http://www.suarapembaruan.com/News/2005/08/05/index.html

SUARA PEMBARUAN DAILY 

Somasi Buku Pendidikan Kewarganegaraan Bisa Matikan Kreativitas Guru
 



PEMBARUAN/YC KURNIANTORO 

DISOMASI AKBAR - Pengarang buku "Pendidikan Kewarganegaraan SMA" untuk kelas XI 
(kelas dua SMA) yang juga guru SMA 13 Jakarta, Retno Listyarti, menunjukkan 
bukunya di Kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Jakarta, 
Kamis (4/8). 

JAKARTA - Pengajuan somasi terhadap penulis buku Pendidikan Kewarganegaraan 
(dulu PMP) tingkat SMA oleh Akbar Tandjung bisa mematikan kreativitas guru 
dalam mengajar. Pengajuan somasi akibat materi dalam buku yang dinilai Akbar 
mendiskreditkan dirinya menimbulkan dampak negatif bagi para guru. Secara 
pedagogis, materi dalam buku itu tidak ada masalah karena sudah berusaha 
memancing suasana kreatif di kelas juga mendorong para siswa untuk berani 
mengemukakan pendapat. 

Demikian disampaikan Koordinator Federasi Guru Independen Indonesia (FGII) 
Suparman dan Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Muhammad Surya 
ketika dihubungi Pembaruan di Jakarta, Jumat (5/8) pagi. 

Seperti sudah diberitakan Pembaruan (4/8), penulis buku terbitan Erlangga, 
Retno Listiarini yang juga pengajar di SMA 13 mendapat surat somasi dari 
penasihat hukum Akbar Tandjung. Buku karangan Retno dinilai sudah melakukan 
sangkaan menista dengan tulisan. Dia dinilai sudah melakukan tindakan perbuatan 
melawan hukum dengan menyajikan studi kasus peradilan Akbar Tandjung. 

Pada buku itu ditampilkan sebuah studi kasus yang berjudul Political Observer, 
"Dissenting Opinion" Abdul Rachman Saleh: MA Tidak Boleh Lupakan Perasaan 
Keadilan, yang dikutip dari tulisan di sebuah harian nasional. Di bawah tulisan 
itu terdapat penugasan kepada siswa untuk menganalisis dan memberi pendapat 
tentang kasus tersebut. Hal ini dinilai telah menggiring opini anak didik 
secara sepihak karena hanya mengemukakan fakta sepihak dari salah satu hakim 
agung yang saat itu memeriksa kasus dugaan korupsi Akbar Tandjung. 

Surya dan Suparman menyayangkan somasi tersebut karena dapat menurunkan minat 
guru dalam melakukan kreativitas dalam mengajar. "Kita selalu mendorong guru 
untuk berkreasi dalam mengajar, termasuk memasukkan fakta-fakta baru yang 
terjadi. Kalau sekarang terjadi hal seperti ini, akan menjadi preseden negatif 
ke depan," sesal Surya. 

Selain itu, menurut Suparman, pengajuan somasi menunjukkan bahwa kebebasan 
akademik guru ketika mengajar sama sekali tidak dihargai."Guru mempunyai 
kebebasan profesional untuk melakukan dan memilih pembelajaran termasuk bahan 
pelajaran untuk murid. Ini dijamin oleh rekomendasi Unesco dan ILO tentang 
status guru dan sudah disepakati oleh organisasi guru sedunia pada tahun 1966," 
katanya. 


RUU Guru 

Lebih lanjut ,dia melihat bahwa dissenting opinion yang sudah terjadi dalam 
peradilan Akbar bisa menjadi wacana akademik. Dengan demikian menjelaskan hal 
tersebut kepada para siswa tidak menjadi masalah. Keduanya sepakat bahwa RUU 
Guru yang sudah memasukkan kebebasan mimbar akademik bagi para guru, harus 
segera disahkan. Dalam RUU itu juga disebutkan para guru dituntut untuk 
mengajar secara demokratis dan kreatif. 

"Kalau ingin melakukan demokratisasi dan pembelajaran yang kreatif, guru harus 
memberikan pembelajaran yang menumbuhkan rasa kreatif. Dengan demikian anak 
tumbuh keberanian untuk mengemukakan pendapat. Cara yang ditempuh ibu Retno 
secara pedagogis sudah benar," kata Suparman. 

Dia menyayangkan kebebasan akademik para guru sekarang ini masih sangat 
terbatas bila dibandingkan dengan guru di perguruan tinggi. Bila kasus itu 
diteruskan menjadi persoalan hukum, maka pihak masyarakat dan aparat hukum 
harus memandang itu dalam kerangka kebebasan akademik. 

Lebih lanjut Surya berharap masyarakat mulai memahami kebebasan akademik, dan 
juga menghimbau agar para guru lebih berhati-hati dalam memasukkan berbagai 
fakta. 

"Saya juga menghimbau agar para guru, selain tetap kreatif juga berusaha 
mencari sumber primer ketika menulis buku. Dengan demikian dasar pijakan mereka 
dalam menulis lebih kuat," katanya. (A-22) 



--------------------------------------------------------------------------------

Last modified: 5/8/05 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
<font face=arial size=-1><a 
href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12htdfkmk/M=362329.6886307.7839373.3022212/D=groups/S=1705329729:TM/Y=YAHOO/EXP=1123328441/A=2894324/R=0/SIG=11hia266k/*http://www.youthnoise.com/page.php?page_id=1998";>1.2
 million kids a year are victims of human trafficking. Stop slavery</a>.</font>
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke