http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2005/10/10/b1.htm

Dari Warung Global Interaktif Bali Post
Harga Minyak Tanah Capai Rp 4.000/Liter
Pemerintah dan Pertamina harus Konsisten

HARGA minyak tanah melambung tinggi, bahkan mencapai Rp 4.000 per liternya. Hal 
ini terjadi karena pemerintah belum menetapkan harga yang sesuai, sementara 
Pertamina sepertinya melepas begitu saja harga di pasaran. Tentu saja kenaikan 
harga ini membuat rakyat menjerit, apalagi ditambah dengan kelangkaan minyak 
tanah. Di samping menghabiskan waktu untuk mengantre juga biaya yang besar 
untuk mencarinya. Tidak itu saja, pengawasan pun ternyata tidak ada, serta 
kecurigaan kelangkaan ini terjadi karena minyak tanah untuk rakyat beralih 
untuk industri. Seharusnya pemerintah dan Pertamina konsisten, kalau harga Rp 
2.000 dari atas sampai di masyarakat pun harus dengan harga tersebut. Oleh 
karena itu,  Pertamina harus bertindak tegas. Demikian antara lain opini yang 
disampaikan masyarakat melalui acara Warung Global yang disiarkan langsung 
Radio Global FM Bali 96,5 Kinijani, Sabtu (8/10). Acara ini juga 
dipancarluaskan oleh Radio Genta Swara Sakti Bali dan Radio Singaraja FM. 
Berikut rangkuman selengkapnya.



-------------------------------------------

Nyoman Ledang di Denpasar menyatakan bahwa sekarang minyak tanah tidak saja 
untuk kalangan ekonomi lemah, tetapi juga dari kalangan menengah bahkan atas. 
Sehingga dipertanyakan kenapa harganya sampai Rp 4000. Kalaupun harganya Rp 
5.000, tetap susah dicari. Hal ini sepertinya kesempatan dalam kesempitan, 
karena minyak tanah sangat diperlukan oleh masyarakat.

Purnawijaya di Blahbatuh merasa bingung mengamati harga minyak tanah, apalagi 
kini saat harga BBM naik. Dulu saja saat harga BBM Rp 2.400/liter harga minyak 
tanah Rp 700/liter di pangkalan. Di Gianyar sendiri eceran kisaran Rp 2.000 
sampai dengan Rp 2.500, namun barangnya tidak ada. Mobil tangki keliling 
berisikan tulisan subsidi rakyat, tetapi pelaksanaannya orang seenaknya 
menaikkan harga tanpa koordinasi. Dia juga mempertanyakan, kenapa gubernur, 
bupati dan DPR tidak mau tahu dan mendengarkan jeritan rakyat di lapangan. 
Apalagi kini harga BBM naik secara global mencapai 185%, entah berapa harga 
minyak tanah sekarang. 

Sementara itu, Sinda di Siulan melihat kenapa seperti ini, tetap akar 
permasalahannya pada suplai untuk Bali kurang. Dengan kurangnya jatah untuk 
Bali tersebut tentu saja akhirnya harganya naik.

Gusti di Renon menambahkan, perbedaan BBM untuk rakyat dan industri biasa 
menimbulkan salah sasaran, apalagi kalau tidak disiapkan dengan matang, bisa 
saja yang seharusnya disalurkan untuk rakyat kecil dipakai untuk industri 
sehingga rakyat kecil menjadi kekurangan dan antre. Alangkah baiknya kalau 
memang kita bersakit-sakit sekalian pukul rata saja harganya sama tetapi 
kompensasi BBM kembalikan kepada rakyat tak mampu, agar mereka bisa hidup untuk 
menata masa depan mereka karena masa depan mereka adalah masa depan bangsa ini. 

Nang Tut Su di Tabanan menilai, kelihatannya pemerintah dan rakyat siap. Kita 
kembali kepada diri sendiri dengan hidup sederhana. Karena inilah ciri-ciri 
Kaliyuga. 

Dewa Winaya di Tabanan mengatakan kalau dulu harga pernah Rp 1.000, sementara 
kini melambung, hal ini terjadi karena tidak ada pengawasan dengan ketat dan 
tidak adanya tindakan yang tegas. 

Kobra di Tabanan menyebut apa pun kebijakan pusat kalau tidak disikapi daerah 
dengan adanya otonomi daerah maka kebijakan pusat tersebut akan menjadi 
malapetaka bagi rakyat. Sebab, rakyatlah yang selalu dirugikan dalam hal minyak 
tanah. Di sinilah dia melihat ada berbagai kepentingan politik karena di pusat 
kebijakannya A tetapi sampai di daerah tidak semua membuat kebijakan A. Yang 
jelas sasaran yang akan menerima akibatnya adalah rakyat. Kalau kebijakan 
pusat, apalagi sudah satu minggu berjalan, seharusnya daerah sudah menentukan 
harga eceran tertinggi. Karena sekarang tidak adanya suatu patokan harga eceran 
tertinggi akhirnya antara daerah satu dengan daerah lainnya berbeda-beda. Ini 
juga namanya teror yang meresahkan rakyat. Dengan adanya keresahan ini, apakah 
para pimpinan daerah tidak memikirkan hal tersebut dengan anggota Dewan? Kalau 
ini berlarut-larut apa yang akan terjadi? Kalau memang harganya standar yang 
ditentukan pemerintah maka sebaiknya adakan sidak dan berlakukan sanksi. 

Tatik di Legian mengakui bahwa terasa sekali orang-orang yang ekonomi lemah 
dalam membeli minyak tanah merasa berat dengan harga yang mencekik leher.

Putu Agus di Gianyar memantau bahwa sekarang rakyat seperti bojog ngamah jae, 
artinya giginya tok yang kelihatan karena bibirnya pedih. Karena dibikin oleh 
pemerintah dan diperdaya oleh oknum-oknum pejabat di atas. Kita punya DPR dan 
bupati tidak peduli kepada rakyat. Kalau sebelum menjabat semua atas rakyat, 
bahkan mobil tangki minyak tanah keliling subsidi rakyat. Tetapi semuanya tidak 
sesuai dengan harapan rakyat. Harga minyak tanah sangat mahal sehingga rakyat 
menjerit.

Adnyana di Pedungan menyatakan bahwa harga ini melonjak karena adanya minyak 
subsidi ini dialihkan dan kurangnya pengawasan. 

Yasa di Kesiman tidak mengerti minyak tersebut dibawa ke mana. Kalau masalah 
mahalnya ini sangat memprihatinkan. Di samping mahal masalah lain yang muncul 
kenapa mencarinya sulit? Bahkan, mencarinya sampai berjarak dua kilometer 
sehingga menghabiskan waktu yang banyak. 

Menurut Pan Lojor di Padangsambian, walaupun harganya berapa tetapi yang 
membutuhkan banyak tetap saja akan dicari orang. Kelangkaan ini terjadi bukan 
karena kebutuhan rumah tangga yang hanya 1 liter, tetapi yang membeli 
pedagang-pedagang kaki lima bisa 10 liter per hari. Inilah yang menyebabkan 
kelangkaan di semua desa atau lingkungan. Dari data yang bisa dilihat bahwa 
banyak dagang di mana-mana merebak seperti misalnya di Denpasar. 

Kompyang Lombok di Bangli melihat Pertamina melepas begitu saja harga atau masa 
bodoh. Seharusnya pemerintah dan Pertamina konsisten, kalau harga Rp 2.000 dari 
atas sampai di masyarakat pun harus dengan harga segitu. Dia berharap,  
Pertamina bertindak tegas. 

Made Santa di Sanggulan mengatakan, solusi yang harus dilakukan, pedagang yang 
menaikkan harga minyak tanah agar di-sweeping saja oleh aparat yang berwenang 
karena pedagang tersebut telah melanggar aturan yang ditentukan oleh 
pemerintah. 

Nyoman Handoko di Gianyar menjelaskan bahwa di Gianyar harga minyak tanah per 
liternya Rp 2.800, dan jumlahnya langka, seminggu hanya 10 liter. 

Suardana di Gubug menyoroti di daerah Gubug juga mahal. Solusinya bagaimana 
pengawasan pemerintah terhadap pengecer yang melanggar aturan agar izinnya 
dicopot. Kemudian pemerintah membuat SPBU minyak tanah tiap kecamatan sehingga 
berapa harganya masyarakat tahu seperti membeli premium. 

* panca 


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Give at-risk students the materials they need to succeed at DonorsChoose.org!
http://us.click.yahoo.com/Ryu7JD/LpQLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke