sampuraseun,

perkenankan saya kirimkan fotokopi tulisan postingan
dari teman mancing saya yang rumahnya juga di pinggir
kali ... kali bengawan Rhein, tepatnya di kota bisnis
Duesseldorf ...  Tanpa beliau sadari, saya termasuk
salah satu fans dari kolumnis pinggir kali bengawan
Rhein ini :)

***

mengenai Dr. Johny Setiawan, salah satu tokoh (astronom
Indonesia) yang prestasinya dalam menemukan planet baru
di luar tata-surya kita, perkenankan saya menambahkan
bbrp. link di bawah ini:


1. Link Max-Plank Institute do Heidelberg (where he works):

<http://www.mpia.de/homes/setiawan/hd11977_indonesian.html>

2. Link artikel National Geograohic edisi Jerman:

<http://www.nationalgeographic.de/php/magazin/redaktion/2003/06/
redaktion_geographica.htm>

3. Link artikel Kompas sbg. salah satu media massa yang memuat

<http://kompas.com/kompas-cetak/0507/29/humaniora/1934996.htm>

4. Link agak 'teknis' bagi yang ingin agak lebih mengetahui
instrumen yang digunakan oleh tim Dr. Setiawan di dalam
penemuan planet tsb. :

<http://obswww.unige.ch/.../VLT-PLA-AOS-15759-0003_ Issue0.
1_reference_setiawan.pdf>

===( ihm )===============================================


------------------------------------------------------
From: ed
Date: Sun Aug 7, 2005 1:05 am
Subject: Grenengan Akhir Pekan: Berjejak di Jerman....
------------------------------------------------------


Assalamu alaykum wr. wb.

Grenengan Akhir Pekan: Berjejak di Jerman....

Duesseldorf, dini hari Sabtu, 06 Agustus 2005. Ingatan
dan lamunan saya mengantarkan saya untuk "menggreneng"
lagi. Kali ini grenengan saya jatuh ke suatu peristiwa
kecil yang juga terjadi di hari Sabtu sekitar tiga
tahun berselang, tepatnya 12 Oktober 2002.

Kala itu, seorang lelaki warganegara Jerman turun dari
Lufthansa yang mendarat di Cengkareng. Ia segera
menuju hotel dan bermaksud sejenak melepas penat.
Tiba-tiba, deringan telepon bertubi-tubi menyentakkan
istirahatnya. Karib kerabat dan koleganya di Jerman
menanyakan kabar tentang dirinya. Sebagiannya bahkan
mendesak agar lelaki itu segera berkemas dan bergegas
meninggalkan Jakarta, pulang kembali ke kampung
halamannya.

Apa pasal? "Beberapa jam lalu bom meledak di Konsulat
Filipina, Manado dan di Kuta, Bali," kata lawan
bicaranya di seberang sana. Terhadap permintaan dan
anjuran agar mengurungkan niatnya tinggal beberapa
hari di Indonesia, lelaki itu menjawab ringkas. "Saya
percaya nasib," demikian ia menukas. "Saat ini bom ada
di mana-mana. Relatif, tidak ada lagi tempat yang aman
di dunia," tambahnya.

Lelaki itu, Karl-Ruedeger Siebert namanya, tetap
"keukeuh" dan ngotot meneruskan tinggal selama
seminggu di Indonesia seperti ia rencanakan semula. Ia
ingin sekali hadir dalam acara peluncuran karya
tulisnya, sebuah buku tentang suka duka manusia Jerman
di Indonesia. Karya tulis itu sendiri aslinya berasal
dari proyek multi media Redaksi Siaran Bahasa
Indonesia Radio Jerman, Deutsche Welle, yang berjudul
"Jejak Orang Jerman di Indonesia". Rudi, demikian
lelaki itu biasa dipanggil, saat itu menjabat sebagai
Pemimpin Redaksi Seksi Siaran Bahasa Indonesia.

Sejumlah tokoh Jerman yang memainkan peranan penting
dalam hubungan (manusia) Jerman-Indonesia ia tampilkan
dalam proyek multimedia itu. Profil dan riwayat hidup
mereka disajikan dalam paket siaran berbentuk feature
radio. Versi radio dari proyek multimedia itu telah ia
siarkan menjelang ahir tahun 2002. Untuk versi
cetaknya ini, ia membuatnya dalam dwibahasa,
Jerman-Indonesia.

Edisi bahasa Jermannya ia beri judul "Deutsche Spuren
in Indonesien" dan kemudian diterbitkan oleh Penerbit
Horlemannn, Bad Honnef. Sementara, penerbit Katalis,
Jakarta--yang juga dikenal sebagai pemegang hak cetak
beberapa buku pelajaran Bahasa Jerman di Indonesia, ia
percayai sebagai penerbit edisi Indonesianya yang ia
beri judul "Berjejak Di Indonesia: Kisah Hidup 10
Tokoh Jerman". Di Indonesia, ia melakukan dua kali
kegiatan peluncuran buku, di Goethe Institut Jakarta
dan di Goethe Institut Bandung.

Sepuluh tokoh dalam rentang awal abad 17 hingga abad
21 ia rangkum dan ia perkenalkan melalui buku itu. Ia
menulis profil mulai dari Gubernur Jendral VOC Gustav
Wilhelm van Imhoff sampai ke Romo Franz Magnis-Suseno,
pakar etika politik terkemuka Indonesia saat ini. Ia
menulis juga kisah tentang Sang Penemu Kina, Junghuhn
atau kisah pelestari "Hikayat Melayu Hang Tuah" yang
nyaris punah, Hans Overbeck. Diceritakan juga olehnya
pengusaha sukses Batavia, Emil Helfferich, yang
membangun Taman Makam Tentara Jerman di Arca Domas
Bogor. Tak ketinggalan, ia menulis tentang rohaniwan
yang namanya saat ini diabadikan sebagai nama
perguruan tinggi di Medan, Ludwig Nommensen.

Di dalam buku itu Rudi juga mengungkapkan peranan
pemusik dan pelukis Walter Spies. Spies adalah orang
yang menyebarkan citra Pulau Bali sebagai Pulau Dewata
ke masyarakat dunia sekitar tahun 1920-an. Masih ada
beberapa nama yang ia tulis, semisal kisah tentang
Werner Joachim Meyer, seorang dokter militer; serta
Max Dauthendey, sastrawan dan pelukis yang popular di
awal abad 20.

Melalui buku itu, Rudi berusaha mengungkap sejarah dan
keterlibatan manusia Jerman di suatu belahan dunia
yang bernama Indonesia. Sayangnya, ia justru tidak
memuat tentang manusia Jerman yang memopularkan kata
"Indonesia" itu sendiri. Bukankah nama "Indonesia"
untuk gugusan kepulauan Nusantara juga erat kaitannya
dengan ahli etnologi Jerman, Adolf Bastian?

Mengingat hal di atas, saya menggreneng lagi,
mungkinkah sekarang kita melakukan yang sebaliknya?
Bisakah kita juga menggagas tentang manusia Indonesia
yang juga "Berjejak di Jerman"? Hati kecil saya
menjawab "warum nicht, mengapa tidak?"

Selain Habibie, saya sudah mendengar sejumlah nama
orang Indonesia yang sukses berkiprah di berbagai kota
di Jerman ini. Ada dokter Syaiful Rangkuti dan dokter
Suparwata di Kassel dan Muenster. Keduanya adalah
kardiolog yang cukup tersohor di kota masing-masing.
Ada lagi selentingan kabar tentang orang Indonesia
yang dikenal dalam dunia per-linux-an di Jerman ini.
Sayangnya memori saya tidak sempat merekam namanya.
Bahkan baru-baru ini, Dr. Johny Setiawan, astronom
Indonesia yang bekerja di Institut Astronomi Max
Planck, berhasil menemukan sebuah planet ekstrasolar!

Agaknya kita bisa bersama-sama mencari tahu untuk
menambahkan nama-nama lain, sehingga nanti selain
"Berjejak di Indonesia", juga ada buku dengan judul
"Indonesien Spuren in Deutschland" yang mejeng di
Amazondotde.......

{ Spuren = jejak   - catatan 'redaksi'  }
Schoenes wochenende

wassalam
ed









------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
<font face=arial size=-1><a 
href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12hnd348r/M=323294.6903899.7846637.3022212/D=groups/S=1705329729:TM/Y=YAHOO/EXP=1123396745/A=2896125/R=0/SIG=11llkm9tk/*http://www.donorschoose.org/index.php?lc=yahooemail";>Take
 a look at donorschoose.org, an excellent charitable web site for anyone who 
cares about public education</a>!</font>
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke