Rekan Ari,
   
  Saya cukup kaget dengan beberapa point yang disampaikan oleh Anda dibawah. 
Saya juga tidak yakin dengan tafsir Ibnu Katsir yang anda kemukakan (tolong 
beritahu sumber yg jelas dan valid dari tulisan yang anda kutip-judul buku dan 
tahun pembuatan). 
  Kiranya ada beberapa hal yang perlu saya luruskan terkait hal dibawah 
(tentunya sesuai dengan pemahaman saya).
  1. Setelah penaklukan kota Makkah, Islam telah berjaya di Jazirah Arab dan 
tersohor ke seluruh dunia dan hal ini sampai juga ke Pemerintah Romawi. Rasul 
juga telah menulis surat ke Kaisar Romawi sebagai tanda pengenalan diri. Rasul 
Saw tidak pernah berniat menyerbu Romawi,namun karena Romawi merasa tersinggung 
maka direncanakanlah penyerbuan ke Makkah dan Madinah. Rasulullah memerintahkan 
untuk berjag di perbatasan Madinah. Dan perang tidak terjadi karena Pihak 
Romawi tidak jadi menyerang ke Madinah.
  2. Tidak benar Rasululah saw tidak memberi penghormatan kepada orang kafir 
dzimmi,bahkan darah mereka dijamin oleh Islam dan diberi hak yang sama sebagai 
warga negara dalam kewajiban perang dll. Namun hal ini dikhianati oleh 
orang-orang Yahudi dengan membuat provokasi dan fitnah sehingga terpaksa 
Rasulullah memerangi mereka sampai mereka terjepit di suatu daerah dan 
Rasulullah meninggalkannya. Meninggalkan disini dimaksudkan 'tidak dibunuh dan 
tidak dipergauli dalam masyarakat' (Mengenai hal ini bisa dibaca dalam 
buku-buku Sirah Nabawiyah,misalnya susunan Dr Said ramadhan Al- Buthy atau 
Karya Syaikh Shafiyyur-Rahman Al-Mubarakfury, penerbit Robbani Press,Mei 2002). 
Nah sekarang sebenarnya jelas bahwa umat islam tidak akan pernah memerangi 
bahkan melindungi hak beribadah non Muslim,dengan pengecualian orang-orang 
Yahudi dan Nasrani yang selalu ingkar janji dan menebar fitnah kepada umat 
islam. Jadi tidak kepada semua Non Muslim.
   
  Demikian pendapat dari saya,mohon Saudara-saudara Muslim yang lain bisa 
menambahkan. Insya Allah. Supaya tidak terjerumus kembali dalam fitnah yang 
ditiupkan orang-orang kafir.
   
  Salam,
  Ahmad
  

Ari Condro <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          syariat islam untuk kultural, peraturan negara yg memberi persamaan 
hak dan
kewajiban pada semua manusia untuk strukturalnya.

tidak ada kesamaan hak dan kewajiban dalam negara agama, kecuali jika umat
muslim sudah dalam tahapan mampu mereformasi tafsir macam dibawah ini.

Sekarang, mari kita simak keterangan dalam *tafsir Ibn
Katsir*, tafsir yang paling banyak dirujuk oleh
kalangan Islamis-fundamentalis-salafi di mana-mana.

Ibn Katsir berkata:

Ketika urusan orang-orang musyrik sudah selesai dan
dapat diatasi, dan ketika masyarakat sudah
berbondong-bondong masuk Islam, dan ketika jazirah
Arab sudah dapat dibereskan, maka Allah memerintahkan
(kepada Nabi) untuk memerangi dua kelompok ahli kitab,
yaitu orang-orang Yahudi dan Kristen. Perintah ini
turun pada tahun kesembilan (hijrah). Karena itu,
Rasul SAW kemudian bersiap-siap untuk memerangi
orang-orang Romawi, dan mengajak orang-orang untuk
itu.

Tentang firman Allah "wa hum shaghirun", artinya,
mereka (tunduk dalam keadaan) hina dina. Karena itu,
tidak boleh memberikan penghormatan kepada orang-orang
dzimmi, juga tidak boleh mengangkat mereka di atas
derajat orang-orang Islam. Sebab mereka adalah
orang-orang yang hina dan celaka (adzilla', asyqiya'),
sebagaimana (ditunjukkan) oleh sebuah hadis riwayat
Muslim dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasul SAW
bersabda, "Jangan memulai mengucapkan salam kepada
orang Yahudi dan Kristen. Jika kalian bertemu dengan
mereka di jalan, maka kalian harus menydutkan mereka
(agar terpojok) ke tempat yang paling sempit".

Kemudian Ibn Katsir mengutip dengan lengkap surat
perjanjian (khithab) antara Khalifah Umar b. Khatthab
dengan orang-orang Kristen di kawasan Syam (Syria).
Surat itu mengandung banyak poin yang isinya membatasi
hak-hak orang Kristen begitu rupa sehingga kedudukan
mereka benar-benar dalam keadaan terhina seperti
perintah ayat dalam surah Al-Taubah itu.

Salah satu isi syarat itu, antara lain:

- orang Kristen berjanji pada diri mereka sendiri
untuk tidak membangun gereja, kapel atau biara yang
baru, juga tidak akan memperbaiki yang sudah rusak,
dan tidak mengambil dan menghidupkan kembali gereja,
kapel atau biara yang sudah dipakai oleh orang Islam.

- tidak akan mencegah orang Islam untuk masuk atau
mampir di gereja, baik siang atau malam.

- tidak akan meniru orang Islam, baik dalam hal
pakaian (peci, sorban atau sandal), atau pun gaya
potong rambut.

- tidak akan meniru gaya bicara orang Islam.

Dan syarat-syarat lain yang jumlahnya banyak. Yang
hendak mengetahui lebih lanjut, silahkan membaca
sendiri tafsir Ibn Katsir.

=> Kesimpulan: Dari keterangan-keterangan ini, dapat
disimpulkan bahwa orang-orang politeis, Yahudi, dan
Kristen harus diperangi, sehingga mereka takluk,
membayar jizyah, dan mengikuti aturan/hukum yang
membuat mereka terhina. Mereka, dengan kata lain,*
menjadi orang-orang dzimmi yang harus dihinakan.
Menurut sebuah hadis, mereka bahkan harus disudutkan
ke pinggir jalan.*

On 7/20/06, aris solikhah <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Saya memang meyakini mayoritas umat Islam tak menolak syariat Islam,
> kecuali yang mengakuinya. hehe he Alhamdulillah jika tak ada yang menolak
> syariat ISlam, saya cukup lega dan berbahagia. apalagi Buat anspirasi UU,
> misalnya perda syariah, UU dan RUU APP dan UU hukum, UU pemerintah lain.
> Alhamdulillah.
>
> Alhamdulillah mbah Danar juga tak menolak syariat ISlam lagi. Gitu dong
> mbah...., postingan mbah ke depan akan menunjukkannya. kalau mbah
> benar-benar tak menolak syariat Islam.
> Persoalan negara Islam bisa dibicarakan dan diskusikan nanti. Akan lebih
> enak ngobrol dan diskusinya kalau sudah banyak yang setuju syariat Islam.
>
> saya senang mendengarnya.
>
> salam hangat
>
> aris
>
>
> Keliru mbak.
>
> Baca baik baik posting dari teman teman Muslim. Mereka setuju,
> seperti mbak Lina, mas Dewanto, mas Ari dan kebanyakan sahabat dan
> saudara yang saya kenal, semua Muslim, untuk menjalankan Syariat
> dalam diri masing masing, bahkan memasukkan aspirasi Islam
> kedalamperundangan, sejauh itu baik bagi bangsa kita.
>
> Yang ditolak, oleh banyak Muslim dam Non Muslim, yang cinta bangsa
> ini, adalah PENDIRIAN negara agama. Bukan Syariat Islam.
>
> Saya, menolak negara agama, bukan karena karena saya Non Muslim,
> tetapi karena saya yakin, negara agama, agama apapun lho, juga
> Kristen atau Buddha, hanya akan membawa kesengsaraan bagi anak
> bangsa. Sejarah telah membuktikannya.
>
> Sebaliknya, TAK ada bukti, bahwa negara agama adalah makmur, adil,
> manusiawi. Taka ada. jadi untuk apa bukan?
>
> Jadi saya menolak, bukan Syariat Islam, tetapi negara Islam. BUKAN
> karena saya NON Islam. Juga negara Kristen, saya TOLAK.
>
> Faham kan?
>
> Salam
>
> danardono
>
> --- In [email protected] <ppiindia%40yahoogroups.com>, aris
> solikhah
> wrote:
> >
> > Mas Ahmad,
> > Selamat bergabung.
> > Mbah Danar bukan muslim, jadi wajar pula selama ini beliau
> memposting hal-hal yang sifatnya penolakan syariat Islam. saya
> maklum ko. Bila akidahnya saja tidak mau mengimani Islam, sangat
> dimaklumi jika beliau tak mempunyai keinginan syariat Islam
> diterapkan. saya hanya kadang agak sedikit heran dengan postingan2
> yang memakai label nama islami atau beberapa umat Islam yang
> terang2an menolak syariat Islam. But itu pun juga saya bisa
> memaklumi. Kalau menolak ya terus mau diapain, dimaklumi dan mari
> kita doakan saja. Hidup itu proses... hari ini menolak, how khows
> next time...
> >
> > salam^_^
> > aris
> >
> > RM Danardono HADINOTO wrote:
> > Mas, adakah kata kata saya yang berindikasi bahwa saya
> tidak/kurang
> > yakin akan agama yang saya anut? Tidak rela? Atau yang mau men-
> > campur adukkan keyakinan? dengan apa apa dicampur adukkan?
> >
> > Bukankah agama bagi kita semua, agama apapun, adalah agama, system
> > kehidupan? seperti yang saya katakan? Anda tidak setuju?
> >
> > Agama adalah wahyu, yang harus diimani, saya katakan, anda tidak
> > setuju?
> >
> > Komunisme atau demokrasi adalah system duniawi, yang adalah hasil
> > revolusi sejarah kemanusiaan, sedangkan agama adalah wahyu, anda
> > tidak setuju?
> >
> > Apa agama yang saya anut, tidak relevan dalam pembahasan ini,
> sebab
> > kita berpandangan yang sama.
> >
> > bagaimana?
> >
> > salam
> >
> > Danardono
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> > --- In [email protected] <ppiindia%40yahoogroups.com>,
> Al-Badruuni Enterprise
> > wrote:
> > >
> > > Satu hal yang saya tanyakan ke Bpk Danardono,
> > >
> > > Apakah Anda seorang Muslim?Lalu seberapa yakinkah Anda dengan
> > agama yang Anda anut? Karena sepertinya Anda tidak rela dengan
> > keyakinannya sendiri. Atau Anda termasuk orang yang ingin mencapur
> > adukkan keyakinan?
> > >
> > > Wassalam,
> > > Ahmad
> > >
> > > RM Danardono HADINOTO wrote:
> > > --- In [email protected] <ppiindia%40yahoogroups.com>, aris
> solikhah
> >
> > > wrote:
> > > >
> > > > Berawal dari sudut pandang berbeda maka akan melahirkan sikap
> > yang
> > > berbeda. Saya memandang ISlam bukan sekedar agama seperti yang
> > > lainnya namun ISlam adalah juga sistem kehidupan. Sedang mbah
> > tidak
> > > berpandangan demikian.
> > >
> > > DH: sekali lagi tanggapan:
> > >
> > > 1) Kita tak berbeda sudut pandang. Kita mempunyai definisi yang
> > sama
> > > bagi ketiga hal itu, demokrasi, komunisme dan agama (Islam).
> > karena
> > > itu, sikap kita tak harus berbeda.
> > >
> > > 2) Agama, adalah agama, tak ada umat yang menganggap
> > > agamanya "sekedar agama". Agama, bagi setiap masyarakat penganut
> > > adalah system kehidupan.
> > >
> > > 3) Berbeda dengan isme isme, yang adalah lahir dari revolusi
> > > kemasyarakatan, dan jawaban bagi masalah yang berlaku kala itu,
> > > agama dianggap wahyu oleh setiap penganutnya, tak tak dianggap
> > > buatan manusia dalam menjawab masalah keduniaan.
> > >
> > > 4) karena Islam, sebagaimana Kristiani, Yahudi, Buddha, Hindu
> dan
> > > lain lain, dapat dijalankan di dunia memakai isme isme yang ada,
> > > kecuali tentu komunisme, yang menolak agama.
> > > Demokrasi, dapat diwujudkan di negara Buddha, Hindu, Kristen
> > maupun
> > > Islam.
> > >
> > > Sebaliknya, agama dapat dihjalankan dalam alam a demokrasi,
> yakni
> > > aristokrasi, misalnya Saudi Arabia; Emirat Arab, Sultanat
> Brunei,
> > > dlsb.
> > >
> > > Disini kekeliruan mbak, dalam nenelaah system sosial politik
> ini,
> > > seolah mereka "ber-deret deret", padahal mereka dapat menjadi
> satu
> > > kenyataan sosial politik.
> > >
> > > Salam hangat
> > >
> > > danardono
> > >
> > > >
> > > > DINOTO wrote: 1) Demokrasi, komunisme dan
> > > islam. Ini tiga benda yang beda
> > > > substansinya, mana mungkin dideret deretkan untuk perbandingan?
> > > >
> > > > Demokrasi adalah just a system of governing a country. Instead
> > > > dipimpin oleh seseorang yang memerintah turun temurun, diganti
> > > oleh
> > > > team yang dipilih oleh rakyat. That's it. jalan tidaknya, ya
> > > > tergantung yang menjalankannya. Austria, swiss, Finnlandia,
> > > > Norwegia, Luxemburg, misalnya, berhasil. yang gagal, ya jangan
> > > > salahkan systemnya.
> > > >
> > > > 2) Komunisme adalah sebuah system dan program politik. Instead
> > > > pimpinan dari team yang dipilh rakyat, pimpinan dipegang oleh
> > SATU
> > > > partai, dan pemilikan faktor produksi oleh individu dilarang.
> > > >
> > > >
> > > > Konsep 1 dan 2, adalah konsep politik ekonomi, yang sangat
> > > duniawi,
> > > > tak ada unsur rohani, atau wahyu wahyuan. Semua dapat
> dibuktikan
> > > > oleh nalar. Yang ada hanya system reward atau hukuman duniawi,
> > tak
> > > > ada sorga atau neraka.
> > > >
> > > > 3) Islam adalah agama. Yang walaupun ada aspekt duniawi, namun
> > > hanya
> > > > sebagian dari seluruh substansi. Bukan masalah nalar, tapi
> iman,
> > > > karena di adalah dianggap wahyu.
> > > >
> > > > Tiap bangsa berbeda dalam menjalankan agama, dan
> mentafsirkannya.
> > > > Komunisme memusuhi kaum kapitalis, karena memang tak boleh ada
> > > yang
> > > > memiliki kapital. Demokrasi memusuhi tyran, karena memang tak
> > > boleh
> > > > ada tyrani.
> > > >
> > > > Islam mengandung semua unsur, ada yang kapitalis, ada yang
> > > proletar,
> > > > ada tuan tanah, ada buruh tani, ada banker ada nasabah. Jadi
> > > terdiri
> > > > dari manusia, yang economically dan sosially ber-hadap hadapan.
> > > >
> > > > Juga negara jiran yang beragama sama, belum tentu mempunyai
> > posisi
> > > > yang sama, karena kepentingan sosial ekonomi beda. Saudi
> Arabia
> > > > takkan mau, sampai matipun, menggabung dengan negara islam
> yang
> > > > melarat.
> > > >
> > > > jadi, jangan di-aduk aduk, mbak.
> > > >
> > > > Salam
> > > >
> > > > danardono
> > > >
> > > >
> > > >
> > > >
> > > >
> > > >
> > > >
> > > > --- In [email protected] <ppiindia%40yahoogroups.com>, aris
> solikhah
> > > > wrote:
> > > > >
> > > > >
> > > > > Dan seperti layaknya demokrasi dan komunisme yang bermula
> dari
> > > > sebuah wacana kemudian berkembang diterapkan dalam banyak
> > negara.
> > > > Begitu pula syariat Islam. Semua berawal dari wacana... so,
> > Wahai
> > > > umat yang Beriman pada Allah dan Rasul-Nya serta hari kiamat
> > mari
> > > > kita wacanakan di mana pun kita berada. Always Keep spirit. ^_^
> > > > >
> > > > > Never ending improvement............
> > > > > Samsul Bachri wrote:
> > > > > Sedikit menambahkan, bahwa kelompok liberalis yang mengusung
> > > > bendera
> > > > > Islampun pun ternyata belum pernah menyampakan statement
> yang
> > > > membela
> > > > > kepentingan Islam itu sendiri. Jadi kita sudah tahu seperti
> > apa
> > > > dan siapa
> > > > > mereka. Bahwa meraka secara tidak langsung telah mengatakan
> > > bahwa
> > > > mereka
> > > > > memang tidak membela kepntingan Islam. Semoga bukan karena
> > > faktor
> > > > ekonomi,
> > > > > karena sangat patut dikasihani jika kerana masalah ekonomi,
> > > mereka
> > > > harus
> > > > > menggadaikan segalanya.
> > > > >
> > > > > ----- Original Message -----
> > > > > From: "Al-Badruuni Enterprise"
> > > > > To:
> > > > >
> > > > > Sent: Sunday, July 16, 2006 8:37 PM
> > > > > Subject: Re: [ppiindia] Syariat Islam, sebuah wacana
> > > > >
> > > > >
> > > > > Assalamu alaikum wr wb,
> > > > >
> > > > > Sebagai orang Muslim (insya Allah) dan sebagai manusia biasa
> > > > (dengan
> > > > > segudang kekurangan dan kekhilafan) sedikit saya akan
> memberi
> > > > pandangan saya
> > > > > mengenai tulisan dibawah yang diposting oleh Bpk Danardono.
> > > > >
> > > > > Ide untuk menjadikan Syariah Islam sebagai pedoman dalam
> > > kehidupan
> > > > seorang
> > > > > Muslim merupakan kewajiban yang tidak terbantahkan,termasuk
> > > Muslim
> > > > di
> > > > > Indonesia. Syariah Islam memang sudah ditegakkan sejak masa
> > > > Rasulullah dan
> > > > > menjadi satu paket antara pedoman hidup sebagai pemeluk
> Islam
> > > dan
> > > > pedoman
> > > > > dalam hubungan kenegaraan atau masyarakat non Islam (yang
> > diatur
> > > > dalam
> > > > > Piagam Madinah).
> > > > >
> > > > > Sistem ini dilanjutkan oleh para Sahabat Khulafaur Rasyidin
> > > dengan
> > > > > serba-serbi beserta kelebihan dan kekurangan masing-masing.
> > > Namun
> > > > syariah
> > > > > Islam yang diterapkan sampai dengan Khalifah keempat
> dapatlah
> > > kita
> > > > jadikan
> > > > > contoh bagaimana sebenarnya aplikasi Syariah Islam secara
> > benar.
> > > > >
> > > > > Adapun masa dinasti Umayah,Abbassiyah dan seterusnya sampai
> > yang
> > > > terakhir
> > > > > (Pemerintah Turki Ustmani) merupakan aplikasi Syariah Islam
> > yang
> > > > tidak bisa
> > > > > kita pungkiri sebagai awan kelabu dalam sejarah perkembangan
> > > > Islam,meski di
> > > > > beberapa sisi juga sempat mengangkat nama Islam ke seluruh
> > > penjuru
> > > > dunia
> > > > > (tentunya hal ini juga kehendak Allah SWT).
> > > > >
> > > > > Wacana penegakan Syariah Islam di Indonesia mulai tercatat
> > dalam
> > > > sejarah
> > > > > dimana para ulama dan perwakilan Muslim waktu
> penandatanganan
> > > > Piagam Jakarta
> > > > > dengan sangat legawa (demi persatuan dan kesatuan bangsa)
> > > > menghilangkan
> > > > > beberapa kata sentral dalam penegakan Syariah Islam di bumi
> > > > Indonesia. Dan
> > > > > hingga sekarang kita semua tahu wacana Syariah Islam telah
> > > > ditiupkan oleh
> > > > > orang-orang yang tidak bertanggung jawab sebagai sesuatu
> yang
> > > tabu
> > > > dan bagi
> > > > > siapa yang membuka kembali pasti akan dicap sebagai
> > pemberontak.
> > > > >
> > > > > Sebenarnya satu hal yang ingin saya tanyakan kepada para
> > Saudara
> > > > > (khususnya yang beragama Islam), "Apa sih kekurangan dan
> > > > mudharatnya Syariah
> > > > > Islam?Tentunya seorang Muslim berpegang teguh kepada Syariah
> > > Islam
> > > > > bukan?Tapi mengapa banyak sekali orang yang mengaku Muslim
> > namun
> > > > seperti
> > > > > menghina syariahnya sendiri."
> > > > >
> > > > > Adanya pengalaman buruk di beberapa negara dan kawasan,bukan
> > > > merupakan
> > > > > alasan untuk men-diskreditkan Syariah Islam. Kita semua tahu
> > > > pengalaman
> > > > > tersebut merupakan kesalahan dalam aplikasi Syariah secara
> > benar.
> > > > >
> > > > > Salam,
> > > > > Ahmad
> > > > >
> > > > > RM Danardono HADINOTO wrote:
> > > > > Judul Buku: Syariat Islam, Pandangan Muslim Liberal
> > > > >
> > > > > Penulis: Al Asymawi, Saiful Mujani, Azyumardi Azra, Taufik
> > Adnan
> > > > > Amal, Ulil Abshar-Abdalla, et all.
> > > > >
> > > > > Editor: Burhanuddin
> > > > >
> > > > > Wacana syariat Islam bersifat pelik berkenaan dengan sifat
> > > hubungan
> > > > > Islam sebagai sebentuk keyakinan atau agama dengan formulasi
> > > hukum
> > > > > Islam historis yang selama ini disebut syariat (An-Na'im,
> > 1994).
> > > > > Pada saat syariat Islam dibicarakan dalam locus dan konteks
> > > > historis
> > > > > dan profan, maka syariat Islam harus siap didudukkan dalam
> > > bingkai
> > > > > penilaian yang fair tanpa berharap ada keistimewaan apapun
> > karena
> > > > > anggapan akan sakralitas fungsi dan sumbernya.
> > > > >
> > > > > Kebanyakan aktivis syariat Islam tidak siap meletakkan
> syariat
> > > > Islam
> > > > > dalam diskusi publik yang rasional. Statemen-statemen
> > > > > semacam "syariat tak bisa divoting," "syariat lebih unggul
> > > daripada
> > > > > konstitusi sekuler" misalnya, selalu mewarnai sidang-sidang
> > > tahunan
> > > > > di MPR belakangan ini. Ruang pergumulan untuk mengisi cetak
> > biru
> > > > > (blue print) konstitusi, terutama di negara-negara Muslim,
> > sering
> > > > > diramaikan oleh aspirasi religius sebagian kelompok untuk
> > memberi
> > > > > visi Islami pada konstitusi.
> > > > >
> > > > > Memang dewasa ini muncul kecenderungan baru di banyak negara
> > > Muslim
> > > > > untuk menerapkan syariat Islam dengan cara memanfaatkan
> > kebebasan
> > > > > dan demokrasi yang -suka tidak suka- juga memberi peluang
> bagi
> > > > > munculnya ekspresi keagamaan dalam kutub paling ekstrem
> > > sekalipun.
> > > > > Aspirasi penerapan syariat Islam berbanding lurus dengan
> > pasang
> > > > naik
> > > > > demokrasi di negara-negara muslim. Di antara mereka juga
> fasih
> > > > > melantunkan idiom-idiom demokrasi dan memaksimalkan lembaga-
> > > lembaga
> > > > > demokrasi sebagai sarana mencapai tujuan.
> > > > >
> > > > > Partai Keadilan di Indonesia, FIS di Aljazair yang
> memenangkan
> > > > > pemilu putaran pertama tahun 1991 yang kemudian dibatalkan
> oleh
> > > > > rezim militer, hanyalah sebagian contoh partai-partai
> Islamis
> > > yang
> > > > > memperjuangkan agenda syariat Islam dalam pemerintahan. Di
> > > sejumlah
> > > > > negara Muslim lain seperti Pakistan, Yordania, Mesir,
> Maroko,
> > > Iran,
> > > > > dan Kuwait, kelompok-kelompok Islamis mereka ikut bersaing
> di
> > > > pentas
> > > > > politik nasional masing-masing dengan menggunakan prosedur
> > > > pemilihan
> > > > > umum.
> > > > >
> > > > > Namun demikian, sebagian besar pemerintahan Islam dibangun
> > lewat
> > > > > prosedur non-demokrasi. Arab Saudi misalnya, secara konsisten
> > > > > memberlakukan syariat Islam dalam kehidupan sosial-politik
> > > melalui
> > > > > jalur otoritarianisme sejak Muhammad al-Saud dan Muhammad
> bin
> > > Abd
> > > > al-
> > > > > Wahhab menyepakati suatu kontrak politik yang melahirkan
> > kerajaan
> > > > > kaya minyak itu.
> > > > >
> > > > > Pemerintahan Taliban sebelum dirobohkan koalisi Amerika
> > Serikat
> > > > juga
> > > > > menjadi contoh yang baik betapa otoritarianisme menjadi
> jalan
> > tol
> > > > > bagi pelaksanaan syariat Islam yang eksesif di di
> Afghanistan.
> > > > > Demikian juga di Pakistan tahun 1980-an di mana
> > > > program "Islamisasi"
> > > > > yang digelindingkan rezim militer di bawah Zia ul-Haq
> menarik
> > > minat
> > > > > kekuatan politik Islamis -yang tidak pernah menuai simpati
> > rakyat
> > > > > dalam pemilu seperti Jamaat-i-Islami yang didirikan Abu A'la
> > al-
> > > > > Mawdudi-untuk berkolaborasi dengan militer.
> > > > >
> > > > > Buku yang ada di hadapan Anda ini pada dasarnya berambisi
> > > > > menyuguhkan sederetan fakta pengalaman negara-negara Islam
> > dalam
> > > > > berdialektika dengan syariat Islam dan isu-isu kontemporer
> soal
> > > > > demokrasi, HAM, civil society dan lain-lain.
> > > > >
> > > > > Pertanyaan pendek yang kerap menghantui adalah: "Mengapa para
> > > > > pengusung syariat Islam tak pernah menarik pelajaran dari
> > banyak
> > > > > negara Islam yang melakukan eksperimentasi yang gagal dalam
> > > > > memberlakukan syariat Islam?"
> > > > >
> > > > > Atau, jangan-jangan, kenyataan yang tersajikan di negara-
> > negara
> > > > yang
> > > > > menerapkan syariat Islam itulah yang mereka tempuh dengan
> > > sengaja,
> > > > > di mana pertumbuhan ekonomi per-kapita yang rendah, tingkat
> > > > > pendidikan dengan indikator tingkat melek huruf yang
> amburadul,
> > > > > pendeknya harapan hidup (life span), dan absennya kesetaraan
> > > > gender,
> > > > > siap dimaklumkan asalkan syariat Islam terlaksana.
> > > > >
> > > > > Alih-alih memberi garansi bagi terpeliharanya hak-hak politik
> > > > > (political rights) dan hak-hak sipil (civil liberties) warga
> > > > negara,
> > > > > para pengusung syariat Islam juga tidak serius membenahi -
> apa
> > > yang
> > > > > disebut Saiful Mujani sebagai- "indeks kemaslahatan publik."
> > > > Jikalau
> > > > > sedari awal berdirinya rezim syariat Islam selalu
> memaklumkan
> > > jalan
> > > > > pintas otoritarianisme, maka adalah sulit, untuk tidak
> menyebut
> > > > > mustahil, mengharapkan indeks kemaslahatan publik akan lahir
> > dari
> > > > > tangan-tangan mereka.
> > > > >
> > > > > Realitas sui-generis itulah yang akan diketengahkan buku
> yang
> > > > dibagi
> > > > > menjadi dua bagian ini. Sebelum beranjak pada bagian
> pertama,
> > > buku
> > > > > ini didahului "provokasi intelektual" juris asal Mesir,
> > Muhammad
> > > > > Sa'id al-Asymawi. Pendahuluan bertajuk "Jalan Menuju Tuhan"
> ini
> > > > > berdasarkan terjemahan dari salah satu sub-bahasan dalam
> > master-
> > > > > piece al-Asymawi, Al-Islam al-Siyasi (1992).
> > > > >
> > > > > Bagian pertama terdiri dari lima tulisan panjang,
> > yaitu "Syariat
> > > > > Islam, Konstitusionalisme, dan Demokrasi," "Negara dan
> Syariat
> > > > dalam
> > > > > Perspektif Politik Hukum Indonesia," "Syariat Islam di
> > > > > Aceh," "Simbolisasi, Politisasi dan Kontrol terhadap
> Perempuan:
> > > > > Studi Kasus di Aceh," dan "Selamatkan Indonesia dengan
> > Syariah."
> > > > > Tulisan pertama yang ditulis Saiful Mujani dimaksudkan untuk
> > > > > memotret gambaran komparatif negara-negara yang menerapkan
> > > syariat
> > > > > Islam dibandingkan dengan asas paling dasar dari raison
> d'etre
> > > > > berdirinya sebuah negara, yakni kemasla-hatan sebesar-
> besarnya
> > > bagi
> > > > > warganya.
> > > > >
> > > > > Tulisan kedua dari Arskal Salim dan Azyumardi Azra coba
> > mengulas
> > > > > hubungan negara (baca: Indonesia) dengan syariat dari
> > perspektif
> > > > > legal-formal dan sejarahnya. Taufik Adnan Amal dan Samsu
> Rizal
> > > > > Panggabean menukikkan kasus penerapan syariat Islam di
> > Nanggroe
> > > > Aceh
> > > > > Darussalam (NAD) sejak UU No. 44 tahun 1999 dikeluarkan.
> Kedua
> > > > > penulis dari Forum Kajian Budaya dan Agama (FKBA),
> Yogyakarta,
> > > ini
> > > > > menyinggung aspek kesejarahan, sosiologis dan yuridis dari
> > > > penerapan
> > > > > syariat Islam di NAD. Sementara aspek kesetaraan perempuan
> ter-
> > > > cover
> > > > > dalam tulisan Lily Z. Munir. Adapun tulisan Ir. M. Ismail
> > Yusanto
> > > > > memberikan perspektif dari sudut kalangan yang selama ini
> > gencar
> > > > > memperjuangkan penerapan syariat Islam di Indonesia.
> > > > >
> > > > > Bagian kedua dari buku ini berisi materi perdebatan dalam
> acara
> > > > > workshop terbatas yang diadakan Jaringan Islam Liberal (JIL)
> > pada
> > > > > tanggal 10-11 Januari 2003 di Puncak, Jawa Barat. Workshop
> itu
> > > > > bertajuk Shari'a: Comparative Perspective yang diramaikan
> oleh
> > > > > kehadiran Prof. Dr. Abdullahi Ahmed An-Na'im dan kontributor
> > JIL
> > > di
> > > > > seluruh Indonesia. Workshop itu sendiri terbagi menjadi tiga
> > > sesi;
> > > > > pertama, Shari'a: Comparative Country Case Studies; kedua,
> > > Shari'a:
> > > > > The Indonesia Case; dan ketiga, Toward Reformation of
> Islamic
> > > Law.
> > > > > Sesi pertama diantarkan oleh Prof. Dr. Abdullahi Ahmed An-
> > Na'im
> > > dan
> > > > > Prof. Dr. Azyumardi Azra, sementara Ir. M. Ismail Yusanto,
> > Samsu
> > > > > Rizal Panggabean dan Lily Z. Munir bertugas mengantarkan
> sesi
> > > > kedua.
> > > > > Adapun sesi ketiga tidak ada "narasumber" yang mengantarkan
> > > > diskusi,
> > > > > kecuali Ulil Abshar-Abdalla, Lies Marcoes-Natsir dan Syafiq
> > > Hasyim
> > > > > yang memandu sesi terakhir ini. Setiap peserta menjadi
> > narasumber
> > > > > dalam workshop di awal tahun ini.
> > > > >
> > > > > Demikianlah, isu syariat Islam selalu menawarkan perdebatan
> > > > menarik,
> > > > > bak tabir misteri yang tak kunjung usai dibicarakan. Dalam
> > > konteks
> > > > > nation-building kita, perdebatan di seputar isu syariat
> Islam
> > > bisa
> > > > > dikatakan setua umur republik ini. Hanya saja, kini kalangan
> > yang
> > > > > terlibat dalam perdebatan isu syariat Islam tidak lagi
> terpaku
> > > pada
> > > > > narasi-narasi besar. Tak ada lagi oposisi biner antara
> kalangan
> > > > > Islam vis-�-vis nasionalis dalam menerima atau menolak
> syariat
> > > > > Islam. Menariknya, baik yang mengusung maupun mementahkan
> > > penerapan
> > > > > syariat Islam oleh negara sama-sama berasal dari "rahim"
> > Islam,
> > > > sama-
> > > > > sama lahir dan besar dari tradisi Islam, dan sama-sama fasih
> > > > memakai
> > > > > justifikasi teologis dari kekayaan khazanah klasik Islam
> untuk
> > > > > membenarkan argumennya.
> > > > >
> > > > > Dengan demikian, persepsi dan pandangan umat terhadap konsep
> > > > syariat
> > > > > Islam tidaklah monolitik, apalagi jika syariat Islam
> dikaitkan
> > > > > dengan konsep politik, demokrasi dan pemerintahan. Persepsi
>
> === message truncated ===
>
> The great job makes a great man
> pustaka tani
> nuraulia
>
>
> ---------------------------------
> Talk is cheap. Use Yahoo! Messenger to make PC-to-Phone calls. Great rates
> starting at 1�/min.
>
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
> 
>

[Non-text portions of this message have been removed]



         

                        
---------------------------------
See the all-new, redesigned Yahoo.com.  Check it out.

[Non-text portions of this message have been removed]






------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Great things are happening at Yahoo! Groups.  See the new email design.
http://us.click.yahoo.com/TISQkA/hOaOAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke