SUARA PKS DI DALAM DEWAN (DPRD JAKARTA) BELUM BERARTI???

mas Samsul memang belum tahu siapa pemenang pemilu di DKI Jakarta?

====

gini lho mas kita bagusnya memeperingati sedari dini bibit2 
kemunafikan sebelum oknum2 anggota DPRD yth yang mendompleng itu 
terlanjur menjadi mafia atau MEWARISKAN TRADISI diam, pura2 atau 
ikut2an. 
hati2 lho...

'salam


--- In [email protected], "Samsul Bachri" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Sedikit menaggapi. Sebenarnya anggapan bahwa aleg dari PKS tidak 
membuat
> kebijakan yg bisa dirasakan langsung oleh masyarakat bukanlah 
berarti aleg
> dari PKS tidak berusaha. Hanya saja kita hrs tahu bahwa dalam 
rapat2 rapat
> di dalam dewan yg berlaku adalah mekanisme dewan itu sendiri. 
Ingat bahwa
> demokrasi adalah suara mayoritas, sedangkan suara PKS di dewan 
belum berarti
> apa2 dibanding Partai Golkar misalnya. Jadi mengharapkan perubahan 
yg
> "ujug-ujug" juga tidak rasional. Akan lebih fair kalau bibit yg 
relatif
> bagus ini, terus dipelihara untuk dipetik ketika musin panen tiba 
nanti.
> 
> ----- Original Message -----
> From: "kucing_liar1" <[EMAIL PROTECTED]>
> To: <[email protected]>
> Sent: Wednesday, July 27, 2005 6:31 PM
> Subject: [ppiindia] Re: Manusia dan Politik PKS
> 
> 
> >
> > betul sekali mas Indra, anda tentu kenal dgn yang namanya Selamat
> > Nurdin anggota DPRD yang sekarang tambah gemuk makmur serta
> > konco2nya.
> > Saya pernah tanya ke kawan saya itu ttg apa hasil PKS bagi
> > masyarakat?yang dijawab hasil PKS contohnya Undang Undang Perda 
Anti
> > Rokok.
> >
> > Wah? bisa dibayangkan gak Perda anti rokok bisa dibangga bangga
> > sedemikian rupa? idiot banget nich orang dalem hati saya? 
memangnya
> > apa bagusnya perda tanpa feasibilitas atau law enforcement nya?
> >
> > memang orang2 gembel miskin kudisan di kampung2 kumuh Jakarta
> > menjadi lebih baik dgn Perda tsb?
> > bukannya lebih urgent dan berpengaruh apabila PKS memperjuangkan
> > hal2 lain yang lebih membumi dan nyata seperti menentang 
perubahan
> > RS Umum Daerah  menjadi swasta?
> > atau  meng evaluasi ketepatan alokasi budget RAPBD DKI Jakarta yg
> > lebih accountable dan tepat guna?
> >
> > kok ya sepertinya tidak ada perubahan apa2 yah?
> >
> > Jangan2 yg dijadikan isu bersama selalu halal haram,
> > pemurtadan,fundamentalis kristen, atau paling banter pornografi.
> >
> > yang jelas berubah ya si Selamat Nurdin ini seperti kawan2nya 
yang
> > lain baik di DPR or DPRD, dari naik motor butut jadi naik mobil
> > sekelas kijang.
> >
> >
> > KALAU ADA  KAWAN2 DARI PKS TOLONG DI JAWAB KRITIK INI
> >
> >
> > 'salam
> >
> >
> >
> >
> >
> > --- In [email protected], "Ambon" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> > > MEDIA INDONESIA
> > > Rabu, 27 Juli 2005
> > >
> > >
> > > Manusia dan Politik PKS
> > > Indra J Piliang, peneliti pada Centre for Strategic and
> > Interntional Studies, Jakarta
> > >
> > >
> > >
> > > POLITIK itu kotor, puisi yang membersihkannya. Demikian adagium
> > terkenal dari Vaclav Havel, Presiden Ceko. Sebagai seseorang yang
> > berkecimpung di dunia seni dan budaya, Havel betul-betul 
menyadari
> > betapa sulitnya menyangga negerinya yang kemudian pecah menjadi 
dua
> > negara, Ceko dan Slovakia.
> > >
> > > Banyak orang yang memang mencibir kepada politik. Cibiran itu
> > muncul karena dandanan politikus yang meriah, lalu saling 
menyikut
> > yang kentara, ditambah dengan pengkhianatan terhadap kolega
> > dekat. ''Musuh dari kawanku, adalah kawanku,'' begitulah anomali
> > dunia politikus. Setiap celah akan dimanfaatkan untuk mendapatkan
> > keuntungan maksimal bagi kepentingan kekuasaan dan penguasaan.
> > >
> > > Ketika Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang dulunya bernama 
Partai
> > Keadilan (PK) muncul ke permukaan, kesan pertama yang muncul 
adalah
> > partai politik ini tidak akan mampu bertahan dalam kancah 
politik.
> > Libido kekuasaan yang tidak begitu kentara dalam partai ini
> > memunculkan bentuk kepemimpinan politik yang khas, yaitu
> > khas 'ndeso'. 'Ndeso' yang mana? Tentu 'ndeso'nya kaum santri.
> > Kemunculan PKS memang diiringi juga dengan kebangkitan lagu-lagu
> > padang pasir, atau lebih dikenal sebagai nasyid. Seandainya PKS
> > tidak lahir, mungkin sulit menghidangkan sesuatu yang baru dalam
> > ranah politik Indonesia kontemporer.
> > >
> > > Sekalipun digerakkan oleh para ustaz lulusan universitas-
> > universitas di Timur Tengah, juga dari Mesir, PKS dalam waktu 
yang
> > tidak lama berhasil membangun sebuah sinergi dengan gelombang
> > generasi politik baru yang dulu ikut menyumbang bagi jatuhnya 
rezim
> > Orde Baru. Ketika partai-partai politik lain makin digerakkan 
oleh
> > klan, PKS justru membuka pintunya lebar-lebar kepada kalangan 
anak-
> > anak kampus yang dulu lebih banyak aktif di musala dan organisasi
> > intrakampus.
> > >
> > > Selain para ustaz, PKS juga mempunyai lapisan intelektual dan
> > ilmuwan yang rata-rata lulusan ilmu eksakta. Mereka berasal dari
> > kampus-kampus sekuler di dalam dan di luar negeri. Puritanisme
> > menjadi tidak terelakkan, ketika lingkungan politik di Indonesia
> > begitu lemahnya dalam hal ideologi perjuangan. Walaupun pernah
> > disebut sebagai wujud dari kebangkitan wajah Masyumi dalam ranah
> > politik modern, PKS justru tidak terikat dengan simbol-simbol
> > Masyumi itu, sebagaimana terjadi dalam sejumlah partai-partai 
Islam
> > yang mencoba berebut tongkat 'kesaktian' Masyumi, seperti Partai
> > Bulan Bintang.
> > >
> > > Dalam sebuah kesempatan, Tifatul Sembiring menyebut bahwa 80%
> > lebih kader PKS terdiri dari para sarjana perguruan tinggi. Satu 
hal
> > yang tidak disampaikan oleh Tifatul adalah hampir 100% para
> > penggeraknya juga berasal dari para mahasiswa yang juga mempunyai
> > jaringan ke kalangan siswa-siswa kelas menengah. Merekalah dengan
> > caranya sendiri memengaruhi orang tuanya, lingkungannya, dan
> > masyarakat di sekelilingnya untuk menjadi simpatisan PKS dalam
> > setiap pemilu. Inspirasi ini boleh jadi muncul dari Anwar Ibrahim
> > yang dulu menggerakkan Angkatan Belia Islam Malaysia (ABIM) yang
> > kemudian bergabung ke dalam United Malay National Organisation
> > (UMNO).
> > > ***
> > >
> > > Manusia PKS, kalau boleh saya menyebutnya begitu, yang muncul 
hari
> > ini kebanyakan berasal dari anak-anak muda belia itu. Mereka
> > bergerak seperti kumpulan lebah-lebah pekerja dalam medan-medan
> > pengabdian yang sulit, seperti daerah bencana dan daerah konflik.
> > Pergerakan mereka pelan-pelan mampu mengambil alih organisasi
> > korporatisme negara yang dulu dibentuk oleh Orde Baru, seperti
> > Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI). Ketika organisasi
> > kepemudaan lain makin mengandalkan kedekatan ke kalangan penguasa
> > dan pengusaha, manusia-manusia PKS ini justru menyandarkan diri
> > kepada ideologi yang mereka perjuangkan, entah itu revivalisme
> > Islam, atau sekadar semangat untuk tidak mau didikte oleh
> > kepentingan kapitalisme internasional yang digerakkan oleh 
jaringan
> > Hollywood, sampai Perserikatan Bangsa-Bangsa.
> > >
> > > Tidak heran kalau 'pengetahuan' manusia-manusia PKS atas dunia
> > luar di atas rata-rata penduduk Indonesia lainnya. Manusia PKS 
ini
> > mampu mendeteksi dengan tepat apa yang terjadi di Palestina, 
sampai
> > di Khasmir. Terdapat banyak sekali sumber informasi yang berasal
> > dari sejumlah majalah, tabloid, sampai buku-buku tebal sampai 
tipis.
> > Ketika televisi, radio atau koran-koran di Indonesia 'dianggap'
> > hanya menyampaikan berita dari dunia sekuler, justru media massa
> > yang digandrungi manusia-manusia PKS menyampaikan apa yang 
terjadi
> > di luar menurut versi dan perspektif mereka, yakni Islam yang 
terus-
> > menerus menghadapi berbagai cobaan.
> > >
> > > Yang mengagetkan, dalam perjalanannya yang belum terlalu 
panjang
> > sebagai satu kekuatan politik di Indonesia, PKS justru mulai
> > terlihat sebagai pemain di level elite. Ketiba-tibaan itu justru
> > mengurangi semangat puritan (atau dalam sebutan pengamat lain
> > disebut sebagai semangat radikal) yang menjadi ciri khasnya. 
Contoh
> > paling baik adalah kemenangan PKS di DKI Jakarta yang sampai 
setahun
> > ini seperti tidak memberikan perbaikan apa-apa. Prioritas 
penggunaan
> > Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) DKI Jakarta 
terlihat
> > belum menyentuh kepentingan kaum dhuafa dan kaum mustad'afin yang
> > bertebaran di Jakarta ini. Ke mana suara PKS yang vokal itu?
> > >
> > > Sehingga ada yang menduga betapa PKS hanya besar dalam isu-isu
> > besar, namun PKS tiba-tiba kerdil untuk isu-isu kecil dan detail.
> > Padahal, ketika sistem politik di Indonesia kian terbuka dan
> > liberal, justru setiap pengambilan keputusan kecil akan sangat 
besar
> > pengaruhnya bagi kepentingan publik.
> > >
> > > Memberikan makna atas kemenangan, itulah yang menjadi tantangan
> > manusia-manusia PKS hari ini. Berapa pun jumlah kemenangan yang
> > diraih tidaklah akan menjadi persoalan, apabila setiap kemenangan
> > itu, setiap suara itu, pada akhirnya dapat dikelola menjadi 
sesuatu
> > yang bermanfaat. Dari sana, justru tantangan PKS sekarang adalah
> > bukan mencapai kemenangan yang lebih besar, entah 15% sampai 20%,
> > melainkan bagaimana mengelola setiap suara yang dititipkan ke PKS
> > dalam pemilu lalu sebagai sebuah amanah dan pekerjaan besar.
> > >
> > > Sebagai partai politik yang banyak diminati oleh kelas menengah
> > Muslim, PKS juga terlihat mulai membangun aliansi taktis dan
> > strategis dengan partai-partai politik lain dalam pemilihan 
langsung
> > kepala daerah (pilkada) 2005 ini. Aliansi ini tentu sah-sah saja,
> > namun, semakin besar aliansi yang dibangun, semakin banyak 
peserta
> > aliansinya, justru PKS bisa semakin lebur ke dalam politik 
praktis
> > yang sebenarnya. Partai politik mana yang sebetulnya 
menjadi 'lawan'
> > PKS tidak begitu terlihat, karena PKS berkoalisi hampir dengan
> > setiap partai politik, terutama di daerah-daerah yang perolehan
> > suaranya sedikit dalam Pemilu 2004.
> > >
> > > Ketika PKS mengusung good governance, misalnya, sebetulnya tema
> > itu sudah menjadi tema universal yang juga digerakkan oleh 
lembaga-
> > lembaga keuangan dan bantuan internasional. Tema itu seolah telah
> > menjadi alibi semua pihak, betapa Indonesia akan menghadapi masa
> > depan yang lebih baik apabila mampu menerapkan sembilan standar 
good
> > governance yang dirumuskan oleh United Nations Development 
Programme
> > (UNDP). Padahal, untuk kepentingan yang lebih luas, penerapan
> > standar itu saja tidak cukup kalau tidak diikuti dengan prioritas
> > dan kepedulian atas soal-soal yang lebih mendasar di kalangan
> > penduduk miskin Indonesia. Kejelian dan genuinitas dari program-
> > program PKS lebih dibutuhkan, ketimbang melakukan duplikasi 
dengan
> > bahasa-bahasa universal yang mulai menjadi jargon baru.
> > >
> > > Tentu dengan cara itu PKS sedang mulai mengikatkan diri dengan
> > program-program yang memang mempunyai korelasi dengan kepentingan
> > Indonesia, secara khusus, dan dunia, secara umum. Namun, dalam
> > artian apa pun, politik selalu saja bergerak mencari hal-hal yang
> > unik dan menarik. PKS sudah membuktikannya. Apabila PKS beranjak
> > keluar dari ruang edarnya, juga dari ciri khasnya selama ini, 
justru
> > yang terlihat adalah PKS yang lain yang tidak ada bedanya dengan
> > partai-partai politik lain. PKS yang seperti ini akan sulit
> > bertahan, karena kehilangan identitasnya yang puritan.
> > >
> > > Ketika politik itu kotor, dalam ranah publik yang tidak 
mengenal
> > puisi dengan baik, justru dibutuhkan seuntai nada dan irama. PKS
> > mengemasnya dengan menyebut diri sebagai partai dakwah yang 
dikelola
> > para dai. Tetapi itu saja tidak cukup. Diperlukan sumber daya
> > manusia yang mampu mengubah dakwah menjadi regulasi, ketika PKS 
ada
> > di parlemen. Namun, pada akhirnya, politik adalah persepsi. 
Jangan
> > sampai justru ketika persepsi mengendalikan kehidupan politik,
> > lantas PKS berubah ke arah persepsi itu. Bukan sebaliknya, 
mengubah
> > persepsi orang lain, sesuai dengan ciri khas dan karakter dasar 
dari
> > manusia dan politik PKS selama ini.***
> > >
> > > [Non-text portions of this message have been removed]
> >
> >
> >
> >
> >
> 
*********************************************************************
******
> > Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju 
Indonesia
> yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-
india.org
> >
> 
*********************************************************************
******
> > 
_____________________________________________________________________
_____
> > Mohon Perhatian:
> >
> > 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg 
otokritik)
> > 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan 
dikomentari.
> > 3. Reading only, http://dear.to/ppi
> > 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
> > 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
> > 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
> >
> > Yahoo! Groups Links
> >
> >
> >
> >
> >
> >





***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke