Jumlah orangutan makin hari makin sedikit itu baik atau buruk? Gajah makin hari 
makin punah, apakah itu baik atau buruk? Harimau pun sama halnya. Yang hebat 
ialah orang asing yang bersuara dan berusaha untuk melindungi  
binatang-binatang unik ini.  Hutan digundul,  tambang dikeruk, apakah  hasilnya 
membuat rakyat menjadi kaya nan sejahtera? Berlagak buta dan tuli terhadap 
pertanyaan-pertanya ini   pada tgl 17 Augustus 2006 ketika anda sekalian 
berteriak atau menyanyi: Merdeka, mederdeka..?

  ----- Original Message ----- 
  From: Sandy Dwiyono 
  To: [email protected] ; [EMAIL PROTECTED] 
  Sent: Wednesday, August 16, 2006 2:41 PM
  Subject: [nasional-list] Upaya Pelestarian Orangutan


  Upaya Pelestarian Orangutan

  Oleh: Christoph Heinzle dari Dresden

  Jumlah orangutan makin hari kian menyusut dan sudah berada pada ambang 
kepunahan. Walaupun mereka dilindungi undang undang, diperkirakan 5000 ekor 
mati setiap tahunnya.

  Keberadaan kera besar satwa asli Indonesia ini semakin terancam dengan 
maraknya perambahan hutan di pulau Sumatera dan Kalimantan. Hal ini menarik 
perhatian dari lembaga lembaga di Jerman untuk mempertahankan keberadaan 
orangutan untuk tetap hidup di habitatnya. 

  Orangutan adalah sejenis kera besar yang hanya terdapat di hutan-hutan 
Indonesia. Menurut data tahun 2004, di pulau Sumatera populasi orangutan 
tinggal 7000 ekor dan di Kalimantan hanya tersisa 45.000 ekor. Selama 20 tahun 
belakangan ini, orangutan sudah kehilangan 80% hutan tempat mereka tinggal. 
Markus Radday, pakar kehutanan dari World Wide Fund For Nature atau WWF Jerman 
mengungkapkan bahwa penyusutan jumlah orangutan erat kaitannya dengan kerusakan 
tempat tinggal asli mereka.

  Radday: "Pulau Kalimantan kehilangan 2 setengah juta hektar hutan tropis 
pertahunnya. Artinya bila perambahan terus berlangsung tanpa kontrol, keragaman 
ekosistem yang kita kenal akan hilang pada 2012. Kita perlu melakukan sesuatu."

  Pembalakan liar di hutan hutan Sumatera dan Kalimantan nampaknya masih sulit 
diberantas. Untuk mencegah kepunahan orang utan di masa depan, harus ada 
kerjasama pemerintah dan kesadaran masyarakat.

  Radday: "Untuk melindungi bagian tersisa pulau Kalimantan di masa mendatang, 
harus ada peraturan ketat dalam merambah hutan menjadi lahan perkebunan. Untuk 
itu kami mencoba meyakinkan 3 negara yang ada di Kalimantan yaitu Malaysia, 
Brunai dan Indonesia untuk melindungi areal tersebut."

  Dengan meningkatnya permintaan dunia atas minyak goreng, dan bahan baku 
pembuatan es krim, kosmetik dan sabun cuci, sejak tahun 1970 hutan hutan di 
Indonesia dan Malaysia banyak dirambah untuk diubah menjadi perkebunan kelapa 
sawit. Selama 30 tahun, lahan yang dijadikan perkebunan kelapa sawit berkembang 
menjadi 30 kali lipat di Indonesia dan 12 kali lipat di Malaysia. Kedua negara 
ini sekarang menjadi produsen minyak kelapa sawit terbesar di dunia. Rencananya 
mereka akan terus menambah produksi minyak kelapa sawit. Ini berarti makin 
banyak habitat orangutan yang akan diubah menjadi perkebunan kelapa sawit. Bila 
ini terus berlanjut, maka dalam kurun waktu 10 hingga 20 tahun, orangutan akan 
punah.
  Markus Radday mengeluhkan tingginya permintaan atas minyak kelapa sawit yang 
membuat banyak pengusaha terburu-buru membuka hutan dan menanam kelapa sawit 
tanpa mengadakan studi kelayakan. Walaupun demikian negara-negara maju juga 
punya andil terhadap ambang kepunahan orang hutan, karena merekalah konsumen 
terbesar hasil-hasil hutan tropis. Belum lagi keserakahan beberapa pihak di 
negara-negara maju, yang semakin mendorong kerusakan hutan tropis dan 
lingkungan di dunia. Jadi bukan hanya Indonesia dan Malaysia, yang harus 
terus-menerus dipersalahkan. Setidaknya dengan hutan tropis yang tinggal, 
Indonesia dan Malaysia, telah berjasa menjaga kelangsungan kehidupan di muka 
bumi. Bandingkan dengan hutan di Eropa dan Amerika Utara yang sudah gundul 
bahkan sebelum Perang Dunia II. Negara-negara maju sangat diharapkan dapat 
sedikit mengendalikan naluri eksploitatifnya.

  Radday: "Kami tidak memerangi penggunaan minyak kelapa sawit, karena produk 
ini penting untuk memasak, juga di negara negara Cina dan India dan harganya 
terjangkau.Yang tidak kami inginkan adalah merambah hutan untuk dijadikan 
perkebunan kelapa sawit pada daerah-daerah yang tidak ideal dijadikan 
perkebunan."  

  Berbagai lembaga lain di Eropa terutama Jerman berusaha untuk mengembalikan 
orangutan kepada habitat aslinya, namun habitat aslinya yang berupa hutan 
tropis, banyak yang telah berubah menjadi daerah alang-alang. The Borneo 
Orangutan Survival Foundation atau BOS yang berbasis di Kalimantan Timur 
mengadakan program-program rehabilitasi dan reintroduksi bagi orangutan yang 
ditemukan hasil razia dari perdagangan atau pemeliharaan gelap. Namun 
masalahnya tidak semudah itu. Orangutan memerlukan habitat aslinya. Ini 
berarti, habitat itu harus diciptakan dan ini perlu pembiayaan dan kerja keras. 
BOS meluncurkan ide dengan menjual secara simbolik 1,700 hekatar lahan 
alang-alang untuk direboisasi menjadi hutan subur seharga 3 Euro per 1 meter 
persegi kepada mereka yang peduli.  Boris Himmig, kepala BOS Jerman menuturkan:

  "Bila kita punya habitat, kita bisa melepaskan orangutan, tetapi bila kita 
tak punya habitat, maka kita harus menciptakan habitat yang mirip dengan 
aslinya. Inilah dasar dari square meter project dimana orang bisa secara 
simbolis membeli lahan permeter persegi atau proyek 1 meter persegi seharga 3 
Euro untuk konservasi lewat internet. Mereka akan mendapatkan kode agar bisa 
memonitor apa yang terjadi pada lahan yang mereka danai tersebut."

  97 persen genetik Orangutan mirip dengan genetik manusia. Masa hamil 
orangutan pun sekitar 9 bulan. Kemiripan ini banyak membuat orang tertarik 
untuk memelihara orangutan. Pemerintah sudah mengeluarkan larangan untuk 
memelihara orangutan secara pribadi. Namun masih banyak yang berminat 
memilikinya secara diam diam, sehingga tak heran bila hal ini mengakibatkan 
perburuan dan perdagangan gelap bayi-bayi orangutan.  

  Berkurangnya habitat yang aman untuk berkembang biak dan makanan yang menipis 
mendesak orangutan keluar hutan. Namun hal ini malah membahayakan keselamatan 
mereka. Manager komunikasi The Borneo Orangutan Survival Foundation Jakarta, 
Wahyu Wigati, menuturkan: 

  "Habitat yang terfregmentasi, seperti pembukaan perkebunan dengan 
land-clearing otomatis membuat habitat orangutan semakin terpinggirkan dan 
menyempit. Orangutan yang merasa terpojok pasti akan lari ke perkebunan. Disana 
mereka malah dianggap hama karena makan kelapa sawit."

  Penyelundupan ratusan Orangutan sebagai obyek atraksi ke negara tetangga 
bukan merupakan hal baru. Hal ini membuat geram aktifis satwa yang telah 
berkali kali mengadakan demonstrasi di hadapan kedutaan besar Thailand di 
Jakarta. Hasilnya, pemerintah Thailand setuju mengembalikan 53 ekor Orangutan. 
Direktur Eksekutif BOS, Aldrianto Prajati, mengatakan: 

  "Kira kira 3 tahun lalu ditemukan orangutan di beberapa tempat di Thailand. 
Kita ketahui bersama, orang utan asli Indonesia, tepatnya di Pulau Sumatera dan 
Pulau Kalimantan. Sehingga kalau mereka ada di luar wilayahnya, itu harus 
dikembalikan karena mereka ada di appendix 1, artinya mereka sudah hampir 
punah."
  __________________________________________________
  Do You Yahoo!?
  Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around 
  http://mail.yahoo.com  


------------------------------------------------------------------------------


  No virus found in this incoming message.
  Checked by AVG Free Edition.
  Version: 7.1.405 / Virus Database: 268.10.10/419 - Release Date: 8/15/2006


[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke