Perjuangan menolak mati, itulah cara kita memahami para pendatang. Sekedar
mempertahankan kelayakan hidup, tidak sedikit saudara-saudara kita merantau
sampai ke Sumba. Kalau anda berksempatan datang ke Waingapu, janga lupa mampir
di warung Jawa. Masakannya ? Memang, tidak terlalu istimewa. Akan tetapi,
mungkin di warung itu, lidah orang jawa lebih cocok. Kalau saat malam tiba,
anda dapat mencari ayam bakar pak Klowor. Masakannya, ini memang lebih nikmat
di lidah.
Banyak para perantau dari Jawa dan Makasar atau teman-teman Tionghoa mengadu
nasib di Sumba. Mereka menjadi bagian dari warna-warni perubahan kota ini,
walau pelahan, sudah nampak indikasi berkembangnya Waingapu sebagai kota
pelabuhan yang sangat potensial.
Yang menjadi permasalahan, kini muncul persoalan kesenjangan ekonomi, antara
para pendatang dan warga lokal. Meski belum terasa adanya sumber konflik, akan
tetapi bila tidak ditata secara lebih adil, dikhawatirkan fenomena kecemburuan
sosial-ekonomi akan meruyak kelak kemudian hari.
Terabaikainnya masyarakat lokal yang marginal-tepatnya pemiskinan- merupakan
bibit bom waktu yang harus diperhitungkan. Meluasnya keberhasilan kaum
pendatang, tanpa disertai proses perubahan prilaku sosial ekonomi, dapat
menyebabkan lahirnya potensi konflik yang serius. Lemahnya pemberdayaan ekonomi
rakyat, nampak dengan sangat jelas dalam proses pemberdayaan potensi masyarakat
lokal itu sendiri. Misalnya, perihal perluasan produksi kerajinan tangan
seperti tenun ikat, sepantasnya difasilitasi negara, sehingga ekonomi rakyat
menjadi berdaya.
Kondisi Sumba Timur yang relatif tenang, tidak boleh diabaikan, sampai muncul
krisis sosial-ekonomi, akibat tidak perdulinya lembaga-lembaga pemerintahan di
tingkat lokal. Melihat kemiskinan dan ketidakberdayaan masyarakat lokal,
merupakan sumbu potensial berkembangnya gerakan sosial berbasis
kekerasan-terutama dipicu oleh ketimpangan ekonomi. Selekasnya, para penguasa
lokal lebih aktif memberdayakan segala bentuk potensi ekonomi rakyat. Selagi,
belum dihinggapi cara-cara ekonomi anti kerakyatan. Yang pada gilirannnya
rakyat kecil itu sendiri yang menanggung kesengsaraan. Mampukah penguasa
memanfaatkan momentum kedamaian semacam ini. Sehingga, si Klowor dan si Louren,
si Acong dan si Badrun dapat hidup berdampingan. Mampukah semua ini kita pahami
? Semoga.
---------------------------------
Yahoo! FareChase - Search multiple travel sites in one click.
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Get fast access to your favorite Yahoo! Groups. Make Yahoo! your home page
http://us.click.yahoo.com/dpRU5A/wUILAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/