Mbak Lina, Terima Kasih atas tanggapannya dan juga belajarnya dari orang yang masih belajar juga -:). Dan mungkin lebih baik juga untuk mengemukakan tanggapan balik, saya mengikuti alur dan caranya sehingga lebih jelas mana point yang saya tanggapi. Karena itu lihat dibawah: hehehe LD: Makasih bung Aman untuk pencerahannya. Trus terang ini pencerahan buat saya. Saya juga dah mengunjungi web anda tuk belajar....:-) meski belum semua. Soal fatwa MUI dan pluralismenya bila dihubungkan dengan konteks Pluralisme subjektif dan objektifnya bung Aman, saya kira fatwa MUI dgn segala penjelasannya tsb menjadi wajar pula. Karena yang diharamkan adalah Pluralisme subjektif (yang juga ada pada AlQur'an dan ini hanya mengikat pada orang Islam saja (subjektif). Dan bila umat Islam harus berinnteraksi dengan masyarakat lain mereka harus memakai makna pluralisme objektif (dan ini tidak diharamkan oleh fatwa MUI/pluralitas). Aman: Mungkin saya berbeda dengan Mbak Lina dalam persoalan ini seperti juga yang saya kemukakan pada tulisan tersebut. Tentu saja yang pertama, saya tidak ingin terjebak dalam istilah yang kacau yang kita buat sendiri. Saya hanya melakukan pemilahan agama sudut subyektif dan sudut obyektif untuk melihat pada bagian mana pluralisme yang selama ini menjadi pembahasan yang hangat berada. Bukan kemudian pluralisme itu kita bagi lagi menjadi subjektif dan objektif. pluralisme yang saya pahami adalah pemberdayaan kebersamaan yang pada sudut agama ada di bagian obyektifnya bukan di bagian subyektifnya. Fatwa MUI fokus pada sudut subyektifnya sedangkan pluralisme yang menjadi objek fatwa bukan berada di bagian itu. Inilah persoalannya selain juga MUI sendiri tidak menyertakan penjelasan yang memadai tentang pluralisme sebenarnya yang mengalir dalam wacana dan gagasan selama ini.
LD: Bung Aman, Bukannya umat Islam harus melihat segala sesuatu dr sudut pandang AlQur'an? Saya yakin bahwa hanya manusia yang mengatakan bahwa AlQur'an adalah kitab suci kaum muslimin saja. Manusia yang membatasi demikian. Manusia yang membuat dikotomi demikian. Apakah AlQur'an membatasi dirinya seperti itu? Maksudnya, apa AlQur'an mengatakan bahwa dia hanya utk kaum muslimin saja? Saya sekarang ini sebetulnya dalam posisi tidak perduli manusia mau mengatakan apa ttg kitab suci, cuma mau tau apa kata kitab suci itu mengenai dirinya sendiri. Maaf bung ya, prasasti itu mengatakan apa sih? Mengapa pula bung mengatakan Kaum Nuh, Hud, Saleh dstnya sbg org yg ingkar terhdp ajaran Nabi-Nabi jika memang AlQur'an itu eksklusif?? Masih gak mudeng. Aman: "melihat" dalam pertanyaan ini perlu dipertegas apakah semata-mata melihat sesuatu sebagai fakta atau melihat dalam arti memandang yang mengandung gagasan dan nilai. Jawabannya akan berbeda. Oh ya.. "dr sudut pandang" tegas maksudnya adalah yang kedua. Tentu saja jawaban saya adalah ya. Namun persoalan yang saya tanggapi adalah tentang agama-agama yang tidak disebutkan oleh al-Qur'an. Soal prasasti dan tentang kaum Nabi-Nabi ini lebih jelas pada tanggapan saya kepada pak Danar. Pada intinya, apakah kita sebut agama, wahyu, whatever, yang pasti padanya ada keterikatan seseorang dengan yang ia anut dalam bentuk yakin dan percaya. Dan faktanya, itu memang berbeda-beda. Saya harus melihat segala sesuatu dari sudut pandang al-Qur`an. Itulah konsukuensi keterikatan iman saya. Tapi bagaimana dengan mereka yang tidak mempunyai keterikatan itu? LD: Bicara soal memberdayakan kebersamaan, kabarnya teori jizyah dan dzimmah juga untuk memberdayakan hal tsb? sehingga minoritas non- muslim yang hidup di 'negara Islam' berhak mendapatkan perlindungan hukum dari penguasa. Ini juga pluralisme objektif. Ini mesti diberdayakan oleh pemerintah. Sedang MUI, biar saja diwilayah subjektif. Jadi Pemerintah dan Ulama (MUI) saling menunjang dalam memenuhi kriteria AlQur'an yang subjektif sekaligus objektif...:-) Aman: Malah saya yang bingung, Mbak. Lagi-lagi persoalan subyektif obyektif itu. hehehe. Tanggapan saya seperti di atas. MUI adalah lembaga dari agama Islam. Ketika mengeluarkan sesuatu sudah semestinya sesuatu itu di pandang dari semua sudut, baik subyektif agama maupun obyektifnya. Seperti masalah pluralisme misalnya, MUI memandangnya sebagai haram karena menurut MUI pluralisme itu mengajarkan semua agama sama. Kenapa sampai keluar fatwa Haram? karena MUI melihatnya dari sudut subyektif agama yang keterikatan iman muslim. Dan dari sudut itu, jelas haram. Padahal orang-orang pluralis tidak menyinggung iman itu. Pluralisme bagi muslim dalam pandangan saya adalah laksana "shalat dengan tubuh menghadap kiblat, hati menghadap Allah, meskipun secara nyata di depan saya adalah dinding kamar dan tanpa merobohkan dinding kamar itu." Agama sudut subyektif adalah saya menghadap kiblat dan menghadap Allah. Pluralisme adalah antara saya dan dinding kamar. Semoga penggambaran ini lebih bisa memberi pengertian yang saya maksud dalam tulisan saya tersebut. Teori jizyah dan dzimmah, mari dibeberkan saja. Ajukan, ini loh ada teori jizyah dan dzimmah, bagaimana? hehehe.. Memang pluralisme seperti itu. Tapi karena dasar awalnya adalah toleransi dan saling menghormati, maka tidak dengan cara pemaksaan, ya kan? Soal apa saja yang terkandung dalam teori jizyah dan dzimmah, saya pikir di thread lain saja. Karena inti yang ada di sini adalah pemberian contoh bentuk pluralisme dan pemberdayaan kebersamaan. Ya kan, Mbak? LD: Ini juga cuma tambahan saja. Mengenai sepotong ayat dari surah "Al- Kafiruun" (lakum diinukum waliyadiin"), kalau dilihat dari konteksnya, ayat tsb turun merupakan pemisahan tegas antara antara orang muslim dengan orang non-muslim (dlm hal ini org kafir) dalam hal akidah (Inklusif). Situasi saat itu adalah situasi dimana kaum kafir menginginkan kompromi kepada Nabi SAW dalam bidang agama/akidah. Mereka ingin Nabi SAW mengikuti ajaran mereka, nanti pada gilirannya mereka akan mengikuti ajaran Nabi SAW. Mereka ingin Nabi SAW menyembah sesembahan mereka, nanti mereka juga akan menyembah sesembahan Nabi SAW, [jadi inget doa bersama yang diharamkan MUI] Aman: yaitu adanya keterikatan mereka secara percaya dan yakin pada apa yang mereka anut. Nabi Saw pun begitu. Nah Nabi mengajak, mereka menolak. Mereka menawarkan konpromi dengan cara itu, turun ayat tersebut. Tidak mungkin. Solusinya bagaimana? Ya tetap pada keyakinan masing-masing tanpa mencampuradukkan. Artinya memang pemisahan tegas antara muslim dan non-muslim. Pemisahan itu bukankah juga berarti menegaskan adanya kepercayaan dan keimanan lain itu. Sehingga dengan itu menjadi jelas ini iman kita, itu iman mereka. Adanya kompromi itu juga menunjukkan bagaimana Nabi Saw hidup di tengah "yang lain." Hanya sayang materi yang ingin mereka kompromikan seperti itu. Dalam perjalanan dakwah, Nabi Saw diganggu dan dihalang-halangi, pengikutnya disiksa, dst. Itulah persoalan. Tetapi Allah Huwa al-Mudabbir. Nah, sedang pluralisme tidak mengkompromikan hal-hal seperti kompromi dan tawaran kaum kafir kepada Nabi Saw itu. LD: Saya sependapat. Memang segala perbedaan itu ada atas kehendakNya pula agar manusia mau belajar, melalui cara apapun bahkan komparatif sekalipun. Saya juga sependapat bhw manusia disi cuma saling mengingatkan saja, karena tugas Nabi SAW juga pemberi peringatan. Pada suatu kondisi, peringatan itu bisa menajdi peringatan yang keras. Bung Aman, Ada yang menarik ttg ayat yang bung Aman kutip "Kamu tidak akan pernah bisa memberi hidayah..., ttp Allah yang ...siapa saja yang ia kehendaki". Orang sering menyebutnya sebagai hak prerogatif Tuhan dalam memberi hidayah. Saya pernah membaca bahwa ayat tersebut harus diterjemahkan dengan "Allah memberi petunjuk kepada siapa yang menghendakinya (petunjuk tsb)" tentu dgn memberi alasan ilmu tata bahasa arabnya. Jadi Allah bukan bertindak sewenang-wenang. Dia akan memberi petunjuk bagi orang yang menghendakinya. Gimana menurut bung Aman. Aman: Beberapa bulan yang lalu, HMNA di milist wanita-muslimah bertanya kepada saya tentang ayat ini. "Man Yasyaa" apa fa'il yasyau? Ternyata dia sedang menguji entah maksud apa. Setelah saya jawab bahwa failnya adalah kata ganti huwa yang kembali kepada Lafazh Jalalah, beliau menjawab, syukran berarti kamu bukan Mu'tazilah. Nah jawaban saya itu merupakan penafsiran pertama. Sedang penafsiran kedua yang Mbak Lina ajukan, berarti failnya adalah kata ganti yang kembali kepada "man" (artinya sebagai Aid Maushul). Penafsiran kedua ini sangat jauh dan bahkan musykil. Memang kalau kita membaca terjemahannya dalam bahasa Indonesia, tidak kelihatan kemusykilannya. Tapi sekarang saya coba terjemahkan penafsiran kedua tersebut secara literlek, "Allah me-nunjuk-kan kepada siapa yang (dia) menghendaki pe-nunjuk-annya," atau taqdirnya dalam bahasa Arab, "Walakinnallah yahdii man yasyau hidayatahu (yakni Ihdaahu)." Kalau kata ganti dalam Yasyau kembali kepada Man (artinya sebagai Aid Maushul), lalu kata ganti dalam Hidayatahu kembali kemana? Kalau kembali kepada Lafazh Jalalah, sangat tidak mungkin Man yang me-nunjuk-kan Allah. Atau begitu, tapi dalam bentuk idhafat fi'il kepada fai'lnya, juga sangat jauh karena itu hanya pada fi'il yang sifat dan intransitif (Lazim) seperti misalnya "Jamiilul wajhi" sedangkan dalam fi'il transitif (Muta'addi) adalah idhafat fi'il kepada maf'ul seperti "dharibu zaidin." Atau Kembali kepada Man sama seperti halnya kata ganti dalam Yasyau, maka kata ganti mana akhirnya yang menjadi Aid Maushul? Dan Man akhirnya menjadi fa'il dan maf'ul untuk dua fi'il yang saling berkaitan sekaligus. Taqdir lain untuk penafsiran kedua tersebut, Walaakinallaha yahdi man yasyau al-ihtida. Secara struktur kalimat memang masih mungkin tapi juga jauh karena kontek struktur adalah pemberian petunjuk (Ihdaa) bukan hal mendapatkan petunjuk (ihtida). Setelah proses itu baru disebut ada atau tidaknya hal mendapatkan petunjuk. Dan itulah yang ditunjukkan kalimat selanjutnya (Allah lebih tahu orang-orang yang mendapatkan petunjuk). Dalam penafsiran kedua inilah bau faham mu'tazilah itu ada, (silahkan lihat perdebatan tentang Af'al Allah dalam theologi Sunni dan Mu'tazilah). Sedangkan penafsiran pertama, taqdirnya adalah "Walaakinnallaha yahdii man -yasya hidayathu." kata ganti dalam Yasyau kembali kepada Lafazh Jalalah dan kata ganti pada Hidayatahu kembali kepada Man sebagai Aid Maushul. Literlek artinya, "Allah memberi petunjuk (me-nunjuk-kan) kepada siapa yang Ia (Allah) menghendaki pe-nunjuk-kannya (si Man/siapa). Itulah makna yang didukung tata bahasanya dalam bahasa Arab, konteks struktur kalimatnya, dan didukung ayat-ayat lain yang cukup banyak, antara lain, "Man -yuridillahu ay-yahdiyahu yasyrah shadrahu lil-Islam." Saya kira cukup satu ini saya cuplik. Dan ayat ini tidak hanya mendukung makna penafsiran pertama, tapi juga mendukung pada struktur kalimatnya seperti yang kita taqdirkan pada penafsiran pertama ayat di atas. Btw, Mbak Lina, Mu'tazilah itu Islam ngga? (ini hanya pertanyaan sempalan saja). Demikian, Wassalam Aman http://aman.kinana.or.id wassalam, *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] ------------------------------------------------------------------------------ YAHOO! GROUPS LINKS a.. Visit your group "ppiindia" on the web. b.. To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] c.. Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service. ------------------------------------------------------------------------------ [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> <font face=arial size=-1><a href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12hfkgr02/M=362343.6886681.7839642.3022212/D=groups/S=1705329729:TM/Y=YAHOO/EXP=1123764018/A=2894352/R=0/SIG=11fdoufgv/*http://www.globalgiving.com/cb/cidi/tsun.html">Help tsunami villages rebuild at GlobalGiving. The real work starts now</a>.</font> --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

