Upaya Pelestarian Orangutan Oleh: Christoph Heinzle dari Dresden Jumlah orangutan makin hari kian menyusut dan sudah berada pada ambang kepunahan. Walaupun mereka dilindungi undang undang, diperkirakan 5000 ekor mati setiap tahunnya.
Keberadaan kera besar satwa asli Indonesia ini semakin terancam dengan maraknya perambahan hutan di pulau Sumatera dan Kalimantan. Hal ini menarik perhatian dari lembaga lembaga di Jerman untuk mempertahankan keberadaan orangutan untuk tetap hidup di habitatnya. Orangutan adalah sejenis kera besar yang hanya terdapat di hutan-hutan Indonesia. Menurut data tahun 2004, di pulau Sumatera populasi orangutan tinggal 7000 ekor dan di Kalimantan hanya tersisa 45.000 ekor. Selama 20 tahun belakangan ini, orangutan sudah kehilangan 80% hutan tempat mereka tinggal. Markus Radday, pakar kehutanan dari World Wide Fund For Nature atau WWF Jerman mengungkapkan bahwa penyusutan jumlah orangutan erat kaitannya dengan kerusakan tempat tinggal asli mereka. Radday: "Pulau Kalimantan kehilangan 2 setengah juta hektar hutan tropis pertahunnya. Artinya bila perambahan terus berlangsung tanpa kontrol, keragaman ekosistem yang kita kenal akan hilang pada 2012. Kita perlu melakukan sesuatu. Pembalakan liar di hutan hutan Sumatera dan Kalimantan nampaknya masih sulit diberantas. Untuk mencegah kepunahan orang utan di masa depan, harus ada kerjasama pemerintah dan kesadaran masyarakat. Radday: "Untuk melindungi bagian tersisa pulau Kalimantan di masa mendatang, harus ada peraturan ketat dalam merambah hutan menjadi lahan perkebunan. Untuk itu kami mencoba meyakinkan 3 negara yang ada di Kalimantan yaitu Malaysia, Brunai dan Indonesia untuk melindungi areal tersebut. Dengan meningkatnya permintaan dunia atas minyak goreng, dan bahan baku pembuatan es krim, kosmetik dan sabun cuci, sejak tahun 1970 hutan hutan di Indonesia dan Malaysia banyak dirambah untuk diubah menjadi perkebunan kelapa sawit. Selama 30 tahun, lahan yang dijadikan perkebunan kelapa sawit berkembang menjadi 30 kali lipat di Indonesia dan 12 kali lipat di Malaysia. Kedua negara ini sekarang menjadi produsen minyak kelapa sawit terbesar di dunia. Rencananya mereka akan terus menambah produksi minyak kelapa sawit. Ini berarti makin banyak habitat orangutan yang akan diubah menjadi perkebunan kelapa sawit. Bila ini terus berlanjut, maka dalam kurun waktu 10 hingga 20 tahun, orangutan akan punah. Markus Radday mengeluhkan tingginya permintaan atas minyak kelapa sawit yang membuat banyak pengusaha terburu-buru membuka hutan dan menanam kelapa sawit tanpa mengadakan studi kelayakan. Walaupun demikian negara-negara maju juga punya andil terhadap ambang kepunahan orang hutan, karena merekalah konsumen terbesar hasil-hasil hutan tropis. Belum lagi keserakahan beberapa pihak di negara-negara maju, yang semakin mendorong kerusakan hutan tropis dan lingkungan di dunia. Jadi bukan hanya Indonesia dan Malaysia, yang harus terus-menerus dipersalahkan. Setidaknya dengan hutan tropis yang tinggal, Indonesia dan Malaysia, telah berjasa menjaga kelangsungan kehidupan di muka bumi. Bandingkan dengan hutan di Eropa dan Amerika Utara yang sudah gundul bahkan sebelum Perang Dunia II. Negara-negara maju sangat diharapkan dapat sedikit mengendalikan naluri eksploitatifnya. Radday: Kami tidak memerangi penggunaan minyak kelapa sawit, karena produk ini penting untuk memasak, juga di negara negara Cina dan India dan harganya terjangkau.Yang tidak kami inginkan adalah merambah hutan untuk dijadikan perkebunan kelapa sawit pada daerah-daerah yang tidak ideal dijadikan perkebunan. Berbagai lembaga lain di Eropa terutama Jerman berusaha untuk mengembalikan orangutan kepada habitat aslinya, namun habitat aslinya yang berupa hutan tropis, banyak yang telah berubah menjadi daerah alang-alang. The Borneo Orangutan Survival Foundation atau BOS yang berbasis di Kalimantan Timur mengadakan program-program rehabilitasi dan reintroduksi bagi orangutan yang ditemukan hasil razia dari perdagangan atau pemeliharaan gelap. Namun masalahnya tidak semudah itu. Orangutan memerlukan habitat aslinya. Ini berarti, habitat itu harus diciptakan dan ini perlu pembiayaan dan kerja keras. BOS meluncurkan ide dengan menjual secara simbolik 1,700 hekatar lahan alang-alang untuk direboisasi menjadi hutan subur seharga 3 Euro per 1 meter persegi kepada mereka yang peduli. Boris Himmig, kepala BOS Jerman menuturkan: "Bila kita punya habitat, kita bisa melepaskan orangutan, tetapi bila kita tak punya habitat, maka kita harus menciptakan habitat yang mirip dengan aslinya. Inilah dasar dari square meter project dimana orang bisa secara simbolis membeli lahan permeter persegi atau proyek 1 meter persegi seharga 3 Euro untuk konservasi lewat internet. Mereka akan mendapatkan kode agar bisa memonitor apa yang terjadi pada lahan yang mereka danai tersebut. 97 persen genetik Orangutan mirip dengan genetik manusia. Masa hamil orangutan pun sekitar 9 bulan. Kemiripan ini banyak membuat orang tertarik untuk memelihara orangutan. Pemerintah sudah mengeluarkan larangan untuk memelihara orangutan secara pribadi. Namun masih banyak yang berminat memilikinya secara diam diam, sehingga tak heran bila hal ini mengakibatkan perburuan dan perdagangan gelap bayi-bayi orangutan. Berkurangnya habitat yang aman untuk berkembang biak dan makanan yang menipis mendesak orangutan keluar hutan. Namun hal ini malah membahayakan keselamatan mereka. Manager komunikasi The Borneo Orangutan Survival Foundation Jakarta, Wahyu Wigati, menuturkan: "Habitat yang terfregmentasi, seperti pembukaan perkebunan dengan land-clearing otomatis membuat habitat orangutan semakin terpinggirkan dan menyempit. Orangutan yang merasa terpojok pasti akan lari ke perkebunan. Disana mereka malah dianggap hama karena makan kelapa sawit. Penyelundupan ratusan Orangutan sebagai obyek atraksi ke negara tetangga bukan merupakan hal baru. Hal ini membuat geram aktifis satwa yang telah berkali kali mengadakan demonstrasi di hadapan kedutaan besar Thailand di Jakarta. Hasilnya, pemerintah Thailand setuju mengembalikan 53 ekor Orangutan. Direktur Eksekutif BOS, Aldrianto Prajati, mengatakan: "Kira kira 3 tahun lalu ditemukan orangutan di beberapa tempat di Thailand. Kita ketahui bersama, orang utan asli Indonesia, tepatnya di Pulau Sumatera dan Pulau Kalimantan. Sehingga kalau mereka ada di luar wilayahnya, itu harus dikembalikan karena mereka ada di appendix 1, artinya mereka sudah hampir punah. __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com [Non-text portions of this message have been removed] *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

