http://www.suarapembaruan.com/News/2005/07/20/index.html

SUARA PEMBARUAN DAILY 

Indonesia dan "the Third Wave of Globalization"
 

Bara Hasibuan 

KEPUTUSAN Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk menunda kunjungannya ke Cina 
merupakan blessing in disguise karena memberikan waktu lebih banyak untuk 
mempersiapkan banyak hal. Kunjungan ini tidak bisa dianggap sebagai sesuatu 
yang biasa-biasa saja namun harus dilihat di dalam konteks global yang lebih 
besar. 

Sekarang ini sedang terjadi perpindahan teknologi dan modal besar-besaran dari 
negara maju ke negara berkembang. Clyde Prestowitz, mantan pejabat di 
Departemen Perdagangan Amerika Serikat (AS), menyebutnya sebagai "the third 
wave of globalization", dan Cina serta India adalah dua emerging powers yang 
mendominasi fenomena ini. 

Jadi, kunjungan Presiden ke Cina ini sangat strategis, di mana seharusnya juga 
digunakan untuk meningkatkan posisi Indonesia di dalam "the third wave of 
globalization". Artinya, dalam melakukan pendalaman kerja sama, bukan hanya 
devisa secara cepat saja yang dituju tetapi bagaimana kita meraih leverage 
(kekuatan) baru untuk dapat compete di dalam "the third wave of globalization" 
itu. 

Sayangnya, sampai sekarang kita masih terperangkap di dalam paradigma lama yang 
lebih menggunakan sumber daya alam sebagai leverage utama. Padahal kenyataannya 
investasi di bidang sumber daya alam tidak membantu meningkatkan produktivitas 
nasional. Suatu negara yang kaya akan sumber daya alam justru sering kali 
menjadi manja. Artinya, tanpa harus kerja keras pun negara itu tetap dapat 
penghasilan, bukan hanya secara cepat tetapi juga dalam jumlah banyak. 

Malah editor internasional majalah Newsweek, Fareed Zakaria, mengatakan, sumber 
daya alam, terutama minyak, sering kali menjerumuskan suatu negara ke dalam 
"economic and political retardation" (keterbelakangan ekonomi dan politik). 
Dengan berlimpahnya minyak, suatu negara tidak merasa harus memodernasikan 
dirinya di bidang infrustrukture dan pendidikan. Ia mencontohkan berlimpahnya 
minyak di Timur Tengah, tidak membuat kawasan itu maju. 

Lebih jauh lagi, dalam banyak kasus, kekayaan sumber daya alam bukan merupakan 
berkah, namun sebaliknya kutukan yang dikenal sebagai Resource Curse, bahkan 
menimbulkan konflik serta korupsi seperti yang disebutkan dalam laporan 
terakhir Transparensi Internasional Indonesia (TII). 

Walaupun apa yang dikatakan Zakaria ataupun TII itu bisa diperdebatkan, 
kenyataannya the emerging economic powers sekarang adalah negara-negara yang 
tidak mengandalkan sumber daya alam. Keajaiban ekonomi Cina, misalnya, 
didominasi oleh sektor industri manufaktur. Sedangkan India mengandalkan sektor 
teknologi informasi. 

Dengan leverage yang tidak didasari oleh sumber daya alam itu, kedua negara itu 
mampu tumbuh cepat sebagai pemain strategis dan dengan efektif meluaskan 
pengaruh geopolitik mereka. Dan, walaupun kekuatan mereka itu masing-masing 
berbeda satu sama lain, ada satu persamaan, yaitu bahwa keduanya bertumpu pada 
human capital. 

Contoh di atas bukan berarti Indonesia harus mengabaikan sumber daya alamnya. 
Demi medatangkan pendapatan negara secara cepat, pemanfaatannya tetap harus 
dilakukan dan tentu saja secara baik. 

Namun, kalau kita ingin berperan utama di dalam "the third wave of 
globalization" -yang akan secara dramatis mengubah balance of power dan juga 
kehidupan sehari-hari dari begitu banyak orang di dunia- kita harus 
meninggalkan paradigma lama bahwa letak kekuatan kita ada pada sumber daya 
alam. 

ìThe third wave of globalization" dicirikan oleh dominasi kreativitas individu 
dan kemajuan ilmu pengetahuan. Mau tidak mau jika kita ingin compete, harus 
mulai memikirkan suatu grand vision mengenai penguatan human capital serta 
tranformasi strategis bagi Indonesia ke depan. 

Untuk mewujudkan grand vision itu perlu ada fokus dan kemauan bersama. Dan 
disinilah pentingnya sebuah bangsa memiliki leadership yang visioner. 
Leadership semacam ini yang ditunjukkan oleh Presiden AS John F Kennedy, ketika 
ia secara khusus menyampaikan pidato di depan Kongres tahun 1961 mengenai 
"urgent national needs" (kebutuhan nasional yang mendesak) saat Soviet sudah 
berhasil meluncurkan Sputnik ke ruang angkasa. 

Di situ Kennedy mengatakan bahwa sumber daya yang dimiliki oleh Amerika lebih 
dari Soviet, namun Amerika tidak pernah membuat keputusan nasional yang tepat. 

Terbukti dari leadership Kennedy itu Amerika berhasil mengalahkan Soviet dengan 
mengirimkan manusia ke bulan. Hal semacam ini yang dibutuhkan Indonesia 
sekarang: sebuah leadership yang mampu untuk menghasilkan grand vision serta 
mengajak bangsanya untuk berimajinasi secara kreatif. 


Penulis adalah pengamat politik 


Last modified: 20/7/05 

[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke