TEMPO
Selasa, 13 Juni 2006 | 16:50:59 WIB 

Kolom 
Pembaca, kami akan memuat kolom secara lebih variatif. Kolom ini akan ditulis 
oleh para pakar, yang berkompeten. Seperti kolom sebelumnya, pembaca diberi 
kesempatan untuk memberikan tanggapan, komentar, atau sanggahan terhadap materi 
isinya. Mohon pengirim tanggapan mencantumkan identitas jelas. 
Terima kasih. 

++++

La Ode Ida

Bencana dan Mitologi Kekuasaan
Kamis, 01 Juni 2006 


TEMPO Interaktif, Jakarta: Hidup di negeri ini akhir-akhir ini memang terasa 
sedikit agak mengerikan. Betapa tidak. Krisis ekonomi kian tak menentu kapan 
akan berakhir, bahkan justru semakin menjadikan rakyat banyak di bangsa ini 
menderita. Masalah yang terjadi di beberapa daerah juga tak kunjung 
terselesaikan. Yang paling dahsyat adalah terjadinya bencana alam dan musibah 
lain yang membawa korban jiwa manusia begitu banyak, silih berganti dari satu 
daerah ke daerah lain, seolah-olah tak ada hentinya. Dan Sabtu pagi lalu, dunia 
kembali dikejutkan oleh gempa tektonik di Yogyakarta dan Jawa Tengah, yang 
menelan korban manusia sekitar 4.000 jiwa. Kondisi korban materinya hampir 
seperti di Aceh dan Nias, yakni rumah-rumah penduduk dan bangunan lain umumnya 
rata dengan tanah.

Secara material, bencana-bencana itu sudah pastilah akan menyedot energi dan 
materi yang demikian banyak dan tak pernah direncanakan sebelumnya. Semuanya 
harus ditangani secara darurat, termasuk merehabilitasinya. Padahal, kalau saja 
peristiwa bencana tidak terjadi, segala pembiayaan itu bisa digunakan untuk 
secara perlahan melakukan perbaikan kondisi sosial dan ekonomi di daerah lain 
yang tertinggal. Tapi apa boleh buat. Solidaritas kita sebangsa dan setanah air 
memang harus diwujudkan dengan kepedulian untuk mengatasi masalah bersama, 
termasuk berkorban untuk membantu saudara-saudara yang terkena musibah.

Bencana alam dan berbagai bentuk kecelakaan yang membawa korban jiwa manusia 
dan materi memang sering berada di luar kendali dan jangkauan pemikiran manusia 
biasa. Sebagian memang merupakan faktor teknis atau akibat dari human error. 
Namun, sebagian lainnya, terutama bencana alam, hanya bisa ditafsir atau 
direka-reka berdasarkan kemampuan ilmu pengetahuan yang bersifat relatif.

Kendati demikian, peristiwa bencana, termasuk kecelakaan, seperti yang terjadi 
di Indonesia sekarang ini memang tak bisa dilepaskan dengan penjelasan 
kosmologis. Memang penjelasan ini kerap dipandang tidak ilmiah karena lebih 
bersifat mistik atau kepercayaan belaka oleh sejumlah pihak. Namun, masih ada 
sejumlah orang yang benar-benar percaya atas kaitan antara peristiwa alam dan 
kondisi masyarakat, termasuk dalam kaitan dengan kepemimpinan yang ada.

Damardjati Supadjar, dosen Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada, misalnya, 
melihat perjalanan bangsa dan para pemimpinnya tak lepas dari latar belakang 
kosmologis. Dalam konteks ini, sementara pihak menafsirkan bahwa seorang 
pemimpin dari suatu kelompok masyarakat selalu terkait dengan alam sekitarnya. 
Alam tidak hanya berisi dan berwujud fisik yang tampak secara kasatmata duniawi 
(termasuk manusia), tapi juga berisi roh halus pengendalinya di luar jangkauan 
penglihatan manusia. Para roh itu, sebagaimana juga diakui oleh sementara 
ajaran agama, merupakan ciptaan Sang Khalik, eksis berada di alam gaib. Bagi 
sebagian pihak yang percaya, mereka merupakan bagian yang mengontrol tingkah 
laku manusia dan sekaligus di bawah kuasa Sang Khalik menjadi pengendali alam.

Dalam penjelasan yang terkesan sarat dengan nilai-nilai mistik ini, eksistensi 
pemimpin tak hanya cukup diterima oleh masyarakat manusia biasa, tapi juga 
harus diterima oleh alam beserta makhluk gaibnya. Di sebagian masyarakat, baik 
di Jawa maupun di luar Jawa, ada yang benar-benar yakin bahwa pemimpin harus 
mampu menciptakan rasa aman bagi masyarakatnya, menjauhkan masyarakat dari 
bencana yang berakibat pada korban manusia.

Tepatnya, seorang pemimpin harus bisa mengendalikan kekuatan alam nan gaib dan 
mengayomi seluruh rakyatnya. Maka tidak aneh, ketika muncul wabah penyakit dan 
berbagai bencana di suatu wilayah yang menimbulkan korban jiwa manusia, dalam 
perspektif mistikisme, ini merupakan isyarat bahwa pemimpin yang bersangkutan 
tak memperoleh restu dari alam atau yang bersangkutan tak bisa mengendalikan 
alam.

Di pihak lain, ada yang berpendapat gejolak alam merupakan ekspresi dari 
kemarahan atau peringatan kepada manusia untuk mengoreksi diri atas segala 
perbuatan, tindakan, atau kebijakan dalam mengelola sumber daya alam dan 
masyarakatnya. Ketika banyak elite yang begitu serakah, termasuk "memeras 
sumber daya alam dan merampas hak-hak rakyatnya", tapi mereka eksis atau terus 
dibiarkan bahkan diberi ruang luas untuk bermain memanfaatkan rezim 
kepemimpinan tertentu, alam akan menunjukkan kemarahannya.

Dalam konteks ini tampaknya menarik bagi kita untuk merenungkan pesan pendek 
(SMS) dari seorang teman yang menyatakan, "Bukan raja-raja kecil saja yang suka 
memeras rakyat, tapi juga muncul Ratu si empunya Bumi." Bahasanya kemudian, 
kalau isu seperti ini dikapitalisasi oleh para elite politik, itu akan bisa 
mengarah pada semakin bergairahnya mereka dalam melakukan manuver politik 
dengan menganggap pemerintah sekarang ini tidak diterima oleh alam sehingga 
harus dilengserkan. Padahal artikel ini bukan dimaksudkan untuk itu, melainkan 
hanya sekadar renungan reflektif terhadap berbagai bencana yang terjadi 
belakangan ini.

La Ode Ida, Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Home is just a click away.  Make Yahoo! your home page now.
http://us.click.yahoo.com/DHchtC/3FxNAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke