** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi: 
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral 
scholarship, kunjungi 
http://informasi-beasiswa.blogspot.com 
**http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2006/3/9/o2.htm

Saling Intip DPR dan Presiden 

RAPAT paripurna DPR hari Selasa lalu berlangsung ricuh karena sebagian anggota 
parlemen mempersoalkan surat Ketua DPR kepada Presiden. Sidang itu sebenarnya 
mempunyai agenda mendengar penjelasan Presiden atas hak interpelasi busung 
lapar dan polio. Sedangkan surat Ketua DPR tersebut memuat tentang undangan 
parlemen kepada Presiden yang meminta penjelasan tentang busung lapar dan 
polio. Hanya dalam bagian surat juga dijelaskan bahwa Presiden boleh mewakilkan 
kehadirannya kepada menteri yang terkait. Catatan ini sesuai dengan Tata Tertib 
DPR.

Sampai di sini sebenarnya persoalan sudah selesai karena peraturan memang 
membolehkan Presiden mewakilkannya, yang hari itu datang Menko Kesra Aburizal 
Bakri, Menkes Siti Fadilah Supari serta Mensos Bachtiar Chamsyah. Hadir pula 
Mensekneg Yusril Ihza Mahendra. Tetapi mengapa tetap muncul tuntutan agar 
Presiden hadir dalam persidangan itu?

Persoalan ini bisa dilihat dari penilaian terhadap pola mekanis-output. Dalam 
hal demikian, pihak yang paling mendapat sorotan adalah menteri-menteri 
pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono sebagai pelaksana mekanis untuk 
menghasilkan output (dalam menangani kasus polio dan busung lapar). Meskipun 
dua kasus penyakit ini telah ditemukan dan mencuat sekitar empat bulan lalu, 
hingga saat ini kasusnya dinilai belum tuntas.

Vaksinasi polio yang telah dilakukan sebanyak empat kali, ternyata masih saja 
tetap menimbulkan resistensi dari masyarakat. Tingkat keberhasilannya sekitar 
97 persen, dan selalu ditemukan kasus baru pada balita kita. Kenyataan ini 
dipandang tetap bermasalah oleh anggota DPR. Demikian pula halnya dengan busung 
lapar. Di samping ditemukannya kasus baru dalam penyakit ini, penanganannya 
juga dipandang tidak beres. Misalnya ada penyunatan bantuan beras kepada kaum 
miskin yang menderita polio.

Logikanya, kegagalan-kegagalan yang terjadi itu tidak lain disebabkan oleh 
mereka yang ada di belakang kemudi, yakni para menteri yang menjadi bawahan 
presiden. Karena mereka sudah gagal menjalankan tugas, tidak ada gunanya 
berdialog dengan mereka kecuali memanggil yang memilih para menteri tersebut, 
yaitu presiden. 

Dibaca dari sudut lain, langkah tidak hadir secara langsung itu merupakan 
sebuah upaya strategik-atisipatif. Upaya ini berguna untuk mengerem implikasi 
politik beranting yang bisa muncul apabila kepala pemerintah datang dalam 
sidang paripurna. Dari sisi Presiden, persoalan ini tentu saja telah bisa 
dibaca sebelumnya. Di samping mewakilkan para menteri memang telah sesuai 
dengan peraturan yang berlaku, kehadirannya secara langsung akan bisa 
menimbulkan preseden politik baru dan berimplikasi lebih luas. Karena tiap-tiap 
kebijakan pemerintah itu mempunyai konsekuensi kegagalan, maka kemungkinan 
besar setiap kegagalan ini juga bisa memancing banyak interpelasi. Jika 
demikian, kelak Presiden berkali-kali harus datang ke DPR untuk menjelaskan 
persoalan ini. Tentu saja ini pemborosan karena sebagai ''pengorganiser 
negara'', Presiden tentu mempunyai tugas yang banyak. Inilah preseden politik 
yang ingin dihindari.

Sementara implikasi politiknya bisa berupa tuntutan reshuffle kabinet lagi. 
Kegagalan kebijakan dipandang sebagai akibat ketidakmampuan menteri yang 
menjalankan tugas atau kesalahan menunjuk menteri dalam posisi tertentu, karena 
itu sudah selayaknya menteri yang bersangkutan diganti. Ini bukan sekadar satu 
implikasi saja. Di zaman pemerinthan ''koalisi'' saat ini, perombakan kabinet 
akan berdampak politik lain, menjadi bahan garapan partai-partai politik yang 
ingin memasukkan kader-kadernya ke dalam kabinet. Bisa dibayangkan bagaimana 
ramainya wacana yang muncul jika masing-masing partai politik ingin ambil 
bagian dalam kabinet. Implikasi politik beranting seperti ini amat berbahaya 
bagi kelancaran sebuah pemerintahan. Jelas kelancaran pemerintahan lebih 
penting. 

* GPB Suka Arjawa


[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi: 
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral 
scholarship, kunjungi 
http://informasi-beasiswa.blogspot.com **

Kirim email ke