terimakasih buah mas agus-syafii dan mba lina mengenai
tambahan 'informasi' nya mengenai *-ngelmu persetanan,
ngelmu per-iblis-an dan ngelmu per-jin-an * ... :)
***
salah satu isi quran di bidang aqidah ( & 'filsafat')
yang paling menarik perhatian saya adalah memang
Ayat-2 "Genesis" ( penciptaan ) ini. Menurut filsafat
ilmu < epistemology, istilah bahasa "keju" nya :) >,
pengetahuan ( tentang kebenaran ) itu bersumber
pada 3 hal:
<A> pengetahuan yang berasal dari wahyu
<B> pengetahuan yang berasal dari akal
<C> pengetahuan yang berasal dari hati
nurani & kesadaran spiritual
Orang yang hanya mengandalkan <A> dan mengabaikan
sumber <B> dan <C> biasanya disebut "literalis",
dan dalam bentuk ekstrimnya, bentuk pemahaman
seperti ini dikhawatirkan akan menghasilkan
sikap yang disebut sebagai *-religious-bigotry-*,
yang bisa jadi akan menyimpang dari hakekat kebenaran
itu sendiri ... artinya kesetiaan pada sumber wahyu
yang * out-of-proportion * bisa juga punya resiko
menimbulkan salah tafsir dari hakekat 'pesan'/' the
core-message' dari wahyu itu sendiri, yang artinya
juga kesesatan.
Orang yang hanya mengandalkan sumber (B) sebagai
satu-2 nya sumber dan mengabaikan sumber lain
biasanya disebut sebagai kelompok "liberal",
seringkali tanpa menyadari keterbatasan dari
akal itu sendiri, bisa terjebak dalam kesesatan
juga.
Orang yang terlalu mengandalkan sumber (C) dan
mengabaikan sumber (A) dan (B) resikonya adalah
menjadi 'mabuk' dan terjebak ke alam 'mistik'.
Saya tidak memandang bahwa Sufi-ism itu kelompok
(C) yang ekstrim semacam ini. Tetapi, kritik
saya, sebagian tokoh-2 Sufi yang besar, meskipun
mereka sendiri (insya Allah) mampu menemukan
jakan kebenaran dengan 'cara mereka', tetapi
sering kali orang lain yang 'awam' yang
merasa tertarik dan mencoba mengikuti mereka,
karena susah memahami hakekat jalan yang mereka
tempuh, akhirnya hanya memahami 'sufi' secara
sepotong-sepotong, yang juga beresiko membawa pada
kesesatan.
***
Solusinya? tentu saja mudah diduga: perlu penggabungan
yang 'optimal' dari ketiga sumber kebenaran di atas,
agar usaha kita 'menemukan' jalan menuju kebenaran
disebut 'optimal' ...
***
Dengan kerangka berfikri seperti di atas, saya
mencoba memahami konsep "Genesis" nya Quran
( penciptaan alam semesta yang kemudian titik
klimaks nya adalah penciptaan 'Adam' sebagai
'proyek' rancang bangun prototip pertama dari
ummat manusia ). Ada 2 butir pemikiran yang
ingin saya sampaikan, yang merupakan pemahaman
"baru" saya terhadap ayat-2 mengenai "Genesis"
di dalam Quran:
(A) Pertama-tama mengenai aspek "bahan baku":
------------------------------------------
Quran (sebagaimana juga Bible) menyebutkan bahwa
manusia diciptakan dari 'tanah'. Kebetulan
di dalam bahasa Ibrani (Hebrew), kata 'Adama'
itu memang artinya +/- tanah-liat ( bahan untuk
membuat benda-benda tembikar/keramik ).
When I was 'young', memang secara "taqlid"
saya ikuti saja tafsir "tradisional" mengenai
disebutnya kata "tanah" sebagai "bahan baku"
dari manusia di dalam Quran: Kebayang, pada
saat itu, Tuhan "bermain-main" dengan tanah
liat, lalu dikepal-jepal, dipilin-pilin, sehingga
bentuknya menjadi mirip tubuh manusia, lalu
ke dalamnya Tuhan "meniupkan ruh", maka kepalan
tanah liat itu pun serta merta ter-transform
menjadi manusia, the most 'sophisticated'
creature.
Tetapi setelah menelaah berbagai pustaka yang
membahas aspek filsafat & sains mengenai makhluk
hidup dan alam semesta ini, ditambah upaya
perenungan, saya sampai pada kesimpulan/tafsir sbb. :
=> Menurut sains (biologi) bahan baku dari
tubuh/jasad manusia adalah bahan-2 organik
sebagaimana makhluk hidup lainnya
Bahan organik: bahan yang salah satu cirinya
merupakan susunan dari rantai Hidro-karbon (C-H).
Salah satu ciri 'praktis' dari bahan organik:
bisa dijadikan "bahan bakar": bila dibakar
( di"bakar" = direaksikan dengan oksigen pada
temperatur tinggi )
akan menghasilkan energi/panas, dan/lalu
akan terurai menjadi bahan-2 an-organik: CO2,
CO, C, H2O (uap air) >
Sepintas lalu tinjauan Science terasa tidak 'klop'
dengan informasi kitab suci yang menyebutkan bahwa
jasad manusia dibuat dari tanah!
=> Tetapi hal yang sering kita lupakan adalah bahwa
jasad makhluk hidup memang kesannya *- terbuat dari
bahan organik -*, tapi itu s.e.l.a.m.a makhluk hidup
ini dalam keadaan "hidup". Begitu suatu organisme
mati, dan jika dia "tergeletak" di atas, ato
terkubur di dalam tanah, maka bakteri-2 pengurai
akan segera menyerbu dan "memanfaatkan" jasad
makhluk hidup itu, serta m.e.n.g.u.r.a.i kannya
kembali menjadi zat-zat an-organik: C-H-O-N dsb.
dsb.
Kalau kita menguburkanm jasad manusia (ato kadang-2
juga jasad hewan) yang telah mati, kita akan mengatakan
bahwa dalam waktu bbrp. bulan, jasad itu akan 'lenyap
dan menjadi tanah' < kecuali bagian tulang-2 nya >.
Orang-2 kristen (mungkin berdasarkan Al-Kitab) pada
upacara pemakaman sering mengatakan: "Dust-to-Dust",
sesuatu yang terbuat dari 'debu' akan kembali menjadi
'debu' lagi ...
Jadi tafsir-an saya mengenai "tanah", bahan baku
yang digunakan untuk membuat jasad manusia (juga
jasad makhluk hidup lainnya) adalah = zat-zat An-organik.
Jadi 'zat' tanah = zat An-organik!
*** as simple & clear as that!!! ***
=> Sekali lagi, zat organik itu hanya eksis di dalam
tubuh makhluk hidup yang MASIH hidup. Begitu sudah
mati, jasad nya akan terurai kembali ke zat anorganik,
zat 'tanah', zat 'bumi', dari mana kita semua berasal.
Dengan kata lain selama suatu organisme hidup, ada
suatu "kekuatan" yang bersifat "mempertahankan"
(to hold together) zat-zat organik tadi sehingga
tetap sebagai zat organik. Mekanisme "mempertahankan"
ini secara biologi/biokimia, digambarkan berlangsung
melalui proses metabolisme (proses-2 pertukaran materi
& energi ). Sains sampai saat ini (dan saya yakin sampai
kapanpun ) tidak mampu menjelaskan apa sebetulnya hakekat
"kekuatan" yang 'hold-together' zat-zat organik di tubuh
kita; yang jika menggunakan bahasa wahyu sangat mudah
diungkapkan, yaitu : Nyawa!
Nyawa lah yang merupakan sumber/kekuatan yang membuat
organisme menjadi "hidup". Pada saat organisme itu
mati, kita mengatakan bahwa Nyawanya telah meninggalkan
jasadnya. Katakanlah jika pada saat t = t0, suatu
organisme (termasuk manusia) dinyatakan mati secara
biologis/medis, maka saya yakin dalam tempo beberapa
milisecond sesudah t0, belum terjadi perubahan yang
berarti pada susunan molekuler jasadnya; artinya sel-2
di dalam jaringannya umumnya masih 'utuh', sama dengan
pada saat organisme tsb. masih dalam keadaan hidup.
Perbedaannya adalah pada level "makro": pada hewan
tingkat tinggi, keadaan 'mati' a.l. ditandai dengan
berhentinya sinyal listrik pada jantung (ECG) serta
sinyal listrik dari otak (EEG). Apa yang menyebabkan
"sinyal" ini lenyap? / pertanyaannya bisa dibalik:
apa yang membangkitkan sinyal EEG dan ECG pada manusia
yang masih hidup? ujung-ujung nya nanti akan kembali
pada sumber kehidupan itu: nyawa.
Dari pemahaman di atas, bagi saya tidak lah terlalu
"sulit" memahami ayat-2 yang menyebutkan proses
terjadinya makhluk hidup: dalam kasus penciptaan Adam,
juga penciptaan burung pada kisah salah satu Nabi:
yaitu pertama-2 disiapkan jasadnya dulu yang dibuat
dari zat anorganik. Sesudah itu lalu sang Pencipta
"meniupkan ruh" ke dalam struktur/jasad ini, sehingga
lalu berubah menjadi struktur/organisme yang hidup.
***
Berbeda dari manusia yang diciptakan dari zat "tanah"
atau "zat bumi", menurut Al-Quran, Malaikat diciptakan
dari "cahaya", sedangkan iblis-syaitan serta jin
diciptakan dari "api".
Tafsiran saya: jika jasad manusia diciptakan dari
materi, dalam hal ini zat anorganik, maka malikat
sebetulnya adalah suatu wujudan/entitas "energi"
( cahaya adalah energi ). Demikian pula Iblis-syaitan,
dan jin diciptakan sebagai wujudan (entitas) dari
nyala api. Api di sini mungkin bisa ditafsirkan
sebagai wujudan dari energi panas. Kalau kita
menggunakan model gelombang elektromagnet, maka
cahaya tampak merupakan bagian dari gelombang EM
dengan frekuensi yang tinggi, sedang gelombang
infra merah (IR) adalah bagian dari spektrum gelombang
EM berfrekuensi rendah yang umumnya menimbulkan panas.
***
(A) Kedua mengenai penciptaan "Sistem-Nilai"
----------------------------------------
Kalau membaca ayat-2 Genesis nya Quran, kita
diberitahu bahwa peristiwa Iblis melakukan
"pembangkangan" terhadap perintah Allah itu
baru terjadi sesudah Adam (manusia) diciptakan.
Apakah artinya sebelum itu Iblis belum pernah
melakukan pembangkangan/pelanggaran yang lain?
Juga sesudah itu, bahwa Iblis mendapat konsensi
"HPH" untuk menggoda manusia, "ide proyek/pekerjaan"
seperti ini baru "terfikir" oleh Iblis sesudah
adanya manusia. Artinya sebelum manusia ada, apakah
artinya Iblis punya kegiatan/pekerjaan lain (yang
'positif'/'bermanfaat')? :) ato-kah dia selama itu
menjadi 'penganggur'? :)
Dengan kata lain sebelum adanya manusia/Adam, bagi
kita tidak jelas, apakah sebetulnya Iblis itu
mahkluk yang 'baik' ataukah 'jahat' ataukah 'netral'? :)
Lalu ditambah dengan episode, Adam dan Hawa memakan
"buah terlarang", meskipun sudah dilarang oleh NYA.
Point-nya adalah, ayat-2 di bagian ini meng-establish
suatu sistem nilai (hukum/undang-2) yang baru dari
Tuhan, yaitu:
=> perbuatan makhluk Tuhan disebut "baik" apabila
itu sesuai dengan perintah NYA
=> dan disebut buruk apabila itu bertentangan
dengan perintah NYA, atau melanggar larangan NYA
***
'Pemikiran' di atas saya coba 'sanggah sendiri' :)
Masih pada kumpulan ayat-2 'Genesis' (yang a.l. ada
di surat 2:Al-Baqarah): ketika Allah "presentasi
project proposal" di depan para Malaikat, memberi
tahu bahwa Dia punya proyek besar, akan menciptakan
prototip makhluk baru yang dinamakan manusia, serta
merta para Malaikat protes, ada yang skeptis, apakah
Tuhan tidak 'khawatir' nanti makhluk baru yang diciptakan
akan saling menumpahkan darah antara sesamanya?
< pertanyaan Malaikat ini menarik, karena tafsiran menurut
'selera saya' : mungkin pada saat malaikat melihat
'presentasi dari Tuhan menggunakan software PowerPoint'
dan Malaikat melihat desain 'bentuk fisik' makhluk baru
tsb. kok 'mirip-2' dengan makhluk yang sudah ada sebelumnya:
misalnya manusia-2 purba: Pithecanthropus erectus,
Homo erectus dsb. yang kerjaan-nya tiap hari saling
bertarung dan bunuh-membunuh dengan sesamanya ... :
Makanya dari mereka keluar pertanyaan seperti itu,
ini hanya spekulasi saya, tentu saja ... :) >
***
The last thing, melihat kilas balik sejarah keberadaan
manusia (homo sapiens) yang katakanlah sudah ada sekitar
10.000 atau 100.000 tahun di muka bumi ini, saya seringkali
berfikir bahwa apa yang sudah dikhawatirkan para Malaikat
di atas - koq - rasanya benar-2 terjadi:
Kita ini mungkin satu-satunya spesies di muka bumi yang
saling membunuh dan saling menumpah kan darah sesama kita,
sesuatu yang bahkan jarang sekali terjadi pada makhluk-2
/hewan yang lebih rendah dari kita yang selama ini kita
kita sebut hewan buas: Singa, Heyna, dsb. dsb.
Wallaahu A'lam
----( IM )----------------------------------------------
--- In "Lina Dahlan" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Kalau dalam 'bahasa'nya yang arab, syaitan itu nama yang
> diberikan kepada yang congkak dan membangkang: ini merujuk
> kepada kisah bhw syaitan yang membangkang kepada perintah
> Allah ketika disuruh sujud kepada Adam as, saking congkaknya.
>
> Syaitan sering juga disebut 'thagut' (QS4:76) karena sudah
> melampaui batas mengangkat dirinya tuhan yg pantas disembah.
>
> Sedang iblis berarti mahluk yang berputus asa dari rahmat
> Allah. 'Al-balas' dalam bhs arab berarti orang yg tidak
> lagi memiliki sesuatu yg baik, dan kata ublisa berarti
> putus asa dan bingung.
>
> Itu menurut bahasa. Dan ini menurut buku "Jin, Setan, dan
> Iblis Menurut AlQur'an dan Sunnah" karya DR. Umar Sulaiman
> Al-Asyqar.
>
> Syeithan itu adalah bagian dari dunia Jin. Dulunya mereka
> sama saja tunduk kepada Allah juga. Namun ketika Allah
> menciptakan Adam as, ada golongan jin yang membangkang,
> dan itu kemudian dinamakan syeitan or iblis. Jadi, dalam
> dunia jin itu ada juga jin yang baik ada juga yg 'jahil'
> (=syeitan or iblis).
>
> Membaca buku ini, kadang saya senyum sendiri sedang teman
> saya yang uga membacanya katanya serem dan takut...:-).
> Saya tersenyum karena saya merasa lucu saja membayangkan
> bhw jin mempunyai dunia/kehidupannya sendiri.
>
> wassalam,
>
>
> --- In [email protected], Ahmad Syukri <syukrimt@> wrote:
> >
> > maaf mas, apa beda iblis sama syaitan, tq
> >
> > agussyafii <agussyafii@> wrote:
> > Makna Berlindung Dari Syaitan
> >
> > Pada kolom Tanya Pak Ustad, Ibu Sahlan Wardoyo (dari Merak
> > Banten) bertanya tentang makna ta`awudz, yakni berlindung
> > kepada Allah dari godaan syaitan. Pertanyaan itu timbul
> > karena ibu tersebut merasa kurang mampu melihat ciri-ciri
> > godaan syaitan, karena dari orang yang dihormatipun muncul
> > perbuatan yang dianggapnya kurang difahami, yakni seorang
> > "guru" yang mestinya menjadi contoh kok juga seperti
> > orang "kesetanan". Berikut ini tulisan tentang syaitan.
> >
> > Syaitan, status, tugas dan aktifitasnya
> >
> > Dalam al Qur'an sudah ditegaskan bahwa syaitan itu adalah
> > makhluk terkutuk (ar rajim), musuh utama manusia (`aduwwun
> > mubin) dan teman yang buruk (sa'a qarina). (Q/3:36, Q/4:38
> > dan Q/12: 5) Ia sudah diberi konsesi oleh Tuhan dengan
> > berumur panjang, dan diberi peluang untuk menyesatkan manusia.
> >
> > Hanya saja kekuatan syaitan tidak akan mempan kepada
> > orang yang beriman secara benar (ikhlas) kepada Allah
> > (Q/15: 39-40).
> >
> > Dalam al Qur'an disebutkan berbagai aktifitas syaitan dalam
> > menjerumuskan manusia, seperti:
> >
> > [a] menggelincirkan (Q/2:36),
> > [b] menakut-nakuti dengan kemiskinan dan menyuruh
> > kejahatan (Q/2:268),
> > [c] menakut-nakuti dengan kekuatan group syaitan
> > (Q/3:175),
> > [d] menyesatkan (Q/4:60)
> > [e] memberikan janji-janji kosong (Q/4:120),
> > [f] membangkitkan permusuhan (Q/5:91),
> > [g] merubah persepsi/menipu (Q/6:43),
> > [h] membuat lalai (Q/6:68),
> > [i] memberikan bisikan halus beracun/waswas (Q:7:20),
> > [j] menggoda (Q/7:200),
> > [k] melempar fitnah (Q/22:53),
> > [l] mengajak ke jalan yang mencelakakan (Q/31:21),
> > [m] menjerumuskan (Q/47:25),
> > [n] menyusahkan (Q/58:10),
> > [o] mengilhami (Q/6: 121).
> >
> > Dalam al Qur'an juga disebutkan bahwa kemubaziran, minuman
> > keras dan keras hati merupakan media yang sangat efektif
> > bagi syaitan dalam menjerat manusia.(Q/17:27, 5:90, dan 6:43)
> >
> > Pintu-Pintu Masuk syaitan ke dalam hati manusia. Menurut Imam
> > Gazali dalam Ihya `Ulumuddin, hati manusia dilengkapi
> > dengan dua satgas, yaitu:
> > (1) satuan yang dapat dilihat dengan mata (kasat-mata, red.),
> >
> > ... dan ...
> >
> > (2) satuan yang (tidak - red.) kasat mata.
> > Yang pertama terdiri dari fisik dengan semua organ fisik dan
> > psikologis, dengan ujung tombak syahwat dan marah (ghodlob),
> > dan ini menjadi kendaraan bagi syaitan, sedang yang kedua
> > berupa ilmu, hikmah dan tafakkur, dan ini merupakan satgas
> > yang mempunyai link dengan hidayah Allah.
> >
> > Menurut Al Gazali, sekurang-kurangnya ada sembilan pintu
> > yang dapat dilewati syaitan untuk mempengaruhi hati
> > manusia, yaitu:
> >
> > 1. Marah dan syahwat.
> > 2. Kemewahan
> > 3. Tamak dan dengki (al hirsh dan al hasad).
> > 4. Perut kekenyangan, meski dengan makanan halal.
> > 5. Sifat terburu-buru dan ketidak­tabahan dalam urusan.
> > 6. Uang/harta
> > 7. Sifat kikir dan takut miskin.
> > 8. Fanatisme buta, terhadap golongan atau pendapat,
> > serta kebencian kepada musuh.
> > 9. Buruk sangka.
> >
> > Menurut sebuah hadis, syaitan itu merasuk ke dalam diri
> > manusia bersama dengan aliran darah manusia. Oleh karena
> > itu pola konsumsi manusia sangat erat hubungannya dengan
> > intensitas kehadiran syaitan pada orang itu. Dalam hadis
> > yang diriwayatkan oleh Abu Umamah, Nabi juga menceriterakan
> > konsensi yang diberikan Tuhan kepada syaitan sbb.
> >
> > Ketika Iblis diusir dari sorga, syaitan meminta konsensi-
> > konsensi kepada Tuhan, dengan berkata : Ya Tuhan, Engkau
> > telah membuang kami ke bumi dengan status terkutuk, maka
> > kami mohon agar engkau memberikan fasilitas untuk kami.
> >
> > Dalam hadis itu disebutkan bahwa Tuhan memberikan hal-hal
> > sebagai berikut:
> >
> > 1. Kamar mandi/tempat mandi sebagai rumah tinggal syaitan.
> > 2. Pasar dan persimpangan jalan sebagai majlis (tempat
> > duduk-duduk) nya.
> > 3. Semua makanan manusia yang tidak dibacakan basmalah
> > sebagai makanannya,
> > 4. Semua minuman keras sebagai minumannya,
> > 5. Musik hedonis sebagai teropetnya
> > 6. Puisi sebagai qur'annya,
> > 7. Tatto sebagai tulisannya,
> > 8. Dusta sebagai hadisnya, dan
> > 9. Perempuan gelisah sebagai kailnya.
> >
> > Sangat menarik untuk direnungkan tentang pasar dan
> > persimpangan jalan sebagai majlisnya syaitan. Pasar
> > artinya tempat transaksi. Syaitan sangat aktif mengakses
> > hati manusia, menghembuskan cara berfikir agar dalam
> > transaksi memperoleh keuntungan sebanyak-banyaknya,
> > meski harus berbuat curang. Di semua sektor transaksi
> > ekonomi, mikro dan makro, cara berfikir syaitan itu
> > sangat menggoda.
> >
> > Sedangkan persimpangan jalan, bisa difahami sebagai
> > persimpangan jalan lalu lintas, bisa juga persimpangan
> > jalan suksesi kepemimpinan. Di setiapkali terjadi
> > pergantian kepemimpinan politik, lokal, nasional maupun
> > international, cara berfikir syaitan selalu menggoda,
> > yakni konspirasi jahat, sabotase dan manuver-manuver
> > lain yang negatif. Dalam persimpangan zaman dari zaman
> > orde baru ke zaman reformasi, syaitan betah sekali
> > duduk-duduk di Senayan.
> >
> > Hadis lain menyebutkan bahwa manusia dapat dibagi menjadi
> > tiga golongan kualitas:
> >
> > [1] Manusia Binatang, yakni mereka yang berhati tetapi
> > hatinya tak berfungsi sebagai alat memahami, punya
> > telinga, tetapi tak berfungsi untuk membedakan mana
> > nasehat dan mana larangan, punya mata, tetapi tak
> > berfungsi untuk membedakan mana yang halal dan mana
> > yang haram. Mereka tak ubahnya binatang ternak,
> > bahkan lebih rendah lagi.
> >
> > [2] Manusia syaitan; yaitu mereka fisiknya manusia tetapi
> > hatinya iblis. Mereka tidak berperikemanusiaan dan
> > tidak pula berperikebinatangan. Mereka merupakan
> > perpaduan antara kecerdikan manusia dan kebuasan
> > binatang.
> >
> > [3] Manusia pilihan; yang selalu dalam naungan rahmat
> > Tuhan.
> >
> > Hadis lain menceriterakan bahwa suatu hari syaitan mendatangi
> > Nabi Isa, menggodanya. Nabi Isa bertanya, "wahai Iblis, apakah
> > engkau tidak mengenalku sehingga engkau menggodaku?" Iblis
> > menjawab: "Sesungguhnya aku tahu bahwa engkau seorang Rasul
> > yang ma`sum, yang tak mempan godaan syaitan, tapi yahÂ…, siapa
> > tahu? namanya juga usaha!" Nabi Isa kemudian bertanya,
> > "Wahai Iblis, di matamu, manusia itu apa?" Iblis menjawab.
> > "Bagi saya, manusia itu ada tiga kelas:
> >
> > --> Pertama, orang yang selalu bikin susah, karena
> > setiap kali di goda, sudah hampir berhasil,
> > tiba-tiba ingat kepada Allah, jadi buyarlah
> > usaha saya.
> >
> > --> Kedua, orang yang bagi saya seperti bola di
> > tangan anak-anak, mudah dipermainkan.
> >
> > --> Ketiga; orang ma`sum seperti anda.
> >
> > Wallohu a1lamu bissawab.
> >
> > Wassalam,
> > agussyafii
> >
> > <http://mubarok-institute.blogspot.com>
> >
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/