PERJANJIAN DENGAN SETAN? ( I )
  (Sebuah Esai Tentang Puisi Heri Latief: Perjanjian Dengan Setan)
  
  “Siapa itu yang tanda tangan bikin perjanjian dengan setan?” (Heri Latief, Amsterdam, 18 Mei 2006)
  
  Dunia dengan realitanya antara manusia dan kehidupan, adalah suatu penjelasan terhadap sejarah panjang yang membagi “wajah dunia” kedalam dua bentuk yang saling kontradiktif, yaitu antara kebaikan dan keburukan. “Dua wajah” yang selalu hadir secara berdampingan dan bersamaan, suatu bentuk keabsolutan riil dari sejarah yang terbagi antara “baik dan buruk”. Walaupun “baik dan buruk” tampil dalam praksisnya yang terkadang samar, sangat tipis, dan manusia selalu menariknya pada tesis kerelativitasan diantara keduanya; tetapi itu merupakan sejarah yang kerap hadir hingga pada celah terdalam kehidupan manusia.
  
  Ya, antara “baik dan buruk” yang selalu termanifestasi dalam nilai-nilai tentang kehidupan dan kemanusiaan; nilai-nilai yang telah menjadi suatu ukuran baku dalam relasi antar sesama manusia untuk kehidupannya. “Baik dan buruk” merupakan abstraksi yang telah diakui praksis-praksisnya secara realistik pada sejarah perkembangan masyarakat, terutama tentang sejarah kemiskinan dan kejahatan terhadap kemanusiaan, yang menegaskan tentang adanya suatu batasan tegas yang menjelaskan antara “baik dan buruk” tersebut. Tentunya dunia seakan terbagi pada “dua wajah”, bukan pada bentuk visualisasi tetapi pada realitanya. 
  
  Sejarah tentang kemiskinan dan kejahatan terhadap kemanusiaan, menjadikan kehidupan merupakan realita diatas “pesakitan” ataupun meniscayakan suatu bangunan masyarakat yang semakin kronis dan meradang. Sedangkan pada sisi kehidupan lainnya ada bagian terkecil dari keseluruhan masyarakat yang menguasai kehidupan tersebut; bahkan lebih ironis ketika mereka mampu untuk membentuk kehidupan mayoritas masyarakat lainnya sesuai dengan apa yang dikehendakinya.
  
  Dan tentang kemiskinan atau kejahatan kepada kemanusiaan merupakan ekses dari penguasaan. Mana yang baik dan mana yang buruk? Tentunya ini merupakan perdebatan tentang proses (praksis) dan hasil akhir dari proses tersebut kepada keseluruhan masyarakat. Kebaikan dan keburukan merupakan nilai yang disepakati secara bersama dan diturunkan dalam bentuk praksis-praksis yang saling mempengaruhi dalam kehidupan manusia. Kekronisan dan meradangnya suatu kehidupan meniscayakan suatu tujuan kepada kematian. Ketika kematian itu selalu tampil sebagai realita diantara “baik dan buruk” pada sejarah yang telah membagi “wajah dunia”. 
  
  Masyarakat miskin dan masyarakat korban kejahatan merupakan realita tentang suatu bentuk ketidakadilan yang dibangun oleh unsur-unsur yang berdiri di atas masyarakat; yaitu subyek-subyek pengendali kekuasaan. Sehingga ketidakadilan tersebut merupakan bagian dari rutinitas tentang kehidupan (atau sesuatu yang telah menjadi “biasa”), dan realita ketidakadilan selalu hadir dengan efek-efek phantasmal (seperti khayalan) dalam ruang psikologi mayoritas masyarakat yang “dimiskinkan dan dikorbankan”. Demikian juga dengan reformasi semu yang selalu dijejalkan pada realitas masyarakat di republik ini, ketika kekuasaan uang mampu berpraksis memanipulasi perolehan suara dalam tiap ajang “demokrasi”, dan hasilnya tetap dinilai sebagai “demokrasi” oleh kaum yang menguasai sistem tentang “demokrasi” itu. (bersambung)
  
  Mei 2006, Leonowens SP

           
---------------------------------
Love cheap thrills? Enjoy PC-to-Phone  calls to 30+ countries for just 2¢/min with Yahoo! Messenger with Voice.

[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]




SPONSORED LINKS
Cultural diversity Indonesian languages Indonesian language learn
Indonesian language course


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke