REPUBLIKA

Jumat, 24 Maret 2006


Berani Bercita-cita 

Oleh : Zaim Uchrowi 



Pertengahan 1970-an. Bocah itu masih duduk di kelas dua SD. Dari satu-satunya 
televisi di kampungnya di Singosari, Malang, ia 'mengenal' anak-anak Barat 
seusianya. Ia pun membayangkan betapa menyenangkan bermain dengan anak-anak 
itu. Ia ingin berbincang dengan mereka, menggunakan bahasa mereka. Ia ingin 
menulis surat pada mereka. Bagaimana caranya? Ia tak tahu. Ia hanya bisa 
memendam keinginan itu.

Berlalunya tahun mengantarkan anak itu ke bangku SMP, sekolah pertama yang 
mengenalkannya bahasa Inggris. Tanpa ia sadari, ia begitu antusias dengan 
pelajaran itu. Bahasa Inggris menjadi pelajaran favoritnya. Apalagi ia mendapat 
guru yang disebutnya sangat asyik mengajar. Guru yang bukan hanya mencatat di 
papan tulis serta berbicara di depan kelas, namun sesekali memutarkan kaset 
lagu-lagu berbahasa Inggris dan meminta murid-muridnya mencatat lirik lagu 
tersebut. Ia tak pernah melupakan Pak Yono, gurunya itu.

Anak itu segera menjadi terbaik dalam bahasa Inggris di sekolahnya. Ia tidak 
pernah ikut kursus sekalipun. Tapi, bahasa sama sekali bukan hambatan baginya 
buat bergiat dan berprestasi di perusahaan multinasional. Tujuh tahun berkarier 
ia berhasil menjadi direktur dengan jangkauan sembilan negara. Ia bisa duduk 
sama tinggi dan berinteraksi dengan para eksekutif Barat kawan-kawan kerjanya. 
Ia bisa lakukan semua itu secara nyaman dengan tetap mempertahankan nilai-nilai 
yang menjadi keyakinannya. Ia bahkan tetap berjilbab. 

Di saat bersama para koleganya, dan menjadi satu-satunya Melayu di tengah 
kawan-kawan Baratnya, ia acap tersenyum pada diri sendiri. "Waktu kecil saya 
ingin berteman dengan anak-anak Barat, sekarang terlaksana." 

Cerita itu hanyalah salah satu kisah tentang pencapaian manusia yang tertuntun 
oleh cita-citanya di masa kecil. Ada ribuan bahkan jutaan kisah serupa yang 
dapat kita gali dari seluruh penjuru dunia. Inti kisah itu adalah sama: obsesi 
atau cita-cita masa kecil akan mengantarkan pada keberhasilan di masa dewasa.

Kisah semacam itu bertebaran di dunia olahraga. Para penggemar tinju tak akan 
pernah mendapati Chris John menjadi juara dunia kalau petinju Banjarnegara itu 
tak terpesona pada ayahnya yang menjadi petinju amatir. Para penggemar sepak 
bola tak akan pernah mengenal nama Nakata bila ikon sepak bola Jepang itu tak 
terobsesi dengan tokoh komik Tsubasa. Penggemar catur tak akan mengenal nama 
Karpov bila seorang Rusia kecil dengan bakat lemah tak nekat menembus 
hujan-hujan salju buat berlatih lantaran mimpinya menjadi pecatur besar.

Banyak guru, dokter, insinyur, arsitek, seniman, perajin, penulis, pilot, 
polisi, tentara, diplomat, periset, montir, tukang, akuntan, pemasar, bahkan 
pebisnis maupun kiai, sukses lantaran cita-citanya di masa kecil. Bagi mereka 
semua, cita-cita menjadi semacam tonggak yang akan memandu ke mana perlu 
melangkah. Dengan tonggak pemandu itu langkah menjadi terarah. Selain itu, 
langkah juga menjadi lebih berenergi lantaran cita-cita memiliki daya dorong 
luar biasa buat meraih keberhasilan. Bila kita tahu begitu dahsyat peran 
cita-cita bagi keberhasilan setiap orang, mengapa kita tak menggelorakan 
cita-cita?
"Gantungkan cita-citamu setinggi langit," begitu nasihat lama mengajari kita. 
"Berazam-lah (miliki kemauan yang tegas dan jelas), lalu bertawakallah," kata 
Tuhan yang tersebut dalam Alquran. Tapi, kita cenderung mengabaikannya. 
Padahal, bercita-cita jelas kunci pertama untuk meraih sukses. Padahal, 
bercita-cita tak memerlukan modal apa pun. GRATIS. Ketiadaan cita-cita yang 
membuat kita sulit ke mana-mana. Akibatnya, bangsa ini juga sulit ke mana-mana.

Sekarang saatnya mengakhiri keadaan itu dengan menggelorakan semangat 'berani 
bercita-cita'. Seluruh bangsa ini harus berani bercita-cita. Semua harus 
menyeru berani bercita-cita. Saya menyebarkan semangat itu lewat tulisan ini, 
maupun lewat jaringan Gerakan Masyarakat Sentosa di tingkat akar rumput. Selain 
itu, tentu setiap orang tua harus membimbing anak-anaknya agar berani 
bercita-cita; setiap pemimpin harus mengajak rakyatnya berani bercita-cita, 
setiap politisi mengajak semua pendukungnya berani bercita-cita, setiap ustaz 
mengajak umatnya berani bercita-cita, juga setiap guru tak berhenti memompa 
keberanian anak didiknya bercita-cita.

Alangkah dahsyat negeri ini ketika semua guru bertindak demikian hingga setiap 
anak SD memiliki cita-cita yang jelas sebagaimana murid kelas dua di Singosari, 
Malang, itu.


[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke