http://www.lampungpost.com/buras.php?id=2006081601131914
Rabu, 16 Agustus 2006
BURAS
Tiwul Kemerdekaan!
H.Bambang Eka Wijaya:
MELIHAT pita merah putih di dada Amir tanda panitia Hari Kemerdekaan,
Umar berteriak, "Merdeka Bung!"
"Tetapi" sambut Amir dengan dada tegap.
"Nasi tiwul Bung!" lanjut Umar.
"Mantap!" jawab Amir. "Ayo ke balai desa, Pak Lurah menyiapkan nasi tiwul
untuk memperingati Hari Kemerdekaan! Hidangan tiwulnya mirip pada Hari
Kemerdekaan di Istana zaman Pak Harto!"
"Jelas beda di balai desa dan di Istana!" timpal Umar. "Yang di Istana,
meski tiwulnya buatan katering mewah, nyicipnya pura-pura! Hanya untuk dilihat
rakyat lewat televisi, para petinggi negara doyan tiwul! Sedang di balai desa,
tiwulnya disantap tandas oleh rakyat sampai kekenyangan dengan penuh syukur
atas rahmat kemerdekaan!"
"Kebutuhan rakyat memang sederhana! Bisa kenyang makan tiwul sudah
bersyukur! Tak peduli para pemimpin makan apa!" tegas Amir. "Tapi kenapa para
pemimpin tega cuma berpura-pura makan tiwul?"
"Karena mereka cukup yakin, rakyat mudah dibodohi dengan action lewat
televisi itu!" sambut Umar. "Di sisi lain, rakyat tahu para petinggi gemar
seremoni, melakukannya dengan sakral guna merefleksi arti tiwul sebagai
konsumsi pejuang kemerdekaan! Dengan sakralnya acara-acara kenegaraan itu,
rakyat melihat action di televisi tersebut seperti melihat danyang--penguasa
alam gaib--menyantap sesajen cukup dicicip harum asap kemenyannya, sedangkan
ayam ingkung dan hidangan lain dibiarkan utuh!"
"Gaya sakral seremoni tiwul kemerdekaan itu menghanyutkan rakyat
kebanyakan untuk ikut-ikutan menjalani hidup sakral, merasa mulia dengan
mengartikan kemerdekaan sebagai sikap harus nerimo dan pasrah pada kondisi
serba kekurangan dan penuh penderitaan!" tegas Amir. "Kemerdekaan
disosialisasikan sebagai perjuangan tanpa akhir, lewat simbol tiwul pada setiap
peringatan Hari Kemerdekaan!"
"Bagi para petinggi, tiwul memang sekadar simbol!" sambut Umar.
"Celakanya, bagi rakyat, itu bukan semata simbol, tapi realitas yang belum bisa
dipisahkan dari hidup mereka meski telah 61 tahun merdeka!"
"Maka itu, ketika dalam paceklik diberitakan media massa rakyat makan
tiwul, petinggi tersenyum geli dengan mengesankan seolah wartawan tak mengenal
masyarakat. Kata petinggi, 'Makanan sehari-hari rakyat memang tiwul!'" tukas
Amir. "Situasinya dibuat bahwa setelah 61 tahun merdeka rakyat masih makan
tiwul itu bukan akibat kesalahan pejabat, tapi karena memang kegemaran utama
rakyat itu sendiri!"
"Rakyat memang gemar tiwul, tapi dalam keadaan terpaksa!" sambut Umar.
"Mereka tetap lebih gemar makan nasi beras daripada tiwul! Namun, apa daya, 61
tahun merdeka belum berhasil menciptakan kondisi, rakyat bisa makan nasi beras
sepanjang tahun!"
"Maka itu, jangan berharap banyak!" tegas Amir. "Dalam acara 61 tahun
merdeka ini berani mencanangkan rakyat bebas tiwul sepanjang tahun, sudah
lumayan! Dirgahayu Indonesiaku!"
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/