendiri yang selamatkan. Siddharta tak mengajarkan konsep the
Saviour. Nabi Muhammad mengajarkan kasih terhadap sesama, dalam rangka mengatur
kehidupan masyarakat.
Jadi fokusnya ber-beda beda, sulit dibandingkan. banyak ajaran Islam dan
Kristen yang tak disentuh oleh Siddharta, tapi sebaliknya, juga banyak yang
diajarkan Sidharta yang tak disentuh oleh agama agama lain itu.
Yang banyak parallelnya, dalam konsepsi dan struktur, adalah Islam dan Yahudi,
yang memang berasal dari satu rumpun, dan dari awal sampai akhir berkembang
diwilayah yang sama: Timur tengah. Kristiani mulai di Timur tengah, namun
mengalami penyempurnaan dibawah budaya hellenistik-romawi.
Siddharta mengembangkan ajarannya dalam lingkungan ajaran Timur jauh, yakni
Hindusime.
Sampai di Tiongkok, ajaran Siddharta bersynthese dengan ajaran Tiongkok,
Taoisme.
Dari sisi masing masing, dapat dikatakan, agama mereka adalah yang paling
lengkap.
Universal sampai kini, adalah agama agama yang dapat diimani oleh bermacam
bangsa dan budaya: kristiani, Islam dan Buddhisme (yang kini berkembang pesat
di Eropa dan Amerika utara, terutama aliran Theravadda).
Yang jelas jelas TAK universal adalah agama Yahudi, yang hanya dianut oleh
bangsa Yahudi. Ini agama yang identis dengan bangsa. dalam agama Yahudi, Allah
hanya berbicara dan menjanjikan keindahan pada umat Israil. tak ada bangsa lain
yang di-sebut sebut.
Universal dan "lengkap" adalah dua hal yang berbeda. Mungkin Islam karena
mengandung tatahukum yang rinci, adalah yang terlengkap. Dunia dan akhirat.
Yesus "hanya" meninggalkan guidelines untuk akhirat (penyelamatan jiwa).
Siddharta memberikan jalan penyempurnaan jiwa, yang menyerempet dunia, tapi
berfokus pada kehidupan setelah ini (transendental).
Semua bangsa kenal matasapi. Saya waktu kecil makan matasapi untuk makanan
utama bersama nasi, dan sayur. Di Eropa hanya kenal matasapi hanya sekedar
sebagai sarapan. tak pernah muncul sebagai hidangan utama.
Salam
danardono
fauziah swasono <[EMAIL PROTECTED]> schrieb:
Nimbrung dikit:
"Igitur qui desiderat pacem, praeparet bellum." atau "Si vis pacem,
para bellum" (Epitoma Rei Militaris by Vegetius)
"if you want peace prepare for war"
Dan quote diatas amat luas dipercaya kalangan barat. Juga
diimplementasikan thd bagaimana sistem ditegakkan dalam
penyelenggaraan negara.
Tidak usah bertumpu pada "kesucian" seorang pemimpin atau pejabat,
karena sebagai manusia semua orang punya kecenderungan berbuat salah
(beragama atau tidak, atau apapun agamanya).
Kalau ingin punya negara yg bebas korupsi, maka pikirkanlah bahwa
pemimpin anda adalah potensial koruptor. Dengan demikian sistem dibuat
sedemikian ketat dan hati2 spy tidak ditembus si maling ini dan
apabila ketahuan maling: hukum sudah siap untuk menghajarnya.
Kalau nunggu setiap pejabat punya hati suci dan tidak akan pernah
tergoda maling, maka siap2 aja punya negara "pasang-surut". Makanya
pula negara2 yg rendah indeks korupsinya ditandai oleh sistem yg bagus
dan penegakan hukum yang tegas.
Begitu pula -pengertian saya- thd apa yang Mbak Lina ungkapkan soal
perang. Perang itu realita. Sebenci2nya saya terhadap perang, tetapi
kalau dijajah, maka pantang untuk diam. IMO, membiarkan kejahatan
menang adalah suatu bentuk mendukung kejahatan itu untuk langgeng.
Itu tentang fakta. Sedangkan kebersihan hati, ketulusan niat, dll,
adalah pada tataran hubungan vertikal, antara individu dan Tuhannya.
Susah kalau ngomongin hal ini pada saat kita punya beragam perbedaan
iman. Pasti akan ada misunderstandings.
Saya setuju pendapat Mbak Lina, Sang Buddha is a good person, dan
banyak diantara ajaran is in line dg apa yg ada diagama Islam. Tetapi
ketika agama mencakup hal2 ttg perang bukanlah menunjukkan bahwa agama
itu cinta kekerasan, karena agama ingin mencakup semua dimensi manusia
- vertikal dan horizontal.
Contoh dimensi horizontal misalnya adalah perbedaan pendapat. Pernah
sdr. KH -member milis ini- menyatakan ingin sekali pegang kekuasaan
militer spt halnya Pol Pot atau Islam Karimov supaya bisa membunuhi
rakyat yg berani tidak sependapat dg penguasa. So? itu realita. Kalau
terjadi, apakah kita semua akan diam?
Kalau pada keadaan semua manusia dimuka bumi ini penuh cinta kasih spt
Mbah Danar dan tidak mau melanggar hak orang lain, maka yg berlaku
adalah hub vertikal tadi (mis. apakah niat saya benar2 tulus
membantu?). Pertanyaannya: apakah keadaan itu akan pernah tercapai?
salam,
fau
Kita menjalani kehidupan dengan apa yang
kita peroleh, tetapi kita menciptakan
kehidupan dengan apa yang kita berikan.
(Winston Churchill)
---------------------------------
Gesendet von Yahoo! Mail - Jetzt mit 1GB kostenlosem Speicher
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/