Mbak Lina Dahlan,

Terimakasih replynya. Sebetulnya saya lebih mengharapkan diskusi berkembang
ke arah relasi antara manusia dengan lingkungan fisiknya, seperti yg diawali
oleh mas Iwan, dimana di dalamnya komponen penguasaan technology adalah
syarat perlu dan cukup untuk mencapai harmony / sustainability. Tetapi
okelah kalau Anda menginginkan membahas topic kawin kontrak.

On 7/24/06, Lina Dahlan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

bung YK, (gak ada hubungan ama JK kan ya?)...:-)

Saya pernah suatu saat dulu terdampar bersama JK di Darwin karena Qantas yg
kami tumpangi kehilangan cabin pressure sesaat setelah tinggal landas dan
harus berbagi cerita selama sehari dua malam... ya cuma itu, tentu saja
terlalu sedikit untuk bisa mengklaim mengenal JK. Betapapun setidaknya saya
bisa tahu kalau dia sangat pragmatis, optimist dan selalu bisa mencari sisi
untung dari kondisi buntung.

Pencarian root cause of problem memang sangat diperlukan biar
ditemukan cara yang jitu mengatasinya.

Ya, dan itu sesungguhnya sangat tidak sulit di tataran theory. Kita bisa
dengan mudah menunjukkan masalah bangsa ini dimana dengan memerankan sebagai
penonton. Masalahnya menjadi lain manakala kita dihadapkan dengan
kompleksitas realita.

Root cause of problem kawin kontrak yang marak di Puncak adalah
kemiskinan. Oleh sebab itu untuk mengentaskan kemiskinan JK berusaha
melegalkan kawin kontrak semacam itu...:-(. Saya merasa kok seperti
melegalisasi prostitusi.

Saya kira Anda hampir benar dng menunjuk kemiskinan sbg root cause. Di
samping itu kita perlu melihat bbrp kenyataan kondisi fisik Puncak yang
sesungguhnya sangat subur itu. Kenapa orangorang yang telah terberkahi
kesuburan tanah seperti itu kemudian justru berusaha terus memperbaiki
struktur / institusi yg nyata-nyata justru mengkamuflase pelacuran itu?
Unsur tidak benar disini adalah meng-internalize langkah pendek untuk bisa
hidup mudah itu menjadi perilaku dan memperkuatnya dng institusi.

JK kan berusaha mencari root cause of problem kemudian
mengentasinya. Gimana neh bung? Mohon patromaksnya.

Saya tebak JK hanya joking dengan pernyataannya. Becanda bisa dng berbagai
cara sementara banyak orang tidak bisa menerima beda joking style. Dan JK
memang salah memilih waktu, audience dan tempat untuk jokenya. Kalau JK
serius, karena saya kira dia memiliki kemampuan untuk itu, saya kira yg
dikemukakannya akan lain. Lihat gimana dia nanganin kasus poso, aceh dimana
dia terlihat sangat pragmatis. Becandaan dia soal Puncak juga
mengindikasikan bahwa dia memang belum memikirkan soal itu dengan serius.

Berhubung dan ganti topik, judulnya ta' ganti aja ya jadi kawin
kontrak...

Ayo ditambahin lagi biar berkembang ya.

Salam,

yk

--- In [email protected] <ppiindia%40yahoogroups.com>, "Yohanis
Komboi" <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:
>
> mas Iwan,
>
> Bener sekali. Kadang saya secara fatalistic berpikir gini, apa
mungkin
> memang semua ini harus kita alami dulu baru suatu waktu nanti kita
akan
> makmur. Apakah memang kita sekarang ini sedang meretas jalan menuju
> kemakmuran abadi? Apa tandanya? Apa bukan justru sebaliknya yang
sedang kita
> persiapkan? Yaitu membawa society ini ke arah kehancuran?
>
> Refleksi saya di atas terutama didorong oleh kenyataan bahwa pada
saat kita
> perlu mulai menjadi positivist mengandalkan technology untuk
menjajaki
> perdamaian dengan alam, sebagian kita lebih mementingkan membawa
pencarian
> solusi keseharian ke pencarian mujizat. Alih-alih berusaha
memintarkan diri,
> kita justru melarikan diri dari pencarian root cause of the
problem.
> Begitulah yg saya lihat.
>
> Salam,
>
> yk
>
> On 7/24/06, Iwan Wibawa <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >
> > Menyikapi banyak berita kekeringan saat musim kemarau,
bagaimana petani
> > mengeluh sawahnya tak berair, atau orang-orang harus kesulitan
air,
> > sebaliknya berita kebanjiran saat musim hujan, orang-orang
bahkan harus rela
> > kehilangan rumah dan harta bendanya karena terendam air.
> > sesungguhnya semua bencana kekeringan atau kebanjiran dapat kita
hindari
> > atau paling tidak kita minimalisir, kita coba telaah, bukankah
kita semua
> > sudah tahu bahwa bangsa Indonesia yang hidup dibentangan
katulistiwa
> > hidupnya terbagi dalam 2 musim, musim kemarau dan musim hujan.
> > kenapa kita tidak mencoba bagaimana bersikap arif dengan alam
sekitarnya,
> > dengan mempelajari sifat alam dimana tempat kita hidup dan
kemudian bisa
> > hidup secara aman dan tentram.
> > bangsa jepang hidup dikawasan yang jauh lebih berbahaya, banyak
gunung
> > berapi dan gempa, dengan sumber daya alam yang terbatas dengan
wilayah yang
> > tidak begitu subur, lantas mereka berpikir agar mereka bisa
survive sebagai
> > sebuah bangsa, jadilah mereka bangsa yang selalu inovatif dengan
keunggulan
> > otak, riset dan teknologi, mereka bangun rumah-rumah dan gedung
dengan
> > konstruksi anti gempa.
> > mereka jadi bangsa pedagang teknologi, mereka bisa membangun
pabrik-pabrik
> > diluar jepang, produk-produk buah pikiran anak bangsa jepang,
menyerbu
> > dunia, dan mereka dihargai bangsa lain di dunia, karena kekuatan
> > teknologinya, mereka mampu menjawab tantangan alam dimana mereka
hidup dan
> > mengendalikan alam.
> > kapan bangsa kita mampu seperti itu ? saya sudah bosan dengan
jargon
> > "kekayaan alam bangsa Indonesia, batu dan kayu jadi tanaman,
kolam susu
> > dsb".
> > saat ini kita baru mampu menjadi bangsa festival, menjadi juara
olimpiade
> > fisika, kimia matematika kita mampu, namun bersinergi dengan
alam kita belum
> > mampu !!!
> > kita tetap saja berkubang sebagai bangsa yang konsumtif, boros,
cengeng
> > bahkan tidak perduli pada lingkungan, bahkan untuk sekedar
membuang sampah
> > .....???
> >
> > salam
> > iwan


[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke