Wajah Buram Kehidupan Politik
SUATU peristiwa politik yang mungkin banyak orang mengabaikannya, pekan lalu mengisi pemberitaan media massa. Seorang birokrat merasa dipermalukan menyusul kekalahannya dalam memperebutkan kursi ketua dalam suatu musyawarah cabang partai politik di daerah kabupatennya. Ia tidak menduga dirinya akan kalah suara dari kandidat lainnya. Hal itu mengingat, tampilnya ia dalam bursa pencalonan atas permintaan pucuk pimpinan parpol tersebut di tingkat daerah propinsi, bahkan konon permintaan seorang pejabat tinggi negara.
Selain fakta primer yang terungkap di media massa itu, yang juga tak kalah menariknya untuk diamati adalah latar belakang pemikiran dan proses yang terjadi di balik peristiwa politik itu. Dari kejadian itu akan bertambah gambaran kita betapa parah carut-marut kehidupan politik di Indonesia sekarang ini. Paling tidak, sinyalemen yang berkembang selama ini mendapat pembenaran, yakni sinyalemen tentang amburadulnya proses perekrutan kader dan pengkaderan di tubuh parpol, rendahnya kualitas kinerja dan produktivitas parpol umumnya, dan tidak menentunya arah proses demokratisasi yang ditulangpunggungi parpol, dalam masa transisi yang entah kapan berakhirnya sekarang ini.
Merekrut kader parpol seyogianya tidak main comot, tanpa melalui proses uji kualitas dan dedikasi yang bersangkutan selama menjadi anggota atau dalam kiprahnya di masyarakat. Menjadi kader parpol tidak seharusnya atas dasar restu seseorang, siapa dan apa pun jabatan orang itu. Menjadi kader parpol jangan hanya dilandasi motivasi untuk melanggengkan jabatannya di lembaga pemerintahan.
Sangat disayangkan jika pemikiran semacam itu menjadi bagian proses mengantarkan seorang kader untuk menduduki kursi pengurus parpol. Betapa buramnya wajah kehidupan politik jika tiap parpol dipimpin pengurus yang berasal dari kader-kader comotan dengan motivasi pribadi seperti itu. Wajar jika peran parpol dalam menggali dan menyalurkan aspirasi politik rakyat akhir-akhir ini sering diambil alih organisasi kemasyarakatan, lembaga swadaya masyarakat, bahkan organisasi profesi, yang lahan utamanya bukan bidang politik.
Sinyalemen bahwa sebagian kader parpol sekarang ini memiliki motivasi beragam, dan bukannya motivasi yang dilandasi kesamaan cita-cita, tetap menjadi fenomena yang memprihatinkan. Setelah dipilih dan terpilih menduduki kursi di lembaga pemerintahan, mereka hanya berkutat berjuang demi motivasi nonideologisnya yang beragam itu. Orientasi perjuangan untuk meningkatkan derajat kesejahteraan rakyat, dinomortigakan, bahkan diabaikan. Yang utama kepentingan pribadi, kemudian kepentingan golongan atau parpolnya, baru kepentingan rakyat banyak. Kinerja fungsionaris parpol yang tidak sehat ini, berkontribusi besar terhadap buramnya kinerja pemerintah.
Munculnya wacana perlunya direnungkan kembali konsep negara kesejahteraan sebagai cita-cita pendiri bangsa, akhir-akhir ini, tak lepas dari kinerja pemerintah yang belum juga mampu menjadikan rakyat hidup sejahtera walaupun sudah merdeka 60 tahun. Berkembangnya pertanyaan, kapan masa transisi sekarang ini akan berakhir, juga tidak lepas dari kenyataan tidak menentunya arah proses demokratisasi modern yang kini sedang bergulir. Pendalaman demokratisasi dan pemenuhan hak-hak sosial warga secara universal dan penanggulangan kemiskinan adalah bagian dari aspek-aspek negara kesejahteraan (welfare state).
Dengan mengangkat peristiwa politik kecil yang mungkin terabaikan tadi, kita ingin mengungkapkan persoalan besar yang kita hadapi sekarang ini. Pertama, pemerintah belum memiliki rancangan pembangunan jangka panjang yang bertahap pelaksanaannya, jelas arahnya, jelas pula orientasinya bagi peningkatan kesejahteraan rakyat. Kedua, pemerintah belum memiliki konsep menyeluruh sebagai tuntunan untuk memprediksikan kapan masa transisi yang berlarut-larut sekarang ini akan berakhir. Ketiga, orientasi perjuangan parpol baru terpaku pada upaya mencari dan mempertahankan kekuasaan, kelompok maupun pribadi, belum menyentuh orientasi kesejahteraan rakyat.
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "ppiindia" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.

