GGk juga,
Buktinya Amien bisa membuat Freeport "berprestasi" dari pembayar pajak No. 9
dibawah perusahaan rokok menjadi pembayar pajak No. 1 setelah dikritik
Amien....



----- Original Message -----
From: "heri latief" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>; <[email protected]>;
<[EMAIL PROTECTED]>; <[email protected]>
Sent: Friday, March 24, 2006 5:28 AM
Subject: [ppiindia] Re: Rekaman Transkrip Wawancara Amien Rais dengan Radio
68H


>
> sewaktu bung amien rais jadi salah satu orang tob (di sekitar awal
reformasi 98), koq doi diem aja? katanya tahun 1997 doi ada di tembagapura,
lho sekarang tahun 2006, perlu waktu 9 tahun untuk ngejitak freeport?
>
>   kita lihat ajaaaa, sampai dimana keberanian para elit-politik berpaduan
swara dalam menentang hegemoni amerika. soalnya uang yang disediakan untuk
menutup bacot itu pasti gede buangetlah, percayalah bukan bacot yang musti
kita gedein, tapi keberpihakan itu untuk siapa?
>
> la_luta <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>   --- In [email protected], "Bonnie" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>
> ----- Original Message -----
> From: firdaus cahyadi
> Subject: [communitygallery] Rekaman Transkrip Wawancara Amien Rais dengan
Radio 68H
>
>
> Amien Rais : Cari Akar Permasalahan di Papua
> Usai rapat kabinet terbatas kemarin Kepala Badan Intelijen Negara
> Syamsir Siregar mengaku menuduh pernyataan bekas Ketua MPR Amien Rais
> soal Freeport telah membuat warga terprovokasi. Kritik Amien selama
> ini soal kontrak karya Freeport dituding menyulut kemarahan warga
> Papua yang kemudian berujung kepada bentrokan dengan aparat keamanan
> pekan lalu. Bagaimana jawaban Amien Rais menghadapi tudingan ini?
> Reporter KBR68H Andy Budiman pagi tadi mewawancarai Amien Rais.
> Berikut petikannya.
>
>
>
>
>
>
> Andy Budiman (T): Pak Amien anda dituduh memprovokasi di Freeport,
> komentar
> Anda?
> Amien Rais (J): Saya kira saudara Syamsir juga tidak menuduh (saya)
> langsung.
> Mengatakan secara tidak langsung mungkin terprovokasi oleh statemen-
> statemen elit nasional. Secara tidak langsung itu memang bisa saja.
> Artinya sesuatu yang sangat jauh. Itu dapat dikatakan tidak langsung.
> Tapi maaf, anjuran saya kepada Kepala BIN, daripada mencari kambing
> hitam, mengapa tidak mencari akar permasalahan di Papua. Hari ini
> saya baca ada anjuran Amien Rais disuruh ke Tembagapura. Saya sudah
> ke sana. Orang-orang ini mungkin belum. Saya pergi sudah agak lama.
> Saya pernah menginap satu malam di Tembagapura. Dari pagi sampai sore
> saya tour dengan istri saya. Memakai sepatu boot, mantel dan topi
> penambang. Kemudian seharian saya berkeliling di sana. Dan, waktu itu
> saja, tahun 1997 saya tidak bisa tidur. Saya melihat ketidakadilan,
> ada kezaliman, ada penghinaan, terhadap bangsa Indonesia, karena
> Freeport melakukan sebuah operasi pertambangan yang tidak masuk akal.
> Merusak lingkungan, sparepart-nya nggak beres. Kemudian menjarah
> kekayaan alam semaunya. Jadi kalau saya saat ini mengatakan secara
> tegas, saya sebagai anak bangsa tidak terima ada sebuah korporasi
> asing yang betul-betul menjarah alam kita. Saya sekarang justru
> melihat senang sekali bahwa Panja Freeport, Komisi V sudah akan
> berangkat ke Timika. Jadi kita tunggu, yang betul Amien Rais atau
> Syamsir Siregar.
>
>
> T: Jadi Anda sudah langsung ke sana dan merasakan langsung
> ketidakadilan itu?
>
>
> J: Betul
>
>
> T: Sebetulnya, Anda bisa menjelaskan posisi anda dalam kasus Freeport
> ini. Terutama menyorot tentang kekerasan yang terjadi pada Kamis
> pekan lalu?
>
>
> J: Kalau itu saya tidak tahu sama sekali. Yang jelas saya ikut
> belasungkawa. Saya merasa sedih sekali, bahwa teman-teman POLRI,
> prajurit kecil yang sedang melaksanakan tugas, menjadi sasaran amuk
> massa. Keganasan dari orang-orang yang sudah merasa tertekan. Jadi
> saya kira perlu dipisahkan antara kriminalitas, dalam arti pembunuhan
> dengan sengaja, sistematik terhadap alat negara itu, dengan masalah
> inti, yaitu ketidakadilan yang dirasakan oleh rakyat Papua selama
> puluhan tahun belakang ini. Saya pernah ke Panti, 12 km dibawah
> Tembagapura, saya melihat rakyat Papua di sana itu kehidupannya masih
> zaman batu. Masih zaman gubuk-gubuk. Luar biasa. Perempuannya pakai
> rumbai-rumbai semua, laki-laki pakai koteka, dan kepala-kepala suku
> melihat lalu lalang pejabar Freeport serta kekayaan yang cemerlang
> dan mencolok itu. Masyarakat di sana kemudian marah karena hanya
> mengais-ngais beberapa gram emas di pembuangan saja sudah ditembaki,
> diusir, dan lain-lain. Jadi saya usul kepada pemerintah, jangan
> mencari kambing hitam. Saya diajak juga mau. Anytime, anywhere, kita
> berangkat bersama-sama ke sana. Kalau perlu eksekutif dan legislatif
> ke sana. Saya dampingi. Kita bicara baik-baik. Bagaimana memperbaiki
> keadaan. Jangan lantas seperti zaman dulu, memprovokasi, menakut-
> nakuti. Sudah bukan zamannya saya kira.
>
>
> T: Bagaimana anda mendefinisikan sikap anda dalam kasus Freeport?
> Apakah yang lebih dipersoalkan adalah ketidakadilan atau sebetulnya
> ada soal asing di situ?
> J: Saya kira soal ketidakadilan. Saya punya falsafah, sebagai orang
> yang beragama, beriman, sesungguhnya karunia Illahi yang diberikan
> kepada bangsa manapun juga, berupa minyak, gas alam, emas, perak,
> tembaga, apapun juga, itu adalah untuk umat manusia. Tidak bisa
> dikangkangi oleh satu negara saja. Tetapi itu harus di share dengan
> umat manusia yang lain. Cuma dalam peraturan bernegara, si pemangku,
> pemilik kekayaan alam, itulah negara yang ketempatan kekayaan alam
> tadi. Dialah yang kemudian harus mengelola, memproteksi kekayaan alam
> untuk dinikmati oleh pertama-tama bangsa yang bersangkutan, kemudian
> bangsa lain boleh ikut share tapi dengan ketentuan yang adil, duduk
> sama rendah, berdiri sama tinggi. Jadi saya bisa mengatakan,
> Indonesia ini ibarat ayam bertelor emas, mari telornya kita bagi.
> Dengan orang Amerika, Australia, Jepang, Korea. Tetapi itu atas dasar
> treaty, MoU atau kesepakatan yang sederajat. Jangan sampai kita
> pemilik kekayaan jadi jongos, jadi pelayan, sementara majikannya itu
> orang luar. Jadi apakah kita bisa terima? Sekarang saham kita hanya 9
> persen lebih tidak sampai 10 persen. Jadi seperti zaman penjajahan.
> Ketika saya ceramah di Melbourne, di depan para penambang Australia,
> saya mengatakan kalau saya sebagai orang Indonesia menuntut pembagian
> lebih gede, bukan 10%, misalkan 40% bisa nggak? Mengapa Tidak? Itu
> semua tergantung kesepakatan.
>
>
> T: Jadi problemnya adalah kesepakatan. Ini yang membuat anda dan
> beberapa kawan-kawan beberapa waktu yang lalu membuat sebuah gerakan
> untuk merevisi seluruh kontrak karya di bidang pertambangan?
>
>
> J: Persis. Jadi kalau ada bedanya saya dengan teman-teman, dengan
> pemerintah, itu terus terang adalah, bahwa kami-kami ini yakin kalau
> kontrak karya itu bisa di renegosiasi untuk kepentingan bangsa kita.
> Lihatlah Venezuela, berhasil. Bolivia berhasil. Saya kira Mahathir
> Mohamad pun berhasil. Kita negeri lebih gede lagi, apa takutnya? apa
> salahnya? Kita tidak akan memaksakan. Kita tetap menghormati fakta,
> sebuah fakta mesti dilaksanakan. Saya lebih dari pada tahu hal itu.
> Tetapi, overtime, tahun 1991 itu terjadi cacat hukum yang luar biasa.
> Ini kalau dibuka, saya kira Freeport dimarahi oleh pemerintahnya
> juga. Tahun 1991 itu, mula-mula kita cuma dapat 10%, lantas Pak
> Ginandjar (Menteri Pertambangan dan Energi Ginandjar Kartasasmita)
> berhasil menambah kita menjadi 20%. Yang 10% milik pemerintah, yang
> 10% lagi dibeli oleh Aburizal Bakrie. Tetapi entah bagaimana Aburizal
> Bakrie menjualnya ke Nusamba, milik Bob Hasan. Bob Hasan bangkrut,
> kemudian sahamnya ini dibeli kembali oleh Freeport. Kata teman-teman
> ahli, buying back itu melanggar hukum. Melanggar undang-undang. Tidak
> boleh Freeport membeli kembali kepunyaan Indonesia. Mestinya Bob
> Hasan ini menjualnya ke Republik Indonesia bukan ke Freeport. Tentu
> ini ada otak-atik, ada sesuatu. Jadi dari sini saja saya kira banyak
> hal yang perlu diuruskan.
>
>
> T: Setelah Anda membangun gerakan untuk merevisi seluruh kontrak
> karya pertambangan , apakah ada banyak kelompok, misalkan di daerah-
> daerah yang ada perusahaan yang mengeksplorasi kekayaan alam
> Indonesia menghubungi Anda, misalnya mengajak kerjasama dalam rangka
> membangun gerakan merevisi tadi?
>
>
> J: Belum ada. Cuma saya banyak tamu yang mendukung bahwa langkah yang
> saya ambil ini benar. James R Moffett Presiden Direktur Freeport,
> pernah mengajak saya makan siang, musim panas tahun 1997. Saya masih
> Ketua MPR RI. Di Washington. Saya pidato di USINDO, dia menunggu di
> luar. Pada intinya dia mengatakan, Mr. Rais, kritik-kritik Anda itu
> sangat mengganggu kami. Bagaimana kalau saya antar ke Timika, naik
> helikopter bersama-sama, mengelilingi di atas tambang dan lain-lain,
> untuk mengetahui bahwa kami juga sudah memperbaiki lingkungan, kami
> juga tidak separah seperti yang Anda sangka, dan lain-lain. Tapi saya
> tidak pernah mengiyakan, mungkin malaikat menolong saya. Kalau saya
> ikut dengan dia, kemudian saya pulang dikasih amplop transportasi,
> mungkin ngomongnya tidak begini. Sekarang ini di New York Times sudah
> dibuka laporan keuangan.
>
>
> T: Saya ingin bertanya, selain di Freeport sekarang ada gerakan anti
> Exon di Cepu, ada sejumlah masyarakat yang memblokade jalan, kemudian
> ada pembakaran camp Newmont Nusa Tenggara Barat. Apa saran Anda?
> Mungkin anda punya sesuatu yang ingin disampaikan kepada warga yang
> ada disana yang menyimak acara ini?
>
>
> J: Janganlah pernah kita ini melakukan destruksi. Kalau soal demo
> dalam arti menyalurkan aspirasi itu wajar dalam demokrasi. Tapi kalau
> membakar, melempar, merusak, apalagi sampai membunuh aparat, ini
> malah tidak akan menyelesaikan masalah, malah makin memperburuk
> keadaan. Dan makin jauh dari apa yang diinginkan. Saya ingin melihat
> masalah Cepu ini. Saya setuju dengan teman-teman. Saya melihat Pulau
> Jawa ini kan sudah makin padat penduduknya. Kebutuhan rezeki di
> antara anak-anak bangsa di pulau yang kecil ini begitu parah.
> Sementara tanah pertanian tidak akan bertambah. Salah-salah makin
> menyempit karena untuk perumahan dan lain-lain. Sesungguhnya Allah
> yang Maha Rahman Maha Rahim, Maha Kuasa dan Maha Pemurah itu
> memberikan penduduk di Jawa ini, di perut bumi Pulau Jawa ada
> reservoir minyak yang jumlahnya mungkin milyaran barrel. Karena Exon
> ngotot kontrak karya sampai 30 tahun. Mestinya menurut saya, ini
> diutamakan untuk kita. Untuk orang Indonesia. Supaya rezeki anak cucu
> kita itu tidak makin menyempit. Ironisnya, setahu saya, Pertamina itu
> cari kontrak kerja sampai ke Libya, Nigeria, Kazakstan, tetapi selalu
> kalah dengan Petronas. Nah sekarang di depan kita, Pertamina semua
> orang yakin bisa. Bank pasti ngantri untuk meminjami, diberikan ke
> Exxon. Jadi hal ini perlu dipikirkan. Jangan berpikir hari ini saja,
> tapi lihatlah nasib anak cucu kita mendatang itu bagaimana.
>
> Best Regards
>
> Dessy
>
> Media Relation KBR 68H
>
>
>
>
> http://www.geocities.com/herilatief/
>   [EMAIL PROTECTED]
>   Informasi tentang KUDETA 65/Coup d'etat '65
> Klik: http://www.progind.net/
> http://geocities.com/lembaga_sastrapembebasan/
>
>
>
>
>
>
> ---------------------------------
> New Yahoo! Messenger with Voice. Call regular phones from your PC for low,
low rates.
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
>
>
>
***************************************************************************
> Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia
yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
>
***************************************************************************
> __________________________________________________________________________
> Mohon Perhatian:
>
> 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
> 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
> 3. Reading only, http://dear.to/ppi
> 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
> 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
> 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
>
> Yahoo! Groups Links
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> Disclaimer: Although this message has been checked for all known viruses
>      using Trend Micro InterScan Messaging Security Suite, Bukopin
>            accept no liability for any loss or damage arising
>                from the use of this E-Mail or attachments.
>







Disclaimer: Although this message has been checked for all known viruses
     using Trend Micro InterScan Messaging Security Suite, Bukopin 
           accept no liability for any loss or damage arising
               from the use of this E-Mail or attachments.


***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke