HUMANIORA Sabtu, 03 September 2005 Kisah para Guru Bantu yang Menambal Periuk
HARI masih gelap ketika Wellem Seseray, 34, berangkat ke Jayapura, Papua. Lima lembar uang kertas dua puluh ribuan rupiah ia selipkan di saku celananya. Guru bahasa Indonesia SMP Negeri Senggi, Kabupaten Kerom, Papua, itu harus menempuh perjalanan puluhan kilometer dari Kerom ke Jayapura tiap bulan, demi mendapatkan uang Rp460 ribu. "Uang itu merupakan gaji saya sebagai guru bantu. Tapi, tiap bulan yang saya terima tinggal Rp306 ribu. Sebab, saya harus mengeluarkan Rp76.500 untuk ongkos ke Jayapura," kata Seseray yang kini menempati rumah dinas dari Dinas Pendidikan Nasional Kabupaten Kerom. Uang yang tersisa biasanya langsung ia belanjakan untuk kebutuhan pokok, terutama mi instan, agar tahan sampai akhir bulan. Kalau Seseray mencukup-cukupkan uang untuk memenuhi kebutuhannya tiap bulan dengan 'strategi mi instan', lain lagi dengan cara yang ditempuh Warnida, 34. Guru bantu di SD Negeri Pembakulan, Batang Alay Selatan, Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan, ini memilih bekerja sambilan sebagai petani. Bersama suaminya yang juga guru bantu, Warnida harus bergelut dengan tanah dan berjemur matahari sepulang dari mengajar. Capek dan penat setelah menempuh perjalanan 60 kilometer dari rumah ke sekolah dan dari sekolah ke rumah tak dihiraukannya. "Gaji Rp460 ribu per bulan yang saya terima selalu datang terlambat hingga satu bulan. Padahal, setiap hari keluarga kami memerlukan uang untuk makan dan transportasi. Apa boleh buat, saya harus mencari tambahan," paparnya seraya meminta agar pemerintah menanggulangi persoalan yang membelit para guru bantu ini. Bersama keluarga, Warnida sementara ini menumpang di sebuah rumah kosong milik Dinas Kesehatan Hulu Sungai Tengah. Kisah guru bantu di pelosok makin getir lagi. Farida, 30, seorang guru bakti di SD Kecil (filial) Juhu, Batang Alay Timur, Hulu Sungai Tengah, harus berjalan kaki beberapa jam untuk sampai di sekolah yang berada di pedalaman pegunungan Meratus ini. Sudah lebih dari tiga tahun Farida mengajar dengan status guru bakti. Guru bakti ialah guru yang honornya diberikan oleh pemerintah daerah setempat dan mempunyai pejanjian kontrak untuk tidak menuntut menjadi pegawai negeri sipil (PNS). Ia tak sempat mencari penghasilan tambahan di wilayah pedalaman itu. Jadi kuli bangunan Mencari tambahan untuk menambal kebutuhan tiap bulan juga menjadi pilihan Syarifudin Sukur. Guru bahasa Indonesia pada SMUN 2 Kupang, Nusa Tenggara Timur, ini malah nyambi menjadi kuli bangunan bila tidak sedang mengajar. Pria asal Pulau Lembata, Flores, ini menerangkan, ia menerima honor Rp4 ribu tiap satu jam mengajar. Biasanya, ia mengajar selama 16 jam tiap pekan. Ditambah uang transpor dari sekolah sebesar Rp150 ribu tiap bulan, total jenderal gaji Sukur tak sampai menyentuh angka Rp500 ribu. ''Saya biasakan menyisakan uang Rp150 ribu untuk transpor. Sisanya untuk bayar listrik, air, dan makan. Memang tidak cukup. Maka, saya sering menjadi tukang batu bila ada tetangga membangun rumah, merenovasi rumah, atau pembangunan gedung baru. Saya menerima upah setiap hari Rp25 ribu,'' kata Sukur. Parade kisah getir kian berderet saat Atrianil, seorang guru bantu yang sudah mengabdi selama 20 tahun, menceritakan pengalaman hidupnya sebagai guru bantu. Sejak suaminya terkena pemutusan hubungan kerja delapan tahun silam, Anil, begitu Atrianil biasa disapa, menjadi tulang punggung keluarga dan harus memberi makan kedua anaknya. ''Saya mendapatkan honor Rp7.500 per jam. Seminggu saya mengajar hingga 80 jam. Kerja yang saya lakukan di atas normal jam kerja guru lainnya yang rata-rata 18 jam per minggu,'' kata Anil yang kini mengajar di tiga SMEA di Jakarta Barat dan Tangerang. Dari aksi banting tulang yang tak tanggung-tanggung itu, Anil cuma meraup uang Rp900 ribu tiap bulan. "Memang tidak cukup. Tapi, ya, harus dicukup-cukupkan," katanya. Baik Atrianil, Seseray, Sukur, Farida, maupun Warnida menaruh harapan besar kepada pemerintah agar nasib mereka sebagai guru bantu mendapat perhatian. Tak sedikit guru bantu menaruh harapan besar dengan rencana pemerintah mengangkat mereka sebagai pegawai negeri sipil (PNS). Sebab, dengan pengangkatan sebagai PNS, para guru bantu bisa memiliki masa depan yang lebih baik dan lebih jelas. (DY/MY/PO/*/X-11).77 ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital. http://us.click.yahoo.com/ons1pC/lbOLAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

