http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2006/4/17/b4.htm


Warung Global
DPR Tolak Utang hanya Cari Sensasi 


Kalau mendengar Indonesia memiliki utang tentu sudah tidak asing lagi. Bahkan, 
anak yang baru lahir pun dinyatakan sudah memikul utang. Sehingga hal ini 
menyebabkan kita bertanya-tanya kenapa Indonesia memiliki begitu banyak utang 
dan siapa yang selama ini mengelolanya, serta untuk apa. Kalau kini setelah 
kedatangan Presiden Bank Dunia ke Indonesia kembali menawarkan utang, haruskah 
kita menerimanya kembali? Walau secara tegas ada penolakan dari anggota DPR 
Pusat dengan alasan bahwa dana utang tersebut banyak yang tidak efektif bahkan 
ada banyak kebocoran, apa ia? Demikian antara lain wacana yang terungkap dalam 
acara Warung Global yang disiarkan di Radio Global FM 96,5, Sabtu (15/4). Acara 
ini juga direlai oleh Radio Genta Bali dan Singaraja FM. Berikut rangkuman 
selengkapnya.

=========================================================== 

Jujur di Denpasar mengatakan bahwa kenapa harus ditolak? Kalau memang utang itu 
digunakan dengan baik dan tepat. Saya rasa Indonesia tidak bisa tanpa bantuan 
luar negeri karena kondisi ekonomi kita masih belum bisa diharapkan dari SDM 
dan alam Indonesia. Kalau bantuan itu tepat untuk masyarakat atau menghidupkan 
ekonomi dengan pengawasan yang cukup dan mereka tidak mengkorupsi, kenapa tidak 
diterima saja? 

Pertanyaan selanjutnya kenapa DPR tidak menolak kenaikan gaji dan kenaikan 
harga BBM. Seharusnya para anggota DPR ini hidup berhemat. Diharapkan jangan 
sampai DPR yang terhormat ini "ogah-ogah tapi mau".

Lempod di Dalung menjelaskan pada dasarnya setuju kalau memang utang itu 
diefektifkan untuk melaksanakan program untuk menumbuhkan ekonomi mikro maupun 
makro. Artinya dengan Indonesia berutang itu diharapkan tidak ada korupsi dan 
lain-lain, sementara DPR berapa tunjangannya? Kalau utang itu diefektifkan 
untuk membangun ekonomi bangsa maka hasilnya akan bagus sekali. Dan kalau DPR 
diberikan tunjangan lagi sebesar Rp 10 juta pasti mau.

Sementara itu, Warnata di Tabanan mengatakan, pihaknya selaku masyarakat kecil 
sepakat, kalau memang itu utang kita harus sadari memang kita tidak mampu, 
siapa yang tidak punya utang? Kita pribadi pun punya utang, sepanjang itu 
memang dikelola untuk mendorong proses ekonomi ini bergerak yang bermuara pada 
kesejahteraan masyarakat. Tetapi selaku DPR semestinya pelaksanaan proses 
bergulirnya pemakaian utang tersebut harus dikontrol, bukan posisi untuk 
menolak. Dan kalau kita lihat berdasarkan informasi tidak sesuai karena adanya 
kontrol yang kurang.

Ari di Tegal Mengkeb di Tabanan mengharapakan agar DPR mengurus yang lain saja 
karena kredibilitasnya tidak mampu. Sebaiknya eksekutif saja yang berurusan 
dengan utang. Urus saja masalah perburuhan atau pikirkan gaji mereka saja. 
Dengan pemerintahan SBY atau eksekutif ada keyakinan mereka mampu untuk 
mengelola utang ini. 

Sujana di Karangasem menilai idealnya kalau hendak mengutang harus tahu 
tujuannya? Baru masalah menolak dan menerimanya itu politis sekali. Kalau 
tujuannya untuk membeli mobil mewah, untuk menambah tunjangan anggota Dewan, 
menambah dana purnabakti sebaiknya jangan berutang. Sebab, rakyat masih susah. 
Kalau ternyata utang tersebut efektif untuk pengembangan pembangunan tak 
masalah. Apalagi pembangunan negara itu memerlukan suntikan dana karena 
Indonesia belum mampu mandiri. Kalau memang dana itu produktif alangkah baiknya 
memang harus ngutang. Pertanyaannya untuk apa utang itu, 
pelaksanaan/pengawasannya bagaimana, dan auditingnya bagaimana? Yang terpenting 
sistem manajemen utang tersebut harus lebih baik.

Patuh di Padangsambian menyampaikan bahwa Indonesia ini seperti kecanduan 
narkoba selalu ketagihan. Kayaknya DPR ini lek-lek gurita atau lek-lek mekita, 
DPR menolak utang tersebut hanya untuk mencari popularitas, kalau DPR menolak 
kenaikan gaji baru pantas diacungi jempol.

Ririn di Tabanan menilai di satu sisi setuju-setuju saja. Pernah ditayangkan di 
sebuha TV swasta bahwa kita memiliki dana Rp 81 trilyun yang masih nganggur. 
Kalau itu memang benar ada kenapa harus ngutang lagi sehingga negara ini terus 
berutang lagi, dan bagaimana nanti caranya mengembalikan? Sekarang realisasinya 
apa, sekarang hati nurani untuk mengelola uang tersebut yang penting.

Sementara Made Arya di Denpasar mengatakan bahwa DPR menolak utang tersebut 
hanya untuk mencari sensasi kalau tidak menguntungkannya maka langsung ditolak. 
Jero Wijaya di Kintamani mendukung pernyataan DPR karena sepanjang kita lihat 
di era kepemimpinan Megawati pekerjaannya mencari seolah membayar utang dan 
pada SBY sepertinya memberantas korupsi dan membikin utang. Jadi, kita jangan 
terlalu mempolitisir atau menyudutkan DPR kalau kita terus seperti itu maka 
kapan Indonesia ini akan lebih baik. Yang paling penting di Indonesia bagaimana 
seorang pejabat sebelum menjabat memiliki kekayaan berapa dan setelah menjabat 
memiliki kekayaan berapa. Inilah yang perlu diperhatikan masyarakat.



IB Rai di Denpasar menambahkan dalam mempertimbangkan suatu permasalahan kita 
harus melihat sisi positif dan negatif. Kalau negatif apa yang disampaikan DPR 
ada benarnya, karena utang tersebut akan banyak memberikan peluang ke arah 
negatif. Seharusnya jumlah utang berkurang, tetapi kenyataannya tidak demikian, 
atau seharusnya tidak berutang lagi karena utang yang dulu tidak dikelola 
dengan efektif. 



Sekarang kalau kita lihat dari sisi positif utang bagaimana kita bisa membangun 
tanpa utang. Semestinya kita berpikir kalau kita sebagai pemimpin bangsa siapa 
yang diperhatikan? Tentu rakyat. Sekarang tergantung dari sisi pandang kita.

Sumandiasa di Kuta mengatakan bahwa DPRD pusat bisa belajar dari Bali karena 
berdasarkan pengalaman memberikan utang untuk program-program manusiawi seperti 
pengentasan kemiskinan. 



Dan, berdasarkan kajian di Bali bahwa program yang berbasis komunitas 
berdasarkan penguatan Bank Dunia sangat berhasil di Bali. Bahkan, Gubernur 
sendiri meluncurkan program yang sama yang berbasis komunitas meniru bank 
dunia. Dan dari sekian dana yang digulirkan kepada masyarakat kebocorannya 
sangat kecil atau 0%. Semua ini tergantung dari penguatan-penguatan atau 
stimulator yang ada di masyarakat mau ikut serta di dalamnya, sehingga tidak 
ada alasan lagi karena melihat dari kemiskinan yang ada sekarang kita sangat 
memerlukan bantuan bergulir dari Bank Dunia. 

(panca) 


[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke