MEDIA INDONESIA
Senin, 12 September 2005

Negeri Maling

 
DENGAN segala rasa malu, Republik ini layak kita sebut sebagai negeri maling 
karena begitu banyaknya orang yang mencuri uang negara, yang notabene uang 
rakyat. Seolah praktik busuk ini sebagai sebuah kelaziman buat siapa saja yang 
mempunyai peluang dan kesempatan.

Peluang dan kesempatan itu pada umumnya terjadi di pos-pos jabatan publik. 
Orang-orang yang digaji dengan uang rakyat. Akan tetapi, alih-alih berterima 
kasih kepada rakyat, mereka malah mengeruk harta rakyat sesukanya. Inilah 
tabiat para maling yang rakus.

Penyelundupan minyak mentah oleh beberapa pejabat Pertamina, sesungguhnya kian 
meneguhkan bahwa negeri ini memang surga bagi para maling. Praktik busuk yang 
merugikan rakyat sekitar Rp8,8 triliun per tahun, ternyata telah berlangsung 
lama.

Itu baru dari kasus di Pertamina yang terungkap. Sangat mungkin masih ada 
kejahatan lain yang angkanya lebih fantastis, tetapi masih berlangsung 
aman-aman saja.

Secara telanjang, dari berbagai kasus, membuktikan korupsi terjadi di hampir 
seluruh tingkatan dan di pos apa saja. Pejabat Pertamina menyelundupkan minyak, 
hakim dan jaksa jual beli perkara, polisi jadi beking judi, para birokrat jual 
beli pangkat, politikus 'dagang sapi' (termasuk jadi calo penyaluran dana 
bencana alam di Aceh), para penentu kebijakan main anggaran, guru main buku, 
dan seterusnya. Jika seluruhnya dipajang, bisa amat panjang.

Berbagai kenyataan itu membuktikan bangsa ini secara umum memang mengidap 
penyakit kleptomania kronis. Mereka mempunyai kecenderungan tanpa rasa bersalah 
mengambil harta yang bukan miliknya.

Selain sudah menjadi tabiat, korupsi terjadi pasti karena ada celah dan 
kesempatan. Celah itu bisa muncul karena tidak ada keteladanan dari atas, tidak 
ada kontrol yang ketat. Sementara aparat penegak hukum masih amat rapuh 
integritasnya.

Karena itu, supaya perang terhadap korupsi tidak jadi omong kosong, seluruh 
peluang harus terkunci rapat. Unsur pimpinan di jajaran pengelola negara 
haruslah dipercayakan kepada mereka yang punya kecakapan dan integritas. Tukang 
bicara dan penipu segera 'dikotakkan'. Reformasi birokrasi harus menjadi 
sesuatu yang niscaya. Tanpa itu, pemberantasan korupsi menjadi pepesan kosong.

Penjara juga harus dibersihkan dari praktik-praktik yang memberikan hak 
istimewa kepada narapidana-koruptor. Para penjahat ini harus merasakan 
penderitaan rakyat miskin yang hidup di bawah standar. Sebab, salah satu faktor 
terjadinya kemiskinan, juga karena kebiadaban para koruptor itu.

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital.
http://us.click.yahoo.com/ons1pC/lbOLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke