--- In [email protected], tony picasso <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> 
> TONY: Hahaha...wah mbak Fau, I can't stop laughing when I read that,
"Jangan galak2 Pak".  That's a pretty damn good punchline.  Anyhow,
what's kartu GAKIN?
> 

Gakin itu singkatan dari Keluarga Miskin.
Contoh beritanya:

http://www.tempointeraktif.com/hg/jakarta/2005/03/28/brk,20050328-60,id.html

http://www.suaramerdeka.com/harian/0507/25/ban02.htm

Banyak yang melihat bahwa ini masih banyak kelemahannya. 
Tapi mungkin namanya baru belajar ya Mas, jadi ya wajar. Banyak yang
belum dapat, tetapi RS dan Askes juga "ketiban" soalnya katanya si
Askes uang yg dikasih pemerintah nggak akan cukup buat nutup semua
biaya kesehatan orang miskin (teman saya dokter di Solok cerita ada
bbrp pasien dg kartu gakin yang cuci darah 2x seminggu), RS nggak bisa
nolak karena sudah terlanjur dijanjikan pemerintah bahwa semua gratis. 
Jadinya kelihatan ada masalah koordinasi, tapi kok nggak ada (atau
sudah ada?) yang menyorotinya? Dari DPR belum pernah saya dengar.

Mungkin waktu bikin keputusan, Pemerintah kurang mengkoordinasikan
antara Askes, RS, dan badan terkait lainnya ya? Soal asuransi memang
rumit, kalau salah desain bisa2 dapat problem yg namanya "moral
hazard". (selain masalah infrastruktur kita yang belum memadai juga:
rasio kecukupan dr/penduduk, ratio bed di RS/pddk, penataan perkotaan, 
peralatan RS, dll).

Contohnya gini: semua jenis penyakit ditanggung, 100% gratis.
Dari sisi pasien: ya sakit dikit ke dr (doctor-shopping), sakit yg
akibat "perbuatannya" sendiri ditanggung (perokok berat, peminum,
dll), toh nggak bayar ini.
Dari sisi dokter dan penyedia jasa: pasien yg mestinya cukup datang 2x
disuruh datang 4x, obat yang mestinya cukup 10 rb diganti dg obat 30
rb (tambah vitamin segala macam), menambahkan treatment yg nggak perlu
(rontgen, CTScan, dll). Motifnya cari untung, toh bakal dibayar asuransi.

Nah di negara2 maju, untuk menghindari hal ini biasanya dilakukan:
pembatasan jenis penyakit yg dicover, out-pocket payment (pasien harus
membayar sebagian biaya), deemed-fee (biaya sudah ditentukan diawal),
dsb. Tapi tetap saja ada masalah. Asuransi swasta maupun negeri, di
negara manapun nggak ada yg bebas dari kritik. Apalagi kita yang masih
beginner.
Gitu tho mas... maksud saya ya kalau bisa mendapatkan masukan2 dari
teman2 yg lain, salahnya dimana, apa yg mesti dilakukan... siapa tau
saya ngasih input buat temen saya yg mau nulis topik ttg social
security system di Indonesia buat thesisnya... 

salam,

fau





***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke