REPUBLIKA

Minggu, 04 Desember 2005


Bandul Terorisme 

Oleh : Haedar Nashir 


Imam Samudra itu teroris dan untuk ulahnya dia dijatuhi hukuman mati. Tapi 
lucunya, dia menulis buku Aku Melawan Teroris. Lalu, siapa sebenarnya teroris? 
Kok, teoris melawan teroris? Itulah rumitnya dunia teroris. Ibarat maling 
teriak maling, akhirnya malingnya memang banyak. Semuanya jadi teroris. Tukang 
menebar ancaman dan kekerasan yang bikin jagad kemanusiaan gonjang-ganjing. 

Terorisme dan ulah teroris memang tak sederhana sebagaimana bayangan awam. 
Selalu menyimpan banyak kemusykilan, sekaligus keganjilan. Sebab dan polanya 
beragam, tapi hasil akhirnya sama yakni ketakutan, ketidakamanan, dan korban 
manusia serta denyut nadi kehidupan. Mark Juergensmeyer bahkan menulis buku 
Terror In The Mind Of God (Teror Atas Nama Tuhan). Membahas tentang kekerasan 
dan fenomena kebangkitan agama. Tentu saja buku itu perlu diberi catatan 
kritik, karena teror bisa mengatasnamakan apa saja. Kekerasan tetap kekerasan.

Pelaku teror alias teroris pun bisa siapa saja. Ada perorangan atau kelompok, 
bahkan ada terorisme negara (state-terorism). Sebuah negara, baik sendiri 
maupun bersekutu, menyerang atau menginvasi negara lain dengan seenak perut. 
Melakukan kekerasan sistematis terhadap bangsa lain atau bangsa sendiri yang 
menyebabkan ketakutan dan jatuh korban manusia. Para pemimpinnya gemar meniup 
terompet perang dan kekerasan dengan memobilisasi heroisme bangsanya melawan 
pihak lain. Negara dan pemimpin seperti itu sungguh-sungguh teroris.

Tapi teroris ya teroris. Terorisme tetap tak beradab alias biadab. Atas nama 
apa pun dan siapa pun pelakunya, tetap berbahaya bagi kehidupan. Penghancur 
peradaban. Perusak jagad kehidupan. Itulah perilaku fasad, menurut terminologi 
agama. Celakanya, bagi pelaku fasad, selalu ada alasan. Ketika dikatakan kepada 
mereka jangan sekali-kali membuat kerusakan di muka bumi, mereka justru 
menjawab innama nahnu muslihun, "kami sedang membangun" (Q.S. Al-Baqarah: 11). 

Tapi terorisme ya terorisme. Teroris bikin semua orang susah dan menderita. 
Karena ulah teroris di negeri ini, banyak pihak dibuat blingsatan. Tunggang 
langgang. Dan panik. Para petinggi negara panik dan geram, lalu bikin 
pernyataan bermacam-macam. BIN (Badan Intelijen Negara) pun tiba-tiba mau 
menyusupi Islam radikal, padahal kaum radikal itu menyebar di mana-mana. Polisi 
makin sibuk dan jadi lembaga superpower baru. Semua dibikin panik dan tegang 
luar biasa. Lalu, setiap warga seolah jadi tertuduh, jadi teroris. 

Para tokoh Islam pun dibikin pusing. Masing-masing bikin pernyataan. Ada yang 
meluruskan makna jihad dan mengutuk bunuh diri, karena kosa kata ini 
dibawa-bawa oleh para teroris yang bunuh diri dalam kasus bom Bali II. Ada pula 
yang meyakin-yakinkan publik kalau terorisme dan para teroris itu tak ada 
hubungannya dengan Islam atau agama apa pun. Bahkan, gara-gara ulah teroris, 
para tokoh Islam ternama dan para kiai dari daerah sampai harus setia dan duduk 
manis menyaksikan video para teroris di Kantor Wakil Presiden. Menonton 
tayangan rekaman pengakuan para teroris yang bunuh diri atas nama jihad.

Pihak keamanan malah over acting. Selain mau menguber Islam radikal, malah mau 
membuat program sidik jari para santri di pondok-pondok pesantren. Para 
pimpinan Pesantren pun mulai gerah dengan rencana yang berlebihan seperti itu. 
Memangnya sidik para santri itu spesial? Kasihan dunia pesantren. Memang bagi 
polisi ada prinsip, siapa pun patut dicurigai. Tapi, mestinya ya jangan main 
generalisasi yang parsial seperti itu. Seolah ada arus besar dan kekuatan 
tangan kekuasaan tertentu yang membuat kita superpanik. Ibarat supir mengejar 
setoran. Karena dunia, khususnya negara tertentu yang mengawasi kita, lalu 
negara kita yang berdaulat seolah kehilangan caranya sendiri untuk 
menyelasaikan masalah terorisme secara lebih tenang. 

Ke segala arah
Bandul terorisme memang jadi mengayun ke segala arah. Jika salah penanganan dan 
semua serbapanik, boleh jadi keadaan di negeri ini kian rumit saja. Belum reda 
soal harga BBM (bahan bakar minyak) dan kita jadi lupa soal kenaikan tunjangan 
anggota legislatif, ditambah lagi soal terorisme dengan psikologi kepanikan 
yang luar biasa. Maka lengkap dan sempurnalah persoalan Indonesia. Menjadi 
sebuah negeri yang tak kunjung dirundung malang. Selalu muncul persoalan rumit 
yang tak berkesudahan.

Bandul apa? Pertama bagi negara. Negara atau pemerintah panik, lalu jadi 
represif terhadap warga negara dan institusi-institusi civil society. Polisi 
menguber-nguber penduduk tanpa kenal bulu demi mengejar teroris. Pesantren dan 
dunia sekolah diawas-awasi, yang membuat suasana tak tenteram. Ruang publik 
digedor-gedor jadi penuh kecemasan dan ketakutan. Setiap orang diawasi 
gerak-geriknya hingga ruang kebebasan dan kemerdekaan jadi sumpek.

Kepolisian dan badan intelijen jadi superpower baru. Hasrat menghidupkan 
kembali Babinsa dan lembaga-lembaga militeristik muncul sebagai jaring pengaman 
dan represi baru. Semua bisa leluasa atas nama pemberantasan terorisme sampai 
ke akar-akarnya dengan asumsi setiap orang Indonesia potensial sebagai teroris. 
Jika itu terjadi, maka Orde Baru jilid dua bisa menjelma kembali.

Teroris memang berbahaya dan bikin kita susah. Bandul kedua pun terus berayun. 
Sesama anggota dan kelompok masyarakat jadi saling curiga. Setiap orang 
menganggap tetangganya calon teroris. Lebih-lebih yang berpakaian ala Timur 
Tengah dan berjenggot. Urusan jenggot dan cadar bisa bikin berabe. Jadi stigma 
baru. Orang Islam dicurigai dan diejek sebagai teroris. Mubaligh pun dibikin 
susah, bicara jihad bisa salah alamat, tak tertutup kemungkinan digelandang 
pihak keamanan. Memang ada semacam kedunguan dalam memaknai jihad, tetapi juga 
bukan berarti jadi harus stigma baru. Jadi kepanikan baru yang dilebarkan ke 
mana-mana.

Adakah bandul lain? Bandul ketiga, kepanikan di kalangan kelompok-kelompok dan 
tokoh Islam. Isu Islam radikal saja telah membuat kita heboh. Kelompok radikal 
merasa disudutkan, lalu membela diri, seolah membela dan senasib dengan teroris 
yang bawa-bawa ikon jihad. Wapres Jusuf Kalla bahkan menunjuk fenomena teroris 
berkedok jihad itu sampai menyatakan sebagai sebuah "kegilaan". Umat seolah 
harus terseret pada suanasa kepanikan terorisme yang membawa ikon Islam. Orang 
Islam dibuat seperti kapas kena air. Padahal semestinya dapat bersikap lebih 
wajar. Tak perlu panik dan supersensitif. Apalagi harus kebakaran jenggot. Jika 
selama ini sebagaimana para tokoh Islam mengatakan bahwa teroris dan terorisme 
tak ada kaitan dengan Islam atau agama, kenapa harus serba sensitif.

Tapi bagaimana dengan ikon jihad dan simbol-simbol Islam yang dibawa-bawa? Jika 
demikian, letakkan saja pada proporsinya yang wajar. Kalau mereka salah 
menafsirkan jihad dan klaim semangat keagamaan, itulah suatu realitas yang 
harus dihadapi sebagaimana apa adanya. Nyatanya jihad dan simbol Islam 
dibawa-bawa. Jangan-jangan yang beralam pikiran seperti itu masih banyak dalam 
konteks yang beragam. Memahami agama secara kerdil tapi penuh keyakinan 
absolut. Maka, jika salah dalam memahami dan menafsirkan ajaran agama, 
bangunlah konstruksi pemahaman baru ke depan. Tapi sekali lagi, tak perlu 
digeneralisasi ke umat Islam secara keseluruhan. Jangan pula berlepas tangan 
jika ada umat yang memahami Islam secara dangkal.

Tak mudah
Memang tak mudah meletakkan fenomena terorisme dalam spektrum kehidupan yang 
kompleks dan penuh kegilaan seperti sekarang ini. Teroris memiliki logikanya 
sendiri. Dinamika kehidupan dunia di berbagai aras juga memiliki hukumnya 
sendiri. Perebutan kepentingan dan hegemoni berlangsung di setiap ruang 
kehidupan di muka bumi ini. Arogansi negara, kelompok, dan sispa pun yang 
digdaya tak pernah ada habisnya. Dalam lalu-lintas dunia yang rumit dan sarat 
kerakusan itulah terorisme memperoleh ruang subur untuk tumbuh, mekar, dan 
mengalami daur ulang. Lalu, terjadilah perkembangbiakan teroris dan terorisme. 

Perkembangbiakan terorisme dan berbagai jenis kekerasan yang lain juga memiliki 
hukumnya sendiri. Tidak jarang lahir ironi. Sejumlah pihak memanfaatkan teroris 
dan terorisme sebagai lahan pertempuran kepentingan yang menguntungkan. Selalu 
ada yang berkepentingan menenggak keuntungan dalam setiap kemelut kehidupan. 
Jangankan untuk sebuah terorisme, bahkan untuk perang yang dahsyat pun ada yang 
berkepentingan. Itulah mesin industri perang, seperti fenomena Industrial 
Military Complexs yang terdapat di negeri Paman Sam. Perang, terorisme, dan 
berbagai bentuk kekerasan dipelihara dan diproduksi oleh kekuatan-kekuatan yang 
menghegemoni dunia. 

Adapun kelompok-kelompok yang naif tak henti-hentinya melanggengkan bahkan 
mengembangbiakkan kedunguan. Maka sempurnalah pertumbuhan daur ulang kekerasan 
dalam beragam penjelmaan. Negara dan pihak-pihak yang memiliki hegemoni 
kepentingan membiarkan kekerasan jadi komoditi yang serba menguntungkan. 
Orang-orang dan kelompok-kelompok naif terperangkap dalam ekstremitas yang 
akhirnya menggali lobangnya sendiri. Si cerdik dan si dungu bertempur dalam 
medan baru yang bernama terorisme. Lalu manusia dan kehidupan pun jadi korban 
pertaruhan. Semoga saja terorisme tidak masuk dalam dunia industri yang rumit 
itu. Jadi mega proyek baru!


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Give at-risk students the materials they need to succeed at DonorsChoose.org!
http://us.click.yahoo.com/wlSUMA/LpQLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke