Mbak Lina tersayang..
 
he he he mbak..:D
 
Saya masuk golongan yang kedua  tuh..kami nggak pernah menuntu poliandri lho 
mbak..:D Asli, nggak pernah..hehehe..karena dasar penggugatan poligami bukan 
karena peremopuan tidak boileh poliandri..hehehe..KAlau mbak baca Beyoond The 
Veil nya Mernissi, mungkin bisa keliatan apa yang sebenarnya jadi 
persoalan..Sumpah..bukan karena iri kita nggak boleh Poliandri..:D
dan saya juga udah baca bukunya Edward Said, lha wong skripsi saya tentang 
orientalism kok.. he he he..
anyway, makasih banyak untuk referensi dan penjelasan yang mbak sampaikan. 
Bermanfaat sekali untuk saya..:)
 
Cheers

Lina Dahlan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Mbak Tylla,

Semua gerakan berasal dari kesadaran pribadi-pribadi yang kemudian 
bergabung membentuk suatu gerakan bersama.

Kalau baca bukunya Jalaludin Rahmat, Islam Aktual, disitu ada 
disebut "bahwa antara lain, berangkat dari fenomena 'male dominated 
society', feminisme mulai menabuh genderang perangnya. Di masyarakat 
Barat, feminisme lahir sebagai protes atas sikap masyarakat yang 
menempatkan wanita tak lebih dari objek pemuasan seksual. "Untuk apa 
wanita diciptakan," tulis William Dorothy, "untuk memuaskan nafsu 
seks laki-laki."  Dengan kata lain karena kurang kasih sayang lah 
feminis Barat itu menabuhkan genderang perangnya.

Apakah demikian juga yg dialami oleh Aisyah RA?

Saya kira kalau dalam  masyarakat Islam, feminisme lahir dari tiga 
hal: Pertama; ia adalah antitesis dari sikap sebagian kaum pria yang 
terlanjur memandang wanita hanya sebagai "pelengkap" kehidupan seks 
belaka, kira-kira tak jauh beda dengan pandangan mayarakat Eropa di 
atas. Bagi mereka, wanita tidak lebih dari tiga "r". Dapur, sumur 
dan kasur. Kalau anda punya pikiran, "buat apa harus menyekolahkan 
Lani tinggi-tinggi, nanti kan ke dapur juga," anda sudah terkena 
gejala pertama dari kelompok pria yang menyepelekan kaum wanita itu. 
R.A. Kartini (Indonesia), Emile Ruete (Zanjibar), Taj Al-Saltanah 
(Iran), Aisya Taimuriah (Mesir), dan Zaynab Fawwaz (Lebanon) adalah 
sebagian wanita feminis yang melakukan pemberontakan terhadap sikap 
ambivalens laki-laki seperti itu

Kedua: Kelompok kedua: Feminisme yang lahir dari kebodohan ummat 
dengan "mempersoalkan" ayat2 dalam AlQur'an. Kelompok ini umumnya 
datang dari kaum wanita muslimah kelas menengah yang mengalami 
pencerahan dari sistem edukatif sekuler. Mengapa ada poligami tetapi 
tidak ada poliandri? Ini kan namanya ekspoitasi. Dalam bahasa sehari-
hari kita pernah dengar, "Ala jeng, suami di mana--mana juga sama. 
Suka jajan di luar. Kalau kita sekedar jalan-jalan sama dik Andri 
ini kan wajar." Kata Tante Ira merayu Mba Ria. Mulanya memang cuma 
jalan-jalan di mall, mengantar ke salon, menamani coffee morning, 
menjadi pasangan standing party dan menjemput sehabis arisan, tetapi 
lama-lama wallahua'lam. 

Di tataran akademis, kelompok ini diwakili oleh beberapa tokoh. 
Misalnya, Fatima Mernisi (Maroko), Riffat Hassan (Pakistan) dan 
Nawwal al-Sa'dawi (Mesir). Mernissi, umpamanya, mempertanyakan 
sejumlah ajaran Islam yang menyangkut hak-hak wanita. Antara lain, 
ia keberatan dengan pembagian hukum waris yang menurutnya sangat 
patriatis.  Hadits-hadits yang "memojokan" wanita, kata Mernissi, 
adalah produk politik dari zaman Bani Ummayyah. Sementara Riffat 
Hassan menggugat tafsir Al-Qur'an karena, katanya, banyak sekali 
dipengaruhi "mufassir laki-laki." 

Inti dasar dari kaum feminis kelompok kedua ini adalah lemahnya 
mereka dengan sumber-sumber asasi Islam, dan secara sadar atau 
tidak, akhirnya dimanfaatkan musuh-musuh Islam untuk mempengaruhi 
wanita muslimah lain. Di Indonesia, banyak cendikiawan wanita yang 
sudah mulai terserang virus "feminisme" semacam ini. 

Kelompok ketiga: Feminisme yang lahir sebagai residu kerja kaum 
orientalis. Agenda kerja orientalisme dalam merongrong bangunan 
Islam sudah sama kita ketahui (baca Edward Said dalam bukunya 
Orientalism)Pertama, runtuhkan Al-qur'an (baca bukunya Dr. Islamil 
Salim Abd. Aal. "Al-Mustasyriqun wa al-Qur'an." Rabita Alam al-
Islami, Makkah - Almukarammah, 1990. Terutama sub-judul "Naqd Nataij 
l-Dirosat al-Istisyraqiyah fi Tarikh al-Qur'an al-Karim."  Fondasi 
ini tentu tidak mudah, bahkan mustahil, untuk dihancurkan sebab 
selain ada ribuan huffaz (mereka yang hafal Al-Qur'an) di berbagai 
belahan bumi Islam yang terus-menerus mengulang ayat-ayat Allah swt. 
Kita juga sudah mendapat jaminan dari Allah swt., yang berjanji akan 
menjaga kemurnian Al-Qur'an. "Sesungguhnya, kamilah yang menurunkan 
Al-Qur'an, dan kamilah yang menjaganya." (QS:Al-Hijir, Ayat. 9). 

Ketika yang pertama ini gagal, cara kedua dilakukan. Sebarkan 
keraguan pada hadis-hadis Rasulallah saw. Tokoh-tokoh seperti Ignaz 
Golziher, Joseph Schacht, Patriaca Crane, dan N.J.Coulson, untuk 
menyebut sebagai misal, adalah para pioner yang sangat aktif 
mengkaji kesahihan hadits-hadits Rasulallah saw. Mereka melakukan 
ini tidak untuk mencari kebenaran melainkan mencari pembenaran dari 
ide-ide dasar orientalisme. 

Bila cara itu pun gagal, masuki cara ketiga. Sebarkan fitnah di 
kalangan wanita muslimah sebab wanita adalah sekolah pertama untuk 
anak-anaknya. Feminisme seperti ini dimulai dengan mengajak wanita 
berkiblat pada tata-cara hidup Barat. Jargon yang diteriakan 
biasanya adalah "Emansipasi Wanita," "Wanita Modern", "Ibu Masa 
Depan", "Wanita Karir", "Menunda Kehamilan", "Single Parent" dan 
banyak lagi kata-kata pemanis bibir lainnya. 

Saya percaya, Mbak Tylla ada di kelompok pertama kalau melihat 
definisi feminist sejati yang mbak Tylla berikan itu.

W

assalam,


--- In [email protected], tylla subiyantoro 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Lina Dahlan <[EMAIL PROTECTED]> wrote: 
> 
> Lina: Saya kira Aisyah RA, bukan yang saya maksudkan dengan 
feminis 
> dalam konteks diskusi ini. Karena "feminisme" yg dibicarakan kini 
> lahir disebabkan adanya ketidak adilan yang dirasakan wanita 
> krn `male dominated society', saya rasa Aisyah tidak pernah merasa 
> diperlakukan tidak adil (ditindas) dalam peran sosialnya sehingga 
> dia harus memberontak dan membuat gerakan feminisme. Aisyah memang 
> terkenal istri yang pintar, daya ingatnya akan hadist sangat luar 
> biasa. Kalau semua rasa tidak diperlakukan adil (meski dalam 
urusan 
> pribadi) dijadikan suatu alasan gerekan feminisme, menjadi blur 
lah 
> arti feminisme itu sendiri.
> 
> ################################################################
> 
> ##Tylla : Mbak..justru kalau mbak baca sejarah Feminisme, 
feminisme itu lahirnya dari kesadaran pribadi lho..jangan 
salah..saya jadi bertanya tanya, mbak ambil referensi dari mana sih 
soal Feminisme? Konteks tuntutan Aisyah RA itu erat kaitannya sama 
konteks politis beliau sebagai PEREMPUAN.. juatru itu SANGAT 
mengusung ide Feminisme..
> 
> Justru menurut saya, yang paling kental nuansa Feminismenya ya 
Aisyar RA..Kalau Khadijah RA atau Ummu Salamah, Saya menghormati dan 
mengagumi beliau sebagai Perempuan yang exist dan Mulia..tapi 
mbak..dalam konteks Feminisme...saya nggak berani mencontohkan 
mereka..:) semoga mbak bisa faham maksud saya
> 
> ####################






***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]





SPONSORED LINKS 
Cultural diversity Indonesian languages Indonesian language learn Indonesian 
language course 

---------------------------------
YAHOO! GROUPS LINKS 


    Visit your group "ppiindia" on the web.
  
    To unsubscribe from this group, send an email to:
 [EMAIL PROTECTED]
  
    Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service. 


---------------------------------





                
---------------------------------
 Yahoo! Music Unlimited - Access over 1 million songs. Try it free.

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital.
http://us.click.yahoo.com/ons1pC/lbOLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 




Kirim email ke