Ocehan sampeyan sama bodohnya dengan ocehan orang2 yang dipesantren
yang sampeyan gambarkan itu (mudah terprovokasi menjadi anarkis).
Sama2 mudah terprovokasi tanpa bisa menganalisa lebih jauh. Cuma
bedanya mereka anarkis, sampeyan ngoceh gak keruan di milis.

Sampeyan cuma memandang orang anarkis itu buanyak, sehingga sampeyan
tidak memandang sebagian besar umat Islam lainnya yang ada di
Muhammadiyah, NU, Islib,  dll ?

Islam menghargai perbedaan agama dan Islam menentang pluralis,
liberalis, dan sekuler (menurut Din yang digambarkan Alvin) karena
Pluralis, liberalis, dan sekuler bukanlah agama...jadi kalaupun di
tentang faham2 tsb, itu tidak menafikkan arti Islam menghargai
perbedaan agama. Kecuali kalau Alvin berpendapat liberalisme,
pluralisme dan sekularisme adalah agama. Rasanya sudah jelas apa
yang ditentang MUI ttg faham2 tsb.


wassalam,
--- In [email protected], "Alvin Daniel"
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> ketidakadilan seperti apa yg Din maksud?
> ketidakadilan seperti kemiskinan dan keterbelakangan?
> kemiskinan bisa diatasi dengan cara mencerdaskan orang2...
> nah masalahnya adalah orang2 yg anarkis itu tidak pernah mau
> sekolah, mentok2nya mereka sekolah di pesantren dimana
> kebebasan murid2nya dibelenggu...
> gimana bisa maju? gimana bisa jadi orang cerdas? gimana
> bisa modern bila dipenjara oleh agamanya sendiri?
> harusnya Din sebagai orang pintar sudah tahu inti
> masalahnya...
>
> lucunya, Din sebagai dedengkot MUI mengakatan bahwa islam
> di indonesia menghargai perbedaan agama...tapi disatu sisi
> MUI pernah mengeluarkan fatwa anti pluralis, anti liberalis, dan
> anti sukelar yang berujung pada meningkatnya radikalisme
> islam indonesia...apakah itu berarti pendirian dia mudah
> berubah?
>
> atau karena di depan orang2 amrik, nyalinya ciut sehingga dia
> cuma mengeluarkan cerita2 yg baik saja tentang indonesia?
>
> hahaha...
> semua pemimpin di indonesia benar2 pelawak!
>
>
>
>
>
> --- In [email protected], "Ambon" <sea@> wrote:
> >
> >
> http://www.padangekspres.com/mod.php?mod=publisher&op=vi
> ewarticle&artid=14542
> >
> >
> > Radikalisme Islam Hanya Temporer
> > * Din: Akan Berkurang Jika Ketidakadilan Diatasi
> >
> >
> > Senin, 01-Mei-2006, 03:57:388 clicks
> > Washington, Padek-Andil umat Islam sangat besar
> mendorong demokrasi di Indonesia. Soal adanya gejala
> radikalisme agama, tak perlu dikhawatirkan secara berlebihan
> karena hal itu adalah gejala temporer yang akan berkurang jika
> sumber-sumber penyebabnya diatasi, seperti kemiskinan,
> keterbelakangan, dan ketidakadilan.
> >
> >
> > Hal itu ditegaskan Ketua Umum PP Muhammdiyah Prof Dr Din
> Syamsuddin, dalam diskusi publik yang diselengarakan
> USINDO (persahabatan Amerika-Indonesia) di nasional press
> club, Washington DC Sabtu (29/4).
> >
> > Din sangat nyakin, selama arus tengah Islam seperti
> Muhammadiyah, NU, ormas besar lain, masih berpengaruh dan
> berperan, maka Islam Indonesia tetap menjadi faktor efektif
> Indonesia dan demokrasi Indonesia di masa depan. Oleh
> karena itulah, lanjut Din, Muhammadiyah tengah berbenah diri
> melakukan konsolidasi dan revitalisasi diri menjadi gerakan
> kebudayaan dan peradapan dinamis dengan pusat-pusat
> keunggulan strategis.
> >
> > Din juga menyatakan Negara Kesatuan Republik Indonesia
> yang berdasarkan Pancasilah adalah bentuk final dan ideal bagi
> rakyat Indonesia yang majemuk atas dasar suku, agama, dan
> bahasa. Itu ditegaskannya ketika menjawab pertanyaan tentang
> adanya ide negara Islam atau negara syariat Islam yang
> diajukan sementara kalangan umat Islam di Indonesia.
> >
> > Menurut Din, negara Pancasila adalah ijtihad politik para
> pendiri bangsa termasuk tokoh-tokoh Islam. Bahkan PP
> Muhammadiyah waktu itu, Ki Bagus Hadikusumo, adalah orang
> yang paling berjasa mengubah tujuh kata dengan kewajiban
> menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya menjadi
> kebutuhan. Tapi lanjut Din, tidak perlu alergi terhadap adanya
> gagasan negara Islam maupun negara syariat Islam. Karena
> dalam perspektif demokrasi, semua kelompok masyarakat
> punya hak untuk berpendapat selama disalurkan lewat
> mekanisme konstitusi di lembaga demoktrasi seperti DPR/MPR
> .
> >
> > Ceramah dan dialog ketua Umum PP Muhammadiyah yang
> juga wakil ketua umum MUI pusat ini disambut antusias para
> tokoh Amerika yang terdiri dari mantan diplomat, anggota
> kongres dan pengusaha. Mereka gencar bertanya tentang masa
> depan demokrasi di Indonesia terkait kendala radikalisme
> Islam.
> >
> > Dalam pertemuan dengan utusan khusus pemerintah AS
> tentang kebebasan beragama, John Hanford, Din
> meyakinkannya bahwa kebebasan beragama sangat ditunjang
> tinggi oleh Islam, sambil menegaskan ayat Al Quran tentang
> tidak ada paksaan dalam agama, karenanya umat Islam
> Indonesia telah menunjukkan toleransi besar dalam hidup
> berdampingan secara damai, sulit dibayangkan Indonesia
> seperti sekarang ini tanpa toleransi umat Islam sebagai
> kelompok mayoritas.
> >
> > Bahwa dewasa ini, menurut Din, lebih disebabkan karena
> adanya segelintir orang di kalangan umat berbagai agama, baik
> Islam maupu Kristen, yang fundamentalis dan kurang
> memahami asas hidup konsistensi dalam masyarakat
> majemuk, di samping masih lemahnya negara dalam
> menegakkan hukum.
> >
> > Kunjungan 10 hari Din Syamsuddin masih berlanjut hari ini
> dengan ceramah dan dialog bersama masyarakat Indonesia di
> KBRI Washington, DC dan ceramah di almamaternya UCLA
> tentang Islam dan "The Future of Democrasy in Indonesia: hari
> ini (1/5). (zaz)
> >
> > [Non-text portions of this message have been removed]
> >
>






***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]




SPONSORED LINKS
Cultural diversity Indonesian languages Indonesian language learn
Indonesian language course


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke