http://www.sinarharapan.co.id/berita/0507/20/opi01.html



Solusi Politik Harus Dikedepankan untuk Terorisme
Oleh 
Mulyadi M. Phillian


Pertemuan puncak pemimpin negara-negara maju yang tergabung dalam G-8 di 
Edinburgh Skotlandia pada 6-7 Juli lalu berakhir dengan sebuah kecemasan. 
Ledakan bom di kota London pada hari terakhir pertemuan itu menghentakkan 
kesadaran bahwa dunia belum steril dari teroris. Perang melawan terorisme masih 
merupakan agenda besar yang harus diprioritaskan masyarakat global agar 
tercipta keharmonisan dan perdamaian. Persoalannya apakah solusi militer masih 
dominan dalam menyelesaikan terorisme?
Pendekatan militer yang dikomandani AS dalam memerangi terorisme sejak 
peristiwa 11 September 2001 ternyata tidak menuntaskan masalah ini secara 
permanen. Aksi teror terus terjadi secara sporadis, tanpa bisa diprediksi. New 
York, Bali, Madrid dan kini London menjadi sasaran. Agaknya penyelesaian 
terorisme memerlukan pendekatan baru. Christian Reus Smit (2001), ahli hubungan 
internasional dari The Australian National University menyatakan "agar perang 
melawan terorisme berhasil, solusi politik harus lebih diprioritaskan dibanding 
solusi militer." 

Penyelesaian masalah terorisme transnasional dengan solusi militer dalam 
beberapa sisi memang memiliki keunggulan. Pendekatan militer umpamanya dapat 
menekan gerakan teroris di suatu tempat, menghancurkan markasnya, juga 
menangkap pimpinan dan anggotanya. Tetapi pada saat bersamaan gerakan teroris 
dapat berpindah dan beraksi di tempat lain yang sulit diketahui. 

Kemenangan militer AS dan sekutu dalam perang Afghanistan dan Irak sebagai 
bagian dari agenda melawan terorisme tidak serta merta menunjukkan kemenangan 
AS dalam perspektif politik. Kemenangan militer ternyata masih menyisakan 
persoalan yang tidak dapat diselesaikan dengan pendekatan militer konvensional.

Hilangnya Kepercayaan 
Solusi politik dalam memerangi terorisme dapat dilakukan dengan: Pertama, 
merekonstruksi kebijakan terhadap kawasan konflik. Dalam kontkes ini, Smit 
menyebutkan prioritas yang harus ditunjukkan AS dan negara-negara maju lainnya 
adalah penyelesaian konflik Timur Tengah seperti konflik Israel-Palestina. 

Eskalasi konflik yang tidak pernah surut akan mengakibatkan hilangnya 
kepercayaan terhadap komitmen AS dan negara Barat lainnya dalam mendorong 
terciptanya perdamaian kawasan. Ketidakmampuan menyelesaikan konflik secara 
proporsional akan melahirkan kekecewaan yang terakumulasi dalam berbagi bentuk, 
termasuk terorisme.

Terorisme bukanlah tindakan yang berdiri sendiri, tetapi terkait dengan 
berbagai kebijakan politik, ekonomi dan sosial lainnya, baik secara eksternal 
maupun internal. Ketidakadilan AS dan negara-negara Barat lainnya dalam konflik 
Timur Tengah merupakan salah satu sumber motivator eksternal para teroris untuk 
menghancurkan segala sesuatu yang berhubungan dengan AS dan sekutunya. 

Dalam perspektif inilah almarhum Paus Yohanes Paulus II selalu menyampaikan 
pesan dan dorongan bagi terwujudnya perdamaian bagi kawasan yang dirundung 
konflik berkepanjangan. Terciptanya keadilan dan perdamianan kawasan ini jelas 
akan memberikan kontribusi yang sangat signifikan dalam mengurangi aksi 
terorisme.

Sumber internal biasanya lebih terkait dengan nilai dan alam pikir yang dianut 
oleh pelaku dan kelompok teroris. Keterbatasan dalam memahami universalisme 
nilai-nilai jelas akan membatasi pemikiran untuk memaknai kebenaran dari 
perspektif yang berbeda. Dalam konteks ini ide mantan Presiden Iran Mohammed 
Khatami yang menggagas dialog antar-peradaban merupakan salah satu upaya yang 
sangat berharga untuk menjembatani perbedaan tersebut. 

Di samping meningkatkan komunikasi, dialog juga akan menghilangkan stigmatisasi 
yang muncul karena memiliki diferensiasi tatanan nilai. Hal ini akan mendorong 
terwujudnya kerja sama dalam menciptakan perdamaian dan melawan aksi teroris.

Kedua, menghentikan tindakan unilateral dan mengedepankan multilateralisme. 
Komitmen untuk mengedepankan solusi politik harus juga dibarengi komitmen untuk 
memperkuat tindakan multilateralisme. Sebab, perang terhadap terorisme 
memerlukan koordinasi multilateral yang dilakukan secara lebih ekstensif dan 
mendalam. Koordinasi multilateral pada tingkat tertentu mengharuskan 
negara-negara menyusun sistem hukum dan politik yang dapat mereduksi gerakan 
terorisme. 

Hal ini menjadi penting karena sistem sel terorisme memiliki jaringan kerja 
yang begitu luas dan melintas batas negara, dan kebijakan multilateral akan 
menjadi payung bagi menuntaskan kejahatan terorisme secara kolektif. Kalau 
dalam perang Afghanistan dan Irak, AS lebih mengutamakan tindakan unilateral, 
dalam penanganan kasus terorisme ke depan semua negara harus menunjukkan 
komitmen untuk lebih mengedepankan pendekatan dan tindakan multilateralisme. 

Kebijakan multilaterisme akan mendorong PBB untuk kembali memainkan perannya 
secara optimal. Sebab, dominasi unilateralisme AS cenderung mengebiri dan 
menyebabkan mandulnya peran institusi PBB termasuk perang melawan terorisme, 
peran institusi PBB jelas sangat signifikan. Resolusi PBB akan mengikat semua 
negara untuk bekerja sama menciptakan rasa aman dari teror yang mematikan.

Menciptakan keamanan global memang bukan pekerjaan sederhana, apalagi memerangi 
terorisme. Di sinilah pentingnya kesadaran untuk menciptakan kerja sama lintas 
negara, lintas agama, dan lintas sektoral lainnya. Kerja sama seperti ini pada 
akhirnya akan menepis kekhawatiran yang berkepanjangan terhadap tindakan 
teroris transnasional. 

Penulis adalah Peneliti pada Centre for International Relations Studies (CIReS) 
FISIP UI 
 

[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke