Saya ikutan nimbrung, tapi kembali ke topik " Adhyaksa siap kawal relawan ke 
Lebanon". Perlu dipahami oleh para sahabat baik yang muslim maupun non muslim. 
Bahwa dalam ajaran Islam (Hadist) dikatakan Muslim itu adalah bersaudara, Jadi 
setiap muslim itu bersaudara tidak peduli dia ras apa, bangsa apa, suku apa, 
mazhab apa, aliran apa (sunni atau syiah dll, kecuali mereka yang tidak diakui 
muslim seperti punya nabi selain Nabi Muhammad saw).

Sekarang anda bayangkan, bagaimana kalau saudara kita (adik atau kakak kandung 
kita ) walaupun warga negaranya beda, walaupun sering bertengkar, walaupun lagi 
tidak sepaham. Tiba2 dianiaya orang (dibunuh orang , dizalimi orang). Tentu 
kita sebagai saudara (walaupun lagi ada masalah sendiri),  kita akan tetap 
membela, menuntut bahkan mencari orang yang telah membunuhi saudara kita itu.

Dengan ilustrasi seperti diatas - seorang muslim yang mempunyai keyakinan dan 
komitmen yang teguh terhadap ajaran Islam - akan mempunyai rasa persaudaraan 
yang sangat erat terhadap muslim yang lain (melampuai batas negara, ras, suku 
bangsa dan lain2). bahkan bisa lebih erat dibandingkan dengan saudara 
kandungnya sendiri (bila saudara kandungnya itu berbeda iman)

Perasaan muslim seperti itulah yang mungkin belum dimengerti oleh sebagian 
orang (bahkan oleh sebagian muslim sendiri di Indonesia). Jadi tidaklah aneh 
bila sebagian muslim di Indonesia ingin membela saudara muslimnya teraniaya di 
Lebanon. Walaupun Lebanon itu mayoritasnya adalah NON MUSLIM. Jadi jelas bukan 
masalah arab atau bukan arab, atau negaranya  yang dibela. Tetapi dimana saja 
terdapat muslim yang teraniaya disuatu tempat dibumi ini (baik di Timur tengah 
atau bukan), maka saudara muslim yang lain pasti akan berkewajiban membelanya.

Dengan demikian maksud adhyaksa itu menunjukkan salah satu bukti bahwa dia 
adalah muslim yang commit terhadap agamanya (Islam).

Sepengetahuan saya Libanon itu mayoritas Nasrani, seyogyanya rakyat Amrik yang 
sebagian besar Nasrani mendesak pemerintahnya untuk menghentikan kebrutalan 
Israel membumi hanguskan Libanon. Bukan malah mendiamkannya bahkan membelanya.

Yohanis Komboi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                                  On 
8/7/06, aris solikhah <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
 
 Mas Yohanis,
 Saya baru saja selesai membaca buku "Anda Sekarang adalah seperti apa yang
 Anda pikirkan" karya Doug H.
 
 Pemakaian bahasa itu menentukan pikiran bahkan pribadi Anda sendiri mas.
 Suka atau tidak bagi saya pilihan bahasa pun akan berpengaruh terhadap citra
 diri, prinsip hidup dan masa depan Anda. Percaya nggak klo tidak silakan
 baca buku itu, buku yang di dalamnya ada beberapa ayat dari kitab agama
 Anda.
 
 yk: Mbak Aris, Hatur nuhun sudah meluangkan waktu menelisiki pemakaian
 katakataku ya. Seperti dalam hal lain, euphoria bisa menyerang siapa saja,
 kapan saja. Dulu stlh membaca 'the rule of four', ujugujug saya menemukan
 diri saya terfiksasi oleh 'hypnerotomachia poliphilii'. Lalu beralih ke
 'Chaos'nya James Gleick dan ujugujug semua saya lihat dari kacamata Chaos.
 Itu semua kemudian memang diikuti dng kesadaran hasil heuristic yg membawa
 kepala kita ke keseimbangan. Cepatlambatnya kesadaran ini sangat tgt
 training dan pengalaman kita. Saya lihat Anda msh sangat mudah terfiksasi
 dengan 'pendapat bagus' dari suatu buku / kata orang.
 
 Kalau mas malas membuat dengan bahasa yang mudah dimengerti, jangan salahkan
 orang lain malas membacanya. he he he...bahasa menunjukkan peradaban he he
 he he
 
 yk: Itulah mbak Aris, saya memang TIDAK berintensi mengajari siapapun ttg
 hidup. Setiap orang memiliki lakunya sendirisendiri  dan pengalaman akan
 membantu mereka menemukan trick untuk menyiasati hidupnya sendiri.
 
 Anda tdk sangat salah mengatakan bahasa menunjukkan peradaban krn mmg bahasa
 itu social construct. Tetapi menyederhanakannya hanya dng slogan itu juga
 sangat bisa salah. Peradaban apa sih yang ingin ditunjukkan bila laku kita
 sendiri melecehkannya? Manakah yg lbh perlu dihargai, adab (peradaban) - via
 bahasa, ataukah manusia pembentuk peradaban itu?
 
 Kalau kita berdiskusi nilai-nilai yang dipahami orang lain saya kira itu
 bagus... namun dengan alasan dan latar belakang yang tepat. Wilayah private?
 Tranfer nilai itu bukan wilayah private menurut saya.
 
 yk: Anda sdh memahaminya... dng "namun dengan alasan dan latar belakang yang
 tepat". Btw, private tidaknya sesuatu harus dikembalikan ke individunya
 masingmasing. Kita disini bicara ttg ukuran yg sangat bisa berbeda. Anda
 menyebut 'transfer nilai', orang lain bisa melihat itu indoktrinasi, bualan,
 dll, yg intinya penolakan. Sayangnya, semua ini juga sahsah saja.
 
 Kita hanya disuruh memilih di milis ini setuju atau tidak terhadap suatu
 nilai. Kalau sudah memilih setuju atau tidak ada pilihan lagi, membalas
 postingan, atau tidak.
 
 yk: Anda kok keluar lagi dari ide 'transfer nilai' di atas? Benar bahwa
 media cyber menawarkan berbagai hal yg atasnya kita bebas menyikapi. Tetapi,
 untuk 'transfer nilai' diperlukan setting yg sedikit berbeda. Diperlukan
 komponent trust yg memadai untuk terjadinya transfer nilai. Ini berbeda
 dengan setting komunikasi ala cyber yg umumnya berbentuk debate (bukan
 diskusi), artinya diawali dengan sikap berseberangan... sampai kemudian
 ditemukan kesamaan kalau ada, baru acceptance... kalau mungkin. Bayangkanlah
 pembahasan topic meme dan malihannya (agama, sikap politik, dll). Topic ini
 lbh sering berakhir dng kontroversi dan pengerasan masingmasing kubu. Apakah
 ini yg ingin Anda claim sbg 'transfer nilai'?
 
 Pada diri orang yang prinsipnya beda sekalipun sebenarnya kita bisa
 menemukan sesuatu yang baik atau kebenaran untuk kita pelajari. Mencari
 kebaikan dan kelebihan dari semua kata-kata yang ditulis ini akan membuat
 kaya hidup kita, bukan selalu mencari celah-celah keburukan atau hal negatif
 dari tulisan seseorang yang membuat hidup menjadi tertekan.
 
 Kalau saya boleh memberikan tahu sisi positif dari tulisan mas Ahmad untuk
 anda adalah fokuskan kenapa Adhyaksa daud mau melakukan hal itu bukan
 menyerang pribadi mas Ahmad. Itu diskusi yang kurang baik menurut saya.
 
 yk: Benar. Pengayaan wawasan mmg tidak membatasi hanya pada hal baik, hal
 burukpun adalah case yg baik untuk dijadikan reference. Disini diperlukan
 kemampuan tersendiri untuk membebaskan diri dari perancuan buruk sebagai
 baik (dan sebaliknya).
 
 Pemaknaan itu tergantung context. Kalau kita bicara pejabat publik,
 contextnya adalah negara, masy., Indonesia. Kalau kita bicara jihad,
 syariah, ya contextnya islam, msy. islam, dll. Mas Ahmad salah meletakkan
 context. Ini yg saya serang. Saya juga tidak merasa memulai menyerang mas
 Ahmad scr pribadi sampai dia menonjolkan ke'aku'-annya (pokok-e style)...
 Spt saya tulis di mail sebelum ini, saya nggak ada urusan dng tatanilai
 siapapun, tapi manakala anomali pribadi ala adhyaksa itu diusulkan baca sbg
 hal baik oleh mas Ahmad, maka perlu saya pertegas disini bahwa cara baca
 realita itu salah.
 
 Mas Ahmad sdr skrg sdh tidak meributkan hal ini... pula Adhyaksa skrg jg
 sedang perlu memikirkan cara survive di posisinya... makanya kitakita
 ndhaklah perlu menjebakkan diri kesana.
 
 Saya berpikir ketika seorang partai atau bahkan non partai tertentu sudah
 masuk kementrian atau pemerintah dia harus melepaskan keanggotaan
 kepartaiannya ini untuk siapapun. Dia free.
 
 yk: Hampir bener. Dia seharusnya menjadi negarawan, melayani manusia
 Indonesia dan tdk melulu uplek ngurusi constituentnya, PKS and the like.
 Makanya dng Adhyaksa mau ngurusin Palestina, dimana lagi relevansi
 'baik'-nya dia untuk masy Indonesia? Sementara dia juga bukan orang
 palestina.
 
 Dia sudah menjadi milik seluruh rakyat bukan partainya. Maka dia independen
 untuk melakukan apa saja menurut prinsip hidup dia demi rakyatnya.
 
 yk: Ini yg saya maksudkan di awalawal kalimat saya. Bahasa santun itu juga
 bisa salah... yg justru berpotensi merusak seluruh format santun / adab /
 beradab itu. Kesalahan bahasa memang lbh banyak disebabkan
 kerancuan berpikir. Coba dimana salahnya kalimat Anda di atas mbak? Hint,
 ambil contoh absurd Hitler, Bush, Suharto. Karena halhal spt inilah saya
 memilih memakai katakata jujur, langsung, dng katakata yg saya pahami dng
 jelas - apapun, untuk mengexpresikan apa yg ada di kepala, lebih dp katakata
 beradab halus sopan tetapi rancu.
 
 Salam,
 
 yk
 
 Yohanis Komboi <[EMAIL PROTECTED] <ykomboi%40gmail.com>> wrote:
 
 Mbak Aris yg baik,
 
 Saya telah terbawa dalam keriangan bermilist... dan menyesuaikan diri dengan
 perubahan kondisi yang disodorkan oleh lawan bicara. Maaf dan Terimakasih
 untuk concernnya.
 
 Mas Ahmad dalam tulisannya saya pahami sbg telah dengan sengaja menggeser
 focus. Ini tentu boleh-boleh saja sepanjang maksudnya baik tetapi kalau
 untuk sekedar menangmenangan di dunia maya, ya untuk apa to seluruh
 pembicaraan. Muspro (siasia) ya nggak? Di situ lho masalahnya....
 
 Jadi bukan masalah cocok - nggak cocok saya dengan tata nilai orang lain.
 Spt sdh saya tulis, saya tdk masalah dng itu, dan tidak akan memperdulikan
 selama itu di domain private. Tetapi manakala seseorang memasuki ranah
 publik dan terus mengusung nilai itu, perlu kita lihat bersama kecocokannya
 (fitness-nya) dengan memperbandingkannya dengan problem yang ada.
 
 Default stand-point seseorang adalah tatanilai 'primitive' yg intrinsic
 membentuk kita. Kondisi ini biasanya ditandai dengan jurus "pokoknya" /
 "pokok-e" dan ungkapan sejenis. Titik pokok-e itu adalah titik absolut.
 Threshold (batas ambang) yg kalau dilanggar biasanya akan menghasilkan
 counter reaction tak terduga. Sementara di satu sisi saya tidak ingin
 melanggar itu, di sisi lain saya menjadi tertarik mengetahui sebegitu
 mudahnya jurus pamungkas itu dikeluarkan.
 
 Mengenai bahasa, semoga Anda nggak terusterusan keberatan. Saya dasarnya
 malas. Jadi bahasa apa saja, yg bisa saya pakai menjelaskan akan saya pakai.
 Nggak ada unsur umuk (sombong) disini, pokoknya... (!? lha iya v_v)
 selama mewakili. Eh, disitu ada unsur protesnya sih... protes krn bahasa
 baku kita itu terlalu banyak unggahungguhnya dan sering nggak precise (tepat
 / correct). Pak Ikra tentu bisa banyak mengomentari hal ini. Pak Ikra, dozo.
 
 Gimana Bogor? Di Jepang, hari ini bakal jadi salahsatu hari terpanas Summer
 ini.
 
 yk
 
 On 8/4/06, aris solikhah wrote:
 >
 > Duh mas Yohanis,
 > Ko tulisannya balik lagi seperti mm... mbok ya disederhanakan...pusing
 > saya membacanya. Mbok ya punya rasa kasihan dikit yang baca kenapa mas?
 >
 > Iya kalau beliau ini orang jawa, kalau tidak, beliau bilang bahasa planet
 > apa pula ini. Plis pakai bahasa bumi saja...maaf lho mas. Kalau tidak
 email
 > dari Anda akan saya lewati saja. Ko malah sekarang lebih enak tulisan mm
 > nggak hantu lagi, jadi gaya tulisannya bisa dimengerti :)
 >
 > Satu hal mas Ahmad punya prinsip hidup, nggak plin plan... meski ya
 > prinsip itu tidak Anda setujui, seperti juga prinsip hidup saya yang beda
 > dengan Anda.
 > Yohanis Komboi > wrote:
 > Kang Ahmad,
 >
 > Blarak mlungker ngalorngidhulngetanbalingulon nan jundhet. Sampean ini
 > lagi
 > ngomongin diri sendiri atau Adhyaksa sih? Apa memang begini ini style
 > pamungkas sampean? Pokok-e saya begini titik, dan begini sampean itu kok
 > ya
 > milihnya nan adigangadigung adiluhung tapi terbaca sebagai gembelengan.
 > Lha
 > piye wong sampean itu bawaannya ngeles melulu... :p
 >
 > Sekali lagi mas Ahmad, saya nggak ada urusan dengan tata nilai sampean,
 > nggak ada pula urusan dengan worldview sampean. Ga je je gang maar... :-D
 > Tapi manakala sampean membenarkan kekonyolan tindakan pejabat publik, saya
 > merasa terpanggil (tobil... tobil) untuk mengomentari kemlengsean ini.
 > Begitu.
 >
 > Mlengse is mlengse dan untuk itu cukup tanya dirisendiri dengan jujur.
 > Hanya
 > pengakuan atasnya sebagai mlengse yg memungkinkan adanya perbaikan. Pls.
 > jangan paksakan 'kebenaran' sampean itu untuk membela kemlengsean. Karena
 > dengan begitu sampean berikut kebenaran sampean bisa terbawa
 > ke ketidakjujuradilan.
 >
 > Maaf dng bahasa oblokoblok saya. Kalau Anda masih juga penasaran,
 > sementara
 > hasrat mereply menggebu karena 'kemenangan' di dunia cyber ini harus
 > tuntas,
 > saya sarankan baca lagi tulisan sebelumnya sebelum mengklik 'send'.
 >
 > yk
 >
 > ------------
 > On 8/4/06, Al-Badruuni Enterprise wrote:
 >
 > Maaf ya,
 >
 > Saya tidak pernah menghubungkan hal ini dengan partai. Pun dengan
 > Adhyaksa.
 > Saya tidak peduli,meski PKS sendiri menganggap langkah yang diambil
 > Adhyakasa adalah 'blunder'. Dalam kamus hidup saya,menyatakan kebenaran
 > adalah keharusan yang tidak bisa ditawar2. Apakah anda terbiasa dengan
 > hidup
 > palsu atau perpolitikan semu yang tidak pernah memutuskan sesuatu dengan
 > hati nurani???
 >
 > Silahkan berpikir!!!
 >
 > Yohanis Komboi > wrote:
 > Hmmm... mas Ahmad,
 >
 > Anda sungguh ignorance. Juga, Anda tidak membaca dengan benar. Tulisan
 > saya
 > masih utuh di bawah, tapi kalau dengan melek pun belum bisa Anda temui
 > maka
 > baiklah saya kasih hint. Yg Anda tinggalkan adalah kontekst (context).
 > Paham? Nah, sekarang haturkanlah maaf atas kesilapan Anda... tentu saja
 > akan
 > saya maafkan dengan lapang dada.
 >
 > Reality is the final judge, percaya? (Ah... apa urusan saya disini ya...
 > ma'af). PKS backpedalled setelah menghitung untung-rugi yg bisa dialami
 > akibat kekonyolan Adhyaksa (check detik.com, liputan6). Jadi, bahkan di
 > mata
 > PKS, move Adhyaksa itu dianggap kekonyolan spekulatif yg berpotensi
 > merugikan partai. Tentu sah saja sih kalau itu Anda anggap keberanian.
 >
 > Salam merem tanpa nggethemngghethem (kheki) ya.
 >
 > yk
 >
 > On 8/4/06, Al-Badruuni Enterprise
 > >
 > wrote:
 >
 > Di bagian mana saya meninggalkan Adhyaksa? Saya memang pernah juga
 > mengkritisi Pemerintah/Pejabat yang kebanyakan tidak aspiratif,namun saya
 > tidak bilang seluruhnya.
 > Saya juga salut dengan SBY yang dengan secara 'berani' memperjuangkan
 > kecaman terhadap Agresi Israel ke Palestina dan Libanon sesuai
 > kapasitasnya
 > melalui PBB dan sekarang ini -OKI. Bahkan SBY juga sudah memerintahkan TNI
 > untuk menyiapkan tentara perdamaian di Libanon.
 > Terkait dengan Adhyaksa,saya tanya kepada Anda, siapa Menteri yang lain
 > yang
 > seberani beliau?
 >
 > Tolong buka mata Anda!!!
 >
 > Yohanis Komboi > wrote:
 > Hmmm... datang bulan tidak cocok maka tidak salah bunda manganduang...
 > hmmm... kontekst ya. Mengapa ia Anda tinggalkan di mail Anda sebelumnya
 > kang
 > Ahmad? Bisakah / sahkah melepaskan kacamata hollistic demi untuk mengejar
 > setoran claim?
 >
 > Pejabat pemerintah itu ada (diadakan) untuk melayani constituentnya sesuai
 > mandatnya. Dan constituent Adhyaksa bukan hanya FPI, PKS dan sejenisnya,
 > tentu bukan pula Palestina, tapi seluruh manusia Indonesia. Cukup itu thok
 > kok sakbetulnya. Adhyaksa ngurusin Palestina, itu di luar kewenangan dan
 > mandatnya. Terlihat bahwa Adhyaksa belum memahami bagaimana dia
 > semestinya berperan.
 >
 > Semakin banyak pejabat publik seperti Adhyaksa mungkin perlu ya... sisan
 > untuk njlongopkan negara ini ke nadir.
 >
 > yk
 >
 > On 8/2/06, Al-Badruuni Enterprise
 > >
 >
 > wrote:
 >
 > Saya bicara dalam konteks dukungan untuk menghentikan
 > aksi teroris Israel dan Amerika. Pemerintah tidak bisa
 > tutp mata melihat kekejian diTimur Tengah. Itu
 > bahasannya,jadi kalau Anda mau mempertanyakan kinerja
 > sebagai menteri,ya silahkan saja tanya ke
 > Presiden.Jadi tidak cocok dengan bahasan dibawah.
 >
 > Ahmad
 >
 > --- Yohanis Komboi
 > > wrote:
 >
 > > Parameter pengukur berhasil tidaknya mentri /
 > > pejabat publik itu jelas. Yg
 > > minimal, apakah ybs sudah melakukan tugasnya, apakah
 > > ada capaian terukur
 > > atas claim-claimnya. Tentu saja kita mengharapkan
 > > ada plus di atas minimal
 > > itu. Itulah pejabat publik.
 > >
 > > Apakah Adhyaksa performed? Parameter kasat mata
 > > kita: berapa medali emas,
 > > perak perunggu capaian Indonesia di Olympiade, Asian
 > > Games, SEA Games,
 > > Chess, dll.; bagaimana dengan situasi kepemudaan
 > > Indonesia dll.?
 > >
 > > Alih-alih memikirkan job-desc, Adhyaksa malah ikut
 > > 'bermain' dengan emosi
 > > muslim. Dari sini hanya bisa dikatakan kalau
 > > Adhyaksa hanya mencari pengalih
 > > issue sambil mempertahankan dukungan publik melalui
 > > jalan yg kurang sesuai.
 > > Kesimpulan? Boleh jadi Adhyaksa adalah muslim yg
 > > baik, yg mana hal ini tidak
 > > seorangpun mengetahuinya dengan jelas selain dirinya
 > > sendiri dan Tuhan.
 > > Tetapi sebagai pejabat publik, Adhyaksa tidak
 > > perform, alias tidak
 > > menjalankan amanah dengan baik. Dan kita, publik,
 > > punya sepenuhnya hak untuk
 > > menuntutnya lebih memikirkan pekerjaannya kalau dia
 > > masih meminatinya.
 > >
 > > yk
 > >
 > >
 > > On 8/2/06, Al-Badruuni Enterprise
 > >
 > >
 >
 > wrote:
 > > >
 > > >
 > > > Salah satu wakil kita di Pemerintahan yang patut
 > > > dicontoh. Semoga pribadi seperti beliau ini bisa
 > > > bertambah banyak di Pemerintahan.
 > > >
 > > > Selamat Jalan Saudaraku para Mujahidin Indonesia.
 > > >
 > > > Ahmad
 > > >
 > > > --- Ambon
 >
 > >
 >
 > > wrote:
 > > >
 > > > > REFLEKSI: Menteri Pemuda siap berjihad ke
 > > Palestina
 > > > > bersama FPI serta konco-konconya, semoga beliau
 > > > > kebagian 72 bidadari di dunia seberang.
 > > > >
 > > > > ----
 > > > > HARIAN ANALISA
 > > > > Edisi Rabu, 2 Agustus
 > > > >
 > > > > Adhyaksa Siap Kawal Relawan ke Lebanon
 > > > >
 > > > > Jakarta, (Analisa)
 
 >
 > 
 >
 
 [Non-text portions of this message have been removed]
 
 
     
                       

                
---------------------------------
 To help you stay safe and secure online, we've developed the all new Yahoo! 
Security Centre.

[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke