Mbak Aris yg baik, Saya telah terbawa dalam keriangan bermilist... dan menyesuaikan diri dengan perubahan kondisi yang disodorkan oleh lawan bicara. Maaf dan Terimakasih untuk concernnya.
Mas Ahmad dalam tulisannya saya pahami sbg telah dengan sengaja menggeser focus. Ini tentu boleh-boleh saja sepanjang maksudnya baik tetapi kalau untuk sekedar menangmenangan di dunia maya, ya untuk apa to seluruh pembicaraan. Muspro (siasia) ya nggak? Di situ lho masalahnya.... Jadi bukan masalah cocok - nggak cocok saya dengan tata nilai orang lain. Spt sdh saya tulis, saya tdk masalah dng itu, dan tidak akan memperdulikan selama itu di domain private. Tetapi manakala seseorang memasuki ranah publik dan terus mengusung nilai itu, perlu kita lihat bersama kecocokannya (fitness-nya) dengan memperbandingkannya dengan problem yang ada. Default stand-point seseorang adalah tatanilai 'primitive' yg intrinsic membentuk kita. Kondisi ini biasanya ditandai dengan jurus "pokoknya" / "pokok-e" dan ungkapan sejenis. Titik pokok-e itu adalah titik absolut. Threshold (batas ambang) yg kalau dilanggar biasanya akan menghasilkan counter reaction tak terduga. Sementara di satu sisi saya tidak ingin melanggar itu, di sisi lain saya menjadi tertarik mengetahui sebegitu mudahnya jurus pamungkas itu dikeluarkan. Mengenai bahasa, semoga Anda nggak terusterusan keberatan. Saya dasarnya malas. Jadi bahasa apa saja, yg bisa saya pakai menjelaskan akan saya pakai. Nggak ada unsur umuk (sombong) disini, pokoknya... (!? lha iya v_v) selama mewakili. Eh, disitu ada unsur protesnya sih... protes krn bahasa baku kita itu terlalu banyak unggahungguhnya dan sering nggak precise (tepat / correct). Pak Ikra tentu bisa banyak mengomentari hal ini. Pak Ikra, dozo. Gimana Bogor? Di Jepang, hari ini bakal jadi salahsatu hari terpanas Summer ini. yk On 8/4/06, aris solikhah <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Duh mas Yohanis, > Ko tulisannya balik lagi seperti mm... mbok ya disederhanakan...pusing > saya membacanya. Mbok ya punya rasa kasihan dikit yang baca kenapa mas? > > Iya kalau beliau ini orang jawa, kalau tidak, beliau bilang bahasa planet > apa pula ini. Plis pakai bahasa bumi saja...maaf lho mas. Kalau tidak email > dari Anda akan saya lewati saja. Ko malah sekarang lebih enak tulisan mm > nggak hantu lagi, jadi gaya tulisannya bisa dimengerti :) > > Satu hal mas Ahmad punya prinsip hidup, nggak plin plan... meski ya > prinsip itu tidak Anda setujui, seperti juga prinsip hidup saya yang beda > dengan Anda. > Yohanis Komboi <[EMAIL PROTECTED] <ykomboi%40gmail.com>> wrote: > Kang Ahmad, > > Blarak mlungker ngalorngidhulngetanbalingulon nan jundhet. Sampean ini > lagi > ngomongin diri sendiri atau Adhyaksa sih? Apa memang begini ini style > pamungkas sampean? Pokok-e saya begini titik, dan begini sampean itu kok > ya > milihnya nan adigangadigung adiluhung tapi terbaca sebagai gembelengan. > Lha > piye wong sampean itu bawaannya ngeles melulu... :p > > Sekali lagi mas Ahmad, saya nggak ada urusan dengan tata nilai sampean, > nggak ada pula urusan dengan worldview sampean. Ga je je gang maar... :-D > Tapi manakala sampean membenarkan kekonyolan tindakan pejabat publik, saya > merasa terpanggil (tobil... tobil) untuk mengomentari kemlengsean ini. > Begitu. > > Mlengse is mlengse dan untuk itu cukup tanya dirisendiri dengan jujur. > Hanya > pengakuan atasnya sebagai mlengse yg memungkinkan adanya perbaikan. Pls. > jangan paksakan 'kebenaran' sampean itu untuk membela kemlengsean. Karena > dengan begitu sampean berikut kebenaran sampean bisa terbawa > ke ketidakjujuradilan. > > Maaf dng bahasa oblokoblok saya. Kalau Anda masih juga penasaran, > sementara > hasrat mereply menggebu karena 'kemenangan' di dunia cyber ini harus > tuntas, > saya sarankan baca lagi tulisan sebelumnya sebelum mengklik 'send'. > > yk > > ------------ > On 8/4/06, Al-Badruuni Enterprise wrote: > > Maaf ya, > > Saya tidak pernah menghubungkan hal ini dengan partai. Pun dengan > Adhyaksa. > Saya tidak peduli,meski PKS sendiri menganggap langkah yang diambil > Adhyakasa adalah 'blunder'. Dalam kamus hidup saya,menyatakan kebenaran > adalah keharusan yang tidak bisa ditawar2. Apakah anda terbiasa dengan > hidup > palsu atau perpolitikan semu yang tidak pernah memutuskan sesuatu dengan > hati nurani??? > > Silahkan berpikir!!! > > Yohanis Komboi > wrote: > Hmmm... mas Ahmad, > > Anda sungguh ignorance. Juga, Anda tidak membaca dengan benar. Tulisan > saya > masih utuh di bawah, tapi kalau dengan melek pun belum bisa Anda temui > maka > baiklah saya kasih hint. Yg Anda tinggalkan adalah kontekst (context). > Paham? Nah, sekarang haturkanlah maaf atas kesilapan Anda... tentu saja > akan > saya maafkan dengan lapang dada. > > Reality is the final judge, percaya? (Ah... apa urusan saya disini ya... > ma'af). PKS backpedalled setelah menghitung untung-rugi yg bisa dialami > akibat kekonyolan Adhyaksa (check detik.com, liputan6). Jadi, bahkan di > mata > PKS, move Adhyaksa itu dianggap kekonyolan spekulatif yg berpotensi > merugikan partai. Tentu sah saja sih kalau itu Anda anggap keberanian. > > Salam merem tanpa nggethemngghethem (kheki) ya. > > yk > > On 8/4/06, Al-Badruuni Enterprise > > > wrote: > > Di bagian mana saya meninggalkan Adhyaksa? Saya memang pernah juga > mengkritisi Pemerintah/Pejabat yang kebanyakan tidak aspiratif,namun saya > tidak bilang seluruhnya. > Saya juga salut dengan SBY yang dengan secara 'berani' memperjuangkan > kecaman terhadap Agresi Israel ke Palestina dan Libanon sesuai > kapasitasnya > melalui PBB dan sekarang ini -OKI. Bahkan SBY juga sudah memerintahkan TNI > untuk menyiapkan tentara perdamaian di Libanon. > Terkait dengan Adhyaksa,saya tanya kepada Anda, siapa Menteri yang lain > yang > seberani beliau? > > Tolong buka mata Anda!!! > > Yohanis Komboi > wrote: > Hmmm... datang bulan tidak cocok maka tidak salah bunda manganduang... > hmmm... kontekst ya. Mengapa ia Anda tinggalkan di mail Anda sebelumnya > kang > Ahmad? Bisakah / sahkah melepaskan kacamata hollistic demi untuk mengejar > setoran claim? > > Pejabat pemerintah itu ada (diadakan) untuk melayani constituentnya sesuai > mandatnya. Dan constituent Adhyaksa bukan hanya FPI, PKS dan sejenisnya, > tentu bukan pula Palestina, tapi seluruh manusia Indonesia. Cukup itu thok > kok sakbetulnya. Adhyaksa ngurusin Palestina, itu di luar kewenangan dan > mandatnya. Terlihat bahwa Adhyaksa belum memahami bagaimana dia > semestinya berperan. > > Semakin banyak pejabat publik seperti Adhyaksa mungkin perlu ya... sisan > untuk njlongopkan negara ini ke nadir. > > yk > > On 8/2/06, Al-Badruuni Enterprise > > > > wrote: > > Saya bicara dalam konteks dukungan untuk menghentikan > aksi teroris Israel dan Amerika. Pemerintah tidak bisa > tutp mata melihat kekejian diTimur Tengah. Itu > bahasannya,jadi kalau Anda mau mempertanyakan kinerja > sebagai menteri,ya silahkan saja tanya ke > Presiden.Jadi tidak cocok dengan bahasan dibawah. > > Ahmad > > --- Yohanis Komboi > > wrote: > > > Parameter pengukur berhasil tidaknya mentri / > > pejabat publik itu jelas. Yg > > minimal, apakah ybs sudah melakukan tugasnya, apakah > > ada capaian terukur > > atas claim-claimnya. Tentu saja kita mengharapkan > > ada plus di atas minimal > > itu. Itulah pejabat publik. > > > > Apakah Adhyaksa performed? Parameter kasat mata > > kita: berapa medali emas, > > perak perunggu capaian Indonesia di Olympiade, Asian > > Games, SEA Games, > > Chess, dll.; bagaimana dengan situasi kepemudaan > > Indonesia dll.? > > > > Alih-alih memikirkan job-desc, Adhyaksa malah ikut > > 'bermain' dengan emosi > > muslim. Dari sini hanya bisa dikatakan kalau > > Adhyaksa hanya mencari pengalih > > issue sambil mempertahankan dukungan publik melalui > > jalan yg kurang sesuai. > > Kesimpulan? Boleh jadi Adhyaksa adalah muslim yg > > baik, yg mana hal ini tidak > > seorangpun mengetahuinya dengan jelas selain dirinya > > sendiri dan Tuhan. > > Tetapi sebagai pejabat publik, Adhyaksa tidak > > perform, alias tidak > > menjalankan amanah dengan baik. Dan kita, publik, > > punya sepenuhnya hak untuk > > menuntutnya lebih memikirkan pekerjaannya kalau dia > > masih meminatinya. > > > > yk > > > > > > On 8/2/06, Al-Badruuni Enterprise > > > > > > wrote: > > > > > > > > > Salah satu wakil kita di Pemerintahan yang patut > > > dicontoh. Semoga pribadi seperti beliau ini bisa > > > bertambah banyak di Pemerintahan. > > > > > > Selamat Jalan Saudaraku para Mujahidin Indonesia. > > > > > > Ahmad > > > > > > --- Ambon > > > > > > wrote: > > > > > > > REFLEKSI: Menteri Pemuda siap berjihad ke > > Palestina > > > > bersama FPI serta konco-konconya, semoga beliau > > > > kebagian 72 bidadari di dunia seberang. > > > > > > > > ---- > > > > HARIAN ANALISA > > > > Edisi Rabu, 2 Agustus > > > > > > > > Adhyaksa Siap Kawal Relawan ke Lebanon > > > > > > > > Jakarta, (Analisa) > > > > [Non-text portions of this message have been removed] *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

