SUARA PEMBARUAN DAILY --------------------------------------------------------------------------------
Kenaikan Gaji Pejabat Perlebar Kesenjangan Pembaruan/Charles Ulag DISKUSI - Pengamat politik Arby Sanit (kanan) didampingi Wakil Ketua DPR Zainal Ma'arif memberikan keterangan kepada wartawan pada acara diskusi bertajuk "Kontroversial Kenaikan Gaji Pejabat Negara", di Gedung MPR/DPR, Senayan, Jakarta, Jumat (29/7). Turut hadir dalam acara itu Wakil Koordinator Indonesian Corruption Watch, Lucky Djani. JAKARTA - Pemerintah dinilai sedang menciptakan iklim ketidakadilan dengan menaikkan gaji para pejabat negara, termasuk gaji anggota DPR RI, sementara kemampuan beli masyarakat sangat rendah. Rencana kenaikan gaji para pejabat negara tidak dengan sendirinya bisa memberantas korupsi, malah sebaliknya memperlebar jurang kesenjangan antara elite dan rakyat karena kemampuan ekonomi rakyat sedang merosot. Demikian Pengamat Politik dari Universitas Indonesia (UI) Arbi Sanit, Wakil Ketua DPR Zaenal Ma'arif dan Wakil Koordinator Indonesia Corruption Watch (ICW) Lucky Djani dalam diskusi mingguan di Gedung DPR/MPR Jakarta, Jumat (29/7). Arbi Sanit menilai, kenaikan gaji pejabat negara hanya akal-akalan untuk melanggengkan kekuasaan dengan cara menguras uang negara. Yang terjadi sesungguhnya adalah eksekutif dan legislatif sedang memainkan perselingkuhan politik utang budi, dimana pemerintah berusaha menjinakkan DPR dan para birokrat yang menjadi biang kerok kekacauan dengan menaikkan gaji mereka. Arbi mengaku tidak bisa memahami alasan pemerintah bahwa kenaikan gaji akan berdampak pada peningkatan kinerja dan pengurangan praktik korupsi. "Omong kosong kenaikan gaji bisa meningkatkan kinerja pemerintah. Gaji pegawai negeri sipil harus naik 10 kali baru bisa diharap bekerja baik. Kalau cuma naik lima persen itu namanya omong kosong," kata Arbi. Keputusan pemerintah menaikkan gaji pejabat negara hanya melebarkan kesenjangan antara elit penguasa dan rakyat. Rakyat semakin menderita, sementara para pejabat negara berfoya-foya. Dan negara dalam hal ini telah menciptakan ketidakadilan. "Saya pikir, agar perselingkuhan eksekutif dan legislatif ini tidak terlaksana, rakyat harus melancarkan protes dengan berbagai cara," katanya. Pemerintah, kata Arbi, sebenarnya harus melakukan restrukturisasi dan rasionalisasi para pegawai negara yang jumlahnya sangat banyak. Para pejabat negara yang tidak becus, tidak berprestasi harus dipecat. Demikian juga para PNS yang tidak serius bekerja harus dikeluarkan, setelah itu baru berbicara tentang kenaikan gaji. Arbi melihat, salah satu alasan mengapa pemerintah menaikkan gaji para pejabat negara adalah karena ingin memainkan politik hutang budi. DPR dan para birokrat dikenal sebagai "penghalang" pemerintah dalam menjalankan tugasnya. Karena itu, mereka harus dijinakkan dengan menaikkan gaji. "Itu artinya politik semakin menjadi bisnis. Politik sudah dibisniskan dan akibatnya DPR dan eksekutif ramai-ramai merampas dan menguras uang negara," katanya. Lucky Djani mengatakan, kenaikan gaji pejabat tidak akan mengikis korupsi. Berdasarkan hasil studi, negara hanya bisa menekan korupsi kalau sistem penegakan hukum dan penataan sistem birokrasi yang transparan, berjalan. Kenaikan gaji pejabat, kata dia, menunjukkan erosi semangat pengabdian. Lucky Djani membayangkan di Indonesia akan lahir pemimpin yang mempunyai sikap seperti pemimpin Vietnam, Ho Chi Minh. Saat pertama kali memerintah, Ho Chi Min diminta tinggal di Istana peninggalan Prancis, tapi ia menolak dan memilih tinggal di rumah tukang kebun istana yang terbuat dari kayu berlantai dua. Alasan Ho Chi Minh, pada saat itu rumah kayu banyak ditempati rakyat. "Tapi para pejabat di Indonesia bersahaja hanya dalam retorika. Rakyat disuruh hemat energi, tapi pejabat diminta gajinya naik," kata Lucky. Zaenal Ma'arif mengatakan, dirinya sepakat menaikkan gaji, tapi harus transparan. Pemerintah harus menetapkan standar gaji para pejabat negara agar bisa diketahui publik. (L-8) Last modified: 30/7/05 http://www.suarapembaruan.com/News/2005/07/30/index.html [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> <font face=arial size=-1><a href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12h4j4mgq/M=320369.6903865.7846595.3022212/D=groups/S=1705329729:TM/Y=YAHOO/EXP=1122725179/A=2896110/R=0/SIG=1107idj9u/*http://www.thanksandgiving.com ">Help save the life of a child. Support St. Jude Children¿s Research Hospital</a>.</font> --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

