http://www.suaramerdeka.com/harian/0509/14/opi3.htm

Komunikasi Politik Presiden SBY
Oleh Novel Ali

PAKAR komunikasi politik Universitas Indonesia Effendi Gazali PhD menilai, 
Presiden SBY telah gagal menjalankan komunikasi politik. "Komunikasi politik 
itu sukses, bila membuahkan kepastian, dan gagal kalau membuahkan 
ketidakpastian,'' kata dia (SM, 5/9).

Tentang kepastian, atau sebaliknya ketidakpastian, yang dikatakan pakar 
komunikasi politik tersebut, berkaitan erat dengan ketidaksediaan Presiden SBY 
memenuhi permintaan pasar. Terutama seputar tuntutan reshuffle (perombakan) 
kabinet, yang diteriakkan pula oleh ribuan orang dari berbagai elemen 
masyarakat dalam "Gerakan Rakyat untuk Indonesia Baru", di bundaran HI, Jakarta 
(4/9).

Oleh berbagai pihak, gerakan itu dipandang mencerminkan ketidakpercayaan rakyat 
terhadap pemerintah, karena empat persoalan besar, yakni nota kesepahaman 
RI-GAM, rencana kenaikan harga bahan minyak (BBM), depresi nilai tukar rupiah 
terhadap dolar Amerika, serta tuntutan perombakan kabinet di bidang ekonomi.

Pertanyaan yang muncul di benak penuIis, sebagaimana juga sangat mungkin 
diajukan awam, adalah apa sesungguhnya, atau bagaimana seharusnya, ukuran 
kepastian di satu sisi, dan ketidakpastian di sisi lain? Sebab, hemat penulis, 
kepastian (certainty) dan ketidakpastian (uncertainty), merupakan dua persoalan 
manusia, yang jika dihubungkan dengan persoalan atau kepentingan politik, 
bersifat relatif. 

Dalam The Random House Dictionary (1980), yang dimaksud certainty (kepastian) 
adalah "the state of being certain", atau "something certain". Keduanya 
mengisyaratkan kepastian, sebagai sesuatu yang sudah pasti, atau sesuatu yang 
bersifat niscaya, yakin, pasti.

Sesuatu itu certain, jika memang dari sononya bersifat niscaya, yakin dan pasti 
terjadi demikian. Buat kita di Indonesia, ibarat matahari selalu terbit di 
ujung ti-mur, dan tenggelam di ufuk barat.

Namun, manakala penjabaran certainty dan uncertainty bersinggungan dengan 
persoalan atau kepentingan politik, persoalannya menjadi lain. Sebab, ada 
adagium "tidak ada kebenaran abadi dalam politik, yang abadi hanyalah 
kepentingan".

Padahal, seperti sering dikemukakan awam, kebenaran bersifat universal positif. 
Sedang, kepentingan yang sarat pemenuhan tuntutan lokal cenderung bersifat 
negatif.

Subjektivitas kepastian, sebagaimana juga subjetivitas ketidakpastian 
(khususnya dalam konteks komunikasi politik Presiden SBY), merupakan sesuatu 
yang wajar. Mengapa? Antara lain karena ukuran kepastian, atau ketidakpastian, 
acapkali sangat bergantung dari sudut mana kita melihatnya. Di samping 
ditentukan oleh takaran keberpihakan, atau sebaliknya ketidakberpihakan 
(netralitas) para pihak yang menilainya.

Sebagai contoh, penilaian cendekiawan tidak sepenuhnya menjanjikan homoginitas 
justifikasi terhadap sesuatu.

Perbedaan penilaian cendekiawan, atau kajian mereka atas persoalan tertentu, 
bisa sangat berbeda, bahkan bertentangan, mulai pertentangan tidak mendasar, 
hingga pertentangan yang bersifat mendasar. Semua itu, bergantung kepada teori 
apa, atau paradigma mana yang melandasi penilaian masing-masing, sehingga 
sangat tidak aneh, manakala di antara sejumlah teoritisi, terdapat 
beranekaragam penilaian atas sesuatu, baik sesuatu yang oleh awam dikatagorikan 
sebagai certainty , maupun yang mereka masukkan dalam golongan uncertainty . 

Ambil contoh sederhana, ketika Presiden SBY menjawab pertanyaan seorang 
wartawan sehabis mengumumkan empat kebijaksanaannya di bidang ekonomi (31/8), 
dengan mengatakan "Saya tidak sependapat dengan komentar Anda", kalangan 
tertentu menilai fakta tersebut sebagai bukti buruknya citra komunikasi politik 
Presiden SBY. Alasannya, pertanyaan wartawan merefleksikan pertanyaan rakyat.

Silogisme demikian tidak mudah diterima akal sehat, Karenanya, sangat wajar 
bila ada seseorang, atau sejumlah orang, yang justru menilai 'keberanian' 
Presiden SBY untuk tidak sependapat dengan wartawan, justru patut diacungi 
jempol. Ini lantaran pers (lembaga tempat wartawan bekerja), bukanlah "dewa 
kebenaran".

Tidak sependapatnya penulis dengan penilaian Effendi Gazali PhD, pakar 
komunikasi politik UI disebut di atas, bermuara dari semua pertimbangan 
terdahulu. Sekalipun demikian, penulis meyakini, banyak pihak lain yang sangat 
mungkin berpendapat sama dengannya, dalam hal komunikasi politik SBY.

Kajian Komunikasi Politik

Setiap teks (simbol) dalam proses dan efek komunikasi politik, tidak terlepas 
dari konteksnya. Konteks dimaksud, bisa waktu, keadaan, problematika, dan 
kepentingan di zamannya.

Dengan pemahaman demikian, ketika kita bermaksud mengkaji komunikasi politik 
Preiden SBY, dalam kapasitas dirinya selaku sumber, atau sasaran informasi, 
kita perlu senantiasa menyadari apa pun kebijakan, langkah atau tindakan SBY 
(sebagai presiden, kepala pemerintahan dan kepala negara), tidak hanya harus 
meampertimbangkan ke-pas-an (ketepatan) informasi dengan penggunaan media, 
waktu (momentum), dan problematikanya, tetapi juga mesti mengukur kemungkinan 
efek (akibat jangka pendek), di samping dampak (akibat jangka panjang) atas 
segala sesuatu yang dilontarkannya.

Referensi dan preferensi ini, perlu disadari Presiden SBY, pada setiap saat 
dirinya menjalin komunikasi langsung atau tak langsung dengan wartawan. 
Bagaimana seharusnya Presiden di berbagai kesempatan menyampaikan orasi 
politik, dalam enaka forum legal, serta forum publik, formal atau nonformal. 
Sebab, bila ia gagal mengaitkan teks dengan konteks, akan sangat mungkin 
terjadi perubahan dari simbol wajar (sebagaimana adanya, atau sebagaimana 
seharusnya), menjadi crucial symbol yang sebetulnya tidak lazim dikemukakan 
seorang presiden.

Yang dimaksud dengan simbol krusial bukanlah simbol yang dikemukakan tidak 
tepat waktu, misalnya yang bertentangan dengan tuntutan mahasiswa, dan berbagai 
segmen publik kritis lainnya. Simbul krusial eksis manakala kandungan makna di 
balik simbol (teks) yang dikemukakan Presiden SBY bersifat terbuka atau 
terselubung, mengisyaratkan pembohongan publik.

Ini didasarkan paradigma komunikasi politik, yang tidak dibangun di atas 
landasan kepastian semata, melainkan juga transparansi. Apa artinya sebuah 
kepastian, jika penyebaran komunikasi politik itu sendiri diwarnai oleh upaya 
menutup-nutupi sesuatu, yang mencerminkan langkanya transparansi (keterbukaan) 
simbol secara keseluruhan?

Dengan pertimbangan tersebut, Presiden SBY perlu selalu menyadari, sekalipun 
dirinya sedang menjadi sasaran sinisme kelompok kritis di negeri ini, ia tetap 
boleh selalu melakukan perlawanan (simbol) terhadap siapa pun yang menolak 
dirinya. Prasyarat utamanya adalah sejauh perlawanan simbol dimaksud dilandasi 
ketidaksediaan dirinya mbombong masyarakat. Mbombong (bahasa Jawa) mengandung 
arti memberi semangat objek tertentu, tetapi di baliknya terkandung minat 
mengecilkan eksistensi dan aktualisasi diri seseorang, atau sejumlah orang.

Status Quo

Sesuatu yang mutlak perlu dilakukan Presiden SBY dalam konteks komunikasi 
politik dengan pihak lain adalah tekadnya untuk senantiasa mendasari 
kepemimpinannya sebagai pucuk pimpinan pemerintahan dan kepala negara yang 
bersikap fair dalam setiap proses dan efek komunikasi politik itu sendiri. 
Konsisten dengannya, maka setiap simbol yang dilontarkan dirinya, juru 
bicaranya, dan para pembantunya terdekat, harus selalu dihindarkan dari 
orientasi mempertahankan kekuasaan (status quo).

Mata rantai kekuasaan yang sangat mungkin mengkooptasi Presiden SBY, Wakil 
Presiden Jusuf Kalla, dan Kabinet Indonesia Bersatu, adalah berubahnya 
performance perlawanan rakyat, permusuhan rakyat ke dirinya. Perlawanan publik 
terhadap kekuasaan, sangat wajar terjadi di sebuah negara demokrasi. Tetapi, 
jiwa dan semangat demokrasi akan rusak manakala perlawanan rakyat (secara 
demokrasi) dibiarkan berubah menjadi permusuhan rakyat terhadap kekuasaan.

Sebab, dalam konotasi permusuhan rakyat terhadap kekuasaan, rakyat akan 
cenderung selalu mencari-cari kesalahan, kelemahan dan kegagalan kekuasaan 
legal formal, tanpa sedikit pun mau memahami kesulitan mendasar yang dialami 
rezim sekarang, Termasuk yang sebetulnya merupakan dampak kegagalan rezim 
sebelumnya.

Dalam konteks ini, salah satu kesalahan atau kekeliruan komunikasi politik 
Presiden SBY adalah ketidakberhasilannya membaca dan menyesuaikan kepentingan 
dirinya (sebagai kepala pemerintahan dan kepala negara) dengan kehendak 
mayoritas warga masyarakat.

Pertama, rakyat menghendaki SBY sebagai tumpuan harapan bangsa kita untuk 
memperbaiki keadaan Indonesia secara keseluruhan dan dalam waktu sesingkat 
mungkin. Kedua, rakyat menghendaki SBY selaku presiden, pucuk pimpinan 
pemerintahan, dan kepala negara, menghadapi berbagai situasi yang riil 
berkembang di zamannya.

Padahal, solusi current situation dimaksud, mustahil bisa dilakukan hanya 
dengan mengandalkan 'kekuatan nasional'. Situasi krisis nasional kita sekarang, 
memerlukan bantuan global, tanpa sedikit pun boleh membuka akses 
internasionalisasi problematika, serta kepentingan nasional kita sendiri.

Untuk itu, seyogianya Presiden SBY memperbanyak dialog dengan kelompok kritis, 
di setiap ranah (kesempatan) kepemimpinannya. Intensifikasi dan ektensifikasi 
dialog SBY dengan masyarakat, khususnya kelompok krtis, akan memperluas akses 
rakyat menjalin komunikasi politik dengan dirinya. Sekaligus SBY pun akan mampu 
menampung aspirasi, dari sumber primer, yang dapat meniadakan, minimal 
mengurangi, manipulasi simbol-simbol komunikasi politik, sebagaimana sering 
dilakukan birokrat negara kita. (24)

-Novel Ali, dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu 
Politik, Universitas Diponegoro, Semarang. 


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
1.2 million kids a year are victims of human trafficking. Stop slavery.
http://us.click.yahoo.com/X3SVTD/izNLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke