http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2005/7/23/o2.htm

Pendalaman ilmu pengetahuan kebijaksanaan lebih banyak menekankan pada 
penyangkalan diri serta disiplin dalam melaksanakan kewajiban sesuai tahap 
kehidupan.



Ilmu Pengetahuan Pembangkit Kesadaran Umat
Oleh Wayan Gede Suacana 



PERAYAAN hari raya Saraswati pada hari ini menunjukkan arti penting ilmu 
pengetahuan bagi kehidupan umat manusia. Ia berfungsi tidak hanya sebagai 
penopang hidup, tetapi juga sebagai upaya sadhana untuk merealisasikan 
penyatuan atman dengan paramatman. Tujuan penguasaan ilmu pengetahuan adalah 
untuk membedah bidang ketidaktahuan dan kegelapan (awidya) dengan pedang 
pembedaan (wiweka). Apakah penguasaan ilmu pengetahuan selama ini sudah dapat 
meningkatkan kualitas kesadaran dan kebijaksanaan umat Hindu?





Kemampuan Membedakan



Umat Hindu memuja Dewi Saraswati sebagai Dewi Ilmu Pengetahuan setiap 210 hari 
sekali, yakni pada hari Saniscara Umanis Wuku Watugunung. Perayaan hari raya 
Saraswati yang jatuh pada hari ini, apabila dicermati bermakna simbolik bahwa 
Sang Hyang Widhi dipercaya sebagai sumber ilmu pengetahuan.

Ilmu pengetahuan tersebut di samping sebagai penopang hidup juga satu bentuk 
pemujaan (sadhana) kepada Sang Hyang Widhi untuk merealisasikan penyatuan atman 
dan paramatman (atma jnana). Oleh karena itu, ilmu pengetahuan semestinya tidak 
hanya diarahkan kepada material tendency forces (preyoshakti) sebagaimana lazim 
dalam mainstream pemikiran rasionalisme Barat, tetapi juga perlu diseimbangkan 
dengan spiritual tendency forces (sreyoshakti) yang merupakan garis 
kebijaksanaan Timur.

Fisikawan modern pengikut jalan setapak Taoisme Fritjof Capra, menggambarkan 
momen paralelisme ini dalam bukunya ''Tao of Physics'', sebagai sebuah era 
ketika pemikiran intelektual ''suprarasional'' dan kehidupan keagamaan yang 
''suprareliegius'' bersanding dengan elegannya dalam puncak-puncak pencapaian 
kreativitas manusia.

Ilmu pengetahuan -- sebagaimana makna Saraswati -- bersifat mengalir 
terus-menerus tiada henti. Ibarat prana kehidupan yang tak akan pernah habis 
walau tiap hari dipakai oleh semua makhluk. Begitu pentinya peranan ilmu 
pengetahuan dalam kehidupan, terlihat dari betapa semarak dan tingginya 
penghormatan umat Hindu (di Indonesia maupun India) terhadap Dewi Saraswati.

Tujuan penguasaan ilmu pengetahuan bagi umat Hindu adalah untuk membedah bidang 
kegelapan (awidya) dengan pedang pembedaan (wiweka). Dalam ajaran Raja Yoga 
telah diajarkan tiga tahap kemampuan membedakan bagian permukaan dari ''diri 
kita'', yang terletak berlapis-lapis di bagian luar dengan ''diri kita'' yang 
telah luas yang terletak di dalamnya.

Pertama, mendengarkan ucapan orang-orang bijaksana, membaca kitab-kitab suci, 
serta naskah-naskah filsafat. Kita diperkenalkan bahwa, tanpa disadari, di 
pusat jati dirilah letak sumber kehidupan yang sesungguhnya. Kedua adalah 
berpikir melalui kontemplasi dan refleksi yang mendalam dan terus-menerus. Apa 
yang telah muncul pada tahapan pertama sebagai kemungkinan abstrak dilihat 
sebagai sesuatu yang menimbulkan kesadaran hidup tentang atman yang mendasari 
kepribadian yang fenomenal ini.

Pada saat demikian kita sudah siap memasuki tahap ketiga, yakni pengadilan 
identifikasi diri dari bagian hidup yang masih berlangsung hingga saat ini, ke 
bagian hidup yang abadi. Cara melakukannya adalah dengan bermeditasi, tetap 
mengulang-ulang nama Tuhan (japa, namasmaranam) sambil melakukan pekerjaan 
sehari-hari (karma yoga).



Lapis Kesadaran dan Kebijaksanaan

Ilmu pengetahuan kebijaksanaan, sebagaimana dijelaskan dalam kitab Jnana Vahini 
hanya dapat diperoleh dengan penyelidikan batin yang tiada terputus. Kita harus 
terus menerus menyelidiki sifat Tuhan, kenyataan tentang Sang Aku (diri yang 
sejati), perubahan yang terjadi pada saat kelahiran, kematian, serta hal-hal 
semacam itu. Jika umat sudah secara sadar memulai kehidupan rohani, maka perlu 
diingat apa yang menjadi pilar-pilar penyangganya. 

Ada lima pilar ilmu pengetahuan kebijaksanaan yang terajut dalam sebuah untaian 
kata mutiara, yaitu: kebenaran (satya) adalah cinta kasih dalam pikiran; 
kebajikan (dharma) adalah cinta kasih dalam tindakan; kedamaian (shanti) adalah 
cinta kasih dalam perasaan; cinta kasih (prema) adalah dasar pembentukan 
karakter; serta tanpa kekerasan (ahimsa) adalah cinta kasih dalam pengertian.

Pendalaman ilmu pengetahuan kebijaksanaan lebih banyak menekankan pada 
penyangkalan diri serta disiplin dalam melaksanakan kewajiban sesuai tahap 
kehidupan. Suatu kali ketika Ramakrishna ditanya, ''apakah yang diajarkan 
Bhagawad Gita?'' Dia menjawab, ''Jika engkau mengucapkan kata 'Gita' beberapa 
kali, engkau akan mulai mengatakan 'Tagi'. Tagi berarti yang telah melaksanakan 
penyangkalan diri. Dengan kata lain, cita-cita penyangkalan diri dan disiplin 
adalah jiwa ajaran Bhagawad Gita.

Dalam Intisari Bhagawad Gita seluruh ajaran Bhagawad Gita diringkas dengan satu 
kata: mamadharma 'kewajibanku atau pekerjaanku'. Umat Hindu harus melaksanakan 
kewajiban yang telah ditentukan sesuai dengan kemampuan serta sebaik mungkin 
mengerjakan tugas sesuai dengan tahapan kehidupan. Disiplin dalam melaksanakan 
kewajiban dan kehidupan spiritual berarti menginstruksikan diri sendiri agar 
giat menumbuhkan kesadaran luhur kita. Praktik yang sukses untuk mengubah diri 
sendiri memerlukan disiplin batin tingkat tinggi. Kita harus secara 
terus-menerus mempelajari ajaran dan praktik disiplin spiritual (sadhana) agar 
sampai pada tujuan.

Di dalam Rgveda VII.32.9 dinyatakan: ''Wahai orang-orang yang berpikiran mulia, 
janganlah tersesat. Tekunlah dan dengan tekad yang keras untuk mencapai 
tujuan-tujuan yang tinggi. Bekerjalah dengan giat untuk mencapai tujuan. Orang 
yang giat dan tekun akan berhasil, hidup bahagia dan menikmati kemakmuran. Para 
dewa tidak pernah menolong orang yang bermalas-malas''. Dengan demikian, 
disiplin dan penyelidikan batin yang tiada henti, kesadaran dan ketabahan, 
serta ketekunan merupakan suatu keharusan dalam menjalankan sadhana untuk 
meningkatkan kesadaran dan kebijaksanaan.

Di samping itu, dalam masyarakat posmodern saat ini - sebagaimana pesan Swami 
Sathya Narayana - peningkatan kualitas kesadaran dan kebijaksanaan umat dapat 
dimulai dengan sathyam (keselarasan antara perkataan dan perbuatan), darma 
(kebajikan), nyaaya (keadilan), ritam (keselarasan antara pikiran, perkataan 
dan perbuatan manusia), samyama (pengekangan diri), dan damam (pengendalian 
indera). Jadi, ilmu pengetahuan kebijaksanaan dan keutamaan sangat diperlukan 
agar dapat melakukan penyelidikan batin dan penyangkalan diri secara terus 
menerus dengan disiplin yang tinggi (Nitisastra, V.1).

Dengan penguasaan ilmu pengetahuan kebijaksanaan akan dapat membangkitkan 
kesadaran akan sifat-sifat diri sendiri yang sejati. Ilmu pengetahuan sekuler 
lebih berfokus pada rasionalitas, padahal hidup membutuhkan lebih banyak 
kesadaran. Pendidikan modern lebih banyak mengembangkan kecerdasan dan 
keterampilan, tetapi kurang memperhatikan penggembangan kesadaran dan budi 
pekerti. Akibatnya, ilmu pengetahuan dalam sistem pendidikan modern terdistorsi 
serta tidak berhasil membangkitkan kesadaran sebagian besar umat.

Oleh karena itu, serangkaian perayaan Hari Raya Saraswati saat ini kita perlu 
mendekonstruksi kemapanan hegemoni ilmu pengetahuan Barat yang lebih 
berdasarkan rasionalitas, dan menyejajarkannya dengan ilmu kebijaksanaan Timur 
dengan sentuhan nuansa spiritualnya. Dengan begitu, umat di samping cerdas juga 
memiliki kesadaran dan moralitas, seperti: viveka, vairagya dan vichakshana 
sehingga mereka memiliki tangan-tangan yang sigap melayani, hati yang penuh 
cinta kasih, serta pikiran yang suci nan jernih. 

Penulis, mahasiswa Program S3 Kajian Budaya Unud, anggota Divisi Sospol Pusat 
Kajian Hindu




[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke