Nurcholish, Hari Baik untuk Mati
Apa yang akan terjadi dengan Indonesia andai saja tak ada
Nurholish Madjid?
Wallahu a'lam. Itu pertanyaan untung-untungan. Mungkin juga kita
akan menjadi seperti di beberapa negara Timur Tengah, yang pertentangannya
di antara golongan politik Islam dan sekuler demikian tajam. Di Indonesia,
saya pikir, Nurcholish sudah menjadi pembuat jalan lebar di tengah, meski
hal itu bisa tak disengaja. Memang, bukan maksud Ketua Umum Himpunan
Mahasiswa Islam (HMI) ituwaktu itu, ketika ia memulai kampanye pembaruan
pemikiran keagamaannya di awal 1970untuk "menetralkan" kalangan penguasa
dari kemungkinan menjadi ekstrem terhadap kalangan Islam seperti di
sebagian negara-negara Arab itu.
Kalangan Islam itu khususnya para bekas Masjumi, dulu. Mereka, seperti
dikatakan Nurcholish, tidak tanggap untuk dengan segera mendukung
pemerintahan Orde Baru. "Yang kami harapkan dulu (di tahun 1966) pimpinan
bekas Masjumi itu tidak lagi bicara soal rehabilitasi Masjumi (kepada
orang-orang Soeharto), tapi membentuk saja partai baru dan segera
menyatakan sikap mendukung 100% kepemimpinan Pak Harto," katanya kepada
Tempo di bulan Agustus 1971.
Tentu, ekstremitas teoretis bisa terjadi bila pihak Islam tetap keukeuh
pada pendirian mereka, sementara para pemain politik di luar Islam terus
saja memelihara citra "bahaya negara Islam" sepeninggal Masjumi. Tak perlu
dipertimbangkan benar apakah kesadaran seperti itu berada di kalangan para
mantan tokoh Masjumi, yang dikenal sebagai para demokrat sejati, ataukah di
seberangnya. Tetapi bila, dalam ajakannya kepada desakralisasi dan
sekularisasi, Nurcholish menginginkan pembersihan agama dari semua yang
tidak sakral dan bukan sejatinya bagian dari agama, seperti partai atau
lembaga, yang dimaksudkannya adalah Masjumi.
Pihak yang "ditembak" paham benar akan serangan ituyang datang dari
eksponen yang, sangat menyedihkan, sebenarnya menjadi tumpuan harapan
mereka dan untuk kualitasnya dia dijuluki Natsir Muda. Faktor psikologis
seperti itu, jangan diingkari, bisa lebih atau tak kurang penting sebagai
batu pemisah silaturahim (antara Nurcholish dan keluarga Masjumi) daripada
masalah isi kampanye si pemimpin muda. Itu memang momen-momen yang sangat
menekan, dan banyak meminta pengorbanan perasaan, masa-masa awal 1970-an itu.
Baik saya tuliskan bahwa Mas Sudjoko Prasodjo, almarhum, senior Nurcholish
di HMI dan ayahanda sosiolog Imam Prasodjo, menceritakan kepada saya bahwa
dekat sebelum masa-masa yang genting itu, kegelisahan luar biasa yang
melanda Nurcholish sampai-sampai membawanya melakukan ziarah ke beberapa
makam. Seorang kawan, saya lupa, menambahkan bahwa kegelisahan yang kurang
lebih sama dulu membuat Muhammad Abduh, reformis besar Mesir, sebentar
menjadi ateis. Mas Djoko kemudian menasihati Nurcholish untuk ke luar
negeri, belajar sosiologi. Sementara itu, KH Saifuddin Zuhri, almarhum,
dari NU, menuturkan kepada saya bahwa di masa itu Nurcholish sering datang
dan "mengadu", sementara Saifuddin menyaraninya untuk memperhalus sikap
kepada "orang-orang tua". Itulah transformasi itu.
Memang, bukan maksud Nurcholish waktu itu untuk "menyelamatkan umat" dari
kemungkinan ekstremisasi di kalangan penguasa yang menjadi sekuler, yang
bisa saja kita bayangkan terjadi, umpama bila kalangan muslimin semakin
keras dalam zealot. Sebagian dari negeri-negeri Timur Tengah kurang lebih
punya situasi begitu, dan kita juga bukan tidak pernah, lho, menghadapi
keadaan yang hampir sama.
Saya pikir, Nurcholish, dengan kampanyenya, sudah menjadi bagian yang
penting sekali (ingatlah organisasi HMI yang besar, dengan pengaruhnya
sampai saat-saat peralihan itu) dari pembangunan gelombang besar masyarakat
moderat yang baru, yang bisa turut menyingkirkan kemungkinan bangkitnya
situasi runcing saling berhadapan. Dan itu memang sebagiannya bisa
dianggap, begitulah kalau Anda mau, buah dari usaha "sekularisasi",
meskipun agak dilebih-lebihkan.
Lagi pula, tentang sekularisasi ini ada yang bisa dituturkan
sebagai riwayat. Waktu saya menggarap tulisan pertama di Tempo tentang
Nurcholish, 56 hari setelah majalah ini terbit pertama kali (1 Mei 1971),
saya sudah melihatnya sebagai kata kunci dalam dakwah tokoh muda yang sudah
beberapa tahun sebelumnya saya kenal di Yogya ini. Tapi pengertiannya
tidaklah selalu jelas. Benar bahwa Nurcholish mengemukakan tetapnya
pertalian negara dan agama, tetapi (hanya) secara individual, di dalam
pribadi. Agamalah yang membentuk pribadi itu.
Itulah sebabnya, baik Abdul Qadir Djailani, sekarang anggota DPR, maupun
Ahmad Azhar Basyir (almarhum) dari Muhammadiyah, tegas-tegas menolak. Lebih
keras lagi penolakan dari Prof. Rasjidi. Tetapi, pada kesempatan lain,
Nurcholish juga mengatakan, "Dengan sekularisasi tidaklah dimaksudkan
penerapan sekularisme dan merobah (mengubahRed.) kaum muslimin menjadi kaum
sekularis. Tetapi dimaksudkan untuk menduniawikan nilai-nilai yang sudah
semestinya bersifat duniawi." Sialnya, Nurcholish bilang lagi bahwa
beberapa segi yang dikemukakannya tak lain alat-alat shock therapy. Itulah
sebabnya Ismail Hasan Metareum (almarhum), terakhir politikus PPP, mencoba
menerka bahwa Nurcholish sendiri sebenarnya "tidak sepenuhnya menyetujui
beberapa istilah yang dikemukakannya itu."
Bahkan, menanggapi serangan keras Prof. Rasjidi, tokoh kita ini dengan enak
membandingkan pemakaian 'sekularisasi' itu, yang bukan penerapan
sekularisme, dengan pemakaian 'sosialisasi' yang tidak usah ada hubungannya
dengan sosialisme. Itulah barangkali sebabnya Usep Fathuddien menyatakan,
pemakaian istilah 'sekularisasi' sebenarnya "kurang tepat".
Tetapi itu sebelum Nurcholish bertolak ke Amerika Serikat. Sepulang dari
studinya di University of Chicago, orang tak pernah mendengarnya menyebut
sekularisasi atau sekularisme secara publik. Ia seperti memasuki babak
baru: pendidikan. Ia mendirikan Yayasan Wakaf Paramadina, yang menyediakan
kelas-kelas kursus agama, sebelum nantinya Universitas Paramadina.
Nurcholish seorang pencinta tradisi keilmuan Islam sejati, dan
kursus-kursusnya itu tempat orang awam mengenaldan menikmatipengetahuan
yang luas, khasnya dari disiplin-disiplin tradisional fikih, tasawuf,
kalam, dan filsafat, walaupun serba sedikit. Dari Nurcholish memang banyak
yang bisa diambil di luar bab "sekularisasi". Saya teringat KH Amidhan
(dulu namanya ditulis Amidhan Pahuluan), sekarang di Majelis Ulama
Indonesia (MUI), yang di tahun 1973 juga berada dalam grup diskusi bersama
Nurcholish (seperti juga saya sendiri) dan tertarik pada penekanan ide
kemanusiaan dalam pembicaraan. "Agar pemikir-pemikir Islam lebih menekuni
masalah-masalah insani ini," katanya, "sebab universalitas agama justru
karena membicarakan manusia sebagai sentrum" Jarang rasanya, harus
dikatakan, orang yang bangga pada agamanya seperti Nurcholishia memandang
Islam sebagai sumber peradaban, kelembutan, dan keindahan, yang bahkan tak
harus hanya menyentuh para muslimin, tapi juga seluruh umat di bumi, dalam
semangat plural yang diajarkan dalam Al-Quran.
Ia murid Fazlurrahman, di Amerika, yang juga guru Syafi'i Ma'arif, mantan
Ketua PP Muhammadiyah. Fazlur adalah orang yang menyarankan penafsiran
Quran dengan metode bolak-balik: mempelajari ayat-ayat dengan kasus-kasus
khusus untuk memahami ide-ide Al-Quran yang umum, dan memakai kesimpulan
umum itu untuk bisa memanfaatkan ayat-ayat yang khusus. Orang yang punya
perhatian besar pada metode tafsir logisnya bukan orang sekuler, dalam
pengertian yang ingin membuang agama dan menggantinya dengan peraturan yang
sama sekali tanpa-Tuhan. Dan Nurcholish bukan sekuler kalau dilihat dari
bagaimana ia menekankan faktor Tuhan dalam diri dan selalu menyebutnya
dengan the Omnipresent, Yang Mahahadir di mana-mana.
Tetapi itu menjadi seperti tak penting lagi sekarang. Adakah keharusan kita
untuk menentukan diri kita sekuler atau bukan sekuler? Bahkan orang yang
tak menyetujui pelaksanaan syariat Islam dewasa ini bukan sendirinya
sekuler. Banyak yang tak sepakat semata-mata karena keyakinan akan
keharusan restrukturisasi hukum syariat itu lebih dahulu. Di sisi lain,
seorang terhukum yang dicambuk di depan umum di Bireuen, Aceh, tempo hari
marah besar karena "hukuman yang memalukan" itu dikenakan padanya, yang
hanya terlibat kasus judi Rp 50 ribu, sementara "para penjahat besar tidak
dihukum seperti ini".
Nurcholish tidak pernah terdengar memberi komentar tentang hukum syariat di
Aceh. Sekarang abad ke-21, dan kedudukannya sebagai "guru bangsa" tidak
memberinya izin untuk bicara buruk terhadap, bahkan sekadar mengkritik,
sesama muslim, malahan sesama bangsa. Omongannya didengarkanbahkan oleh
Soeharto, di masa-masa akhir kekuasaannya, dan itu mendorongnya mundur.
Tentu saja, bukan tidak ada musuh-musuhnya. Saya hanya tak tahu manakah
yang lebih besar: lawan atau pengagum.
Barangkali ada kesalahan-kesalahannya di masa lampau, atau bahkan sekarang.
Dan jelas pandangan-pandangannya terbuka untuk dibanding. Tetapi, terbaring
begitu dalam keadaan sangat tidak berdaya, wajahnya hitam akibat pengaruh
cangkok livernya, namun matanya memandang bersih, ia yang selalu
mengingatkan arti generik islam sebagai penyerahan diri yang total kepada
Allah berada dalam kondisi yang mutlak pasrah. Malam hari, seorang
asistennya membacakan Quran. Lalu berhenti untuk menerima SMS yang masukdan
ternyata Nurcholish, pelan-pelan dan lirih, dilihatnya meneruskan bacaan
Qurannya sendirian.
Siang hari, ia menyuruh putrinya menuntunnya membaca Fatihah. Itulah Senin,
hari ketika Nabi meninggal, yang dalam tradisi orang Islam dianggap hari
yang baik untuk mati. Ia ingin mendengar suara anak perempuannya mengaji
untuknya. Lalu dituntun membaca surat Ikhlas. "Sudah itu Papah kelihatan
tenang. Sangat tenang," tutur Nadia. Ia tidak menyebut apakah air mata
meleleh dari mata sang ayah.
Sju'bah Asa, wartawan dan budayawan
(Majalah Tempo, 5 September 2005)
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
1.2 million kids a year are victims of human trafficking. Stop slavery.
http://us.click.yahoo.com/X3SVTD/izNLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/