Saya pikir, ketika GD mengatakan "Pernyataan Din Syamsuddin dalam 
siaran radio niaga Elshinta, minggu > lalu, bahwa ia akan mencoba 
melerai/menjembatani perbedaan antara> yang menyetujui dan 
menolak "fatwa" MUI itu, adalah sesuatu> yang sebenarnya tidak 
diperlukan. Sebab arogansi yang sudah > diperlihatkan MUI telah 
menyadarkan kita, agar tidak mudah "tertipu" > terhadap sikap yang 
seolah-olah mewakili umat Islam." GD telah menjadi "pelawak" karena 
GD tidak memberi solusi apa-apa buat SBY yang lagi kebingungan, 
malah berpihak kepada satu sisi sehingga memperuncing keadaan. 
Pernyataan Din Syamsudin sebetulnya lebih menyejukkan. Apalagi kalau 
benar MUI sudah mengusulkan/menasehati SBY spt yang dipostingkan 
oleh Mbak Fau.

Buat Mbak Fau, makasih buat postingannya.

wassalam,




> 

--- In [email protected], Danardono HADINOTO 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Pendapat yang  - menurut saya - sangat sejuk:
>  
> "Arogansi seperti inilah yang menjadikan kita berstandar ganda 
dalam 
> bernegara. Di satu pihak, kita memerlukan negara untuk tetap hidup.
> Di  pihak lain, kita acuh tak acuh terhadap eksistensi/wujud 
negara 
> ini. Padahal, salah satu cara untuk mempertahankannya adalah 
memahami watak kemajemukan hidup beragama di negeri itu, yaitu 
dengan bersikap toleransi/tenggang rasa antara sesama agama yang 
hidup di negara tersebut. Karenanya, pluralisme yang ditolak oleh 
Munas ke-7 Majelis 
> 
> Ulama Indonesia (MUI) baru-baru ini, justru memperlihatkan adanya 
> sikap yang tidak mau tahu dengan toleransi, yang sebenarnya 
menjadi 
> inti dari kehidupan beragama yang serba majemuk dalam kehidupan
> negara kita...
> --------
>  
> Inikah pendapat seorang "pelawak"? Apakah cinta akankemajemukan 
bangsa sebuah lawakan?
>  
> salam penuh damai
>  
> danardono
> 
> Muhkito Afiff <[EMAIL PROTECTED]> schrieb:
> 'Kebenaran' dan Penolakan Atasnya       
> 
> Oleh: Abdurrahman Wahid
> Pada suatu ketika, penulis dihadapkan pada sebuah pertanyaan yang 
> terus menerus "mengganjal" hubungan mesra antara dirinya dengan 
orang 
> beragama lain. Pertanyaan itu adalah: apakah batas dan hubungan
> antara kebenaran sebuah keyakinan dengan pergaulan antara sesama 
> penganut agama dalam konteks negara Republik Indonesia? Pertanyaan 
ini
> haruslah memperoleh jawaban yang jujur, karena sendi-sendi 
kenegaraan 
> kita sangat tergantung kepada jawaban itu. 
> 
> Jika kita menggunakan "kerangka penuh" sebagai seorang muslim 
saja, 
> kita akan menjawab: persetan dengan semua hubungan antara diri 
kita 
> sendiri dengan para penganut agama-agama lainnya. Kita hanya akan 
> melihat pentingnya pencapaian hubungan dalam pola sempit, yaitu
> antara seorang muslim dan akidahnya. Sikap sebagai seorang muslim, 
> lalu menjadi sangat arogan dalam negara kita hidup. Akhirnya, kita 
> hanya mau tahu kebenaran agama sendiri, dan menjadi puas ketika 
> "mengalahkan" agama lain. 
> 
> Arogansi seperti inilah yang menjadikan kita berstandar ganda 
dalam 
> bernegara. Di satu pihak, kita memerlukan negara untuk tetap hidup.
> Di  pihak lain, kita acuh tak acuh terhadap eksistensi/wujud 
negara 
> ini. Padahal, salah satu cara untuk mempertahankannya adalah 
memahami
> watak kemajemukan hidup beragama di negeri itu, yaitu dengan 
bersikap 
> toleransi/tenggang rasa antara sesama agama yang hidup di negara 
> tersebut. Karenanya, pluralisme yang ditolak oleh Munas ke-7 
Majelis 
> Ulama Indonesia (MUI) baru-baru ini, justru memperlihatkan adanya 
> sikap yang tidak mau tahu dengan toleransi, yang sebenarnya 
menjadi 
> inti dari kehidupan beragama yang serba majemuk dalam kehidupan
> negara kita. 
> 
> Sebagai pemimpin formal Rebuplik Indonesia Susilo Bambang 
Yudhoyono 
> (SBY) dalam percakapan dengan penulis baru-baru ini bertanya:
> "Kalau saya mengambil sikap hanya berpegang pada ajaran Islam yang
> 'resmi', bukankah saya akan dipersalahkan jika hadir dalam sebuah 
> peringatan Hari Natal? Bukankah lalu saya harus mau menghapus 
tradisi 
> baik yang sudah berjalan puluhan tahun? Dan bukankah saya lalu 
> menyalahkan sikap para Presiden setelah kita merdeka, yang selalu 
> hadir dalam acara-acara seperti itu? Bukankah dari dulu hingga 
> sekarang, saya tidak mengikuti acara peribadatan Kristen?"
> Penulis tidak menjawab deretan pertanyaan tersebut, karena jawaban 
> kekanak-kanakan akan merusak tradisi sangat baik yang dihadirkan 
oleh 
> hubungan mesra antara sesama agama yang hidup di negeri kita. 
> Jawabannya sudah jelas, tidak perlu penulis ulangi di sini. 
> 
> Bahkan baru-baru ini Presiden Bush dari Amerika Serikat, 
menghadiri 
> perayaan yang dilakukan kaum muslimin di negaranya. Bukankah ini 
> kebalikan dari negara kita? Sesuatu yang justru harus diabadikan 
di 
> negara kita, malah dijauhi dengan keputusan yang dangkal oleh 
sebuah 
> forum semulia Munas MUI. Seharusnya "tradisi baik" ini
> dikembangkan lebih jauh tanpa harus melemahkan akidah kita 
sendiri. 
> Penulis yakin bahwa sikapnya untuk hadir dalam berbagai upacara 
> keagamaan oleh agama-agama yang berlainan, tidak akan "mematahkan" 
> keyakinannya sendiri sebagai seorang muslim. 
> 
> Di sinilah terletak saripati sikap beragama yang benar, seperti 
saat 
> kita melaksanakan firman Allah dalam kitab suci Al-Qur'an "Mudah-
> mudahan kedamaian menyertainya, di hari 
kelahirannya"(salamun'alayhi 
> yauma mulida). Siapapun juga akan tahu, ayat suci tersebut 
ditujukan 
> kepada Nabi Isa AS, terlepas dari kenyataan bahwa ia dinyatakan 
> sebagai "Anak Tuhan" atau bahkan Tuhan oleh orang-orang
> Kristen jauh sebelum Islam sendiri lahir di dunia ini. Keyakinan
> bahwa Nabi Isa adalah "Anak Tuhan" atau Tuhan, bukanlah urusan 
kita.
> Justru sikap untuk memaksakan tafsiran sepihak akan hakikat diri
> tokoh tersebut, akan meracuni hubungan mesra antara kaum muslimin 
dan 
> kaum nasrani.  Penghargaan kepada kaum non-muslim oleh kaum 
muslimin,
> tidak berarti menunjukkan kita telah meninggalkan akidah kita
> sendiri, melainkan justru menunjukkan kedewasaan pandangan kita di 
> mata mereka. Kenyataan sekecil ini saja, menunjukkan bahwa 
pandangan 
> "terlalu formal" tanpa memperhatikan perasaan orang lain, adalah
> sikap kekanak-kanakan yang perlu dikikis habis. 
> 
> Harus diakui umat Islam terbagi menjadi dua dalam bersikap 
terhadap 
> agama lain. Jika pimpinan MUI tetap "terbuai" oleh sikap
> "harus" menyatakan kebenaran sendiri, maka kaum muslimin akan
> terjebak dalam formalisasi sikap yang tidak dikehendaki. Itulah 
> sebabnya, mengapa para pendiri Republik Indonesia berkeras 
mengatakan 
> bahwa negara ini bukanlah sebuah negara agama. Lalu apakah para 
> pemimpin Islam waktu itu seperti: Ki Bagus Hadikusumo dan KH. 
Kahar 
> Muzakir dari Muhammadiyah, Abikusno Tjokrosuyoso dari Serikat 
Islam, 
> Achmad Subarjo dari Masyumi, AR. Baswedan dari Partai Arab 
Indonesia, 
> KH. Wahid Hasjim dari Nahdlatul Ulama dan H. Agus Salim, adalah 
tokoh-
> tokoh gadungan yang tidak mewakili golongan Islam? 
> 
> Jelaslah, kaum muslim pendiri Indonesia berpandangan luas mengenai 
> hubungan timbal balik dengan para pengikut dan pimpinan agama-
agama 
> lain. Selama lebih dari empat dasawarsa, kita hidup dalam tradisi 
> saling menghormati. Mengapakah kita lalu harus meninggalkan sikap 
> tersebut, padahal tidak ada keharusan untuk melakukannya? Bukankah 
> sikap apriori, yang dalam hal ini tidak mau mengakui kehadiran 
agama-
> agama lain dalam kehidupan bernegara kita, adalah buah dari 
> "kesombongan"? Mengapakah kita harus menerima "pandangan kaku"
> seperti itu, yang dimulai oleh segelintir orang yang "menggunakan"
> MUI secara tidak wajar? Bukankah itu adalah sikap tergesa-gesa dari
> mereka yang menggangap diri sendiri sebagai pihak paling berhak 
> menafsirkan "kebenaran" ajaran Islam? 
> 
> Sebuah sikap untuk "mencuri-curi" ajaran Islam dari lingkupnya 
yang 
> sehat, menunjukkan sikap arogan yang harus ditentang habis. 
Tindakan 
> "sembunyi-sembunyi" itu dilakukan untuk mempertahankan sebuah 
versi 
> kebenaran, karena belum tentu dimaui oleh mayoritas bangsa. 
Siapapun 
> orangnya dan darimana pun asalnya, tidak lagi menjadi penting bagi 
> kitas semua.Penulis sendiri yakin, jika hal itu dibuat dalam 
sebuah 
> referendum, mayoritas kaum muslimin akan menolaknya. Di sinilah 
kita 
> memerlukan demokrasi dalam artian sebenarnya, dalam kehidupan
> kelompok besar seperti bangsa kita. 
> 
> Pernyataan Din Syamsuddin dalam siaran radio niaga Elshinta, 
minggu 
> lalu, bahwa ia akan mencoba melerai/menjembatani perbedaan antara
> yang menyetujui dan menolak "fatwa" MUI itu, adalah sesuatu
> yang sebenarnya tidak diperlukan. Sebab arogansi yang sudah 
> diperlihatkan MUI telah menyadarkan kita, agar tidak 
mudah "tertipu" 
> terhadap sikap yang seolah-olah mewakili umat Islam. 
> 
> Sebenarnya, dari peristiwa-peristiwa itu hanya ingin menunjukkan
> bahwa telah terjadi sebuah proses lain yang tidak kalah penting,
> yaitu proses melestarikan dan membuang, yang sering terjadi dalam 
> sejarah umat manusia, bukan? 
> 
> Ciganjur, 7 Agustus 2005
> 
> http://gusdur.net/indonesia/index.php?
> option=com_content&task=view&id=2328&Itemid=1
> 
> 
> 
> 
> 
*********************************************************************
******
> Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju 
Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://www.ppi-india.org
> 
*********************************************************************
******
> 
_____________________________________________________________________
_____
> Mohon Perhatian:
> 
> 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg 
otokritik)
> 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan 
dikomentari.
> 3. Reading only, http://dear.to/ppi 
> 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
> 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
> 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
> 
> 
> 
> 
> ---------------------------------
> YAHOO! GROUPS LINKS 
> 
> 
>     Visit your group "ppiindia" on the web.
>   
>     To unsubscribe from this group, send an email to:
>  [EMAIL PROTECTED]
>   
>     Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of 
Service. 
> 
> 
> ---------------------------------
> 
> 
> 
> 
> 
*********************************************************************
**************
>  
> It is wrong to think that misfortunes come from the east or from 
the west; 
> they originate within one's own mind. Therefore, it is foolish to 
guard against 
> misfortunes from the external world and leave the inner mind 
uncontrolled.
> 
> Sidharta Gautama
> 
> 
> 
>               
> ---------------------------------
> Gesendet von Yahoo! Mail - Jetzt mit 1GB kostenlosem Speicher
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
<font face=arial size=-1><a 
href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12hufrohe/M=362329.6886307.7839373.3022212/D=groups/S=1705329729:TM/Y=YAHOO/EXP=1123763518/A=2894324/R=0/SIG=11hia266k/*http://www.youthnoise.com/page.php?page_id=1998";>1.2
 million kids a year are victims of human trafficking. Stop slavery</a>.</font>
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke