Refleksi: Waduh! Petinggi Negara Indonesia dibilang berhati palsu. Pantes saja tak mau-maju sebab dipimpin oleh mereka yang berhati palsu. haha haha haha
http://www.harianbatampos.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=13542 Ijazah Palsu = Berhati Palsu Oleh redaksi Sabtu, 27-Agustus-2005, 11:03:36 Oleh: RUMBADI DALLE Akhir-akhir ini kita dikejutkan soal ijazah palsu. Mengapa terkejut? Soalnya, pemilik ijazah tersebut bukan orang sembarangan. Petinggi negara pun ada yang memilkinya. Sebagai orang awam, penulis tak habis pikir, mengapa kelangsungan beredarnya ijazah palsu itu tidak cepat dicegah. Padahal, ini jelas merugikan. Siapa yang rugi ? Pertama, adalah para lulusan sarjana yang benar-benar telah memperoleh gelar dengan susah payah. Kesempatan kerja bagi mereka tertutup akibat diambil oleh yang memiliki ijazah palsu itu. Maksudnya, seharusnya kesempatan tersebut milik mereka, tapi dirampas oleh pemiliki ijazah palsu itu. Kedua, kerugian bagi Pemerintah Indonesia karena muncul manusia bergelar, tapi sebenarnya bodoh. Sehingg, bila seseorang pemilik ijazah palsu itu adalah seorang pejabat, maka dipastikan dalam membuat keputusan tidak berdasarkan analisa ilmiah, tapi hanya berdasarakan kehendaknya. Bila kehendaknya dibantah oleh bawahannya - yang benar-benar sarjana-maka yang muncul emosional dan memberhentikan, memindahkan atau apa saja yang intinya memberi sanksi dengan alasan melawan atasan. Lagi pula, dengan gelar tersebut negara dirugikan karena membayar pegawai yang sebenarnya tidak berhak menerimanya. Efek psikologisnya adalah kecemburuan. Kecemburuan ini akan berdampak lain yakni tindak kekerasan akibat ketidakadilan. Dicontohkan, ada seorang anggota DPRD atau DPR yang menggunakan ijazah palsu. Padahal, ada yang mengetahui bahwa orang tersebut tidak memiliki ijazah SMP sekalipun. Akibatnya, anggota DPRD tersebut tidak ada wibawa, karena ulasan ilmiahnya sulit diterima bila ada permasalahan menyangkut keluhan masyarakat. Sebab itu, anggota legislatif -yang katanya terhormat itu-menjadi anggota terhina. Tidak berwibawa, dilecehkan dan lebih parah lagi bila masyarakat melakukan tindakan anarkis kepada orang tersebut. Penulis membayangkan betapa sulitnya seseorang memperoleh gelar S1. Harus menghadiri kuliah minimal rata-rata lima tahun, jauh dari keluarga, belum lagi soal dana yang cukup. Benarlah kata orang, pendidikan itu mahal. Kemahalan itu bukan diukur dari segi finansial saja, tapi juga soal lain misalnya harus rajin, disiplin dan harus berpenampilan intelektual. Penulis pernah bercerita dengan sesorang pemegang gelar S2 asli. Ceritanya mengenaskan, mulai soal uang kuliah yang sering terlambat dikirim orang tuanya, sampai harus menjual koran sekedar mencari tambahan untuk ongkos transportasi. Tapi orang ini sukses - menurut ukuran saya-karena telah menduduki jabatan yang benar-benar sesuai dengan pendidikannya. "Saya puas karena ilmu saya bisa berkembang," itu ceritanya. Lebih hebat lagi, dia berujar, bahwa apalah gunanya ijazah bila otak kita tidak sesuai dengan gelar yang disandang. Menurutnya, ijazah itu hanya bisa buat pajangan, tak lebih dari itu. Paling penting pemilik ijazah itu harus memiliki kemampuan bagaimana membagikan ilmunya untuk kesejahteraan orang banyak. "Ilmu akan bertambah bila dibagikan," katanya, mengitup ucapan Zainuddin MZ, kiai sejuta umat. Pandangan penulis, kita harus mengharagai orang yang benar-benar telah memperoleh gelar sesuai mekanismenya, bukan karena membayar sejumlah uang atau dengan kata lain "membeli" gelar itu. Membeli gelar, itu bentuk penipuan. Yang ditipu khalayak ramai. Penulis kurang paham soal bagaimana proses meraih gelar S2 atau S3 msalnya. Tapi, yang banyak saya temukan seseorang yang meraih gelar doktor jarang berusia muda. Jika ada, itu pengecualian karena kemampuan intelektualnya. Artinya, sangat sulit memperoleh gelar seperti itu. Padahal, orang tersebut kita mengetahui siang malam berada di kampus sebagai pengajar, tapi mendapat gelar S3 setelah kepalanya botak memikirkan bidang ilmunya. Sehingga, ada yang menyebut orang botak itu profesor he he he, meskipun tak semua orang botak itu adalah profesor. Contoh lain, rekan saya yang untuk memperoleh gelar S2 saja, dia harus sekolah di Inggeris dua tahun, kemudian sekolah di Australia selama empat tahun. Sepulang dari Australia, gelar pun belum diperolehnya. Sebagai dosen sebuah universitas di Palembang, dia tetap mengajar di bidangnya yakni pertanian. Kabar terakhir menyebutkan gelar S2 itu telah disandangnya, tapi untuk S3 dia harus sekolah lagi. Artinya, untuk S2 saja sangat sulit, apalagi S3. "Jangan banyak gelar," katanya singkat kepada penulis. Dia berseloroh, jika banyak S nanti jadi es teler, dan es-nya dimakan, yang tersisa hanya teler. Namun, kesalahan tidak mutlak oleh pemilik ijazah palsu itu. Sebab, peluang untuk memperoleh ijazah itu terbuka dan selama ini didukung oleh ekspresi masyarakat. Kebanggaan menyandang gelar -meski palsu-merupakan hal yang sangat individu. Ada yang dengan bangga menapilkan gelar tersebut di mana dan kapan pun tanpa risih. Bahkan, dalam surat menyurat disebutkan gelar DR, MBA, MM, yang lebih panjang gelar dibanding namanya. Ironisnya, penyandang gelar itu masih sulit mencari pekerjaan. Kesulitan mencari pekerjaan itu disebabkan berbagai faktor. Pertama, faktor pihak perusahaan yang segan menerima seseorang yang bergelar tinggi. Kedua, faktor kehilangan kepercayaan pihak perusahaan dengan gelar yang disandangnya. Logikanya, seseorang yang bergelar doktor misalnya, tidak lagi mencari pekerjaan, tapi dicari untuk mengerjakan sesuatu, mengingat disiplin ilmunya yang dibutuhkan. Ketiga, penilaian lain yakni soal kejujuran pemegang gelar. Bisa disimpulkan, pihak perusahaan yang memiliki orang bergelar palsu berarti berhati palsu pula. Semoga bangsa kita tidak lagi dibanjiri oleh kepalsuan, karena bila cinta palsu berakibat perceraian, hubungan bisnis palsu berakhir pula dengan kedustaan. Raji Ali Haji dalam Gubahan Gurindam XII mengatakan: Barang siapa mengenal yang tersebut, tahulah ia makna takut. Semoga!!!*** *) Rumbadi Dalle. Wartawan Koran dan [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 1.2 million kids a year are victims of human trafficking. Stop slavery. http://us.click.yahoo.com/X3SVTD/izNLAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

