REFLEKSI: Jangan beli sembarang makanan atau ikan dan daging yang dieskan. Selalu makan makanan dari bahan-bahan segar, saya kira adalah saran terbaik. Karena kalau dibeli makanan yang mengadung formalin berarti And membeli lisensi percepatan kematian Anda melalui penderitaan yang tidak dibutuhkan.
http://www.indomedia.com/bpost/122005/29/opini/opini2.htm Hati-hati Makanan Berformalin MASYARAKAT diingatkan untuk berhati-hati mengonsumsi beberapa jenis makanan, karena dalam proses pengolahannya dibubuhi bahan kimia berbahaya: formalin. Pemakaian formalin untuk proses pengolahan makanan, sebenarnya bukan isu baru. Masalah ini pernah mencuat di 2004, dan kini kembali ramai dipersoalkan. Formalin yang dalam istilah kimianya HCHO dan CH3OH dalam air, merupakan larutan komersial dengan konsentrasi 37-40 persen dari formaldehid. Bahan ini biasanya digunakan sebagai antiseptic, germisida dan pengawet. Formalin diketahui sering digunakan dan efektif dalam pengawetan mayat. Juga bisa digunakan sebagai pengobatan penyakit akibat ektoparasit seperti fluke dan kulit berlendir pada ikan. Meskipun demikian, bahan ini sangat beracun dengan ambang batas amannya sangat rendah, sehingga terkadang ikan yang diobati malah mati. Bahan ini sangat berbahaya apabila terkena kulit atau mata manusia. Apabila hal ini terjadi, segera cuci dengan air yang banyak. Bahan ini juga dapat menghasilkan uap beracun, oleh karena itu jangan biarkan botol formalin terbuka di ruang tertutup. Simpan formalin dalam botol berwarna gelap dan hindarkan dari cahaya, kalau tidak maka akan dapat terbentuk paraformaldehid (berupa endapan putih) yang sangat beracun. Selain itu, formalin dapat bersifat ekspolif. Makanan yang mengandung formalin, bila dikonsumsi manusia sangat berbahaya bagi kesehatan. Lama-lama bisa menyebabkan kanker. Selain itu, dampak formalin dalam jangka pendek atau panjang antara lain iritasi saluran pernafasan, muntah-muntah, pusing, rasa terbakar pada tenggorokan, penurunan suhu badan, dan rasa gatal di dada. Di samping bisa memicu kerusakan hati, jantung, otak, limfa, sistem susunan syarat pusat dan ginjal. Saat ini banyak makanan yang diproses memakai formalin. Ada delapan merek mi, tahu dan ikan asin yang sempat dicatat Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BB POM) Jakarta positif mengandung formalin. Tapi ada produsen makanan itu culas, karena untuk mengelabui konsumen tidak segan-segan membubuhkan tulisan di bawah kemasan dengan kalimat 'Bebas formalin dan boraks'. Alasan penggunaan formalin dalam proses pembuatan ikan asin, berkaitan masalah biaya pengolahan. Sebagian nelayan diduga menggunakan formalin untuk mengawetkan ikan segar yang baru ditangkap, akibat mahalnya harga es batu dan garam. Dengan proses garam dan penjemuran, rendemen yang tersisa kurang dari separo. Contohnya, untuk ikan seberat 100 kilogram saat masih basah, menjadi 40 kilogram (40 persen) setelah menjadi ikan asin. Susut 60 kilogram ini yang disebut rendemen, sangat merugikan pengolah karena harga jual menggunakan satuan kilogram. Untuk mengurangi rendemen tersebut, nelayan menggunakan formalin karena bisa mencapai 75 persen. Cara itu tetap ditempuh demi meraup keuntungan meski taruhannya adalah nyawa konsumen (manusia). Penggunaan formalin untuk mengawetkan makanan, sesungguhya dilarang sejak 1982. Hal ini dikuatkan dengan Undang Undang No 7 Tahun 1996 tentang Perlindungan Pangan. Jika ketahuan memasukkan formalin ke dalam bahan makanan, produsennya diancam penjara paling lama lima tahun dan denda paling banyak Rp600 juta. Selain itu, mereka melanggar UU Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dengan ancaman hukuman penjara paling lama lima tahun dan denda paling banyak Rp2 miliar. Meski sudah ada ancaman hukuman demikian, kenyataannya masih ada produsen yang demi mengejar keuntungan memakai formalin. Karena itu, seharusnya ada efek jera yang bisa membuat pelaku usaha tidak melakukan perbuatan ini lagi. Bentuk lain hukuman yang bisa kita timpakan kepada produsen macam itu adalah boikot, tidak membeli produknya sehingga usaha itu mati dengan sendirinya. Mari kita selamatkan diri kita dan masyarakat luas dari ancaman formalin. [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Give at-risk students the materials they need to succeed at DonorsChoose.org! http://us.click.yahoo.com/SBefZD/LpQLAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

