http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=241125&kat_id=16
Sabtu, 25 Maret 2006



Divisi Infanteri di Papua 

Oleh : 
Aris Santoso
Pengamat TNI


Wacana pembentukan Divisi Infanteri (Divif) di Papua kembali bergulir setelah 
sempat dibatalkan Jenderal Endriartono Sutarto pada penggal terakhir periodenya 
jabatannya selaku panglima TNI, Desember 2005. Rencana pembentukan Divif di 
Papua disampaikan Pangkostrad Letjen TNI Hadi Waluyo saat menghadiri upacara 
sertijab panglima Divif 1/Kostrad, Senin, 13 Maret 2006. Sebenarnya, rencana 
pembentukan Divif di Papua adalah gagasan lama yang muncul di masa KSAD 
Jenderal Ryamizard. 

Kalau kita perhatikan, banyak program lain dari Angkatan Darat yang 
pelaksanaannya ditunda atau dibatalkan sama sekali. Termasuk dalam hal ini 
rencana pengembangan Divif. Ketika figur mantan KSAD Jenderal Ryamizard mulai 
surut, program itu sempat tenggelam. Dan entah kenapa kini muncul kembali. 
Tentu masyarakat menunggu penjelasan dari pihak AD, mengapa sebuah program 
dilaksanakan, dan mengapa pula ditunda atau dibatalkan. Kalau penjelasannya 
logis, tentu masyarakat akan menerima. Terkadang Angkatan Darat memang unik. 
Mereka seperti memiliki logika sendiri, yang belum tentu bisa dipahami secara 
mudah oleh awam. 

Isu sensitif
Ada baiknya gagasan pembentukan Divif di Papua ditinjau kembali, mengingat pada 
hari-hari ini militerisme di Papua telah berkembang menjadi isu yang sangat 
sensitif. Kompleksitas masalah di Papua berkaitan dengan isu pemerataan 
kesejahteraan, keadilan, dan kasus tambang emas Freeport, menjadikan kawasan 
Papua kurang kondusif bagi pembentukan institusi militer baru. Jangan sampai 
muncul anggapan TNI kurang berempati pada aspirasi rakyat, bila tetap 
menjalankan rencana tersebut, terlebih dalam waktu dekat. Meski Angkatan Darat 
tidak memiliki konstituen sebagaimana parpol, namun AD memiliki magnitude yang 
tak kalah besarnya --bahkan mungkin lebih besar-- ketimbang parpol. Sedemikian 
pentingnya institusi AD di mata rakyat, maka AD harus memberi apresiasi yang 
layak pada aspirasi rakyat, berkenaan dengan program-program AD ke depan, 
termasuk rencana pendirian Divif baru, atau komando yang lain. 

Kita berharap para penentu kebijakan di TNI, khususnya AD, bisa secara jernih 
membaca situasi mutakhir di Papua. Jangan sampai rencana pembentukan Divif di 
Papua mengulang apa yang dulu pernah terjadi di Jakarta, Aceh, dan Maluku. 

Rencana pembentukan korem di kodam Jaya sempat terjadi perdebatan, karena 
dikhawatirkan akan memperpanjang rentang kendali (span of control), pada 
wilayah Jakarta yang dari segi geografis tidak terlalu luas, namun sarat dengan 
masalah sosial, politik dan keamanan. Kini kita bisa melihat buktinya, dua 
korem di Jakarta sama sekali tak ada gaungnya. Situasi yang hampir serupa 
pernah terjadi saat akan diaktifkannya kembali kodam di Maluku (1999) dan Aceh 
(2002), berdasar asumsi bahwa konflik atau pergolakan di kawasan tersebut, bisa 
''disembuhkan'' dengan pembentukan kodam. Menjadi pola pikir yang rancu bila 
ada persoalan di daerah, solusinya adalah membentuk kodam atau institusi 
militer lainnya. 

Kalau sebagian besar masyarakat di kawasan tersebut keberatan atas pembentukan 
sebuah komando baru, bisa jadi memang ada yang salah dengan rencana tersebut. 
Seperti ketika warga Jakarta pernah berpendapat, pembentukan korem di Jakarta 
adalah kesia-siaan belaka, pernyataan itu kini telah terbukti.

Strategi pertahanan
Perlu tidaknya pembentukan Divif (baru) sangat bergantung pada rencana 
strategis pertahanan negeri kita. Bisa jadi pembentukan Divif merupakan pilihan 
tepat, bila diingat Komando Teritorial --seperti Kodam-- sebenarnya tidak 
memadai untuk menghadapi serangan dengan intensitas tinggi dari luar. Selain 
sebagai satuan pemukul reaksi cepat dalam skala besar, dalam situasi normal 
(damai), keberadaan satuan setingkat Divif juga mempunyai aspek pencegahan 
(deterrent) tentang kemungkinan infiltrasi dari luar.

Melihat dinamika Papua mutakhir, rencana pembentukan Divif belum masuk kategori 
skala prioritas. Selain situasi yang kurang kondusif, ada baiknya anggaran 
dialokasikan untuk pengadaan alutsista (alat utama sistem persenjataan). 
Pembentukan Divisi memerlukan biaya besar, baik untuk pembangunan infrastuktur, 
persiapan personel, logistik, dan persenjataan. Lebih tepat pos anggarannya 
diprioritaskan untuk pengadaan alutsista, yang sebenarnya merupakan rencana 
lama, seperti menambah Sukhoi agar lengkap menjadi satu skadron, memperkuat 
unit kapal selam, atau perbaikan baterai rudal. Ironis, memang, kita adalah 
negara maritim, namun tidak memiliki unit kapal selam yang andal. Kabarnya, 
satu unit kapal selam kita (kita hanya punya dua unit), sedang overhaul di 
Korea, tanpa ada kejelasan kapan akan kembali ke Tanah Air.

Bila alutsista diperkuat, maka aspek yang juga menjadi tujuan pembentukan 
Divif, yaitu aspek deterrent, juga terpenuhi. Hanya, energi yang dikeluarkan 
untuk memenuhi alutsista lebih ringan, ketimbang membentuk sebuah Divif, 
lebih-lebih di Papua. Dengan pertimbangan seperti itu, mengapa pula pembentukan 
Divif di Papua masih juga dilanjutkan?

Penting juga dijelaskan di sini, betapa selama ini tidak ada transparansi dalam 
program TNI, khususnya program pengembangan satuan infanteri --sebagai komponen 
pokok Divif. Masih kuat dalam ingatan kita, sekitar tiga tahun yang lalu, matra 
darat mencanangkan program lumayan ambisius, yaitu pembentukan 10 batalion 
berkualifikasi raider.

Dalam praktiknya, program pembentukan batalion raider tersebut, sebenarnya 
bukanlah satuan yang benar-benar baru, namun 'mengakuisisi' dari batalion yang 
sudah ada. Semisal Yonif 400/Raider (Kodam Diponegoro), intinya diambil dari 
Yonif 401/Banteng Raider (Semarang). Demikian juga Yonif 300/Raider 
(Siliwangi), intinya diambil dari Yonif 323/Kostrad (Ciamis). Cara serupa juga 
terjadi pada satuan raider di Kodam lain.

Yang masih belum jelas di sini, bagaimana perkembangan batalion yang lama, 
seperti Yonif 401, Yonif 323, dan yang lain? Mengingat karakter TNI AD, yang 
sangat menghargai nilai historis, sudah pasti satuan yang lama tidak 
dilikuidasi. Itu berarti ada pos anggaran yang cukup besar untuk tetap 
menghidupkan satuan yang lama, seperti membangun markas baru, perumahan 
prajurit, dan persenjataan. 

Bila proyek mengaktifkan kembali satuan (setingkat batalion) yang lama saja 
belum ada kejelasan, bagaimana mungkin berencana membentuk satuan lain yang 
skalanya berlipat-lipat, yaitu sebuah Divisi Infanteri? Sebaiknya dibereskan 
saja dahulu proyek pembentukan satuan raider, beserta bataliyon yang 
ditinggalkan.

Singkatnya, pembentukan Divif di Papua bukanlah prioritas. Terlebih sekarang 
adalah era transparansi, baik menyangkut anggaran maupun policy, rasanya tidak 
mungkin membuat proyek skala besar tanpa melibatkan peran masyarakat (melalui 
DPR).

Ikhtisar
*Pangkostrad Letjen Hadi Waluyo kembali menggulirkan rencana pembentukan Divif 
baru di Papua.
*Rencana pembentukan Divif di Papua dimulai pada masa KSAD Jenderal Ryamizard 
Ryacudu, tapi dibatalkan oleh Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto 
Desember 2005.
*Sebaiknya rencana pembentukan Divif di Papua ditinjau kembali sebab hari-hari 
ini militerisme di Papua telah berkembang menjadi isu yang sangat sensitif 
terkait masalah Freeport. 
*Rencana pembentukan Divif di Papua mengulang pembentukan korem dan kodam di 
Jakarta, Aceh, dan Maluku. 
*Divif belum merupakan prioritas. Sebaiknya anggaran dialokasikan untuk 
alutsista


[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke