Program Pra-Universitas
  
Dua Santri Ponpes Ngruki, Lima Terbaik di IPB

Bogor, 18 Agustus 2006 16:38
Dari lima calon mahasiswa terbaik jalur Beasiswa Utusan Daerah (BUD) Depag dari 
ponpes yang telah menyelesaikan pra-universitas di IPB, dua diantaranya adalah 
santri Ponpes "Al-Mukmin" Ngruki, Sukoharjo, Jawa Tengah (Jateng).

Rektor IPB Prof Dr Ir Ahmad Ansori Matjjik, MSc di Bogor, Jumat, mengatakan, 
sehubungan dengan hal itu membenarkan bahwa dua dari lima calon mahasiswa jalur 
BUD Depag dari Ponpes, memang berasal dari Ponpes "Al-Mukmin" Ngruki.

Ponpes itu, salah satu pendirinya adalah ustadz Abu Bakar Ba`asyir, yang oleh 
Amerika Serikat (AS) dan Australia, selalu dituding sebagai sosok yang 
bertanggung jawab atas sejumlah aksi terorisme.

Pada penutupan kegiatan pra-universitas pekan lalu, Ketua Tim BUD yang juga 
Direktur Kerjasama IPB, Dr Ir Hardinsyah, MS menjelaskan bahwa lima peserta 
pra-universitas yang memiliki nilai baik selama kegiatan berlangsung telah 
berhasil dipilih.

Kelima peserta terbaik itu adalah Saidatul Husnah (Ponpes Darul Ulum, Jombang, 
Jawa Timur), Hamka Surya Nugraha (Ponpes Cipasung, Tasikmalaya, Jawa Barat), 
Eko Zulkaryanto (Ponpes Nurul Huda, Lampung), Khoirun Ibnu Farid dan Anna 
Amania Kusnayaini (Ponpes Al-Mukmin Ngruki, Sukoharjo, Jawa Tengah).

Menurut Rektor IPB, pihaknya sama sekali tidak terpengaruh dengan pandangan 
sinisme mengenai Ponpes, sehingga dalam kaitan dengan program mahasiswa BUD 
dari Ponpes, yang merupakan kerjasama dengan Depag, tidak ada pengecualian bagi 
siapa saja yang memenuhi kualifikasi standar untuk dapat belajar di perguruan 
tinggi ilmu pertanian terbesar di Asia Tenggara itu.

"Pondok pesantren adalah basis pendidikan di Indonesia sebelum pendidikan yang 
katanya modern itu masuk, dan di daerah sudah mendarah daging dan tetap eksis 
hingga kini, yang justru perlu di-`recognized`," katanya.

Selain itu, kata dia, sistem pendidikan yang ada di Ponpes, sejauh 
pengalamannya mendatangi kebeberapa pesantren tidak jelek, bahkan ada yang 
sangat bagus.

Ia memberi contoh saat dirinya ke Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara (Sultra) 
ternyata di sana sana Ponpes Gontor V, ternyata dalam sehari-hari percakapan 
yang dipakai selama proses belajar mengajar, selain bahasa Indonesia juga 
menggunakan bahasa Inggris dan Arab yang bagus. "Setelah melihat itu, mungkin 
bahasa Inggris saya kalah dengan santri di sana," katanya.

Kondisi yang sama juga ditemuinya pada sejumlah Ponpes di Kabupaten Garut, Jawa 
Barat. "Apalagi umumnya basis di Ponpes memang suasananya identik dengan 
pertanian sehingga harapan kita, para mahasiswa dari Ponpes ini, setelah 
menyelesaikan studinya di IPB kembali ke daerah dan membangun pertanian dengan 
sentuhan keilmuan yang telah mereka pelajari," katanya.

Berkaitan dengan itu, maka untuk lebih mempercepat proses adaptasi di 
lingkungan perguruan tinggi umum --dari semula suasana belajar khas di 
Ponpes--maka untuk dilakukan program pra-universitas bagi mahasiswa baru BUD, 
termasuk yang berasal dari Ponpes.

"Setelah kita buat pra-universiti hasilnya (ternyata) bagus, mahasiswanya ada 
yang mampu mendapat nilai 4 untuk semua mata kuliah dasar di Tingkat Persiapan 
Bersama (TPB), dan itu berarti nilainya A semua. Jadi, mereka memiliki 
kemampuan, dan itu berarti pendidikan (di Ponpes) tidak jelek, sehingga kenapa 
harus dipermaslahkan?," katanya.

Diakuinya bahwa selama ini, para mahasiswa yang berasal dari Ponpes semuanya 
dapat mengikuti sistem yang ada, dan mengenai pandangan miring soal ekstrimitas 
dan sejenisnya itu ternyata tertepis dengan sendirinya.

"Karena itu, mestinya jangan terlalu berlebihan (memandang Ponpes). Saya juga 
tidak menjamin semuanya menjadi bagus, karena di tempat kita (IPB) saja, yang 
katanya bagus, ada juga jeleknya. Apa yang ada sekarang ini menunjukkan bahwa 
mereka (mahasiswa dari Ponpes) juga mampu," kata pakar ilmu statistik IPB itu.

Ponpes Al-Mukmin yang didirikan 10 Maret 1972 di Jl Gading Kidul No.72 Solo di 
bawah naungan Yayasan Pendidikan dan Asuhan Yatim Al-Mukmin (YPIA) dalam 
perjalanannya telah berkembang pesat.

Pondok pesantren yang belakangan cukup terkenal itu didirikan oleh Ustadz 
Abdullah Sungkar, Abu Bakar Ba`asyir, Abdullah Baraja, Yoyok Rosywadi, H.Abdul 
Qohar Daeng Matase dan Ustadz Hasan Basri yang waktu itu baru memiliki 30 
santri.

Mengingat perkembangan santri yang pesat, sementara sarana dan prasarana waktu 
itu terbatas, maka dua tahun berikutnya yaitu 1974 pondok pesantren itu 
dipindah ke lokasi baru di dukuh Ngruki Kelurahan Cemani, Kecamatan Grogol, 
Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah.

Di lokasi baru ini Ponpes Al-Mukmin lebih pesat berkembang, bahkan luas areal 
yang ditempati sekarang hampir tiga hektare, dengan jumlah santri 1.800, 
sedangkan tenaga edukatif maupun karyawan 250 orang di bawah pimpinan 
direkturnya KH Wahyuddin.

Jenjang pendidikan yang ditawarkan Ponpes Al-Mukmin Ngruki pun cukup lengkap 
dari SLTP Pondok Pesantren, Takhosus (Pra SLTA), Kulliyatul 
Mu`allimin/Mu`allimat, Madrasah Aliyah dan Ma`had Aly (Sekolah Tinggi) dengan 
jurusan Fakultas Tarbiyah dan Syari`ah.

Ponpes Islam Al-Mukmin Ngruki keberadaannya terus menjadi pembicaraan karena 
salah satu pendirinya Ustadz Abu Bakar Ba`asyir --yang sempat mendekam di LP 
Cipinang Jakarta--dan bahkan ada beberapa alumni pondok ini menjadi pelaku 
peristiwa peledakan bom Bali pertama tahun 2002.

Sementara itu, seperti dikutip dari "Suara Merdeka Cyber", Guru Besar Ilmu 
Politik Universitas Melbourne, Prof Dr Arief Budiman, MA --dalam acara dialog 
bertema "Islam Fobia Barat dan Radikalisme Islam di Indonesia" di kampus 
Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Salatiga, Jawa Tengah--pada awal Juli 
2006-- mengakui pandangan Australia tentang Ponpes Ngruki sebagai sarang 
teroris tidak benar.

Bahkan dirinya telah menyampaikan kepada Australia tentang kondisi Ponpes itu 
sebenarnya, tetapi mereka masih belum dapat menerimanya. "Mereka masih belum 
percaya karena pendapat umum masyarakat Australia masih terpengaruh gambaran 
dunia tentang Islam. Yakni pandangan Presiden Amerika Serikat George W Bush 
bahwa Islam identik dengan kelompok teroris," kata Arief Budiman, yang pernah 
mengajar di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga itu.

Arief juga menjelaskan dirinya telah mendatangi Ponpes Ngruki Solo, yang 
disebut-sebut sebagai sarang teroris. Ternyata apa yang menjadi pandangan 
Australia itu sangat berbeda, setelah diketahui di Kampung Ngruki di Solo itu 
ada warga Kristen yang mendiaminya.

Meski demikian, Arief mengungkapkan banyak pula orang Australia yang tidak 
yakin jika Indonesia terutama kelompok Islamnya merupakan bagian dari teroris. 
Menurutnya orang yang beranggapan seperti itu umumnya pernah tinggal di 
Indonesia.

Diakuinya pula, ada beberapa mahasiswa dari Melbourne terganjal "travel 
warning" jika pergi ke Indonesia. Namun jika nekad mereka tidak akan mendapat 
tanggungan asuransi apabila terjadi musibah.

"Saya katakan kepada mahasiswa, tida benar anggapan di Indonesia berbahaya. 
Terbukti setelah mereka ke Indonesia dan kembali memang tidak ada apa-apa. Dari 
kondisi itu memunculkan ide upaya menghilangkan image bahwa Islam di Indonesia 
merupakan bagian dari teroris,".

Sedangkan budayawan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) menilai, ajaran-ajaran Islam 
yang disampaikan pengasuh Ponpes Al Mukmin, Ngruki, Ustadz Abubakar Ba`asyir, 
sebenarnya tidak ada yang berlebihan, sehingga tak perlu dilabeli "garis keras" 
dan semacamnya.

"Islam yang disampaikan Ustadz Ba`asyir juga `sejuk` kok! Seperti halnya ulama 
lainnya," kata Cak Nun kepada wartawan, usai menjadi pembicara pada bedah buku 
Dari Kandang Memandang Dunia di Kampus IPB Darmaga, beberapa waktu lalu.

Kala itu, kepada Cak Nun wartawan menanyakan mengapa pelabelan berbeda seperti 
dengan terminologi "garis keras", "fundamentalis", "militan", "radikal" dan 
sejenisya diberikan kepada Baasyir, sedangkan kepada ulama atau tokoh Islam 
lainnya di Indonesia kemudian muncul istilah "sejuk" dan semacamnya.

"Ini (berkaitan) dengan politik. Ini `kan karena pernah berurusan dengan 
Amerika Serikat (AS), kebetulan pejuang di Afghanistan itu banyak alumni Ponpes 
Ngruki," katanya.

Selain itu, ustadz Baasyir, katanya, secara kebetulan ketika pemerintahan Orde 
Baru-- banyak "melawan" pemerintah. "Terus dalam `kedurjanaan` Amerika 
(Serikat) dia juga harus hilang. Itu seperti mafia atau Narkoba, jadi tidak 
bisa keluar karena yang melatih Amerika," katanya.

"Kalau sudah dilatih Amerika maka anda harus tunduk pada Amerika, kalau tidak 
ya...cari perkara," tambahnya.

Karena itu, menurut Cak Nun, tujuan pengadilan atas ustadz Baasyir sebenarnya 
adalah pembubaran Pesantren Ngruki. "Karena itu tadi, banyak sekali orang-orang 
mujahidin di Afghanistan dan di negara-negara lain adalah alumni sana," katanya.

"Jadi tujuannya membubarkan pesantren dengan cara menjelek-jelekkan Abubakar 
Basyir, supaya ada keabsahan untuk membubarkan pesantrennya. Kalau pesantrennya 
itu tidak ada masalah," tambahnya.

Saat ditanya jika seperti itu, apakah sebegitu takutnya AS terhadap keberadaan 
Ponpes Ngruki asuhan Abubakar Baasyri, Cak Nun kembali menegaskan tentang 
konteks karena dari Ponpes itu lahir banyak orang yang dilatih di AS di 
Afghanistan, sewaktu terjadi invasi Uni Sovyet, dan AS dengan lembaga 
intelijennya CIA mendukung mujahidin Afghanistan saat itu.

"Kalau pesantrennya (Ngruki) biasa-biasa saja, cuman alirannya beda yaitu 
salafiyah Mekah," kata Can Nun sambil memberi permisalan seperti musik atau 
gamelan memang tidak diakomodir di Ponpes tersebut. [TMA, Ant] 
http://www.gatra.com/artikel.php?id=97169



The great job makes a great man
  pustaka tani 
  nuraulia

                        
---------------------------------
Get your own web address for just $1.99/1st yr. We'll help. Yahoo! Small 
Business.

[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke