(Tulisan berikut di bawah ini juga disajikan dalam website
 http://perso.club-internet.fr/kontak)


               Perempuan Korban  Menggugat Senyap
                                     Sebuah Catatan Pandangan Mata





Barangkali, di antara banyak tulisan, artikel, atau reportase yang dibikin
dalam rangka peringatan 40 tahun peristiwa 65, “Perempuan korban menggugat
senyap” akan tergolong salah satu di antaranya yang patut diacungi jempol,
sebagai tulisan yang bukan saja isinya sangat bagus, melainkan cara
penulisannya juga sangat enak dibaca dan mengharukan sekali.



Oleh karena itu, website    http://perso.club-internet.fr/kontak)
menyajikannya dengan lengkap (in extenso) , untuk memungkinkan para pembaca
ikut merenungkan isi yang mengandung pesan kemanusiaan yang tinggi, dan rasa
kepedulian yang besar terhadap penderitaan para korban peristiwa 65, yang
kebanyakan terdiri dari para wanita usia lanjut. Pesan moral (dan politis!)
dari tulisan inii jelas sangat penting untuk sama-sama kita camkan : bangsa
kita harus jangan sampai mengulangi lagi, dalam bentuknya yang bagaimanapun
juga dan dengan cara apapun juga (!!!) tragedi kemanusiaan yang begitu
merendahkan martabat manusia itu!



Generasi bangsa kita yang sekarang dan terutama generasi muda kita patut
sekali menarik pelajaran dari banyak kesalahan dan dan berbagai macam
kejahatan yang telah dilakukan Orde Baru selama puluhan tahun.



  1.. Umar Said


===============









Pengantar: dari Tim penulis :



Pada 24 Juli 2005 Lingkar Tutur Perempuan mendapat kehormatan menjadi saksi
sejarah reuni para perempuan korban Tragedi 1965 di Yogyakarta. Acara yang
diberi nama “Temu Rindu Menggugat Senyap” ini berlangsung selama kurang
lebih 5 jam tanpa ada gangguan yang berarti dan membuka ruang pengungkapan
kebenaran tentang salah satu tragedi kekerasan paling berdarah di negeri
ini. Di bawah ini adalah catatan pengamatan kami selama acara berlangsung.
Selamat membaca!





Membuka Ruang Jumpa dan Mengungkap Rasa





Sekitar pukul 10.00 pagi, hari Minggu, 24 Juli 2005, satu persatu hadirin
memasuki pelataran SMKI (Sekolah Menengah Karawitan Indonesia), Bugisan,
Yogyakarta. Sebagian besar dari mereka adalah perempuan lanjut usia yang
berjalan perlahan dari pelataran parkir yang cukup luas menuju meja penerima
tamu. Mereka kemudian disambut oleh sejumlah perempuan muda, petugas among
tamu, dan dibimbing memasuki pendopo berukuran sekitar 20x20 meter. Di
pendopo sudah tergelar tikar-tikar untuk duduk lesehan dan tersedia pula
belasan kursi untuk para perempuan yang tidak bisa lagi duduk lesehan.



Para perempuan lanjut usia itu adalah korban tragedi 1965 yang berasal dari
berbagai kota di Jawa, antara lain Yogyakarta, Solo, Semarang, Purwokerto,
Cilacap, Kebumen, Klaten, Boyolali, Blitar, Surabaya, dan Jakarta. Mereka
datang dengan bus-bus sewaan, kendaraan-kendaraan pribadi, dan kereta api,
ada yang dalam kelompok kecil, ada pula yang diantar bapak-bapak korban dari
daerah masing-masing. Para ibu ini, yang tertua diantara mereka berusia 96
tahun, hadir tanpa embel-embel organisasi, baik organisasi di masa lalu
maupun di masa sekarang. Mereka hanya punya satu tujuan: berjumpa
teman-teman yang telah bertahun-tahun terpisah.



Begitu para ibu ini berjumpa dengan kawan-kawan lama, untuk beberapa saat
yang tampak dan terdengar hanyalah mereka yang berpelukan erat, hamburan
pertanyaan bercampur tangis, ujaran lega bersahut-sahutan dalam bahasa Jawa
pun Indonesia, dan sentuhan hangat di wajah dan bagian tubuh masing-masing
untuk memastikan bahwa kawan yang dihadapi memang hadir dalam kenyataan.



Di tengah keriuhan ungkapan rasa rindu, puluhan perempuan muda seperti
terhenyak. Mereka yang bertugas sebagai among tamu tidak tahu persis harus
berbuat apa selain menyaksikan perjumpaan bersejarah ini dengan rasa haru.
Sehari sebelumnya kawan-kawan muda yang berasal dari jaringan Syarikat
Indonesia dan fakultas psikologi beberapa universitas di Yogya mengikuti
lokakarya Trauma Healing yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Sejarah dan
Etika Politik (Pusdep) di Universitas Sanata Darma. Beberapa dari mereka
sudah pernah bertemu dengan korban tragedi 1965 dalam kegiatan-kegiatan
sosial Syarikat yang bertujuan mewujudkan rekonsiliasi antara para korban
dan pelaku, khususnya dari kalangan warga Nahdlatul Ulama (NU). Tapi ada
juga yang baru pertama kali bertemu muka dengan para korban. Tak
terbayangkan sebelumnya bahwa suasana pertemuan akan menjadi sedemikian cair
dan mengharukan!



 Menjelang pukul 11.00, lebih dari 300 perempuan lanjut usia sudah memenuhi
pendopo, sedangkan di sisi-sisi pendopo berkumpul bapak-bapak dan hadirin
lain yang diundang panitia. Para eks-tapol LP Plantungan segera saja
berkumpul di sudut kanan belakang pendapa saling berpeluk-cium, menitikkan
air mata, sambil mensyukuri,“Oalah...kowe ki isih urip to. Tak daraki wis
mati!” (Oalah kamu ini masih hidup to. Aku kira sudah mati!). Lalu, mereka
saling bertukar kabar singkat tentang kehidupan masing-masing selepas
pengasingan. Sejak pembebasan massal 1978/79, ini adalah kali pertama mereka
bisa berkumpul kembali. Seorang perempuan eks-Plantungan memberi tahu
rekan-rekannya, ia sekarang sudah punya tiga anak. Rekan-rekannya terharu.
Mereka tak menyangka si ibu masih bisa melahirkan anak setelah mengalami
penyerangan seksual selama masa interogasi. Sementara itu, istri-istri dan
anak-anak eks-tapol yang tak punya teman khusus yang ingin mereka jumpai
mendapat pengalaman baru berjumpa langsung dengan perempuan-perempuan yang
selama ini hanya mereka dengar namanya lewat cerita. “Senang berjumpa banyak
teman senasib,” kata seorang ibu.



Acara resmi dibuka dengan sepatah kata dari 2 pembawa acara, Bondan
Nusantara, seniman ketoprak dari Bantul yang juga anak korban, dan Ruth
Indiah Rahayu (Yuyud), salah satu aktifis Lingkar Tutur Perempuan dari
Jakarta. Mereka menjelaskan maksud diadakannya acara ini dan mempersilakan
panitia memberikan sambutan. Berturut-turut ketua panitia acara, Ibu
Sumarmiyati, eks-tapol dari Yogyakarta, dan Imam Aziz, ketua Syarikat
Indonesia, menyampaikan ucapan selamat datang singkat. Setelah acara formal
dibuka, ibu-ibu lansia secara bergantian membacakan puisi dan menyanyi
dengan iringan permainan organ tunggal bersama dengan seorang penyanyi
perempuan muda. Lagu-lagu yang didendangkan, keroncong dan pop, kebanyakan
berasal dari periode 60an. Ada pula seorang simbah mempersembahkan tembang
Jawa dengan suara yang masih merdu. Kami duga dulu pastilah suaranya jauh
lebih bagus. Mungkin ini untuk pertama kalinya sejak puluhan tahun ia
nembang lagi di depan umum. Beberapa anak korban juga mendapat kesempatan
membacakan puisi. Pada saat makan siang kelompok ketoprak Mas Bondan
menampilkan sebuah fragmen tentang tragedi 1965. Sayang sound system kurang
memadai untuk gedung seluas pendopo itu sehingga ucapan-ucapan para pemain
kurang terdengar. Ditambah lagi dengan riuhnya suara ibu-ibu yang asyik
ngobrol dengan kawan-kawannya.



Yang paling menarik dari rangkaian acara kesenian ini adalah ketika sang
penyanyi profesional membawakan lagu Jawa yang cukup rancak sehingga ibu-ibu
tergerak untuk berjoget! Siapa anggota Gerwani atau yang dicap Gerwani masih
berani menari dan menyanyi di acara-acara publik setelah geger 65? Ada
seorang ibu pemeran Petruk di LP Bulu yang ‘memprovokasi’ ibu-ibu lain untuk
joget. Lalu, muncul ibu pemeran Gareng yang asyik dengan gaya jogetnya yang
kocak. Tampak bagaimana beberapa ibu yang memang penari masih lentur
melenggak-lenggok gaya tradisional. Spontan kawan-kawan muda dari pasukan
among tamu bergabung dengan para ibu yang sedang asyik berjoget. Sungguh
suatu pemandangan yang mengundang tawa sekaligus rasa lega!



Sambil menyaksikan ibu-ibu menari dan berjoget di pendapa SMKI kami berusaha
memahami bagaimana para perempuan ini merepresi ekspresi seninya selama ini.
Kami dengar banyak diantara para ibu yang hadir dulunya adalah aktivis Lekra
(Lembaga Kesenian Rakyat) atau setidaknya tidak pernah ketinggalan ikut
dalam acara-acara kebudayaan di tingkat kampung. Tapi, seperti diungkapkan
seorang ibu: siapa yang bisa melarang kecintaan pada seni? Di LP Bulu
Semarang di mana ia pernah ditahan, para tapol perempuan tetap ketoprakan,
biarpun yang menonton hanya warga LP. Karena tinggi tubuh dan mancung
hidungnya, ia selalu diposisikan sebagai Petruk. Carmel Budiardjo juga
menceritakan dalam bukunya bagaimana para tapol di LP Bukit Duri diam-diam
menghibur diri dengan ketoprak.



Acara tidak terpusat di pendopo saja. Para ibu tidak henti-hentinya mencari
kawan-kawan mereka, berjalan dari satu sisi pendopo ke sisi lainnya,
berbincang-bincang, berkelompok di bagian-bagian lain seluruh areal SMKI.
Ketika salah satu dari kami antre memakai kamar kecil, seorang perempuan
setengah baya menghampiri seorang perempuan tua bertubuh pendek agak gemuk
dengan rambut sudah memutih semua. Si perempuan setengah baya memegangi
pundak si ibu tua sambil berkata dalam bahasa Jawa yang artinya kira-kira
seperti ini, “Ibu masih ingat saya? Saya......(menyebut namanya). Saat di
Plantungan dulu saya masih semuda mbak ini (sambil menunjuk ke arah
 penulis)”. Si ibu tua langsung memegang pipinya dan berusaha memastikan
kebenaran ucapannya, “Apa iya kamu itu? Kok beda sekali. Wah, kamu juga
masih hidup ya?” Lalu si perempuan setengah baya bercerita tentang perempuan
lain yang menurutnya sudah mati. Mereka berdua lantas berpelukan dan
bertangisan.



Mereka juga berusaha mengenal kawan-kawan muda yang bukan korban maupun anak
korban dan menceritakan pengalaman mereka. Seorang ibu yang berasal dari
Semarang, bertanya kepada penulis, “Anak ini putra korban yang tinggal di
daerah mana?” Ketika penulis menjawab bukan anak korban, ia berkata,
“Oh...syukurlah kalau begitu”. Lantas ia bercerita bahwa dia adalah isteri
tentara yang ditembak mati. Si ibu ini hidup bersama enam anaknya. Saat
suaminya ditangkap, anak terbesar masih kelas 4 SD sementara anak
terkecilnya berusia 1 bulan. Rumahnya hampir saja dibakar massa yang juga
tetangga-tetangga sekitarnya. Ia berusaha bertahan bersama keenam anaknya,
tidak keluar dari rumah tsb. Akhirnya, massa tidak jadi membakar rumahnya.
Ia berujar, “Pokoknya, peristiwa 1965 itu kejam sekali, tentara itu kejam
sekali, tidak punya perikemanusiaan”. Lalu ia menunjuk ke seorang ibu
berkulit hitam, bertubuh pendek dengan punggung tampak membungkuk, sambil
berucap, “Ibu itu badannya habis disiksa. Ya diperkosa berkali-kali dan
punggungnya dipukuli dengan bambu hingga hancur. Habis paling tidak satu
bambu hancur untuk memukuli punggung ibu itu”. Lantas ia melanjutkan
beberapa cerita yang cukup menggetarkan hati. Ia pun menutup kisahnya dengan
ungkapan, “Ibu ini cukup beruntung karena tidak mengalami hal itu. Ibu hanya
harus berusaha apa saja agar anak-anak bisa hidup dan terus sekolah”.



Acara kesenian yang berlangsung kurang lebih 2 jam diakhiri dengan sambutan
ibu-ibu mewakili delegasi dari kota masing-masing. Selain memperkenalkan
diri, ibu-ibu ini juga menyatakan keinginan mereka untuk berkumpul lagi dan
membicarakan soal-soal yang berkenaan dengan masalah mereka sebagai korban.
Kalau dalam bahasa ibu-ibu dari Solo, “Ini nanti kesimpulannya apa, mbak?”
Kami hanya bisa menyampaikan bahwa bukan kami yang akan membuat ‘kesimpulan’
tetapi ibu-ibu korban sendiri. Diantara ibu-ibu wakil daerah ini juga ada
yang menyampaikan kesaksian agak panjang tentang penderitaan yang
dialaminya. Ibu-ibu memang masih butuh banyak ruang untuk menuturkan
pengalaman hidupnya.



Dua kawan dari kelompok non-korban, Ita F. Nadia dari Komnas Perempuan dan
Atnike Sigiro dari Lingkar Tutur Perempuan juga diminta memberikan sambutan
singkat sebagai wakil dari generasi muda. Tiga hal yang ditekankan kedua
kawan ini adalah: pertama, bahwa tragedi 1965 bukan hanya persoalan korban
tragedi itu sendiri tetapi juga persoalan kita semua sebagai bangsa. Kedua,
pentingnya bagi generasi muda untuk memahami pengalaman para pendahulunya
baik sebagai korban maupun sebagai orang-orang yang aktif dalam pergerakan
supaya tumbuh suatu kesadaran sejarah baru yang lebih sehat. Dan yang
terakhir, perlunya korban dari berbagai kasus dan periode untuk bertemu dan
bertukar pikiran agar ada pemahaman bersama tentang kejahatan yang dilakukan
rejim Orde Baru terhadap rakyatnya.



Kurang lebih pukul 2 siang pembawa acara memutuskan untuk menutup acara.
Ibu-ibu yang sudah sangat lanjut usianya mulai tampak kelelahan, dan
rombongan dari luar Yogyakarta harus segera pulang agar tidak kemalaman di
jalan. Ibu-ibu kemudian memimpin acara penutupan dengan membentuk lingkaran
yang terbentuk dari jajaran para korban dan anak-anak muda yang saling
bergandengan dan menyanyikan lagu-lagu perpisahan. Sulit untuk sama sekali
menghentikan acara karena ibu-ibu dan kawan-kawan muda tak putus-putus
berdendang. Nyanyian baru sama sekali berhenti ketika seorang kawan muda
dari jaringan Syarikat tiba-tiba jatuh pingsan. Iin, begitu ia biasa
dipanggil, adalah putri seorang anggota Banser dari Kebumen yang pernah
terlibat dalam pembantaian orang-orang yang dianggap terlibat G30S. Sejak ia
bergabung dengan Syarikat ia ikut mendampingi para perempuan korban tragedi
1965. Anak yang pada dasarnya penggembira dan ramah ini rupanya tak tahan
menanggung rasa bersalah setiap kali ia mendengarkan kisah-kisah korban yang
memang memilukan.



Segera para ibu yang asyik bernyanyi menghampiri Iin yang sudah siuman dan
menangis sesenggukan di pelukan Hersri Setiawan, sastrawan dan eks-tapol
Pulau Buru. Ibu-ibu ini menghibur Iin dengan mengatakan bahwa bukan dia yang
harus bertanggung jawab terhadap tragedi di masa lalu itu. Seorang ibu dari
Blitar mengatakan, “Sudah jangan menyalahkan diri sendiri. Yang penting
sekarang kamu tahu bahwa kami-kami ini bukan pelacur, perempuan bejat yang
membunuhi para jendral.”



Kejadian ini membuat kami berpikir lebih jauh tentang peliknya soal berbagai
upaya pengungkapan kebenaran, rekonsiliasi dan pemulihan di tingkat akar
rumput. Dalam wacana pelanggaran HAM kita berpegang pada kategori-kategori
‘korban’ dan ‘pelaku’ sementara di luar kategori-kategori itu ada anggota
keluarga, sanak saudara, yang mungkin tidak tahu menahu atau tidak mau tahu
tentang pengalaman ‘korban’ dan ‘pelaku’. Seperti yang dialami kawan-kawan
dari Syarikat, mereka pun harus dipersiapkan untuk menghadapi kenyataan
sejarah yang paling pahit dalam kehidupan mereka agar ketika kita bicara
tentang rekonsiliasi menjadi jelas siapa yang sesungguhnya perlu berdamai
dengan apa/siapa.





Kisah di Balik Ruang Jumpa



Gagasan acara “Temu Rindu Menggugat Senyap” muncul di kalangan para ibu
eks-tapol di Yogyakarta sejak beberapa bulan lalu. Mereka kemudian membentuk
panitia yang diketuai Ibu Sumarmiyati (Bu Mamiek) dengan koordinator acara
Bondan Nusantara. Kepanitiaan jadi meluas dengan terlibatknya kawan-kawan
dari kelompok Syarikat dan jaringannya, serta para peneliti dari Pusdep
Sanata Dharma. Sejak awal panitia ini sudah sepakat bahwa acara akan
dilangsungkan tanpa perlu mengatasnamakan satu kelompok/organisasi korban
atau kepentingan politik tertentu. Tujuan pertemuan semata-mata membuka
ruang bagi para ibu untuk saling melepas kangen dan mengatasi ketakutan
berbicara. Banyak perempuan korban yang baru mulai bangkit dari kesenyapan
panjang sehingga panitia tidak mau membebani acara ini dengan terlalu banyak
agenda.



Awalnya yang berniat untuk bertemu hanya perempuan-perempuan korban dari
Yogyakarta saja dan jumlah yang diperkirakan hadir 150 orang. Ternyata,
berita menyebar sampai ke daerah-daerah lain dan mendapat sambutan luar
biasa. Sampai satu hari sebelum acara diperoleh kabar akan ada 300 orang
yang hadir. Kenyataannya, jumlah ibu-ibu yang datang, berikut para pengantar
dan hadirin lainnya, mencapai 500 orang. Beberapa petugas among tamu harus
berbagi satu nasi bungkus dengan 2-3 kawan lain untuk menahan rasa lapar.
Untunglah ibu-ibu yang mengurus konsumsi cukup sigap bergerak sehingga baik
peserta maupun panitia akhirnya bisa menikmati hidangan makan siang dengan
menu sederhana.



Menariknya, dalam mempersiapkan acara panitia tidak menghadapi hambatan yang
berarti dari pihak penguasa, tapi justru dari kelompok-kelompok lain yang
ingin menggunakan kesempatan ini untuk agenda politik tertentu. Bahkan
sempat beredar proposal acara dengan nilai dana yang jauh berbeda dan
menimbulkan kebingungan di kalangan pihak-pihak yang sudah bersedia membantu
kelangsungan acara ini. Dari kedua pembawa acara, Bondan dan Yuyud, didapat
juga cerita di balik panggung. Ada tetamu tertentu yang hadir begitu
terkesan melihat besarnya jumlah perempuan yang hadir dan ingin ‘memberi
arahan politik’ versi masing-masing. Para tamu ini meminta waktu khusus dari
MC tapi setelah berkonsultasi dengan panitia diputuskan bahwa waktu
diutamakan untuk para ibu-ibu untuk mengungkapkan keinginan mereka, apa pun
bentuknya. Di sini lah kebijaksanaan Bu Mamiek sebagai ketua panitia, dan
Syarikat sebagai penyelenggara di lapangan patut diberi acungan jempol
sehingga tidak terjadi ketegangan yang merusak suasana.



Setelah acara usai, panitia berkumpul untuk membicarakan kesan-kesan yang
diperoleh dan merencanakan kegiatan selanjutnya. Dari catatan kesan dan
pesan yang ditulis di secarik kertas yang diedarkan panitia disimpulkan
bahwa para perempuan korban ingin agar acara seperti ini diadakan kembali,
paling tidak setahun sekali. Bagi mereka, acara ini sangat berarti terutama
bagi mereka yang sudah sakit-sakitan dan berusia sangat lanjut. Bahkan, saat
panitia mengontak beberapa perempuan yang akan hadir di acara ini, ada
sekitar 4 orang yang sudah meninggal walaupun saat kontak pertama kali
(hanya berselang 2 bulan sebelumnya) mereka masih hidup.



Beberapa kawan yang baru pertama kali bertemu korban mengungkapkan
kelegaannya karena para ibu ternyata tidak mencurigai mereka dan bersedia
berbincang-bincang dengan hangat. Memang tidak semua ibu dengan serta merta
mau bercerita; banyak dari mereka yang hanya ingin melepas rindu dengan
kawan-kawan mereka di penjara dahulu. Tapi paling tidak dengan bertemu
kawan-kawan muda ini para ibu menjadi lebih percaya diri bahwa kisah bohong
tentang kejahatan mereka yang diciptakan Orde Baru akan mendapat sanggahan
justru dari generasi muda.



Kami juga membicarakan kemungkinan membuka ruang-ruang yang lebih kecil di
wilayah yang berbeda-beda dimana ibu-ibu bisa mencurahkan isi hatinya,
menuturkan pengalaman hidup yang selama ini mereka tutup rapat. Kegiatan ini
sebenarnya sudah dimulai oleh jaringan Syarikat dan Lingkar Tutur Perempuan
di berbagai kota. Tapi diperlukan lebih banyak lagi ruang-ruang bercerita
untuk perempuan korban. Selain untuk keperluan pemulihan dan penguatan bagi
korban, ruang-ruang seperti ini akan membantu generasi muda merekonstruksi
sejarah gerakan perempuan yang digelapkan selama ini.



Dari acara di Yogya ini kami juga bisa melihat bagaimana kesenian menjadi
sangat penting bagi proses pemulihan dan penguatan. Sebagian besar korban
bercerita bahwa di masa sebelum tragedi 1965 terjadi mereka terlibat dalam
berbagai kegiatan kesenian di tingkal lokal sampai nasional. Ketika mereka
di penjara kegiatan kesenian pula yang membuat hari-hari mereka terasa lebih
ringan. Kiranya inilah tugas organisasi-organisasi korban dan kemanusiaan
untuk membayangkan kegiatan-kegiatan kesenian serupa apa yang bisa menjadi
medium pertemuan berbagai kalangan untuk membicarakan tragedi ini.***





Yogyakarta, 25 Juli 2005





Tim Penulis Lingkar Tutur Perempuan

Ayu Ratih

B.I. Purwantari

Th. J. Erlijna



* * *







--
No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Anti-Virus.
Version: 7.0.338 / Virus Database: 267.10.5/67 - Release Date: 09/08/2005


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
<font face=arial size=-1><a 
href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12hokhelo/M=362329.6886307.7839373.3022212/D=groups/S=1705329729:TM/Y=YAHOO/EXP=1123706114/A=2894324/R=0/SIG=11hia266k/*http://www.youthnoise.com/page.php?page_id=1998";>1.2
 million kids a year are victims of human trafficking. Stop slavery</a>.</font>
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke