Siliwangi dari Masa ke Masa
Sejak resmi berdiri, Siliwangi berada di garda depan dalam mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan. Pengabdian demi pengabdian telah diraihnya secara gemilang sehingga wajar bila karya juang Siliwangi dicatat dalam lembaran sejarah perjuangan bangsa. Beberapa karya juang Siliwangi antara lain:
KETUA Presidium Badan Pembina Citra (BPC) Siliwangi, Mayjen TNI (Purn) H. Tayo Tarmadi (kedua kanan), menyerahkan buku "Siliwangi adalah Rakyat Jawa Barat, Rakyat Jawa Barat adalah Siliwangi" kepada sesepuh Siliwangi, Solihin G.P., disaksikan anggota Presidium BPC Siliwangi, Ny. Popong Otje Djundjunan, saat peluncuran buku tersebut di Markas Kodam III/Siliwangi, Jumat (19/5).*EDI PURWANTO/"PR"
Agresi Militer Belanda I
Divisi Siliwangi berjuang menghadapi serangan Belanda hingga terjadi pertempuran sengit di sepanjang Bogor-Bandung. Tanggal 22 Juli 1947 terjadi duel altileri pasukan Siliwangi dengan Belanda di Sukabumi. Tanggal 27 Juli 1947, pasukan Siliwangi di Cirebon berjuang menahan gempuran pasukan Belanda. Di Bandung Selatan terjadi pertempuran sengit hingga pasukan Siliwangi berhasil memukul mundur pasukan Belanda. Tanggal 31 Juli 1947, pasukan Siliwangi berhasil merebut Kota Sukabumi dan Tangerang dari tangan Belanda.
Siliwangi Hijrah
Akibat hasil "Perjanjian Renville", Divisi Siliwangi diharuskan pindah (hijrah) ke Jawa Tengah, tanggal 1 hingga 22 Februari 1948.
Pemberontakan PKI Muso
Pasukan Divisi Siliwangi dari Brigade Sadikin dan Kusno Utomo bergerak menumpas PKI di daerah Jawa Tengah, kemudian mengepung dan menyerang Madiun dari arah Barat. Pada tanggal 30 September 1948, pasukan Siliwangi dari batalyon Kian Santang menguasai Madiun yang menjadi markas PKI Muso.
Agresi Militer Belanda II
Tanggal 19 Desember 1948, Belanda melakukan serangan umum secara besar-besaran ke jantung pusat pemerintahan RI di Yogyakarta. Panglima Besar Jenderal Sudirman mundur ke luar kota. Begitu pula dengan pasukan Siliwangi. Seterusnya, melakukan perang gerilya.
Long March Kembali ke Jawa Barat
Pasukan Siliwangi kembali ke Jawa Barat yang dikenal dengan peristiwa long march. Namun dalam perjalanan terjadi bentrokan senjata antara pasukan Siliwangi dan tentara Belanda di Desa Sukowaluh, Kaloboto, Kebumen, Jawa Tengah.
Penumpasan DI/TII
Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) Kartosuwiryo ialah kelompok bersenjata yang cukup kuat di Jawa Barat. Pasukan Siliwangi menggunakan sistem pagar betis. Sementara Batalyon 328/Kujang II adalah yang mencari dan menangkap Kartosuwiryo.
Penumpasan PRRI/Permesta
Siliwangi untuk pertama kalinya mendapat tugas operasi di luar Jawa. Dengan berbekal pengalaman tempur yang berbasiskan dukungan rakyat, Siliwangi berhasil menjalankan tugasnya.
Kontingen Garuda II di Kongo, Afrika
Pada tahun 1960, PBB meminta Divisi Siliwangi untuk turut berpartisipasi secara langsung dalam tugas memelihara dan menjaga perdamaian di Kongo (sekarang Zaire). Pimpinan pasukan PBB, Jenderal Von Horn menyatakan kontingen Garuda II dapat disejajarkan dengan kesatuan militer kelas satu di dunia.
Penumpasan Kahar Muzakar
Tanggal 3 Februari 1965, Peleton I Kompi D Batalyon 330/Kujang Siliwangi dipimpin Peltu Umar Sumarsana berhasil menyergap tempat persembunyian Kahar Muzakar di daerah Sungai Lasolo Sulawesi Tenggara. Kopda Ili Sadeli, anggota Yon 330/Kujang menembak dada Kahar Muzakar hingga mati.
Penumpasan RMS
Tanggal 25 April 1950, diproklamasikan Republik Maluku Selatan (RMS). Guna mencapai cita-citanya, RMS bertindak dengan tangan besi dan meneror rakyat. Pasukan Siliwangi dari Brigif 15 dengan pasukan Batalyon 310, 315, dan 320 diperintahkan menumpas RMS.
Dwikora
Tanggal 3 Mei 1964 diumumkan Dwi Komando Rakyat (Dwikora). Pasukan Siliwangi dari Brigif 15/Tirtayasa dikirim dalam operasi Dwikora.
Penumpasan G30S/PKI
Mungkin hanya di wilayah Kodam III/Siliwangi, PKI dilumpuhkan tanpa harus terjadi pertumpahan darah. Siliwangi dengan pembinaan teritorialnya (binter) menumpas G30S/PKI dengan mengedepankan penegakkan hukum.
Penumpasan Gerombolan PGRS/Paraku
Setelah berhasil menumpas G30S/PKI, gembong-gembong PKI yang berhasil melarikan diri bergabung dengan Pasukan Gerilya Rakyat Serawak (PGRS) di Kalimantan Barat. Kodam Siliwangi menugaskan Brigade Linud 17 Kujang I/Siliwangi dan Brigif 12 Guntur untuk melakukan operasi Sapu Bersih PGRS/Paraku.
Kontingen Garuda VIII di Timur Tengah
Batalyon Infantri (Yonif) 312/Kala Hitam (BS) Kodam Siliwangi diberangkatkan ke Timur Tengah sebagai inti pasukan kontingen Garuda VIII.
Penugasan di Aceh
Selama operasi penumpasan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) pimpinan Hasan Tiro, prestasi paling menonjol diperlihatkan Yonif 320/Badak Putih. Kesuksesan Yonif 320/Badak Putih karena pemimpin dan mental prajuritnya berpedoman kepada Wangsit Siliwangi, yaitu tidak melukai hati rakyat, berempati kepada masyarakat kecil, bersosialisasi dengan pendekatan agama, bersikap sabar dan rendah hati.
Penugasan di Ambon
Saat ini 2 batalyon prajurit Siliwangi sedang bertugas di Ambon. Mereka menjaga dan mengamankan daerah-daerah rawan konflik. (Edi Purwanto/Hazmirullah/"PR")***
++++
http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/052006/22/0901.htm
Aktualisasi Nilai Juang Siliwangi
Oleh H.A.M. Ruslan
MEMASUKI usia ke-60, Kodam III Siliwangi tetap menjadi andalan dan kebanggaan. Dalam berbagai penugasan, prajurit Kodam III Siliwangi berhasil menunjukkan jati dirinya sebagai "prajurit pejuang", sekaligus "tentara rakyat". Di sepanjang rentang pengabdiannya, prajurit Siliwangi membuktikan diri sebagai tentara yang lahir, tumbuh, dan berjuang bersama rakyat.
Karena itu, peringatan Hari Jadi ke-60 Kodam III Siliwangi ini kita jadikan momentum untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Allah Yang Mahakuasa, disertai introspeksi bagi peningkatan kualitas pengabdian kepada masyarakat, bangsa, dan negara.
"Siliwangi adalah Rakyat Jawa Barat, Rakyat Jawa Barat adalah Siliwangi" bukan hanya slogan, tetapi secara empiriks telah menjadi unsur penting dalam pembinaan kekuatan Siliwangi dalam menghadapi berbagai ancaman terhadap keutuhan bangsa dan negara. Kemanunggalan prajurit Siliwangi dengan rakyat Jawa Barat bukan hanya dipersatukan oleh sejarah, tetapi juga ditempa oleh tantangan yang dihadapi sehingga Siliwangi dan rakyat Jawa Barat tetap utuh, ibarat gula jeung amisna.
Fakta historis
Sebagai bagian integral dari Angkatan Darat (AD) dan Tentara Nasional Indonesia (TNI), prajurit Kodam III Siliwangi dibina dengan doktrin standar yang berlaku di lingkungan TNI, ditempa dengan latihan sebagai strategi pembinaan kemampuan dan kekuatan, serta dipersatukan oleh sejarah dan pengalaman dalam penugasan serta tekad menjadi alat pertahanan negara yang andal.
Namun sebagai insan sosial, prajurit Siliwangi senantiasa berinteraksi dengan masyarakat dan kebudayaan tempat di mana mereka mengabdikan dirinya. Tidak bisa dimungkiri, Jawa Barat telah menjadi ruang dan mandala tempat di mana prajurit Siliwangi menjalin sistem nilai dan tradisi juangnya.
Nilai budaya Sunda dipercaya sebagai pedoman dan prinsip prajurit Siliwangi, yang selalu mendapat tempat yang baik di tengah masyarakat mana pun. Keluhuran nilai juang prajurit Siliwangi dipercaya berakar pada sejarah dan budaya masyarakat Jawa Barat.
Budayawan Sunda, Hidayat Suryalaga, pernah mengungkapkan bahwa nilai juang Siliwangi berakar pada budaya Sunda yang silih asah, silih asih, dan silih asuh. Budaya tersebut di lapangan benar-benar dihayati oleh setiap prajurit Siliwangi. Karena itu, dimana pun mereka berada, selalu diterima dengan baik. Selain itu, para prajurit pun pandai beradaptasi dengan lingkungan baru sehingga tidak pernah dianggap sebagai orang asing oleh rakyat.
Di sisi lain, Jawa Barat berkali-kali menjadi mandala perang yang seru. Pada masa penjajahan dan revolusi fisik, pemberontakan meletus di berbagai wilayah di Jawa Barat. Mudah dipahami mengapa cerita heroik dapat ditemukan di mana-mana, baik yang sudah terekam dalam sejarah lokal maupun masih berupa cerita rakyat.
Berbagai peristiwa heroik bukan saja mencerminkan heroisme, tetapi juga memperlihatkan bagaimana kemanunggalan prajurit Siliwangi dan rakyat Jawa Barat terjalin. Kisah tadi antara lain pernah diungkapkan oleh Jenderal Ibrahim Adjie. Ketika saya mewawancarainya 12 tahun silam, dan hasilnya dimuat di Pikiran Rakyat 5 November 1994, Pak Adjie (demikian Jenderal kelahiran Bogor itu biasa disapa) mengaku keberhasilan tentara Siliwangi yang dikomandaninya (1959-1966) melucuti kekuatan DI/TII sebagai peristiwa paling mengesankan sekaligus mengharukannya dalam sepanjang karier militernya. Bukan hanya kemenangan yang membanggakan, tetapi keikhlasan rakyat Jawa Barat dalam membantu prajurit Siliwangi mengepung DI/TII itulah yang mengharukannya.
Diakuinya, keberhasilan pasukannya melumpuhkan kekuatan DI/TII karena bantuan dan keterlibatan rakyat. Tentara keluar masuk kampung disediakan makan, kopi, bubuy hui (ubi bakar), bubuy sampeu (singkong bakar), atau jagung bakar. Rakyat termobilisasi melakukan pagar betis, mengepung DI/TII sehingga banyak tentara DI/TII yang menyerah karena lemas kelaparan. Jangankan untuk memburu, sekadar untuk memanggul senjata pun tak kuasa. Kemanunggalan TNI dengan rakyat itulah yang mampu menggoyahkan sendi-sendi pertahanan lawan.
Karena itulah, menjaga kemanunggalan Siliwangi dengan rakyat Jawa Barat, menurut Pak Adjie, adalah keharusan dan menjadi bagian dari pembinaan kekuatan yang penting. Itulah sebabnya, dalam masa kepemimpinannya berbagai kegiatan yang melibatkan rakyat terus digalakkan. Sebelum ABRI Masuk Desa (AMD) diformalkan, Kodam Siliwangi sudah terbiasa bahu-membahu dengan penduduk kampung membangun SD, jembatan, desa, dan sebagainya. Bahkan Siliwangi terkenal dengan operasi budi dan operasi bakti-nya.
Dalam pandangan Pak Adjie, selain berbentuk kegiatan yang melibatkan rakyat, hal penting dalam menjaga kemanunggalan prajurit Siliwangi dan rakyat Jawa Barat adalah tekad untuk tidak berbuat dosa pada rakyat. Selain itu, pasukan Siliwangi dituntut bijak menempatkan diri di tengah-tengah masyarakat. Selain kehati-hatian dalam membaca perkembangan, sebagai kekuatan bersenjata TNI dituntut fair, yakni mengetahui apa yang perlu digarap dan menjauhi apa yang tidak perlu (hasil wawancara dengan Pak Ibrahim Adjie terekam dalam buku H.A.M. Ruslan, dari hari ke hari: percakapan dengan sejumlah tokoh, diterbitkan tahun 2000, halaman 319-322).
Tentu masih banyak fakta sejarah yang menyiratkan betapa padunya Siliwangi dengan rakyat Jawa Barat. Sekadar contoh bisa disebut long march yang ditempuh pasukan Siliwangi pada 1 Februari 1948. Perjanjian Renville yang dicapai RI-Belanda pada 17 Januari 1948 mengakibatkan pasukan-pasukan RI harus hijrah dari kantong-kantong gerilyanya ke daerah yang dinamakan sebagai "di belakang garis van Mook". Mereka dengan hati berat meninggalkan kampung halamannya bahkan segala apa yang mereka miliki dengan risiko mendapat serangan lawan di tengah perjalanan.
Peristiwa hijrah pasukan Siliwangi bukan hanya memperlihatkan kemanunggalan Siliwangi dengan rakyat, tetapi juga bagaimana disiplin, kesetiaan pada tugas, dan keikhlasan perjuangan prajurit Siliwangi. Pasukan yang terhimpun di dalam berbagai satuan Siliwangi hijrah ke daerah Republik di Jawa Barat seperti Bandung, Cirebon, Tasikmalaya, bahkan hingga ke Yogyakarta.
Rententan fakta historis mengungkapkan nilai-nilai juang Siliwangi yang bertumpu pada heroisme dan pantang menyerah, rela berkorban, berdisiplin, ikhlas dalam melaksanakan tugas dan memegang teguh janji. Kesediaan untuk memberi lebih dari yang diminta sebagaimana tersirat dari idiomatika Esa Hilang Dua Terbilang.
Nilai-nilai juang Siliwangai masih relevan untuk masyarakat Jawa Barat. Hanya perlu ditransformasikan sesuai dengan taraf perkembangan masyarakat Jawa Barat sebagai lingkungan strategisnya.
Aktualisasi
Spektrum ancaman yang dihadapi masyarakat Jawa Barat (dan Indonesia) sudah berubah. Ancaman fisik berkurang, namun tidak berarti potensi ancaman tidak ada. Berbagai analisis intelijen menunjukkan invasi militer bukan ancaman yang populer untuk kondisi sekarang, namun lebih mengarah kepada ancaman sosial, ekonomi, budaya, dan politis.
Pergeseran spektrum ancaman menguatkan pentingnya pembinaan kemanunggalan prajurit Siliwangi dan rakyat Jawa Barat. Ancaman sosial hanya bisa dihadapi bila semua elemen sosial padu. Di sinilah terasa pentingnya membentuk kebersamaan di dalam makna (the commoness in meaning) tentang spirit perjuangan Siliwangi sehingga imanent (hadir utuh bulat) dalam jiwa rakyat Jawa Barat. Karena itu, perlu dipikirkan langkah-langkah ke arah pembinaan keterpaduan, pemupukan karakter dan pembangunan bangsa (nation and character building), dan kesiapan menghadapi tantangan yang sewaktu-waktu bisa saja muncul.
Konsep sistem pertahanan rakyat semesta amat memungkinkan digelarnya kegiatan yang melibatkan rakyat dan tentara. Melalui simulasi peran, rakyat bukan hanya dilatih menguasai kemampuan dalam kapasitasnya sebagai komponen cadangan dan pendukung, tetapi juga belajar menghormati tugas dan peran tentara sebagai kekuatan utama. Sebaliknya, melalui kegiatan bersama pula, tentara diingatkan untuk menghayati betapa pentingnya dukungan rakyat dalam penugasan.
Penghormatan atas tugas dan peran rakyat dan tentara amat penting dalam membangun kultur tentara yang profesional. Kultur ini hanya akan tumbuh bila tentara memiliki otonomi relatif untuk menangani urusan-urusan militer dan membatasi diri untuk terlibat dalam masalah-masalah di luar domain kemiliteran. Sebaliknya, rakyat sebagai elemen masyarakat sipil memiliki otonomi relatif untuk menangani urusan-urusan sipil, dan membatasi keterlibatannya dalam menangani urusan militer.
Banyak program yang diusung pemerintah Provinsi Jawa Barat menuntut kebersamaaan di antara rakyat Jawa Barat dan prajurit Siliwangi. Meski fungsi teritorial TNI dibatasi, kehadiran prajurit Siliwangi dalam menggerakkan roda pembangunan di Jawa Barat sudah menjadi bagian dari dinamika masyarakat tatar Pasundan.
Prajurit di jajaran Kodam III Siliwangi dapat bekerja sama dengan pemerintah daerah di Jawa Barat dalam mengembangkan sumber daya nasional yang ada di wilayah Jawa Barat. Pengembangan dimaksud bukan hanya untuk kepentingan pertahanan nasional di daerah, tetapi juga untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat. Itulah sebabnya, Rakorbang (Rapat Koordinasi Pembangunan) penting menyerap aspirasi tentara, sehingga penyusunan tata ruang dan program pembangunan kondusif bagi penataan pertahanan.
Misalnya, di mana kawasan pabrik harus dibangun. Kawasan mana yang harus dipertahankan sebagai "lumbung padi", atau zona pertanian. Meski orientasi utamanya untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat, namun bila situasi memaksa dilakukannya mobilisasi kekuatan, potensi-potensi tadi bisa dikerahkan untuk kepentingan pertahanan wilayah.
Sementara pada level infrastruktur, kebersamaan antara prajurit Siliwangi dan rakyat Jawa Barat antara lain dapat diwujudkan melalui berbagai bentuk keterlibatan dalam menjaga stabilitas sosial, membangun sarana dan prasarana umum, hingga berbagai penyuluhan tentang perbaikan gizi dan perilaku sehat. Perlu dirancang bagaimana operasi-operasi bakti TNI kembali digelar dengan sasaran turut meningkatkan percepatan pencapaian IPM 80 pada 2010. Dengan jajaran petugas kesehatan yang memadai, Kodam III Siliwangi memiliki potensi besar dalam membentuk perilaku sehat di kalangan masyarakat.
Di sisi lain, menjaga integrasi sosial menjadi penting di tengah derasnya arus informasi global. Serbuan informasi global tidak selamanya relevan dengan nilai, norma, dan tatanan hidub berbangsa. Padahal, ancaman di masa datang mengarah kepada ancaman nonfisik berupa penghancuran karakter dan pelemahan ikatan moral. Di sinilah penguatan komitmen kebangsaan amat dibutuhkan.
Dalam konteks ini, Prajurit Siliwangi dan rakyat Jawa Barat harus bahu-membahu membangun mentalitas pemuda. Segmen penduduk ini paling rawan, namun juga paling menentukan nasib bangsa ke depan. Pemuda, demikian Bung Karno pernah bilang, bukan hanya pupuk masa depan, tetapi juga bibit sekaligus ladang jiwa tempat di mana nasionalisme dan patriotisme dapat tumbuh dengan subur.
Karena itu, wadah pembinaan generasi muda yang pernah dimiliki tentara perlu dikaji ulang, sehingga tetap relevan dengan dinamika dan peta ancaman di masa mendatang. Akhirnya, Dirgahayu Kodam III Siliwangi: nu jauh urang deukeutkeun, geus deukeut urang paheutkeun, geus paheut urang silih wangikeun.***
Penulis, Ketua DPRD Jabar
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
SPONSORED LINKS
| Cultural diversity | Indonesian languages | Indonesian language learn |
| Indonesian language course |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "ppiindia" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.

