Wa'alaikum salam wr wb,

Pertama berita di atas dimuat di Sinar Harapan. Kita
tahu media tersebut milik siapa.

Dalam Al Qur'an Allah memerintahkan kita untuk
berhati2 dalam menerima berita dari orang fasiq,
apalagi dari orang kafir:

"Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu
orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah
dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah
kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang
menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. " [Al
Hujuraat:6]

Lihat pernyataannya:
> Perbedaan paham antara Ahmadiyah dan Ahli Sunnah tak
> ada yang prinsipil. Jika kaum Ahmadiyah mengaku ada
> nabi setelah Muhammad dan wahyu tetap diturunkan
> kepada seorang nabi sampai sekarang, tidak
> prinsipil.

Bagaimana mungkin pengakuan adanya Nabi setelah Nabi
Muhammad tidak prinsipil sementara di Al Qur'an jelas
dinyatakan:

"Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang
laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah
dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha
Mengetahui segala sesuatu." [Al Ahzab:40]

Rasulullah SAW menegaskan: "Rantai Kerasulan dan
Kenabian telah sampai pada akhirnya. Tidak akan ada
lagi rasul dan nabi sesudahku". (Tirmidhi,
Kitab-ur-Rouya, Bab Zahab-un-Nubuwwa; Musnad Ahmad;
Marwiyat-Anas bin Malik).

Kaum Yahudi dan Nasrani dinyatakan kafir dalam surat
Al Bayyinah karena mengingkari adanya Nabi Muhammad
dan Al Qur'an. Demikian pula kaum yang menganggap
adanya Nabi setelah Nabi Muhammad.

Dalam satu hadits Nabi berkata bahwa Beliau adalah
Nabi terakhir dan tidak ada nabi lagi sesudahnya.

Mengatakan wahyu terus turun sehingga ajaran agama
berubah-rubah itu bertentangan dengan ayat Al Qur'an:

"..Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu
agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan
telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu..." [Al
Maa-idah:3]

Dengan turunnya wahyu terus menerus, bisa saja ada
orang yang mengaku menerima wahyu akhirnya menghapus
ibadah puasa atau sholat dengan alasan menerima wahyu,
atau membuat ibadah bid'ah lainnya. Agama Islam sudah
sempurna.

Memang Ahmadiyah menyebarkan agamanya, tapi yang
disebarkan itu bukan agama Islam yang benar. Tapi
paham yang sesat. Memang Ahmadiyah menyebarkan Al
Qur'an. Tapi Al Qur'an yang disebar bukan Al Qur'an
yang benar, tapi yang sudah mereka rubah artinya.

Pernyataan bahwa kita tidak pantas menyatakan
Ahmadiyah sesat hanya karena Abdus Salam, Bapak Nuklir
India, adalah pengikut Ahmadiyah tidak beralasan.
Kenapa beberapa media massa Islam memuji Abdus Salam
itu karena mereka mengira Abdus Salam beragama Islam.
Bukan Ahmadiyah.

Seandainya hanya prestasi ilmiyah saja menjadikan satu
agama benar, maka Issac Newton yang beragama Kristen
atau Einstein yang beragama Yahudi lebih hebat lagi.
Tapi itu tidak menjadikan agama Yahudi atau Nasrani
benar karenanya.

Jadi tulisan di bawah benar-benar menyimpang dari
Islam jika kita mengkaji Al Qur'an dan Hadits.

Wassalam


--- Dewi Ratnasari <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Dari milis tetangga
> Ada tanggapan?
>
>
>
> ----- Original Message ----- From: Ambon-WM
>
>
http://www.sinarharapan.co.id/berita/0508/08/opi01.html
>
> Ahmadiyah yang Dicerca dan Dipuja
> Oleh KH Ma'mur Noor
>
> Seorang mubaligh di Jakarta yang dalam ceramahnya
> sering mencerca Ahmadiyah (gerakan Islam yang
> dinilai sesat dan menyesatkan), suatu kali dalam
> satu diskusi - yang membahas perkembangan sains di
> Dunia Islam - memuji-muji almarhum Abdus Salam
> (1926-1996), pemenang Nobel Fisika tahun 1979. Sang
> da'i yang anti-Ahmadiyah itu mengatakan dunia Islam
> benar-benar tertolong dengan kehadiran Nobelis Abdus
> Salam sehingga perkembangan sains Islam yang sudah
> terputus selama lima abad seakan hidup lagi.
>
> Salam menjadi penerang sains Islam dan menjadi
> penggugah kaum muslimin untuk kembali meraih
> kejayaan di bidang sains yang pernah digengamnya
> pada abad ke ke-7 sampai ke-15.
>
> Harian Republika, yang merupakan corong masyarakat
> Islam di Indonesia, sering memuja Salam sebagai
> saintis Islam terbesar dan sebagai ilmuwan muslim
> pertama yang mendapatkan hadiah nobel paling
> bergengsi di bidang fisika atom di tengah
> terpuruknya sains Islam dalam lima abad terakhir.
>
> Abdus Salam kelahiran Pakistan 29 Januari 1926 itu
> meraih gelar doktor fisika dalam usia 26 tahun dari
> universitas di Inggris, Cambridge University. Dalam
> waktu hanya lima tahun melakukan penelitian tentang
> gaya-gaya fundamental di alam raya, penemuan Salam
> ternyata mendapat penghargaan Nobel.
>
> Penemuannya dalam usia 31 tahun dianggap prestasi
> yang luar biasa. Salam dalam penelitiannya berhasil
> menemukan fakta sesungguhnya semua gaya yang ada di
> jagad raya - yaitu gaya gravitasi, elektromagnet,
> nuklir kuat, dan gaya nuklir lemah hakikatnya
> merupakan satu kesatuan.
>
> Keseimbangan Ciptaan Alah
> Seperti ditulis Prof Ahmad Baiquni (alm), Salam
> melandaskan penelitian fisikanya berdasarkan
> nash-nash Alqur'an, khususnya Surat Al-Mulk ayat 3 -
> tentang keseimbangan ciptaan Alah. Ketika jenasahnya
> akan dimakamkan di Pakistan, PM Benazir Ali Bhutto
> menganugerahkan penghargaan tertinggi kepada Salam
> sebagai Putera dan pahlawan terbaik Pakistan. "Salam
> bukan sekadar kebanggan Pakistan, tapi juga dunia,''
> kata Benazir dalam pidato pemakaman Salam.
>
> Siapa sebenarnya Prof Dr Abdus Salam? Dia adalah
> pengikut Ahmadiyah Qodiani - sebuah aliran yang oleh
> MUI dan mayoritas Islam di dunia - dianggap sesat
> dan menyesatkan. Sebelum pemerintahan Benazir, Salam
> diusir dari Pakistan dan dilarang menginjakkan
> kakinya di Tanah Suci Makkah. Semasa hidupnya Salam
> sering jadi objek caci maki rakyat Pakistan dan
> Timur Tengah karena ke-Ahmadiyah-annya.
>
> Tapi di akhir hayatnya, - Salam justru dianggap
> Putra dan pahlawan Pakistan. Seperti kebanggaan da'i
> di Jakarta, dan orang yang memaki-maki Salam kini
> berbalik menjadi pemujanya yang fanatik. Dari
> gambaran itu, kita jadi aneh bila melihat
> sahabat-sahabat kita di Bogor yang dengan membabi
> buta menghancurkan kampus Ahmadiyah. Lebih ironis
> lagi, para penghancur ini sebagian mengaku orang
> LPPI (Lembaga Penelitan dan Pengkajian Islam).
>
> Bila dilihat namanya, LPPI mestinya lembaga kritis,
> berwawasan inklusif, dan toleran akan perbedaan
> pendapat dalam Islam. Bukankah hadis Nabi sendiri
> menyatakan perbedaan pendapat di antara umatku
> adalah rahmat?
>
> Tetap Membaca Syahadatain
> Perbedaan paham antara Ahmadiyah dan Ahli Sunnah tak
> ada yang prinsipil. Jika kaum Ahmadiyah mengaku ada
> nabi setelah Muhammad dan wahyu tetap diturunkan
> kepada seorang nabi sampai sekarang, tidak
> prinsipil.
> Kata nabi berasal dari kata naba'a - artinya pemberi
> kabar (dari langit). Bukankah sampai hari ini pun
> banyak ulama atau kaum sufi yang karena kesucian dan
> kezuhudannya sering mendapat berita langit? Lantas,
> nabikah dia?
>
> Kaum Islam mayoritas mungkin menyebutnya wali atau
> ayatullah dalam Syiah! Lagi-lagi, masalah ini
> sebenarnya tidak perlu menimbulkan fitnah dan
> pengrusakan. Bukankah tokoh yang disebut-sebut nabi
> dalam Ahmadiyah Qodiani masih tetap membaca
> Syahadatain, bahwa Tidak Ada Tuhan Kecuali Allah dan
> Muhammad adalah Utusannya?
>
> Perbedaan ketiga yang sebenarnya kurang prinsip
> adalah kata "khatamun nabibyyin" - bahwa Muhammad
> adalah nabi yang sempurna. Para mufassir dan ulama
> di Indonesia menterjemahkannya "Muhammad nabi yang
> sempurna" karena itu Muhammad merupakan nabi
> terakhir.
>
> Saudara kita di Ahmadiyah menerjemahkan khatamun
> nabiyyin nabi yang sempurna tapi tidak yang
> terakhir. Menurut Ahmadiyah, masih ada nabi setelah
> Nabi Muhammad, tapi tidak sesempurna Muhammad.
> Sejauh ini kaum Ahmadiyah tak pernah berpendapat
> untuk menduakan Allah (musyrik) dan menolak
> Kerasulan Muhammad.
>
> Karena itu, jauh lebih baik jika umat Islam
> mayoritas merangkul umat Islam minoritas Ahmadiyah
> ketimbang menjadikannya musuh yang harus
> dihancurkan. Apalagi peran kaum Ahmadiyah dalam
> menyebarkan Islam sangat besar. Sebagian besar
> buku-buku Islam yang diterbitkan di Barat dan
> kemudian membawa orang Barat simpati kepada Islam
> ditulis oleh orang Ahmadiyah.
>
> Di berbagai wilayah di Indonesia - kecuali di
> Parung, Bogor - hubungan antara muslim Ahmadiyah dan
> muslim mayoritas Indonesia (NU dan Muhammadiyah)
> baik-baik saja.
>
> Penulis adalah anggota Komisi VIII DPR
>

Ingin belajar Islam? Mari bergabung milis Media Dakwah
Kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
<font face=arial size=-1><a 
href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12hbtlhqe/M=362343.6886681.7839642.3022212/D=groups/S=1705329729:TM/Y=YAHOO/EXP=1123766138/A=2894354/R=0/SIG=11qvf79s7/*http://http://www.globalgiving.com/cb/cidi/c_darfur.html";>Help
 Sudanese refugees rebuild their lives through GlobalGiving</a>.</font>
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke